Dunia Islam >> Islam MancanegaraSyamsi Ali Kutuk Rencana Pemboman Sinagog New
York
By Republika ContributorSabtu, 23 Mei 2009 pukul 11:50:00
<p>NEW YORK--Tokoh ulama asal Indonesia yang sangat populer di New York, AS,
Muhammad Syamsi Ali MA, mengutuk rencana serangan bom terhadap sinagog (tempat
ibadah orang Yahudi) di New York. Rencana pemboman tersebut berhasil dibongkar
polisi dan kini kasusnya ditangani aparat hukum AS.<br /><br />Syamsi Ali adalah
ulama yang menjadi imam di Pusat Kultural Islam di New York. Syamsi Ali
mengeluarkan pernyataan tersebut bersama Rabi Marc Schneier usai salat Jumat
(21/5). Rabi Schneier adalah agamawan yahudi yang menjadi presiden Yayasan
Saling Pengertian Etnis dari Sinangog New York.<br /><br />Pernyataan Syamsil
Ali itu berkaitan dengan penahanan tiga warga negara Amerika Serikat James
Cromitie, David Williams, dan Onta Williams serta Laguerre Payen seorang warga
Haiti pada Rabu (20/5) malam. Mereka ditahan karena berniat meledakkan dua
tempat ibadah kaum Yahudi (sinagog) di wilayah Bronx, kota New York. Rencana
mereka digagalkan oleh Biro Penyelidik Federal (FBI) berdasarkan rekaman
pembicaraan para tersangka dengan seorang informan FBI yang menyusup ke kelompok
tersebut.</p>
<p>Terbongkarnya kasus ini dimanfaatkan oleh mereka yang tidak sejalan dengan
Barrack Obama untuk mengkritik rencana Presiden AS itu menutup penjara
Guantanamo. Salah seorang yang bersemangat menyindir adalah Dick Cheney, mantan
wapres era Goerge W Bush.<br /><br />Berita tentang pernyataan mengutuk dari
Syamsi Ali atas kasus tersebut dilansir oleh beberapa media, termasuk kantor
berita AP dan AFP. Namun kedua kantor berita itu hanya memberitakan secara
ringkas.<br /><br />Bagi warga Amerika, New York Khususnya, sikap Syamsi Ali itu
bukan sesuatu yang mengherankan. Selama ini ia dikenal sebagai tokoh Muslim yang
berpengaruh di New York dan cinta damai.<br /><br />Oleh karena itu Syamsi yang
menjadi Ketua Masyarakat Muslim di New York belum lama ini mendapat penghargaan
sebagai tokoh yang dianggap telah memberikan sumbangan kepada masyarakat maupun
kepada kehidupan secara umum di Amerika Serikat, khususnya di kota New York.<br
/><br />"Alhamdulillah, ini penghargaan kedua yang diterima setelah oleh New
York Magazine saya dinobatkan tahun 2006 sebagai tujuh tokoh agama yang paling
berpengaruh di New York," kata Imam pada Islamic Center of New York yang asal
Makassar itu lewat pesan elektronik kepada Antara di Jakarta, Jumat
(8/9/2008).<br /><br />Penghargaan yang diberikan kepada Syamsi termasuk sangat
membanggakan karena hanya pernah diterima oleh individual-individual yang
masyhur, seperti mantan presiden, tokoh politik Amerika, pebisnis sekaliber
Donald Trump, altlet semacam Muhammad Ali atau tokoh dunia seperti mantan
Presiden Majelis Sidang Uumum PBB, Sheikha Haya Rashid Al Khalifa.<br /><br
/>Menurut Syamsi Ali, penghargaan atau medal award tersebut diberikan oleh
Koalisi Organisasi Etnik (National Ethnic Coalition Organizations) bernama Ellis
Island Medal of Honor Award.<br /><br />Setiap tahunnya koalisi organisasi ini
memberikan penghargaan kepada individu-individu yang dianggap telah memberikan
kontribusi kepada masyarakat maupun kepada kehidupan secara umum.<br /><br
/>Nama-nama yang mendapat penghargaan ini akan dituliskan di dinding gedung
museum Ellis Island, sebuah pulau bersejarah karena tempat mendaratnya para
imigran pertama kali di Amerika, katanya.<br /><br />Rencana pemberian
penghargaan kepada para penerima Ellis Island Medal of Honor Award 2009
berlangsung Sabtu, (9/5) di kota New York. Acara resepsi untuk para penerima
penghargaan akan dilangsungkan Jumat malam, (8/5).<br /><br />"Saya bersyukur
kepada Allah SWT, bukan karena penghargaan kepada saya, tapi atas kenyataan
bahwa Islam dan peranan komunitas Muslim di kota New York sudah diakui dan
dihargai", kata Syamsi.<br /><br />"Apalagi dengan melihat kepada kenyataan
bahwa selama lebih tujuh tahun terakhir, Islam sedemikian disalahpahami dan
dilihat sebagai momok yang menakutkan. Alhamdulillah, semoga ini adalah sinar di
ujung terowongan" katanya.<br /><br />Penghargaan ini bagi Indonesia merupakan
kebanggan tersendiri karena baru pertama kali ini seorang warganya di Amerika
Serikat mendapat penghargaan yang luar biasa.<br /><br />"Rencananya Konjen RI
di New York juga ingin sekali menyaksikan pemberian penghargaan itu. Tentu saya
berterima kasih dan bangga karena ini adalah representasi bangsa sekaligus,"
demikian Syamsi Ali.<br /><br />Profil M. Syamsi Ali, M.A.<br /><br />Dai muda
ini lahir 5 Oktober 1967 di Sul-Sel. Sejak lulus SD, Syamsi mulai menimba ilmu
di Pesantren Muhammadiyah "Darul-Arqam" Makasar.<br /><br />Pada akhir 1988, ia
mendapat tawaran beasiswa dari Rabithah Alam Islami untuk melanjutkan studinya
pada the International Islamic University, Islamabad, Pakistan. Tahun 1992 S1
dalam bidang Tafsir. Dilanjutkan pada universitas yang sama dan menyelesaikan S2
dalam bidang Perbandingan Agama pada tahnu 1994.<br /><br />Selama studi S2 di
Pakistan, Syamsi Ali juga bekerja sebagai staf pengajar pada sekolah Saudi Red
Crescent Society di Islamabad. Dari sekolah itulah kemudian mendapat tawaran
untuk mengajar pada the Islamic Education Foundation Jeddah, Saudi Arabia di
awal 1995.<br /><br />Pada musim haji tahun 1996, Syamsi Ali mendapat amanah
untuk berceramah di Konsulat Jenderal RI Jeddah Saudi Arabia. Dari sanalah
bertemu dengan beberapa jamaah haji luar negeri, termasuk Dubes RI untuk PBB,
yang sekaligus menawarkan kepadanya untuk datang ke New York, AS. Tanpa
menyia-nyiakan, Syamsi Ali berhasil ke New York di awal tahun 1997.<br /><br
/>Di New York inilah kiprahnya semakin luas. Selain menjadi imam di Masjid Pusat
Islam New York, sejak 1997 Syamsi Ali memimpin Masjid Al Hikmah, masjid
satu-satunya yang dimiliki masyarakat Indonesia di AS.<br /><br />Selain menjadi
pengasuh masyarakat Muslim di New York dan di AS pada umumnya, Syamsi Ali juga
terlibat langsung dalam berbagai kegiatan komunitas muslim internasional dan
terpilih sebagai Ketua Muslim Day Parade sejak 1998.<br /><br />Syamsi Ali juga
adalah salah satu pendidik Dewan Imam di Kota New York dan dipercayai mewakili
umat Islam New York mendampingi Presiden AS George Bush ketika berkunjung ke
Ground Zero pasca serangan 11 September 2001.<br /><br />Syamsi Ali juga
mewakili masyarakat muslim dalam perhelatan akbar "Pray for America" di Yankee
Stadium setelah tragedi 11 September bersama mantan Presiden Clinton, Senator
Hillary Clinton, serta pejabat tinggi New York lainnya.<br /><br />Di kalangan
pers, Syamsi adalah narasumber utama media-media massa New York, terutama dalam
menanggapi suatu peristiwa penting.<br /><br />Munculnya orang Indonesia sebagai
pemuka Muslim di New York merupakan suatu hal yang cukup unik, karena meskipun
Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, namun jumlah
Muslim asal Indonesia yang berdomisili di kota tersebut relatif sedikit.<br
/><br />Dari sekitar 800.000 Muslim di New York, mayoritas adalah keturunan dari
Timur Tengah, Asia Selatan (Pakistan dan Bangladesh), dan Afrika. Tiga kelompok
mayoritas Muslim ini justru sering mempercayai Shamsi Ali sebagai pimpinan.<br
/><br />Di kantornya di Islamic Center of New York, Syamsi membuka kelas khusus
tiap pekan bagi orang-orang non-muslim yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai
ajaran Islam.<br /><br />Di forum itulah ia ditantang untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan kritis, terutama mengenai tindakan negatif dari
kelompok-kelompok tertentu yang sering mengatasnamakan
Islam.AP/AFP/kem/taq/berbagai sumber<br /><br /></p>



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke