tanda-tandanya sudah jelas!

  ----- Original Message ----- 
  From: hamzah sahal 
  To: kmnu kmnu ; [email protected] ; nurul ummah ; wong cirebon 
  Sent: Thursday, June 11, 2009 10:14 AM
  Subject: [kmnu2000] Fw: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Fw:10 Tanda-tanda Kekalahan SBY





  -----10 Tanda-tanda Kekalahan SBY dari tetangga------

  ----- Forwarded Message ----
  From: Satrio Arismunandar <[email protected]>
  To: news Trans TV <[email protected]>; kampus tiga 
<[email protected]>; HMI Kahmi Pro Network 
<[email protected]>; ppiindia <[email protected]>; Forum 
Kompas <[email protected]>; jurnalisme 
<[email protected]>; sastra pembebasan 
<[email protected]>; nasional list 
<[email protected]>; Pers Indonesia <[email protected]>
  Sent: Wednesday, June 10, 2009 6:35:02 PM
  Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Fw:10 Tanda-tanda Kekalahan SBY

  Date: Wednesday, June 10, 2009, 5:01 PM

  [ dari milis tetangga.... ]

  10 Tanda-tanda Kekalahan SBY 

  Oleh ichwan kalimasada - 21 Mei 2009 

  Ada beberapa peristiwa yang terjadi pada masa pemilu ini, mungkin hanya 
terjadi kebetulan, namun makna peristiwa ‘kebetulan’ bisa jadi adalah pertanda. 
Kalimat bijak mengatakan,”tak mungkin ada asap jika tak ada api”, mendung 
adalah pertanda hujan, sebagai pertanda bisa turun hujan bisa juga tidak, 
dengan demikian bagi para fans SBY Berbudi kiranya bisa memaklumi postingan 
saya ini. Ibarat pawang hujan yang menggiring agar si mendung tidak menurunkan 
hujan di tempat SBY Berbudi, nah ..metafora ini bisa menjadi saran bagi tim 
sukses SBY Berbudi agar segera menyiapkan pawang setelah membaca tulisan saya 
ini.

  Seorang paranormal Ki Joko Bodo juga telah meramalkan kekalahan SBY seperti 
postingan saya sebelumnya http://public. kompasiana. com/2009/ 04/22/ramalan- 
ki-joko-bodo- sby-tumbang/ tanda-tanda lain adalah sebagai berikut :
  1. Dalam Rakernas PD di Kemayoran pasca Pileg, SBY melontarkan kalimat akan 
menolak hasil pemilu 300 % jika masalah DPT tidak selesai, ini pengingkaran 
nyata yang tidak disadari SBY, karena jika mau menyelesaikan DPT Pileg, maka 
sejumlah pemilih yang tidak masuk List DPT saat Pileg, harus diadakan 
pencontrengan ulang. Nyatanya tidak dilakukan, secara tidak sadar SBY 
sebenarnya sudah menolak hasil Pileg yang dimenangkan oleh PD.
  2. Saat SBY melakukan sukuran di Cikeas untuk kemenangan PD di Pileg 
melontarkan pidato perang urat syaraf terhadap JK dengan slogan lebih cepat 
lebih baik, padahal slogan ini ada sebelum masa kampanye Pileg, koq bukan saat 
itu SBY bereaksi. Artinya SBY menyadari posisi yang terpojok, merasakan 
bayang-bayang kekalahan, penurunan semangat keyakinan akan menang. Lontaran ini 
juga disampaikan pada saat yang kurang tepat, lagi acara sukuran, kenapa mesti 
di isi dengan pidato seolah permusuhan. Artinya menodai barokah sukuran itu 
sendiri.
  3. SBY tidak Berbudi lagi, istilah ini muncul setelah tagline SBY Berbudi 
diganti dengan SBY-Boediono, karena makna berbudi bagi orang palembang bermakna 
pembohong. Bagi kalangan yang percaya dunia mistikus ini adalah pertanda buruk, 
bagi kalangan awam ini menjadi tanda tanya besar, “koq bisa kena gitu ya.” 
Terlepas dari ini saya menilai bahwa SBY memilih Boediono tidak dalam persiapan 
yang matang, seperti tiba masa tiba akal, buktinya taglinenya mengalami 
kesalahan fatal. Jadi lamanya penentuan sikap SBY memilih cawapres bisa 
dikatakan SBY sangat gamang, lelet dan tidak bisa berpikir cepat dan strategis 
di dalam menentukan sikap.
  4. Pemilihan Boediono SBY seperti bertarung mengundi nasib bak pepatah, “Air 
di tempayang ditumpahkan karena mengharap hujan besar akan datang,” Motivasi 
lain memilih Boediono selain sebagai misi di dalam membangun citra bahwa SBY 
serius menangani persoalan ekonomi Indonesia adalah kaderisasi Boediono sebagai 
Capres PD di Pemilu 2014. Ternyata Boediono mengalami banyak penolakan di 
berbagai kalangan, ini kesan arogansi SBY, padahal banyak tokoh lain yang lebih 
baik dan tidak resisten konflik di tengah masyarakat. Membuang air ditempayang 
karena jika berpasangan dengan JK atau HNW, SBY sudah jelas menang, sangat 
mungkin menang di putaran pertama. memilih Boediono karena mengharap hujan 
besar akan datang, bisa menang Pilpres nanti, bisa melindungi obligor BLBI yang 
bermasalah, dan Boediono siap di kader oleh SBY untuk suksesi di Pilpres 2014. 
Jika hujan besar yang diharap tidak datang, apa mau dikata mari bersama PD 
makan bubur. Yang jelas bulan Juli
  dan September saat Pilpres itu sudah musim kemarau.
  4. SBY sebagai presiden adalah Pangti TNI, pada hari Senin 6 April 2009 pukul 
13.00 Wib Pesawat Fokker TNI AU jatuh di Lanud Hussein Sastranegara Kota 
Bandung di mana SBY mengambil tempat deklarasi nyapres juga di kota Bandung. 
Saat deklarasi SBY Berbudi mengenakan busana warnah merah, simbol kalah, jatuh 
dan terluka. Mungkin kebetulan saja. Namun pada hari Selasa 28 April 2009 pukul 
10.30 Wib Pesawat TNI AL Tobago (TB-10) jatuh di Sungai Srilandak Semarang 
Jateng. Artinya SBY akan kalah telak di Dapil Jateng dan Jogya, mungkin dari 
JK-Wiranto atau Mega-Pro, yang jelas SBY Berbudi jadi nomor bontot kurus kering 
di Jateng. Dan pada Hari Rabu 20 Mei 2009 pukul 06.00 Pesawat Hercules C-130 
jatuh di Magetan Jatim di mana Jatim sebagai tempat kelahiran SBY dan Boediono 
dengan dukungan PKB diperkirakan akan menuai suara padat voter. Peristiwa ini 
pertanda mungkin SBY Berbudi akan kalah suara dari pasangan lain di Jatim, 
mungkin pula pertanda SBY Berbudi kalah
  dalam Pilpres.
  5. SBY telah mengingkari karomah tanggal kelahirannya 9 September 1949 yang 
selama ini dipercayainya, contohnya PD dibentuk pada tanggal 9 September 2001 
dan memiliki Tabloid SBY 9949. Karena deklarasi capresnya diadakan pada tanggal 
15 Mei 2009 diundur dari rencana paling awal pada tanggal 9 Mei 2009. Kebetulan 
tanggal 15 Mei adalah hari kelahiran JK yang sudah deklarasi di Tugu 
Proklamasi, mungkin kebetulan bisa pertanda SBY Berbudi akan terkalahkan oleh 
JK-Wiranto.
  6. Pertanda lain dengan dipilihnya Boediono, mesin politik koalisi partai 
dari PAN, PKS dan PPP, akan berbuat setengah hati, mendua, buktinya elit ketiga 
partai ini mengalami perpecahan. Di level grassroot voter ke tiga partai ini 
menjadi massa mengambang, potensi swing voter cukup tinggi.
  7. Massa voter SBY-JK di Pilpres I 2004 adalah 33 %, pada putaran ke dua 66 
%, penolakan SBY berduet kembali dengan JK, menghasilkan 33 % massa mengambang, 
akan melakukan swing voter ke pasangan lain sebagai dampak rasa kecewa.
  8. Issu ketrlibatan Boediono di dalam kasus Obligor bermasalah BLBI. Pada 
tahun 1997-1998 pemerintah Orba mengundang IMF masuk ke Indonesia di mana 
Boediono dan Sri Mulyani adalah perwakilan pemerintah di dalam TIM IMF dalam 
rangka misi perbaikan ekonomi dengan cara resstrukturisasi dunia perbankan dan 
pengurangan subsidi BBM serta pengucuran BLBI di dalam penyiapan Aksevibilitas 
penyediaan dana perbankan yang mulai kekurangan modal karena aksi money rust 
para penabung.
  9. Pada jaman kepresidenan Megawati, dimana SBY dan JK mundur, Boediono 
sebagai menteri keuangan merekomendasi penjualan beberapa BUMN seperti Indosat 
ke pada Investor asing, hal ini juga bagian dari scenario IMF untuk menyehatkan 
BUMN dengan melegonya ke pihak asing. Dan pada posisi yang sama Boediono 
kembali menggelontorkan dana 600 trilyun umumnya kepada obligor BLBI yang 
bermasalah dan sekarang menjadi donasi partai tertentu dan kontestan pilpres, 
di mana pada Pemilu 2004 para obligor ini juga menjadi donasi yang sama, 
seperti gaya klasik Robin Hud. Dana 600 trilyun ini juga masih macet dan 
bermasalah. Jadi jangan heran jika muncul tudingan Pengwapresan Boediono adalah 
sebuah scenario besar menyelamatkan para obligor BLBI yang bermasalah. 
http://public. kompasiana. com/2009/ 05/16/scenario- besar-penyelamat 
an-obligor- blbi/. Boediono melahirkan citra kesedarhanaan palsu, hidup 
sederhana tetapi menumpuk uang 22,06 Milyar, dengan pertambahan setiap
  tahun
  sebesar 3 Milyar. Sedangkan figur Boediono tidak memiliki ladang bisnis atau 
aktivitas sosial.
  10. Issu Boediono sebagai neoliberalisme dapat dipahami karena beliau ahli 
dalam bidang ekonomi makro, memahami kedua korelasi ini anda tidak perlu untuk 
kuliah di fak ekonomi karena ekonomi makro menganut paham pasar bebas, 
invidualitas, dan penguatan ekonomi pada investor usahawan yang tidak peduli 
apakah itu dari investor dalam negeri atau pihak asing. kalau proses tender 
tentu investor asing lebih unggul. Dari berbagai tekanan dan issu praduga sepak 
terjang Boediono, menurut informasi salah seorang teman jurnalist kawakan, 
bahwa Boediono mungkin akan mundur sebagai cawapres SBY.
  Anda setuju tidak setuju dengan postingan ini, ini hanya analisa pertanda 
seperti ramalan cuaca, lebih cepat lebih baik para fans SBY dan Tim Suksesnya 
menjadikan tulisan ini sebagai referensi menyiapkan pawang hujan, karena dua 
pasangan lain tentu sudah menyiapkan hal yang sama. Wallahualam.

  New Email addresses available on Yahoo! 
  Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail.
  Hurry before someone else does! 

  [Non-text portions of this message have been removed]

  [Non-text portions of this message have been removed]



  

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke