* *

*Integritas Ilmiah GunawanWiradi***



[image: http://www.kompas.com/data/photo/2009/06/07/0434325p.jpg]

KOMPAS/NINUK MARDIANA PAMBUDY
Gunawan Wiradi



Kompas Minggu, 7 Juni 2009 | 03:11 WIB

*Ninuk Mardiana Pambudy & Maria Hartiningsih*

Penganugerahan gelar kehormatan ”doctor honoris causa” oleh berbagai
perguruan tinggi negeri belakangan sering terdengar. Meski begitu, ketika Ir
Gunawan Wiradi MSocSc mendapat penganugerahan gelar tersebut dari Institut
Pertanian Bogor, penganugerahan tersebut menjadi khusus. Gunawan Wiradi (76)
adalah sosok yang tidak asing dalam pengembangan keilmuan pembangunan
pertanian dan pedesaan, terutama agraria, melalui penelitian terus-menerus
dan jangka panjang.

Meskipun semasa kecil bercita-cita menjadi pilot pesawat tempur setelah
menonton film, Kato, Penyapu Udara, saat penjajahan Jepang. Namun,
perjalanan hidup membawa dia masuk ke Fakultas Pertanian Universitas
Indonesia yang kemudian menjadi Institut Pertanian Bogor (IPB).

Kami bertemu di Bogor, Selasa (2/6). Meskipun pendengarannya agak berkurang,
suaranya tetap lantang. Ingatannya masih tajam dan semangatnya tetap tinggi.
Bahkan marjinalisasi semasa Orde baru tak melunturkan semangatnya mencari
kebenaran akademis dalam bidang kajian yang dia minati, studi agraria.

”Penghargaan ini kejutan karena diberikan kepada saya yang umurnya lebih
dari 70 tahun. Efeknya akan berbeda kalau diberikan ketika saya 50 tahun.
Agaknya selama ini tidak ada orang yang menekuni masalah agraria, lalu saya
dianggap orang yang menekuni. Ini berarti masyarakat memerlukan simbol,”
ujar Gunawan.

Gunawan mengaku terharu. Alasan dia, belakangan banyak gelar doctor honoris
causa diberikan dengan si penerima menyumbangkan dana kepada perguruan
tinggi bersangkutan.

”Karena itu, waktu ditawari, saya mikir, nanti saya disamakan dengan yang
lain. Saya bilang, untuk pestanya biar saya yang membayari, tetapi tidak
boleh. Jadi, IPB membayari semua, ingin menunjukkan ini pemberian murni,”
tambah Gunawan.

*Konsisten*

Penganugerahan tersebut sudah sewajarnya. Sebelas promotor dari IPB,
diketuai Prof Dr Ir Endriatmo Soetarto dengan anggota Prof Dr Ir Sajogyo,
Prof Dr Sediono MP Tjondronegoro, Prof Dr Ir Dudung Darusman, Prof Dr Ir
Aida Vitayala Sjafri, Prof Dr Ir Sumardjo, Prof Dr Ir Hermanto Siregar, Dr
Ir Lala M Kolopaking, Dr Ir Joyo Winoto, Dr Soeryo Adi Wibowo, dan Dr
Satyawan Sunito dalam usulannya menyebutkan sumbangan ilmiah Gunawan Wiradi.

Lebih dari 200 laporan penelitian, karya ilmiah, dan lusinan buku berkaitan
dengan masalah agraria ditulis Gunawan, banyak di antaranya menjadi rujukan
penting dalam diskursus agraria di dalam negeri dan dunia internasional.

Tesis S-2-nya, Rural Development and Rural Institutions: A Study of
Institutional Changes in West Java (Rural Dynamics Series, SAE Nomor 6,
1978), banyak dirujuk karena menjadi rintisan dalam penelitian mengenai
dampak Revolusi Hijau terhadap kelembagaan di pedesaan. Artikel ilmiahnya,
Recent Changes in Rice Harvesting Method (BIES, Volume IX, Nomor 2, Juli
1973, sebagai penulis kedua dengan penulis utama WL Collier), mengawali
perdebatan dalam studi agraria tentang perubahan agraria di Jawa, melibatkan
Prof Hayami dan Prof Kikuchi, Prof Gillian Hart, dan Prof Pincus.

Keterlibatan Gunawan Wiradi dalam studi agraria ”dimulai” dari praktikum
hama dan penyakit tanaman di laboratorium. Salah satu tugasnya adalah
mengikuti pertumbuhan serangga dari telur hingga dewasa.

”Telur penelitian saya sudah menjadi ulat. Lalu saya kedatangan teman lama
dan kami mengobrol. Waktu kembali ke laboratorium, ulat saya hilang. Saya
harus mulai dari awal lagi. Sebal. Wah, jurusan ini bikin susah ha-ha-ha,”
kata Gunawan.

Selain itu, almarhum Prof Teko Sumodiwirjo, pengajar politik pertanian dan
Menteri Muda Bahan Pangan, menurut Gunawan saat memberi kuliah mengatakan,
”’Kalau engkau ingin bekerja dengan sepi, dibatasi empat tembok, silakan
ambil jurusan teknik. Tetapi, kalau ingin bergaul dengan masyarakat,
ambillah jurusan sosial-ekonomi.’ Itu mendorong saya masuk ke jurusan
sosial-ekonomi.”

*Penelitian*

Untuk keperluan skripsi S-1, Gunawan Wiradi melakukan penelitian ke Desa
Ngandagan di Purworejo, Jawa Tengah, untuk melihat hubungan kekuasaan di
sana.

Di sana dia mendapati hal menarik, yaitu terjadinya reforma agraria lokal
pada 1947, bahkan sebelum lahir Undang-Undang Agraria 1960 yang panitianya
dibentuk tahun 1948. Metodologi yang dia gunakan berasal dari penemuan di
lapangan.

”Waktu itu saya belum tahu ada metodologi untuk penelitian seperti itu
karena literatur terbatas. Saya mengembangkan metode sendiri di lapangan.
Caranya dengan melacak beberapa pengambilan keputusan. Saat itulah saya
temukan desa itu pernah melakukan landreform. Skripsi saya yang asalnya
tentang relasi kekuasaan akhirnya mengenai landreform, judulnya ’Landreform
di Sebuah Desa Jawa Ngandagan’,” kata Gunawan.

*Apa arti temuan itu?*

Ini redistribusi dan restrukturisasi. Murni pada usaha tani pangan, sawah,
lalu di pinggirnya ada hutan, masih terbuka, belum ada klaim Departemen
Kehutanan gaya Orde Baru.

Temuan pada 1960 itu, landreform mensyaratkan kepimpinan yang demokratis,
tetapi tegas dan berwibawa. Juga didukung penuh rakyat. Syarat ini masih
berlaku sampai sekarang.

*Setelah itu?*

Saya juga menemukan di Banyumas tahun 1963. Yang ini konsolidasi. Setiap
pemilik tanah, letak tanahnya terpencar; ini dianggap tidak efisien. Lalu
terjadi tukar-menukar supaya setiap pemilik tanah hamparan tanahnya solid,
konsolidasi.

Reforma di Ngandagan dan Banyumas mungkin hampir bersamaan karena pada tahun
1946 ada Undang-Undang Nomor 13 untuk landreform pendahuluan, menghapus
sistem tanah perdikan, yaitu tanah yang diberikan raja kepada orang yang
dianggap berjasa dan dibebaskan dari pajak. UU itu hanya dilakukan di
Banyumas, luasan yang terkena di atas 5 hektar. Saat itu berhasil.
Penggantian langsung tunai 10 persen, sisanya diselesaikan dalam setahun.

*Neopopulis*

Meskipun Undang-Undang Pokok Agraria Tahun 1960 masih berlaku, sampai hari
ini reformasi agraria tidak pernah dilaksanakan konsekuen. Akibatnya, terus
terjadi konflik agraria, kemiskinan di pedesaan karena tiadanya modal tanah
bagi masyarakat petani negeri agraris Indonesia, terbatasnya lapangan kerja,
kekumuhan di kota karena urbanisasi dan langkanya lapangan kerja di sektor
industri, ancaman separatisme, serta krisis pangan dan energi.

*Jalan keluar untuk reforma agraria?*

Sebelum Orde Baru, pemerintah mencoba melakukan reforma agraria sesuai hukum
adat kita karena konsep sewa tanah, hak eigendom, itu konsep hukum Barat.
Pada masa Orde Baru masalah menjadi rumit karena mengambil kebijakan yang
berbeda 180 derajat, antara lain dengan mengundang modal asing.

Dalam reforma agraria yang paling penting adalah melakukan registrasi untuk
memotret apakah susunan kepemilikan tanah sudah adil.

Dalam pidato pengukuhan saya mengatakan, suatu kebijakan agraria, walaupun
isinya redistribusi, tetapi kalau latar belakangnya untuk memfasilitasi
masuknya modal asing, bukan reforma agraria.

Setelah registrasi, komponen penting adalah tata ruang, yaitu memerhatikan
kondisi fisik tanah berdasarkan aspek agronomi, topografi, geografi,
demografi, dan ekonominya. Yang ketiga, redistribusi, dan keempat penerapan
hukumnya, menyangkut jenis hak dan status tanah. Baru model pemanfaatannya
yang tergantung ideologi negara, apakah kapitalisme, sosialisme, atau
neopopulis.

*Apa yang dimaksud dengan neopopulis?*

Pada kapitalisme dan sosialisme asumsi aspek ekonominya sama, yaitu yang
besar yang efisien. Pada kapitalisme, kalau ada redistribusi kemudian
dibiarkan bersaing bebas. Pada sosialisme, yang membesarkan negara, melalui
kegiatan kolektif.

Neopopulis asumsinya berbeda, yaitu yang kecillah yang efisien. Ada yang
memakai batas minimum kepemilikan tanah, tetapi ada yang tanpa batas
minimum. Jepang dan Korea Selatan tanpa batas minimum kepemilikan tanah,
tetapi ada batas maksimumnya. Kebijakan ini dikombinasikan dengan kebijakan
industrialisasi pedesaan yang bukan industri berat. Industri yang tersebar
di desa itu memberi gantungan hidup orang di desa sehingga tidak pergi ke
kota.

*Bukankah pernah ada upaya reforma agraria?*

Berbagai instansi perlu duduk bersama. Saya sudah mengusahakan mengundang
berbagai instansi, tetapi yang datang eselon tiga. Rapat berikut yang datang
orang lain.

Jadi, seperti rekomendasi konferensi internasional agraria, untuk melakukan
reforma agraria perlu dibentuk badan otorita reforma agraria supaya punya
wewenang koordinasi lintas sektoral.

*Apa yang akan dilakukan setelah mendapat gelar doktor?*

Gelar ini justru mengandung konsekuensi, saya harus menjaga integritas
ilmiah. Kegiatan ilmiah tidak boleh berhenti. Artinya, kalau Tuhan
mengizinkan badan saya sehat, saya harus terus membantu penelitian, karena
ilmu adalah penelitian terus-menerus. Kegiatan ilmiah adalah mencari
kebenaran, bukan pemilik kebenaran. Kebenaran ilmiah bersifat sementara,
benar menurut kriteria tertentu, benar sepanjang belum ada yang baru yang
membantah. Bagi saya itu, karena saya sudah tua, tidak akan mengharapkan
apa-apa.

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/06/07/03110755/integritas.ilmiah.gunawanwiradi







*Proses** **Jalan Pembelajaran*

Kompas Minggu, 7 Juni 2009 | 03:20 WIB

Tak mudah menemukan pintu masuk rumah di kawasan Jalan Gunung Gede, Bogor,
itu bila Gunawan Wiradi (76) tidak segera membukakan pintu garasi yang
langsung menuju paviliun. ”Di sini tenang. Kalau di ruang depan terganggu
suara kendaraan.”

Jalanan di kawasan yang 20 tahun lalu sangat tenang, diteduhi pohon-pohon
besar, sekarang berisik. Suara deram kendaraan tak pernah putus setelah
berbagai usaha ekonomi mengubah wajah kawasan itu.

”Ini bukan rumah saya. Saya enggak punya rumah. Dari dulu saya mondok,
pindah-pindah,” ujar dia, menjelaskan rumah kuno yang bertaman nyaman di
bagian belakang itu. ”Di sini saya tinggal bersama sepupu yang sudah sepuh
dan keponakan.”

Kota Bogor yang ia mukimi sejak tahun 1953 itu adalah saksi perjalanan
Gunawan Wiradi yang bergelombang besar di beberapa bagian.

Bungsu dari 11 bersaudara— enam meninggal dalam usia muda—anak pasangan Pujo
Sastrosupodo dan RA Sumirah, yang menjadi yatim sejak usia setahun itu,
semula ingin menjadi pilot, tetapi tak kesampaian karena tinggi tubuhnya tak
memenuhi syarat.

”Saya pernah melamar ke Angkatan Laut, diterima, tetapi tak diizinkan Ibu.
Salah satu kakak saya, anggota marinir Kerajaan Belanda, gugur dalam perang
melawan Jepang,” kenang dia.

*Pengagum Soekarno*

Gunawan remaja yang ngenger pada pamannya untuk bisa sekolah, memutuskan
kuliah di Universitas Indonesia Jurusan Pertanian (sekarang Institut
Pertanian Bogor/IPB), setelah mendengarkan pidato Soekarno tentang
pentingnya pertanian untuk membangun Indonesia.

Kekagumannya terhadap Soekarno mengantarnya masuk barisan nasionalis
pendukung Bung Karno. Peristiwa 65, disusul kejatuhan Soekarno, berimbas
pada karier akademis Gunawan Wiradi. Ia tak boleh lagi mengajar di IPB.
Teman-temannya memalingkan muka, ”Pura-pura tidak kenal,” ia mengenang.

Kesempatan studi lanjut ke AS pun gagal. ”Tak ada satu universitas pun di AS
yang mau menerima orang yang dicap pendukung Soekarno, kecuali Cornell.
Tetapi, untuk masuk Cornell, hasil tes TOEFL saya kurang sedikit.”

”Selama tujuh tahun saya kerja apa saja,” lanjut dia, mengenang masa-masa
paling memengaruhi keputusannya untuk melajang. ”Jadi sopir truk juga
pernah.”

Ia kembali ke dunia intelektual setelah pamannya, almarhum Soewito
Kusumowidagdo, pulang ke Tanah Air setelah menjalani tugas sebagai Duta
Besar di Swedia. ”Beliau menyuruh saya kembali ke dunia intelektual.”

Jalan untuk kembali itu dibuka Prof Sajogyo yang sangat ia hormati sebagai
guru, bapak, dan kolega yang merekrutnya sebagai peneliti lapangan untuk
Proyek Survei Agro Ekonomi (SAE) pada tahun 1972. Prof Sajogyo pula yang
kemudian memintanya memberi kuliah di pascasarjana IPB.

”Prof Tjondronegoro juga banyak membantu saya, bukan hanya dalam hal
pekerjaan tetapi terutama yang berkaitan dengan masalah politik. Beliau
banyak melindungi saya,” ia mengenang.

Kini, dalam perjalanannya menuju ujung, Gunawan Wiradi tak pernah menyesali
yang pernah terjadi. ”Saya belajar ikhlas supaya bisa melangkah terus.
Seluruh pengalaman hidup memberi pembelajaran kepada saya. Tak ada yang
buruk. Semuanya adalah jalan,” ujar dia. (MH/NMP)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/06/07/03203198/jalan.pembelajaran


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[email protected] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke