Salam..

Manajemen Tahlilan

Dalam tahlilan ada:
1) Sahibulhajat mengutus "kacung" untuk menyiarkan undangan tahlil ke para 
tetangga termasuk "kiai" yang potensial untuk memimpin tahlilaln.
2) "Kacung" keloyor sana-keloyor sini menyiarkan undangan. 
3) Keluarga sahibilhajat bersama kaum ibu jiran gotong-royong masak untuk 
menjamu undangan.
4) Para jiran beramai-ramai datang menyambut undangan.
5) MC yang ditunjuk sahibulhajat memberi kata pendahuluan/ pembukaan
6) Perwakilan atas nama sahibulhajat
7) "Kiai" memimpin tahlilan
8) Jamaah kompak mengiringi pimpinan tahlilan

Dalam manajemen tahlilan ada 2 kelompok manajemen besar:
- 1 kelompok dikehendaki oleh sahibulhajat (kelompok ini benar-benar melakukan 
kegiatan manajemen, walau dalam makna yang rendah)
- 1 kelompok lain adalah jamaah tahlilan

kelompok terakhir sebetulnya tidak bisa disebut melakukan kegiatan manajemen, 
toh terkadang para pengiring sudah "hafal", tanpa dipimpin juga bisa 
melangsungkan baca tahlilan. Cuma memang malu-malu karena alasan kurang faseh 
bacaan. Tapi ketika rasa malu hilang, "kiai" pimpinan tahlilan bisa diserobot. 
Itu buktinya ada penyerobotan masjid-masjid oleh kalangan muda yang baru bisa 
baca ALquran.

Nah selama ini, kiai dan Nahdliyin baru sebatas membina manajemen tahlilan. 
PBNU sekarang dan para kiai muda sekarang jauh lebih rendah mutu manajerialnya 
dibanding para kiai sepuh yang pernah menggalang Fi Sabilillah, Nahdlotuttujar, 
dan lain-lain.

Saya sedih, melihat kaum nahdliyin hanya rame dan guyub pada acara-acara haulan 
dan tahlilan... kalau istighotsahan.. semuanya njerit-njerit (baik yang 
memimpin maupun yang dipimpin) dengan kompak; tetapi pas melangsungkan 
program.. blingsatan masing-masing.. mempertahankan kepentingan sendiri-sendiri

Ngajinya belum tuntas ya? Kalau ngaji kaya Kanjeng Nabi: ngaji untuk jadi 
tukang dodol (pedagang) dan jadi tukang angon (penggembala); Tidak ada risalah 
dipercayakan kepada para rosul, melainkan sebelumnya pernah mengalami sebagai 
pedagang atau/dan penggembala. Ngaji sampai kepada pembelajaran praktis seperti 
dagang dan menggembala, namanya ngaji tuntas.

Kalau ngaji zuhud sebatas kitab... ach; mana bisa orang yang ulangan teori 
mengemudi dengan nilai A untuk dipercaya bisa bawa mobil di jalan raya. Orang 
gila yang percaya lulusan kayak gitu.

Saran saya: kaum santri semestinya serius belajar dan belajar dalam mengaji 
berkegiatan riil di bidang ekonomi, sosial, dan politik dengan penekanan 
pengembangan sikap-sikap berdemokrasi. Jangan kulino dengan pola manajemen 
tahlilan. Karena dalam manajemen tahlilan, baik pengurus struktural (pemimpin 
tahlilan) maupun kaum nahdliyin (sebagai jamaah tahlilan) bukanlah owner dari 
program besar itu. Jadi rasa memilikinya rendah. Taunya bagaimana dapat jatah 
berkat, kalau bisa dapat banyak.
Dasar!

Maaf sewu maaf.



      

Kirim email ke