Seminar Pancasila dalam Pusaran Globalisasi dan Fundamentalisme
Wahid Luncurkan Buku Islam , Konstitusi dan Hak Asasi Manusia
Jakarta-wahidinstitute.org.Di sela-sela acara Seminar Pancasila dalam Pusaran 
Globalisasi dan Fundamentalisme di Auditorium Perpustakaan Nasional Senin 
kemarin (1/06), the Wahid Institute meluncurkan buku terbarunya Islam, 
Konstitusi dan Hak Asasi Manusia; Problematika Hak Kebebasan Beragam dan 
Berkeyakinan di Indonesia.
Buku yang ditulis secara gotong royong oleh para peneliti Wahid Institute ini 
banyak menyorot problem hak kebebasan beragama dan berkeyakinan di Tanah Air, 
khususnya di kalangan muslim Indonesia. Problem tersebut tak hanya terkait 
dengan masih maraknya aksi-aksi kekerasan dan diskriminasi yang berlangsung 
semenjak pascareformasi, tapi juga menyangkut komitmen semua pihak menjalankan 
regulasi dalam menegakan hak kebebasan beragama dan berkeyakinan.
Meski Indonesia telah menetapkan beragam regulasi terkait isu ini, seperti 
pasal 28e dan pasal 29 hasil amandemen, termasuk ratifikasi Kovenan 
Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik (ICCPR) melalui Undang-Undang 
No. 12 Tahun 2005, namun para penulis buku setebal 300-an halaman ini memandang 
hal itu masih dianggap sebagai alat diplomasi ketimbang komitmen negara 
menjamin hak setiap warganya. "Dalam buku itu kami menyimpulkan, masih ada 
sikap inkonsistensi antara ideologi dan praktik di lapangan," kata Ahmad Suaedy 
Direktur the Wahid Institute saat memberi pengantar peluncuran buku.
Kesimpulan lainnya, lanjut Suaedy, aparat negara masih dinilai belum memahami 
betul paradigma kewarganegaraan yang semestinya memandang setiap warga negara 
secara setara tanpa membeda-bedakan atas dara agama, ras, maupun etnis. "Kami 
masih melihat aparat bias agama ketika menyelesaikan kasus-kasus aliran sesat. 
Karena agama yang mereka peluk, mereka seolah sudah memvonis mereka sesat. 
Mestinya mereka bersikap netral," tegasnya. Ia juga menilai dalam beberapa 
kasus pengadilan kasus-kasus kekerasan agama, pengadilan terkesan terpengaruh 
dengan tekanan massa yang memantau jalannya sidang.
Seperti dituangkan dalam buku ini, isu hak asasi manusia di lingkungan 
masyarakat muslim Indonesia memang masih dianggap barang asing dan berbau Barat 
dan di sebagian kalangan masih mendapat penolakan. Karena itu buku ini memberi 
bab khusus mengenai problematika HAM dan Islam baik untuk konteks nasional 
maupun internasional.
Peluncuran buku dilakukan dengan penyerahan secara simbolis kepada sepuluh 
orang yang dipilih, termasuk kepada dua narasumber (Bonie Setiawan, Direktur 
Institute for Global Justice; Fajar Riza Ul Haq Direktur Program Maarif 
Institute) dan Wahyu Muryadi (Redaktur Eksekutif Majalah Tempo) yang menjadi 
moderator di sesi pertama yang membicang Globalisasi dan Fundamentalisme.
Seminar yang berlangsung hingga sore ini digelar Aliansi Nasional Bhineka 
Tunggal Ika (ANBTI), organisasi yang melingkupi ratusan organisasi yang 
tersebar di tanah air, bekerjasama dengan the Wahid Institute dan Institute for 
Global Justice. Kegiatan ini mengambil momentum peringatan tragedy Monas 1 Juni 
setahun silam [] (Alamsyah M. Dja'far)
http://wahidinstitute.org/Berita/Detail/?id=27/hl=id/Wahid_Luncurkan_Buku_Islam_Konstitusi_Dan_Hak_Asasi_Manusia
 

http://alamsyahdjafar.wordpress.com


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke