Islam agama rasional. Yang sering tidak rasional adalah pemeluknya.
KM

----Original Message----
From: [email protected]
Date: 22/06/2009 20:26 
To: <[email protected]>, <[email protected]>, 
<[email protected]>, <[email protected]>, <keluarga-
[email protected]>, <[email protected]>, <bahasa-
[email protected]>, <[email protected]>, 
<[email protected]>, <[email protected]>, 
<[email protected]>, <[email protected]>, 
<[email protected]>, <[email protected]>, 
<[email protected]>, <[email protected]>, 
<[email protected]>, <[email protected]>, 
<[email protected]>
Subj: [kmnu2000] Islam Agama Rasional










Nourdeen Wildeman, 26 tahun, adalah warga Belanda yang
"resmi" masuk Islam pada 9 Desember 2007. Meskipun baru menjadi
mualaf, ia telah aktif dalam dakwah Islam. Saat ini, ia sedang 
mempersiapkan
peluncuran program dakwah yang sedang berlangsung dengan tema, 
"Temukan
masjid yang menyajikan terbaik buat Anda."



Program tersebut bertujuan untuk mendata profil masjid-masjid di 
Belanda. Lewat
program ini, diharapkan setiap Muslim dapat mengetahui segala hal 
tentang
masjid; semua informasi yang berkenaan dengan setiap masjid.



Program ini menyajikan secara lengkap profil setiap masjid, seperti 
latar
belakang etnisnya, alamat, kode pos, nomor telepon, alamat e-mail, 
gambar
masjid, bahasa yang digunakan dalam khotbah Jumat, toko buku, 
kapasitas muat
masjid untuk laki-laki dan perempuan, ketersediaan kamar mandi dan 
tempat wudlu
baik untuk laki-laki atau perempuan, dan tak ketinggalan beberapa 
kondisi umum,
seperti bangunan tua, tidak ada parkir, pelajaran khusus, kelengkapan, 
dan juga
jadwal shalat sesuai dengan lokasi tertentu.

 



Awal Mengenal Islam

 

Nourdeen
mengaku tidak tahu kapan persisnya ia benar-benar menjadi seorang 
Muslim.
Perkenalannya dengan Islam dimulai empat atau lima tahun sebelum ia 
resmi
mengucapakan dua kalimat syahadat. Semua dimulai dari keingintahuannya 
tentang
Islam yang waktu itu sedang hangat-hangatnya dibicarakan di media 
Eropa, pasca
tragedi 11 September.



 

"Buku pertama yang saya baca tentang Islam sangat akademis dan sangat
sulit dipahami. Karenanya saya memutuskan untuk mencari buku lain agar 
saya
dapat lebih mudah memahami Islam, dan saya tetap membaca dan lebih 
banyak
lagi," kenang Nourdeen.



"Setelah membaca banyak buku, saya menemukan bahwa Islam tidak seperti
anggapan saya selama ini. Justru banyak ajaran Islam yang sesuai 
dengan apa
yang saya percayai secara natural," tambahnya.



Menurut Nourdeen, Sebagian besar pencitraan media terhadap Islam 
sepenuhnya
salah. Anggapan media Barat bahwa Islam adalah agama penindas hak 
perempuan
merupakan kekeliruan besar. Islam juga bukan agama kekerasan dan 
teroris.
Baginya, Islam bukan hanya agama damai namun juga agama yang 
menghormati akal.



"Saya menemukan Islam sebagai agama yang sangat rasional. Agama yang
mendukung ilmu pengetahuan. Ia mendorong manusia untuk memahami dan 
menafakkuri
segala sesuatu di sekitarnya. Sebuah agama yang mengajak umatnya untuk 
berfikir
kritis," paparnya.



"Sebelum mendalami Islam, saya selalu berpikir bahwa menjadi seorang 
atheist
mungkin lebih mudah dan enak, saya bisa bebas melakukan apa pun yang 
saya
inginkan, namun hati kecil saya selalu mengkritik gaya hidup seperti 
itu, dan
akhirnya saya mencapai kesadaran tentang Tuhan. Inilah kebenaran yang 
saya
rasakan dalam Alquran dan hadis," akunya.

 

 

Respons Keluarga dan Lingkungan

 

Nourdeen
lahir dan besar dalam keluarga dengan multikepercayaan, ayahnya 
seorang atheist,
sementara ibunya penganut agamanya Kristen Protestan. Keputusannya 
untuk
menjadi mualaf tidak mendapat penentangan yang berarti dari 
keluarganya.



Keinginan Nourdeen untuk menjadi Muslim memang tidak langsung ia 
ceritakan
kepada kedua orangtuanya. Nourdeen hanya beruhasa memancing reaksi 
mereka
dengan bertanya kepada mereka jika ia beralih ke agama lain seperti 
Islam,
mereka menyatakan bahwa itu adalah pilihan hidupmu, selama tidak 
mengganggu
siapa pun, ia bebas menentukannya.



Meskipun begitu ibu Nourdeen sempat menasihatinya bahwa menjadi 
Kristen itu
lebih mudah. Nourdeen pun menjawab, "saya tidak sedang mencari agama 
yang
paling mudah, tetapi palaing benar."



Berbeda dengan ibunya, ayahnya justru memberi dukungan penuh kepada
keputusannya tersebut. "Saya sangat bahagiaakarena ayah bersedia
mendampingi saya di saat saya mengucapkan dua kalimat syahadat, dan 
ini terekam
oleh kamera video. Ia mendukung saya karena saya merupakan bagian dari 
dia, dan
Islam akan menjadi bagian dari saya, maka dia akan menerima saya 
dengan keislaman
saya," papar Nourdeen.



Kebebasan yang diberikan keluarganya ini diakui Nourdeen sebagai 
anugrah besar.
Karena menurutnya, tak sedikit teman-teman mualaf yang menghadapi 
masalah yang
cukup serius akibat dari penentangan pihak keluarga.



"Kenyataannya, memang banyak dari mualaf yang menghadapi masalah 
keluarga
ketika mereka menyatakan diri sebagai Muslim. Rata-rata yang 
mengahadapi
problem seperti ini adalah perempuan," ujarnya.



"Saya sangat menghormati perempuan di negara ini yang menjadi mualaf,
karena kondisi yang mereka hadapi lebih sulit, belum lagi problem 
pakaian yang
mereka kenakan. Bahkan ada yang diusir dari rumah mereka dan keluarga 
mereka
tidak mau menerima mereka lagi. Karenanya, saya sangat beruntung, 
alhamdulillah,
dengan keluarga saya.



Respons positif pun Nourdeen dapatkan dari atasan kerjanya. Setelah 
resmi
menjadi Muslim, Nourdeen kemudian mengirim e-mail kepada atasannya 
untuk
memberitahu atasanya tersebut bahwa ia telah menjadi seorang Muslim.



"Namun, alhamdulillah, saya tidak kena damprat. Justru saya
mendapat bonus pada akhir tahun berdasarkan evaluasi kerja saya. 
Atasan saya
mengatakan bahwa di samping saya memeliki kinerja yang baik, saya juga 
mampu
membuat pilihan yang sulit ketika saya memilih menjadi seorang Muslim. 
Dia
mengatakan bahwa saya memiliki keberanian untuk mengambil pilihan yang 
sulit di
samping saya mampu bekerja dengan baik," paparnya.

 



Mendalami Islam



Setelah resmi masuk Islam, Nourdeen masih terus bersemangat dalam 
mempelajari
Islam. Ia juga sering berdiskusi dengan umat Islam yang lebih senior, 
namun
kegemarannya melahap buku-buku Islam justu menjadikannya lebih banyak 
tahu
tentang Islam dibanding mereka.



"Saya membaca buku karangan Tariq Ramadan berjudul In the Footsteps of
the Prophet (Jejak-jejak Nabi). Buku ini banyak membantu saya sebagai
Muslim Eropa karena ditulis dengan cara yang cocok bagi orang Barat. 
Metode
Arab dalam penulisan cerita berbeda dengan metode Barat, tetapi Tariq 
Ramadan
mampu menyampaikan pesannya dengan menggunakan pendekatan Barat," ujar
Nourdeen.



"Saat ini, saya juga mempelajari Alquran di Dar al-'Ilm di
Belanda. Tempat ini menyediakan kajian Alquran secara menyeluruh dari 
A hingga
Z berdasarkan Tafsir Ibnu Kathir," imbuhnya.

 

Menanggapi perkembangan isu keislaman dan perbedaan kultur dan kondisi 
antara
Barat dan Timur, Nourdeen mengatakan bahwa beberapa fatwa yang 
dikeluarkan di
banyak negara-negara Muslim tidak dapat dilaksanakan secara 
keseluruhan di
negara-negara Muslim minoritas. Beberapa modifikasi harus dilakukan 
agar sesuai
dengan kondisi Barat.-taq

 



http://www.republika.co.
id/berita/57297/Nourdeen_Wildeman_Islam_Agama_Rasional




                
                                
                        


      

[Non-text portions of this message have been removed]




Kirim email ke