---------- Forwarded message ----------
From: ariel <[email protected]>
Date: Jun 1, 2009 9:54 AM
Subject: [wanita-muslimah] Neoliberalisme Kerudung ala PKS
To: [email protected]




http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2009/06/01/Opini/krn.20090601.166797.id.html

Neoliberalisme Kerudung ala PKS

Miftah Sabri Mangkudun
# Pemerhati politik dari Universitas Indonesia

Neoliberalisme bertujuan untuk mengembalikan kepercayaan kepada pasar.
Fondasi utamanya adalah kebebasan seluas-luasnya sehingga menciptakan
keadaan di mana kehidupan publik tunduk pada logika pasar. Tidak ada ranah
kehidupan yang tidak bisa dijadikan komoditas. Semua bisa diperjualbelikan.
Fungsi sosial masyarakat yang merupakan nilai dasar manusia direduksi
sedemikian rupa sehingga tidak lebih dari komoditas ekonomi belaka. Pada
kondisi seperti inilah politik tidak lagi memiliki makna. Politik seharusnya
merupakan keputusan-keputusan yang menawarkan nilai-nilai. Sedangkan dalam
konsep neoliberalisme, hanya satu cara rasional untuk mengukur nilai, yaitu
pasar.

Polemik seputar masalah neoliberalisme pada hari-hari belakangan ini masih
berkutat pada masalah kebijakan ekonomi. Masyarakat terjebak pada perdebatan
yang mengawang-awang. Kita pun berpikir seolah-olah tidak terjebak dalam
neoliberalisme. Pendakwa dan terdakwa dalam polemik menahbiskan diri sebagai
bukan bagian dari neoliberalisme. Sehingga pada titik tertentu perdebatan
ini berujung pada pencitraan diri yang berlebihan. Tapi apakah benar kita
belum terjebak dalam neoliberalisme? Apakah kita belum mereduksi nilai
sosial kemasyarakatan sekaligus masih mengejawantahkan fungsi politik yang
hakiki?

Sebelum pertanyaan-pertanyaan ini menjadi polemik jilid kedua dari
neoliberalisme, Mahfudz Sidik, salah seorang Ketua DPP Partai Keadilan
Sejahtera, telah menjawabnya. Sebagaimana diberitakan dalam situs
www.mediaindonesia.com (Selasa, 26 Mei 2009), Mahfudz memberi pernyataan,
"...sentimen semacam ini (mengenakan kerudung) akan dimanfaatkan oleh
kandidat lainnya. Memang (penampilan) istri JK dan Wiranto bagus. Kalau Ibu
Ani dan istri Boediono memakai kerudung akan memunculkan efek positif bagi
publik terhadap dukungannya untuk SBY-Boediono." Selanjutnya, masih mengutip
portal berita yang sama, Mahfudz menyatakan, jika saran memakai kerudung
dilaksanakan, PKS akan lebih mudah mengarahkan kader dan simpatisannya agar
memilih SBY-Boediono. Dalam media yang sama, hal ini didukung oleh Ketua DPP
PPP Lukman Hakim Syaifudin.

Dalam iklim demokrasi kita yang sangat menjunjung tinggi kebebasan ini,
bahasa politik semakin gampang dicerna. Ini bukan lantaran pesan-pesan
politik semakin mengakar dengan permasalahan masyarakat, melainkan
disebabkan oleh penyederhanaan politik itu sendiri. Mengenakan kerudung yang
merupakan sebuah nilai spiritual, yang dalam kaidah Islam arus utama wajib
hukumnya bagi setiap wanita, telah direduksi oleh Mahfudz Sidik sekadar
menjadi sentimen. Sehingga seolah-olah kerudung yang dikenakan oleh istri
Jusuf Kalla dan Wiranto hanya katalisator untuk meningkatkan sentimen
positif pasar (pemilih) terhadap pasangan JK-Wiranto. Memperdagangkan
kerudung sebagai sebuah "barang" tentu tidak salah, banyak rakyat kita yang
hidup dari usaha itu.

Tapi memperdagangkan "nilai" memakai kerudung sebagai sebuah komoditas
politik bukan hanya mereduksi nilai spiritual agama, tapi juga secara tidak
langsung mempertanyakan otoritas hukum agama. Bukankah pernyataan di atas
itu juga seolah-olah mempertanyakan otentifikasi pemakaian kerudung oleh
istri JK dan Wiranto; apakah karena Allah atau sekadar untuk menciptakan
sentimen positif? Saya tidak seberani Sidik menjawab pertanyaan itu.

Bila Ibu Ani dan Ibu Herawati mengenakan kerudung, Mahfudz menyatakan akan
lebih mudah mengarahkan kader dan simpatisan PKS. Kerudung, yang pada
konsepnya merupakan wujud ketundukan kepada Yang Maha Kuasa, dalam politik
kita saat ini tunduk pada kehendak pasar. Penutup aurat itu adalah sentimen
yang bisa dimainkan di tengah-tengah pemilih yang dalam asumsi para
politikus kita lebih mementingkan simbol daripada nilai. Kader dan
simpatisan PKS pun berubah menjadi angka statistik di mana aspirasinya
tecermin dalam kurva-kurva yang akan bereaksi terhadap sentimen
simbol-simbol keagamaan, seperti kerudung. Bila nilai memakai kerudung saja
bisa direduksi sedemikian rupa menjadi sentimen, kita bisa mempertanyakan
simbol-simbol agama yang menjadi platform partai-partai Islam, seperti PKS
dan PPP. Maka semakin kuat saja kecurigaan bahwa simbol-simbol agama yang
selama ini diusung tidak lebih dari bentuk neoliberalisme politik, reduksi
nilai menjadi komoditas untuk meningkatkan jumlah kursi dan menaikkan
tawaran politik.

Pada saat nilai-nilai telah direduksi menjadi sentimen, kepemimpinan menjadi
komoditas dan rakyat cuma dianggap sebagai pasar, maka kita tidak lagi perlu
berdebat tentang apakah neoliberalisme itu telah hadir di Indonesia ini.
Kita tidak bisa lagi mensimplifikasi polemik seputar neoliberalisme sekadar
masalah kebijakan ekonomi. Sebab, yang menakutkan dari neoliberalisme
bukanlah pasar bebas yang akan terus memperlebar jurang antara orang yang
berpunya dan yang tidak, melainkan pada saat politik tidak lagi mampu
memberi keputusan-keputusan yang menghasilkan nilai-nilai. Politik menjadi
parade kepalsuan, nilai menjadi sentimen, kepemimpinan jadi komoditas,
rakyat jadi pasar, dan tentu saja semua kepalsuan butuh konsep pencitraan
diri yang sempurna. Para kandidat bisa menghabiskan berhari-hari waktunya
untuk memoles diri, sedikit hari yang tersisa digunakan untuk menyambangi
konstituen.

Kita perlu berterima kasih kepada Mahfudz Sidik dan PKS, yang lewat
pernyataannya memberi kita gambaran tentang neoliberalisme politik yang
tengah menggurita. Pernyataan ini memberi terang kepada kita tentang anomali
politik yang terjadi belakangan ini. Kerudung untuk Ibu Ani dan Ibu
Herawati, demikianlah cara PKS menerapkan neoliberalisme politik di
Indonesia.

 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke