--- On Tue, 5/19/09, HKSIS <[email protected]> wrote:

From: HKSIS <[email protected]>
Subject: [HKSIS] Kalla Serang Balik Boediono
To: "HKSIS" <[email protected]>
Date: Tuesday, May 19, 2009, 1:44 AM








Kalla Serang Balik Boediono
http://www.korantem po.com/korantemp o/koran/2009/ 05/19/headline/ 
krn.20090519. 165713.id. html
 
“Saya tak tahu mengapa diberi label agen neoliberalisme.”

JAKARTA -- Calon presiden dari Partai Golkar, Jusuf Kalla, melancarkan serangan 
balik terhadap pesaingnya dalam pemilihan presiden 8 Juli mendatang. Serangan 
yang secara tak langsung dialamatkan ke Boediono, calon wakil presiden yang 
digandeng Susilo Bambang Yudhoyono, itu disampaikannya dalam acara bertajuk 
“Kadin Temu Capres” di Grand Ballroom Djakarta Theater kemarin. 
Kalla, yang kini masih wakil presiden pendamping Yudhoyono, mengaku banyak 
programnya tak didukung oleh menteri terkait. Salah satunya adalah program 
pembangkit listrik 10 ribu megawatt yang diklaim sebagai gagasannya. "Saya 
paksakan, meski banyak menteri yang tidak mendukung," kata Kalla. 
Program itu digeber, menurut Kalla, untuk menyediakan listrik yang murah dan 
tak terbatas. Program tersebut juga dimaksudkan untuk mengurangi beban subsidi 
listrik. Karena itu, mulai 2006/2007, ia memulai pembangunan proyek 10 ribu 
megawatt tahap pertama dan dilanjutkan ke tahap kedua. 
Waktu itu, Kalla melanjutkan, ide tersebut tak didukung Menteri Perekonomian, 
yang dijabat Boediono. "Menko Perekonomian waktu itu tak mendukung, tak mau 
jamin karena kita tak punya uang,” kata Kalla. “Jadi, Anda bisa yakini bahwa 
pemikiran ekonomi liberal tidak mungkin mendukung ekonomi bangsa yang seperti 
ini." 
Dalam deklarasi pasangan Yudhoyono-Boediono di Bandung, Jumat lalu, pasangan 
ini menyatakan kegerahannya atas bisnis pejabat yang sering menimbulkan konflik 
kepentingan dalam pemerintahan. “Boediono tidak punya konflik kepentingan atau 
kepentingan bisnis (semacam itu),” kata Yudhoyono. Latar belakang Boediono itu 
sangat berbeda dengan Kalla, pendamping Yudhoyono hingga masa tugas keduanya 
berakhir Oktober nanti. 
Selanjutnya, dalam forum dengan para pengusaha itu, Kalla juga menyerang 
kebijakan neoliberalisme. Menurut dia, kepentingan ekonomi Indonesia banyak 
disetir asing. Pada 2000, ia mencontohkan, IMF meliberalkan semua produk beras, 
gula, dan kayu. Kalla mengaku telah meminta agar kebijakan seperti itu dicabut. 
"Sebab, itu sangat liberalis, pro-pasar bebas,” kata Kalla, penjabat Menteri 
Perindustrian dan Perdagangan hingga April 2000 sebelum dilengserkan oleh 
Presiden Abdurrahman Wahid. “Saya bilang (kepada IMF), this is my country, 
bukan your country.” 
Hingga berita ini ditulis, Boediono belum bisa dimintai konfirmasi. Pesan 
singkat dan sambungan telepon seluler kepadanya tak berhasil. Namun, Jumat 
pekan lalu, saat ditemui tim Tempo, Boediono menolak tudingan bahwa dirinya 
agen neoliberalisme. 
“Saya tidak tahu mengapa saya diberi label seperti itu. Sejak awal, saya itu 
dalam kebijakan ekonomi selalu mendahulukan kepentingan Indonesia,” kata 
Boediono. Ia menambahkan, kepentingan nasional nomor satu. Kepentingan itu 
khususnya ditujukan kepada rakyat yang belum mendapatkan manfaat dari 
pembangunan. “Kalau saya dikatakan terlalu pro-asing dan anti-ekonomi 
kerakyatan, saya rasa kok tidak fair,” katanya.GUNANTO | VENNIE MELYANI | SETRI 
YASRA | DWI WIYANA 
Kisruh Kalla-Boediono 
Wakil Presiden Jusuf Kalla berulang kali berseberangan dengan Menteri 
Koordinator Perekonomian Boediono tentang sejumlah hal, terutama proyek monorel 
dan pembangkit listrik 10 ribu megawatt. Perbedaan ini sempat membuat Boediono 
ingin mundur dari kabinet, tapi ditahan oleh Presiden Yudhoyono. 
Proyek Monorel 
Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso mengirim surat kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla, 
meminta pemerintah ikut memberikan jaminan terhadap proyek monorel senilai US$ 
650 juta (Rp 5,85 triliun) pada 5 Juni 2006. Surat sejenis juga dikirim kepada 
Menteri Koordinator Perekonomian Boediono sekaligus Ketua Komite Kebijakan 
Percepatan Penyediaan Infrastruktur (KKPPI) dan Menteri Keuangan, Sri Mulyani. 
Respons Boediono 
Dari hasil kajian, KKPPI menyimpulkan jaminan pemerintah sulit keluar karena 
proyek ini menabrak sejumlah aturan. Dari 14 kriteria yang ditentukan, hanya 
separuh yang terpenuhi. 
Respons Kalla 
Jusuf Kalla berkukuh proyek monorel harus segera jalan. Dia menegaskan bahwa 
tugas KKPPI mempercepat, bukan memperlambat proyek. Presiden Yudhoyono 
menandatangani Peraturan Presiden Nomor 103/2006 tentang pemberian jaminan 
pemerintah untuk proyek monorel pada 13 Desember 2006. 
Proyek Listrik 10 Ribu Megawatt 
Konsorsium bank-bank Cina yang akan mendanai proyek listrik 10 ribu megawatt 
meminta jaminan penuh pemerintah. Proyek senilai Rp 170 triliun itu ditargetkan 
beroperasi pada 2010. 
Respons Boediono 
Menteri Koordinator Perekonomian Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani 
menolak memberikan jaminan penuh. Alasannya, berdasarkan Keputusan Presiden 
Nomor 59 Tahun 1972, badan usaha negara, badan usaha daerah, maupun perusahaan 
swasta dilarang menerima kredit luar negeri yang mengharuskan adanya jaminan 
pemerintah, termasuk Bank Indonesia dan bank milik negara. 
Respons Kalla 
Jusuf Kalla ngotot bahwa pemerintah harus memberikan jaminan penuh bagi 
konsorsium yang mendanai proyek listrik ini. Kalla mengatakan, "Presiden dan 
wakil presidenlah yang akan menanggung risiko, bukan menteri." Boediono dan Sri 
Mulyani akhirnya menyerah.















      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke