”GONG” SANG KHALIFAH
Mayor Jenderal TNI (Purn) Saurip Kadi
Tugas manusia di dunia sebagai khalifah (wakil Tuhan). Ini menunjukkan
kedekatan manusia dengan Tuhan. Tidak ada yang lebih tinggi dari manusia,
karena diatasnya ”wakil” ya Tuhan itu sendiri. Dalam agama Kristen Katholik,
kedekatan ini diistilahkan dengan sebutan ”Anak Tuhan”. Dalam paham Jawa
disebut “Manunggaling Kawulo Gusti” (yang merupakan sintesis dari paham Hindu,
Budha dan Islam walau sering disebut aliran Kejawen). Dewasa ini, pemahaman
agama yang berkembang, lebih menitikberatkan arti agama sebagai kelompok dan
simbol, bukanlah agama dalam artian ajaran (DIN) atau “way of life”. Apalagi
kalau dalam membaca ayat-ayat lebih sebagai tekstual dan jauh dari kontekstual.
Lebih parah lagi ketika pendalaman ayat-ayat yang bersifat perumpamaan (Jawa:
sanepo) atau isyarah, kemudian dibaca secara literal. Padahal dalam akidah,
ayat-ayat yang diwahyukan justru dalam bentuk isyarah-isyarah atau “sanepan”
(petunjuk yang disamarkan)
untuk tujuan keabadian ajaran tersebut. Ketika ayat-ayat dibaca secara
harfiah, agama jadi kehilangan ”api”-nya, kehilangan semangatnya. Maka dalam
realitanya agama tidak bisa menjawab tuntutan dan tantangan jaman. Agama
seperti ayat-ayat mati, hafalan semata, yang tidak mampu menyelesaiakan
persoalan manusia, persoalan masyarakat. Bahkan sering, yang muncul malah
pertikaian oleh sebab beda pemahaman agama.
Manusia yang fitrahnya khalifah harus bisa secara global memimpin dunia.
Siapapun orangnya, kalau dia sadar bahwa dirinya adalah khalifah Allah, mereka
akan mampu memimpin dunia. Manusia seharusnya tidak memperkerdil diri dengan
pengakuan sebuah bangsa. Detik detik kita mengaku bahwa kita bangsa Indonesia
maka tidak ada kepedulian untuk memimpin dunia. Pengakuan ini akan memperkerdil
cara pikir, memperkerdil budaya maupun kebudayaan. Sehingga amat sulit untuk
mengetahui dan memahami kebudayaan bangsa bangsa lain, jangankan bangsa lain,
suku-suku lain pun tidak mampu dipahami. Jadi kekerdilan jiwa atas pengakuannya
sendiri. Siapapun yang mengaku khalifah harus mempunyai sifat-sifat globalisasi
itu. Jadi kalau orang mengaku tidak mampu menerapkan sifat-sifat Allah yang
Maha Global, Maha Majemuk, maka sesungguhnya dia terjerumus dalam kekerdilan
itu sendiri.
Khalifah harus belajar firman bukan belajar agama. Ahli firman, dia pasti akan
menindak-lanjuti pengertian-pengertian itu sebagaimana Allah bekerja walau
tidak nampak. Pada perilaku. Bukan pada kata-kata bersyair. Seorang khalifah
mau tidak mau, sadar atau tidak, mereka itu sudah menjadi penampakan Allah itu
sendiri. Kalau sebagai penampakan Allah, bekerja itu tidak perlu diperlihatkan
kepada siapapun dan juga tidak berhitung upah. Kekayaan Allah akan dibagikan
kepada pelaku-pelaku firman. Lha kita mau bergerak sedikit saja, nomor satu
yang sangat diharapkan adalah upah, setidaknya sanjung puji, pengakuan diri,
yang ujungnya kesombongan. ini satu upah yang amat amat gawat. Orang akan
terjerumus kedalam sifat iblis.
Sifat Iblis itu enggan lagi takabur. Akhirnya seorang pemimpin enggan untuk
berbuat, hanya bisa perintah, takabur merasa dirinya sudah dipilih oleh
rakyat. Mereka menjadi pemimpin merasa telah dipilih rakyat malah menjadi
berkuasa terhadap rakyat, sewenang-wenang kepada rakyat. Itu bukan pemimpin.
Kalau pemimpin itu tercetus dari jiwa nuraninya sendiri, otomatis sudah bisa
mempimpin dirinya. Upahnya hanya apa? Upahnya melihat kebahagiaan siapapun dan
apapun yang dipimpinnya maka dia akan mendapatkan kebahagiaan dirinya. Ini
kodrat yang sesungguhnya sebagai khalifah Allah.
Sebagaimana tertulis dalam Injil 1-Yohanes-2 ayat 15-17 yang mengatakan bahwa
“Janganlah engkau mengasihi dunia dan apa yang ada didalamnya. Jikalau orang
mengasihi dunia, maka kasih Bapa tidak ada didalam orang itu. Sebab semua yang
ada didalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan
hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.. Dan dunia ini sedang
lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap
hidup selama-lamanya. Atau di Al-Quran Surat 16 An-Nahl ayat 96 yang berbunyi:
Apa-apa yang yang ada pada kamu akan lenyap dan apa-apa yang di sisi Allah
adalah kekal. Dan sungguh Kami memberi balasan terhadap orang-orang yang sabar
akan pahala yang lebih daripada apa yang telah mereka kerjakan.
Globalisasi kalau diterjemah melalui diri kita masing-masing, globalisasi itu
hati. Di dalam hati itu ada nur (cahaya). Di dalam nur (cahaya) itu ada ilmu.
Di dalam ilmu ada rasa. Rasa ini sangat-sangat murni. Rasa tidak tergantung
oleh kulit. Kalau kita melihat buah maja yang begitu ranum rasanya tetap pahit.
Kalau rasa ini dipergunakan memimpin jagat secara global pasti berhasil, dan
pasti akan menjadi panutan alam semesta. Energi alam semesta berpadu mesra
dengan energi kehidupan manusia sebagai khalifah Allah. Bukan bertubrukan
dengan energi negatif dan mendorong kemunculan kemarahan alam. Sebagaimana
sudah disampaikan dalam Al Quran Surat 8 Al Anfaal 7-21 yang intinya manusia
sebagai khalifah Allah bisa minta apa saja, bahkan bisa mendapat kekuatan
seribu malaikat bila dikehendaki, tetapi semua dengan tanggung-jawab sesuai
dengan derajat yang dimintanya. Semakin tinggi derajat yang diminta maka
tanggung-jawab dan kewajiban untuk melaksanakan sesuai
dengan derajatnya tadi merupakan suatu keharusan. Apabila tanggung-jawab
tersebut tidak dilakukan maka akan bertentangan dengan rumus-rumus alam
semesta, maka akan terjadi benturan-benturan antara energi positif dan negatif,
dan terjadilah berbagai macam kejadian alam yang mengejutkan. Kalau dalam paham
agama Hindu itu ada Dewa Syiwa yang bertugas menghancurkan karena cinta semata,
dengan landasan cinta kasih untuk menyelamatkan dari keterjerumusan yang lebih
dalam lagi, maka perlu peringatan berupa kehancuran. Termasuk tanda-tanda alam.
Keterpurukan kita bangsa Indonesia terutama karena dari kaum agamis, karena
hanya mempelajari ajaran-ajaran agama tidak menggunakan hati yang global
(cinta) tadi. Jalan keluar satu-satunya adalah ajaran-ajaran agama harus
ditingkatkan sehingga menemukan mutiara-mutiara ajaran secara global. Apakah
itu agama yang dianut oleh orang-orang terdahulu, aliran sobiin, siapaun aliran
kepercayaan, aliran Yahudi Nasrani atau Muslim harus digali benar-benar agar
menemukan roh dari ajaran, initisari ajaran. Bukan terjebak kepada
simbol-simbol agama yang bertentangan satu sama lain sehingga mengarah kepada
pertikaian. Allah memang menciptakan manusia yang berbeda-beda, bersuku-suku,
berbangsa-bangsa, dengan tujuan agar manusia bisa saling belajar, saling
mengasihi, dan mendapatkan esensi kehidupan. Bukan malah mempertajam perbedaan
untuk egoisme masing-masing kelompok. Dalam surat 5 Al-Maaidah ayat 8 berbunyi:
Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi
orang-orang yang menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan
adil. Dan janganlah sekali-kali kebencian kamu terhadap sesuatu kaum mendorong
kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat
kepada taqwa. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Maka, seorang miskin ataupun seorang Jenderal harus berbangga bahwa dirinya
sebagai pengejawantahannya Gusti. Otomatis Allah pun merasa tersanjung.
Otomatis Allah akan memberikan kekuatan, daya pikir, daya rasa, daya tahan, dll
kekuatan yang dibutuhkan, Itulah pengertian globalisasi. Globalisasi bukan cuma
soal perdagangan, karena kalau demikian mengecilkan arti Allah. Masak sama
Allah berbisnis, berdagang. Karena kita terilhami oleh globalisasi yang artinya
bisnis, maka pemimpin pemimpin yang muncul selalu berhitung untung rugi semacam
itu. Kalau Berbisnis sama Allah apa kita kuat bayar, udara yang kita hirup
saja sudah berapa ongkosnya? Tanah yang memberikan dengan segala hasil bumi,
hasil tambang, air, dll. Berapa ongkosnya? Apakah Allah pakai hitung-hitungan?
Kalau manusia tidak sadar akan peran Gusti dalam wadag dirinya, maka itu
namanya menghina Allah. Misalnya, bagaimana tidak menghina Allah kalau
perwujudan Gusti kok korupsi, perwujudan Gusti
kok penakut dan was-was, tidak berani mengambil keputusan buat rakyat,
perwujudan Gusti kok mengemis-ngemis, perwujudan Gusti kok serakah, perwujudan
Gusti kok tidak peka terhadap penderitaan rakyat?
Seorang pemimpin harus punya jiwa petani. Karena khalifah itu harus berkorban
dulu, menanam dulu, baru panen. Memberi dulu baru nanti Allah akan memberikan
rejeki nya masing-masing. Jangan belum menanam sudah berteriak-teriak terus
dalam doa kepada Allah minta rejeki. Kan tidak demikian aturan mainnya. Bunda
Theresa waktu diwawancara tahu 1974 dia bilang: “I see God in every Human
being. When I wash the leper’s wounds, I fee like I am nursing God Thyself.
Isn’t a very sweet experiences?” (Saya melihat Tuhan dalam diri setiap manusia.
Ketika saya memandikan penderita lepra, saya merasa saya sedang merawat Tuhan
itu sendiri. Bukankah itu pengalaman yang indah?)
Al-quran surat 2 ayat 41 sama dengan Yesaya 58 yang berbunyi: Mereka
berterak-tereak mencari Tuhan tapi tidak mengenal Tuhan, jadi tidak pernah
ketemu.. Walau sampai pakai loudspeaker, sampai pakai lagu dan tangisan, dll.
Ayat Al Mukminun 22 ayat 74 yang bunyinya ”Kenalilah Allah dengan sebenar benar
kenal”. Surat 22 ayat 77 bunyinya ”Kalau sudah kenal, rukuk lah kamu, sujudlah
kamu, sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah kebajikan agar kamu mendapat
kemenangan”. Rukuk itu tingkatkan kepedulianmu. Cari orang-orang yang butuh
digembirakan, disantuni, disayangi. Sujud itu artinya hayati betul-betul rasa
cintamu jangan membeda-bedakan warna kulit, latar belakang sosial, apapun
perbedaannya. Sujud mengandung arti diluar cinta kita harus berperilaku
sebagaimana bumi berperilaku. Sujud kan menyentuh bumi. Bumi itu diinjak-injak,
dikencingi, dipacul, dll. tetap menghasilkan yang bermakna untuk manusia.
Menyembah itu hormat menghormati. Tidak akan bisa
menyembah Allah kalau kita tidak bisa menyembah atau menghormati diri sendiri.
Menghormati diri sendiri adalah melakukan hal-hal yang baik pada diri, bukan
yang merusak diri, seperti korupsi, serakah, malas dan mengemis, was-was dan
takut, sibuk memikirkan citra diri tapi lupa esensi, dst. Kebajikan itu
mencegah semua jenis perbuatan keji atau mungkar. Sementara sholat sudah
terinspirasi oleh isu dagang, mengerjakan ritual dengan paradigma dagang, maka
sholat menjadi gerakan badan yang ekspresinya hanya jengkang jengking, tapi
makna sholat, hakekat sholat, mendirikan sholat itu seharusnya aktualisasi
kebajikan itu. Jadi bukan sendratari gerakan sholatnya tapi perbuatannya,
perilakunya, implementasinya.
Sebagaimana tertulis dalam Surat 16 An-Nahl ayat 93 yang berbunyi: ”Dan jika
Allah menghendaki niscaya Dia menjadikan kamu umat yang satu, akan tetapi Dia
menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan Dia tunjuki siapa yang Dia kehendaki.
Dan sungguh kamu akan ditanya apa-apa yang kamu telah kerjakan”. Selanjutnya
dalam Surat 29 Al-Ankabuut ayat 2 dikatakan: ”Apakah manusia mengira bahwa
mereka akan dibiarkan berkata, ’Kami telah beriman’, sedang mereka tidak
diuji?” Maka, perbedaan suku, bangsa, etnis, perbedaan kaya miskin, perbedaan
derajat dan pangkat, perbedaan cara pikir dan cara pandang, dll. Itu adalah
sama saja. Itu merupakan kesatuan proses kehidupan yang merupakan ujian yang
harus dijalani dengan arif bijaksana, dengan sabar, untuk menuju kesucian,
sehingga layak berada di sisi Allah.
Dewasa ini sulit sekali membedakan antara agama yang dikehendaki oleh Allah
dengan agama yang dicetuskan oleh pengikut Rasul. Walau mereka fasik atau hafal
Alkitab atau Al-Quran, tetapi apakah itu yang dikehendaki Allah? Mestinya
masing-masing pelaku akan mencari sudah benarkah agama yang aku peluk. Bukan
kata orang. Apakah ini betul-betul agama Rasul ataukah ini agama yang sudah
dipecah-pecah oleh pengikut Rasuil, karena Allah sendiri mengisyaratkan bahwa
agama yang ada itu hanya agama yang sudah dipecah belah oleh pengikut rasul
sebagaimana tersurat dalam surat 23 Al-Mukminun ayat 53. “Kemudian mereka
pengikut Rasul memecah belah agama itu menjadi beberapa pecahan yang mereka
banggakan oleh pemeluk masing-masing”. Seharusnya agama itu adalah agama tauhid
yaitu agama yang satu, dengan berkiblat kepada Allah semata dengan mengikuti
rasul sebagaimana tercantum dalam Surat 23 Al-Mukminun ayat 52. “Sesungguhnya
agama Tauhid ini adalah agama kamu semua
agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu maka bertakwalah kepadaku”.
Jadi Islam tunduk patuh harus konsisten dengan ikrarnya sendiri, yaitu
Takbiratul ikhram. Disitu setiap anak manusia berjjanji mengikrarkan diri untuk
menyerahkan sesungguhnya sholat amal ibadah hidup dan mati hanya kepada Allah.
Sholat disini berarti perilaku bukan hanya ritual sholat. Perilaku terpuji itu
harus didasari oleh tuntunan rohulkudus atau al-quran yang telah ditiupkan
kedalam dada manusia itu sendiri. Misalnya, ajaran Yesus tentang contoh-contoh
mukjijat yang membuat orang buta dapat melihat, bisa menghidupkan orangmati,
itu artinya bagaimana orang yang buta mata hatinya, bisa melihat kembali
keindahan karena kasih sayang. Orang yang mati jiwanya karena kebekuan dan
berbagai keduniawian akan bangkit kembali dalam hidup yang penuh kebahagiaan.
Kalau semuanya berani merevolusi diri, mulai memperbaiki atas kelancangan
sumpahnya sendiri, didandani, konsisten betul-betul, tidak mungkin agama saling
menuding ini kafir, ini aliran sesat, dll. Karena iman itu letaknya di
perbuatan, di perilaku. Sebagaimana disampaikan sbb: “Iman tanpa perbuatan pada
hakikatnya mati”, itu Yakobus 2 ayat 14-26. Bahkan diperjelas dalam Injil 1
Yohanes 3 ayat 16-18 yang berbunyi: “Demikianlah kita ketahui kasih Kristus,
yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa Nya untuk kita; jadi kitapun wajib
menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita. Barangsiapa mempunyai harta
duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu
hatinya terhadap saudara-saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap
didalam dirinya. Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan
atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran”.
Sebagaimana tersurat dalam Surat 4 Annisa ayat 3 yang berbunyi: “Dan jika kamu
takut tidak bisa berbuat adil terhadap hak-hak perempuan yatim, bilamana kamu
mengawininya, maka kawinilah wanita-wanita lain yang kamu senangi dua, tiga
atau empat, Kemudian jika kamu takut tidak dapat berlaku adil, maka kawinilah
seorang saja atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih
dekat kepada tidak berbuat aniaya”. Dalam ayat tersebut tidak ada perintah
dengan kata-kata “Hai laki-laki….” Dan tidak ada urusannya dengan jenis kelamin
dan kawin mengawini. Ini urusan akhlak dan tauhid tentang hawa nafsu.
Kawinilah dua, yaitu amarah (marah) dan lawamah (sabar), tiga yaitu muthmainah
(ada orang susah maka disantuni), empat sofiah (ada keterpurukan bangsa maka
ajaklah rakyat pada kebenaran), minimal satu yaitu rohulkudus (nur muhammad),
yang selalu mengingatkan kepada perbuatan baik. Atau ”budak-budakmu” yaitu
semua hal yang menghambakan
diri pada manusia, bisa kekayaan, pangkat, jabatan, keris, berhala, dll.
Al-Quran itu ada sebelum dunia ini ada. Sebagaimana tercantum dalam surat 75
ayat 16-19 yang intinya adalah “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk membaca
al-quran karena hendak cepat-cepat menguasainya (hafalan). Sesungguhnya, atas
tanggungan Kami lah, mengumpulkannya di dadamu dan membuatmu pandai membacanya.
Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya itu, kemudian
sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya”. Jelas, tugas khalifah di
muka bumi ini adalah membumikan ajaran Allah. Ajaran Allah harus nyata. Harus
bisa dirasakan di dunia ini, bukan hanya nanti di akhirat. Jangan terbalik.
Kalau di dunia ini baik, maka akhirat tentu baik. Bukan sebaliknya, di dunia
kacau kok melarikan diri dengan iming-iming seolah nanti di akhirat baik. Dalam
surat 11 Huud ayat 93 dikatakan: ”Hai kaumku, berbuatlah kamu sesuai dengan
cara kamu, Aku pun berbuat (dengan cara Ku), kelak kamu akan mengetahui siapa
yang ditimpa azab yang
menghinakan, siapa yang berdusta, dan tunggulah (apa yang bakal terjadi)
sesungguhnya Aku pun menunggu bersama kamu”. Disini artinya, manusia harus
bekerja, berkarya sesuai dengan kemampuannya, sejauh itu berdasar kepada
tuntunan yang telah ditetapkan oleh Allah, dan yakin bahwa Allah juga bekerja
bersama manusia.
Cinta itu global, universal, Ibarat ”Gong”, yakni perangkat dari gamelan. Kalau
“gong” sudah berbunyi maka dia bisa menyerap semua nada. Baik nada sumbang
sekalipun akan terserap oleh bunyi “gong”. Sifat ini yang harus dimiliki oleh
pemimpin. Yaitu adalah cinta kasih. Kalau ada cinta kasih inilah maka semua
nada-nada dunia baik yang sumbang maupun yang merdu akan bersatu terserap oleh
energi gong tadi. Maka, yang ada adalah pancaran kesejukan cinta kasih yang
mengayomi kehidupan. Dengan inilah kemelut bangsa ini bisa diselesaikan. Karena
cinta kasih itu nyata, riil, bukan lagi di bibir saja. Bukan lagi ilusi. Cinta
itu perwujudan. Dapat dirasakan rakyat. Fungsi “gong” juga adalah mengarahkan
keseluruhan orkestra gamelan sehingga menjadi suatu karya yang harmonis, enak
didengar, dan memberikan nuansa keterpaduan, keserempakan, arahnya jelas.
Bangsa ini juga demikian perlu “gong” yang jelas mau dibawa kemana bangsa ini
agar tercipta
suatu tatanan yang harmonis. Akankah ”Gong” tersebut muncul di 2009 ini?
Wallahuallam wisawab.
[Non-text portions of this message have been removed]