Habib Husein Al-Habsy : gApa PKS Tidak Tahu Istri Boediono Katolik?h
Boediono terpilih jadi cawapresnya SBY karena parpol-parpol Islam lemah dalam negosiasi. Mereka cenderung memanfaatkan umatnya demi harta dan kekuasaan. PRESIDEN Ikhwanul Muslimin Indonesia (IMI) Habib Husein Al-Habsyi begitu geram ketika parpol-parpol Islam tetap berkoalisi mendukung SBY meski yang dipilih sebagai cawapres bukan dari kalangan parpol Islam. gApa PKS tidak tahu kalau istri Boediono itu Katolik,h ujar Habib Husein Al-Habsy kepada Sri Widodo dari Indonesia Monitor, Jumat (29/5). [Image] Kenapa Anda begitu kecewa SBY memilih Boediono sebagai cawapres? Kata William Shakespeare, janganlah terlalu royal dalam memrediksi sesuatu, termasuk kepada diri sendiri. SBY terlalu royal. Dia sudah tidak memedulikan apa yang akan terjadi, eSilakan, saya sudah terpilih, saya bisa berbuat apa sajaf. Padahal kita tahu betul pemilu legislatif tidak legitimate. Pemilu paling kocar-kacir dalam sejarah pemilu Indonesia. Penunjukan Boediono bermakna SBY mengabaikan partai Islam. Mengapa parpol Islam tidak berhasil memengaruhi SBY? Kita melihat partai-partai Islam yang mengatasnamakan Islam yang membuat SBY tidak memperhitungkan PKS. Padahal sebelumnya mereka ngotot tidak mau pakai Boediono, tapi tahu-tahu PKS berubah 180 derajat. Hal yang yang paling jahat di dunia ini adalah orang-orang yang memanfaatkan theologi untuk kursiologi dan fulusiologi. Seburuk itukah partai Islam? Saya adalah orang yang paling tidak suka terhadap partai-partai Islam di Indonesia, karena mereka memanfaatkan umat yang masih setia, konsekuen, dan istiqomah dengan relijius. Mereka dimanfaatkan oleh politisi yang mengaku relijius tetapi jahat, semata untuk uang dan kursi. Kata Imam Ali, orang yang paling bodoh di dunia ini adalah dia tertipu dengan dunianya. Tapi akan lebih bodoh lagi kalau dia tertipu oleh dunianya orang lain. Nah, partai-partai Islam ini tertipu untuk dunianya orang. Jadi, bagaimana SBY mau segan terhadap Islam, mau memperhitungkan Islam kalau parpol Islam seperti itu. Seperti itu bagaimana? Mana mungkin dalam waktu beberapa jam saja PKS bisa berubah pandangan 180 derajat. Saya yakin ini ada penawaran-penawaran tertentu. PKS pasti mendapat penambahan jatah menteri. Mungkin PKS bilang, eMenteri agama jangan dikasih ke nasi uduk, jangan dikasih ke NU, kasih saja ke PKSf. PKS ini kan Wahabiisme. Bukankah itu bagian dari negosiasi dengan SBY? Bukan. Itu satu penghinaan dari SBY terhadap partai-partai Islam. Itu satu kesombongan yang ditunjukkan oleh SBY. Kita tahu SBY menderita satu penyakit yang sangat kronis, yakni dia tidak ragu-ragu untuk ragu-ragu. Dalam segala hal dia selalu tidak ragu-ragu untuk ragu-ragu. Tapi dalam hal pemilihan cawapres, bagi SBY tidak ada keraguan sama sekali karena partai Islam bisa diakali. Apa karena lobi mereka terlalu lemah? Satu hal dari PKS dan partai Islam lainnya, mereka sama sekali tidak diperhitungkan oleh SBY. Tapi mereka semua justru mengakali umat untuk kepentingan mereka masing-masing. Apakah PKS tidak tahu bahwa istrinya Boediono Katolik? Tapi saya tidak akan bahas itu, Katolik atau bukan, tapi kejadian ini menunjukkan keadaan yang tidak demokratis. Boediono ini Islamnya Islam iwak ya iwak, celeng ya celeng, Islam tra-la-la. PKS sadar tentang hal ini, tapi mereka berhitung dengan kursi yang bakal diperoleh, makanya tutup mata dengan penunjukan Boediono. Bukankah banyak orang Jawa yang Islamnya seperti Boediono? Islam Kejawen tidak kita persoalkan, tapi ada Islam yang menjadi antek asing. Dia itu memang neoliberal sekali. Dia itu antek AS, antek Barat, dan antek kapitalis. PKS sendiri menyadari hal itu. Dalam strunggle, perjuangan ideologi di dunia ini, tidak ada tiga, yang ada dua, right atau wrong, haq atau bathil, haram atau halal. Kata Imam Ali, barang siapa yang menyatakan netral dalam satu persoalan prinsip, gelindingkan dia ke tempat lawan. PKS memakai akal-akalan dengan berdalih agama. Kalau SBY-Boediono terpilih akan seperti apa wajah bangsa ini? Pertama, pemilu legislatif tidak legitimate, karena ada 50 juta orang tidak ikut pemilu dan Mahkamah Konstitusi ngakali. Panwaslu lapor ke polisi, tapi polisi sengaja mengulur waktu sampai waktunya habis. Saya tidak takut ngomong apapun, wong saya tidak punya kepentingan. Saya tidak mengomprengkan baju gamis saya, jenggot saya untuk dunia. Tidak. Yang paling bikin rusak agama ini adalah habib omprengan, kiai omprengan, ustad omprengan, dan yang paling melacur di dunia politik, menjual agama, adalah partai-partai Islam. SBY menggaransi Boediono penganut Islam yang taat, menurut Anda? SBY jelas berbohong. Itu sesuai dengan keyakinan dia bahwa politik merupakan alat untuk mencapai kekuasaan dengan jalan apa saja. Kenapa dia memilih Boediono, karena apa yang ada di balik yang ada. Ini pasti pesanan dari zionis internasional, IMF, World Bank, agar memilih Boediono. Seperti Purnomo Yusgiantoro, itu pesanan dari Vatikan. Siapa yang berani utak-atik kasus Karaha Bodas. Itu kan milik Yusgiantoro. Mengapa Anda tidak berjuang lewat partai? Kalau kita ikut-ikutan, sama saja kita sekarang menggulingkan maling yang satu untuk mengangkat maling yang lain. Kalau dikatakan Boediono titipan asing, apa yang diharapkan asing terhadap Boediono? Kita lihat Megawati yang tidak punya knowledge, hanya lulus SMA saja, dia bisa jual aset-aset negara. Bagaimana dengan Boediono yang pintar itu, dia pasti akan melebihi Megawati. Sistem pasar bebas ini pasti akan betul-betul digalakkan, akibatnya yang miskin tambah miskin yang kaya tambah kaya, lalu akan terjadi hukum archimedes, sebuah benda dimasukkan ke dalam air, maka benda itu akan mendapat gaya tekanan ke atas sebesar air yang ditumpahkan, dan akan terjadi revolusi jalanan. Kemarahan rakyat dan muslim yang baik akan memuncak. Pengaruh kemiskinan bisa membuat orang bersatu. Bagaimana Anda melihat non-Islam menjadi istri wakil presiden? Kalau Islam mayoritas dipimpin oleh minoritas, itu tidak boleh. Tidak usah bicara soal agama deh, secara demokrasi hal itu tidak demokratis. Itu namanya penindasan manusia atas manusia dalam soal ideologi, theologi. Itu akan menimbulkan pergerakan dan kehancuran. Itu memberi kesempatan kepada kelompok radikal atau ekstrem untuk bertindak. Di mana pun kelompok radikal tidak akan membawa kebaikan kecuali kehancuran. Indonesia bisa seperti Pakistan. Penetapan Boediono akan memicu radikalisme? Ya, radikalisme. Radikalisme itu tidak hanya Islam saja, semua agama, semua mahzab, semua isme itu memiliki kelompok radikal, kelompok fundamentalis. Bagi Boediono status agama tampaknya tidak terlalu penting? Ya itu tadi, Islam tra-lala, dan yang mengangkat dia menjadi muslim yang taat adalah SBY. Klop deh. Apa karena itu sehingga dia belum naik haji juga meski kekayaannya Rp 22,6 miliar? Tanya saja ke PKS, mau apa dia. Sekarang bagaimana mungkin Boediono mau naik haji, wong dia tidak punya keyakinan ke situ kok. Nanti untuk menenangkan rakyat, dia akan naik haji dengan dana eAtas Biaya Dinasf, semua bisa diatur.f ¡ http://www.indonesia-monitor.com/main/index.php?option=com_content&task=\ view&id=2333&Itemid=33 <http://www.indonesia-monitor.com/main/index.php?option=com_content&task\ =view&id=2333&Itemid=33> Nada Sumbang Jelang Pelaminan Boediono disebut-sebut penganut ajaran Kejawen. Bahkan, sang istri, Herawati, dikabarkan beragama Katolik. Kader-kader parpol Islam di ujung bimbang. [Image] RABU, 13 Mei 2009. Rumput masih berembun ketika Amien Rais tiba di kompleks Istana Negara, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta. Diarahkan petugas penerima tamu, Ketua MPP DPP PAN itu bergegas masuk Wisma Negara. Tak selang lama, SBY yang mengundang Amien secara khusus, menyambut dengan senyum mengembang. Usai jabat tangan dan cipika-cipiki, mereka berbicara serius, empat mata. gSaya bilang, ePak SBY, saya masih belum mengerti jalan pikiran Pak SBY memilih Boediono sebagai cawapresf,h tutur Amien Rais di depan kader-kader PAN di Libra Room, Hotel The Sultan, Senin (25/5). Meski SBY telah menjelaskan panjang lebar, Amien masih tetap merasa belum puas. Ia pun kembali membombardir lawan bicaranya itu dengan argumen yang telah ia susun rapi selama di perjalanan ke Istana. gPak SBY dan Pak JK itu sangai ideal, karena majemuk. Wajar kalau pemerintahan SBY-JK sukses. Pemimpin yang benar memang harus mengedepankan kemajemukan, seperti halnya Bung Karno dan Bung Hatta,h urainya. Tak lupa, Amien juga menying gung keringnya warna Islam jika SBY memaksakan diri tetap mengambil Boediono sebagai tandemnya di Pilpres 2009. Ia khawatir, kader-kader parpol Islam bakal bimbang jika ada pilihan yang lebih mengena di hati mereka. gSaya sendiri kalau bicara di hadapan warga Muhammadiyah, memperjuangkan SBY- Boediono, akan sulit bicara. Beda kalau SBY-Hatta, bakal lancar banget. Meski nggak disangoni, pakai duit sendiri saya rela,h ucapnya. Meski berbusa-busa, argumentasi Amien sepertinya dianggap angin lalu oleh SBY yang pagi itu bergegas terbang ke Manado untuk meninjau persiapan pembukaan World Ocean Conference. Amien pun buru-buru cabut. Sesampai di rumah, Amien langsung menulis surat sepanjang empat halaman yang ditujukan khusus kepada SBY. gSaya tulis pakai bahasa Inggris,h ujarnya. Dalam suratnya, Amien mengakui mustahil berharap SBY mengubah keputusannya. Namun, sebagai sahabat, dia ingin memberikan beberapa pandangannya, termasuk menyebut keunggulan pasangan gtetanggah, JK-Wiranto. gPasangan JK-Wiranto berhasil menerapkan politik simbol. Misalnya Pak JK berasal dari Makassar, istrinya Padang. Sementara Pak Wiranto asli Solo, istrinya Gorontalo. Dan istri-istri mereka pakai jilbab,h ungkapnya. Sehari kemudian, menjelang deklarasi SBY-Boediono, 15 Mei 2009 di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), ITB, Bandung, Amien kembali bertemu SBY. Di situlah ia akhirnya angkat tangan. SBY memastikan tidak akan mengubah pilihannya. gSehingga PAN, nggak perlu ngoyo. Setel kendo saja. Karena masa depan PAN masih panjang, tidak bergantung Pilpres,h ujarnya. Amien pun lantas membebaskan kader PAN untuk menetapkan pilihan capresnya, apakah masuk barisan pendukung JK-Wiranto, Mega-Prabowo, atau tetap di SBY- Boediono. Dia juga menjamin tidak akan ada sanksi kepada kader PAN yang bergabung dengan capres di luar SBY. gKalau ada kader PAN ber-ijtihad ke capres lain, silakan saja. Itu bukan pengkhianat,h tegasnya. Kini, kekhawatiran Amien menjadi kenyataan. Setelah ia membebaskan kader-kader PAN menentukan sikapnya di pilpres, kini giliran kader-kader PKS yang dilanda kebimbangan. Mereka merasa sedang berada di persimpangan jalan. Tak sekadar soal isu jilbab yang santer selama sepekan ini karena istrinya SBY dan Boediono tidak memakai jilbab seperti istri JK dan Wiranto, kader-kader PKS kini juga dibingungkan dengan munculnya kabar tentang status keislaman keluarga Boediono. gKawan-kawan pada bertanya, apa betul istri Boediono non-muslim,h ujar sumber Indonesia Monitor di lingkungan internal PKS. Pertanyaan ini menjadi urgen karena sebelumnya kader-kader PKS berharap istri SBY dan Boediono mengenakan jilbab sebagai jawaban atas keraguan status keislaman keluarga Boediono. gKalau ternyata Bu Herawati non-muslim, gimana mau pakai jilbab,h cerusnya. Benarkah Ny Herawati Boediono non-muslim? Prof Dr Suparman, mantan konsultan Bappenas saat Boediono menjabat Menteri Negara Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, mengungkapkan, istri Boediono memang non-muslim. gYa, memang Katholik,h ujar Suparman kepada Indonesia Monitor, Kamis (28/5). Tak hanya itu. Boediono, menurut Suparman, juga memiliki standar keislaman yang berbeda, baik dengan Muhammadiyah maupun NU. gKalau dilihat dari kacamata PKS, Islamnya Boediono tidak akan masuk,h ujar Direktur Pascasarjana Universitas Tarumanegara, Jakarta itu. Sebagai Islam dengan latar-belakang Jawa, menurut Suparman, keislaman Boediono kental dengan warna Kejawen. gMayoritas orang Jawa pasti Kejawen, apakah dia Islam, Katolik, Hindu, atau Budha,h lanjutnya. Pengakuan Suparman dikuatkan oleh Habib Husein Al-Habsyi, Presiden Ikhwanul Muslimin Indonesia. Menurutnya, istri Boediono memang seorang penganut Katolik. Makanya, dia mengaku heran ketika PKS tetap mendukung SBY ketika capres Partai Demokrat itu menetapkan Boediono sebagai cawapresnya. gApa PKS tidak tahu bahwa istrinya Boediono Katolik,h ujar Habib Husein Al-Habsyi kepada Indonesia Monitor, Jumat (29/5). gPKS sebenarnya sadar dengan hal ini, tapi mereka berhitung dengan kursi yang bakal mereka peroleh, makanya mereka tutup mata dengan penunjukan Boediono,h tambahnya. Ketua Umum PB Al-Wasliyah, KH Azidin, justru menyoroti kualitas keagamaan Boediono yang dikatakan SBY sebagai gmuslim yang taath saat pidato deklarasi pencalonan mereka di Gedung Sabuga, Bandung. Sebab, berdasarkan laporan harta kekayaan yang diserahkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai salah satu syarat pencalonan, harta Boediono cukup fantastis: Rp 22,6 miliar. Namun, sampai saat ini mantan Gubernur BI itu belum menunaikan ibadah haji. gKalau seseorang sudah mampu berhaji, harus dan wajib melaksanakan. Kalau orang yang mampu berhaji tapi tidak melaksanakannya sampai akhirnya wafat, maka dia bisa menjadi orang yang merugi, bahkan bisa musrik karena tidak melaksanakan rukun Islam yang kelima,h ujar Azidin kepada Indonesia Monitor, Rabu (27/5). Makanya, kata dia, wajar saja jika kader-kader parpol Islam menolak Boediono. Sayangnya, keberatan mereka tidak didengar oleh SBY. Makanya, dia mewanti-wanti kepada parpol-parpol yang masuk dalam koalisi pendukung SBY-Boediono. gSiap-siaplah dikhianati SBY. Jangan ada penyesalan,h ujar mantan anggota DPR dari Partai Demokrat itu. Menurut politisi penganut aliran Kejawen, Permadi, sangat wajar jika Boediono sebagai orang Jawa Islamnya Kejawen. Jadi, selain menjalankan shalat lima waktu, seorang Islam Kejawen juga menjalankan ritual Kejawennya. gTerserah penafsiran orang apakah itu mau dikatakan musrik atau justru Islam yang sempurna,h ujar Permadi kepada Indonesia Monitor, Rabu (27/5). Permadi menyarankan, sebaiknya Boediono terbuka dengan status keagamaan keluarganya, jangan ada yang disembunyi-sembunyikan. Sebab, kalau tidak terus terang, justru serangan terhadap keyakinannya akan semakin gencar. gSebaiknya Boediono ksatria seperti saya, bahwa saya Kejawen, apa susahnya,h tutur politisi PDIP yang baru lompat ke Partai Gerindra itu. Mantan Staf Ahli Boediono saat menjabat Menko Perekonomian, Agam Embun Sunarpati, menepis sangkaan berbagai pihak yang mengatakan Ny Herawati beragama Katolik. gItu salah total. Itu jelas salah. Faktanya, Ibu itu seorang muslimah seperti kebanyakan orang di Indonesia. Saya tahu persis kalau soal itu,h ujar Agam Embun Sunarpati kepada Indonesia Monitor, Sabtu (30/5). Agam juga heran dengan kesangsian beberapa pihak dengan status keislaman Boediono. Menurutnya, keislaman Boediono tak perlu diragukan lagi. Bahkan, tak sekadar ucapannya, tapi juga perilakunya sudah sangat islami. Dia tahu persis karena selama menjadi Menko Perekonomian, dialah yang selalu membuat agenda kerja Boediono. gKalau lagi rapat, terus tiba waktunya shalat, beliau meminta untuk istirahat dan rapat diskors dulu untuk shalat,h tuturnya. Hal senada diungkapkan H Yaqub Chudori, kolega Boediono di kampus UGM Yogyakarta. Dia mengaku telah bergaul dengan Boediono sejak 1987 sehingga tahu persis sosok pria kelahiran Blitar, 25 Februaru 1943 itu, termasuk ketaatannya dalam beragaman. gBeliau bahkan ikut tarikat Al-Kamal di bawah asuhan KH Tohir Wijaya, meski belum dibaiat. Markasnya ada di Kebon Jeruk dan Blitar,h ujar Yaqub Chudori kepada Indonesia Monitor, Rabu (27/5). gTapi tipikal beliau memang begitu, nggak banyak omong, sehingga tak banyak yang tahu aktivitas keagamannya,h tambahnya. Yaqub hanya tertawa geli ketika dikonfirmasi soal isu bahwa Ny Herawati, istri Boediono, beragama Katolik. Namun, ia juga sedih isu semacam itu masih saja muncul untuk mendeskreditkan keluarga Boediono. gIni kayak kasus Bu Ani Yudhoyono yang disebut-sebut beragama Kristen karena namanya Kristiani,h tuturnya. Ketua DPP PKS Mahfudz Siddiq ketika dikonfirmasi soal tudingan beberapa pihak ahwa istri Boediono non-muslim, mengaku tidak tahu-menahu soal latar-belakang dan record keluarga Boediono. Apakah PKS tidak menyelidiki terlebih dulu sebelum memutuskan berkoalisi mendukung SBY-Boediono? gKita memilih capres-cawapres kan bukan personal, tapi performa. Kalau soal itu (dugaan non-muslim) sangat personal, tidak relefan dikaitkan dengan dukungan PKS ke pasangan SBY-Boediono,h elak Mahfudz Siddiq kepada Indonesia Monitor, Senin (1/6). Sementara itu, Boediono memastikan jika dirinya dan istrinya, Herawati, beragama Islam. Makanya, dia meminta agar publik tidak mempertanyakan lagi keislamannya. gSejak lahir sampai saat ini saya tidak pernah pindah agama. Islam adalah pegangan hidup saya dan keluarga,h ujar Boediono kepada wartawan di Pondok Tempo Doeloe Juanda, Surabaya, Minggu (31/5). Soal istrinya yang tidak mengenakan jilbab, Boediono mengatakan, meski tidak berjilbab dalam kesehariannya, ia tidak pernah meragukan keislaman istrinya. ¡ Moh Anshari, Sri Widodo, Iwan Purwantono http://www.indonesia-monitor.com/main/index.php?option=com_content&task=\ view&id=2329&Itemid=33 <http://www.indonesia-monitor.com/main/index.php?option=com_content&task\ =view&id=2329&Itemid=33> [Non-text portions of this message have been removed]
