--- On Sun, 7/5/09, aminmaulanamaksom maksom <[email protected]> wrote:

From: aminmaulanamaksom maksom <[email protected]>
Subject: Re: [elbebken] Hasil Musyawarah Bersama KMNU se-jawa Barat
To: [email protected]
Date: Sunday, July 5, 2009, 7:19 AM











    
            
            


      
      Hasil Musyawarah Bersama Kaum Muda Nahdlatul Ulama Se-Jawa Barat  
Di Pon-Pes Babakan Ciwaringin Cirebon 
21-22 Juni 2009 
  
Temuan Dasar 
  
Cirebon 
Problem Internal 

Orientasi politik PC NU kurang Jelas. 
Orang-orang NU mudah terpecah. 
Banom-banom NU tidak berfungsi dalam penguatan ke-NU-an di daerah.  
PC NU dan Banom-Banom NU terkesan elitis. Bergerak hanya dilevel elit, tidak 
berada ditengah masyarakat. 
Lemahnya pemahaman keASWAJA-an 
Problem eksternal 

Kantong-kantong atau pusat-pusat kegiatan keagamaan yang dekat dengan 
masyarakat seperti Islamic Centre, Masjid dll dikuasai non NU 
Strategi gerakan Islam Transnasional membaur dengan masyarakat hingga mengikis 
satu persatu kader-kader NU. 
Penguasa daerah cenderung memporak porandakan NU dengan menundukkan satu 
persatu tokoh NU. 
  
Majalengka 

Politisi NU tidak memberikan kontribusi apapun terhadap NU 
NU sebagai ajaran yang berfaham Ahlussunnah Wal Jama’ah kurang di kenal 
ditengah pelosok pedesaan 
Belum ditemukan benang merah antara kantong-kantong NU seperti pesantren, 
madrasah dll dengan pola gerakan NU. Sehingga, sense of belonging (rasa 
kepemilikan) terhadap NU kurang maksimal. 
Membaurnya gerakan Islam transnasional ditengah masyarakat melalu gerakan etik 
moral  
  
Kuningan 

Gerakan NU kurang Massif 
Jiwa ke-NU-an nya sangat lemah, baik dilingkungan pesantren maupun masyarakat 
umum 
Tidak terkoordinasi nya kader-kader muda NU 
Kurang menjiwai dalam memahami ASWAJA 
solideritas keder-kader Islam transnasional cukup kuat 
  
Inderamayu 

NU Tidak mempunyai kharisma dimata penguasa 
Banom-banom NU kurang maksimal dalam upaya kaderisasi NU 
Massa NU yang tercecer 
Fungsi advokasi NU dan banom-banom NU tidak berjalan 
Kurang konsolodasi antara PC NU dan kantong-kantong NU 
Lemahnya pemahaman ASWAJA ditengah masyarakat 
gerakan Islam Transnasional mulai bangkit 
  
Karawang 

PC NU hanya berfungsi sebagai jembatan politik 
Tidak ada rasa kepemilikan (sense of bellonging) terhadap NU. 
Lemahnya program-program ke-NU-an 
Jarang melakukan aktivitas ditengah masyarakat 
Tidak terkoordinasi nya kader-kader muda NU 
Cukup kuat gerakan Islam transnasional 
  
Bandung 

Tidak ada konsentrasi khusus dalam pengenalan ke-NU-an di lembaga-lembaga 
pendidikan selain pesantren 
Kaderisasi NU cukup lemah 
PC NU dan Banom NU Tidak produktif dalam mengembangkan wacana ke-NU-an dan 
keislaman. 
Lemahnya pemahaman ASWAJA. 
lembaga-lembaga pendidikan banyak dikuasai paham ideologi Islam Transnasional 
  
Sumedang 

NU berhenti sebatas formalitas organisasional, bukan sekaligus sebagai ajaran 
yang berfaham ahlussunnah wal Jama’ah. 
Pola strategi penanaman dan kecintaan terhadap ke-NU-an masih sangat lemah 
Fungsi sosial keagamaan NU tidak berjalan maksimal 
Penanaman wacana Islam transnasional bergerak cukup kuat baik melalui media 
masa, maupun pengajian-pengajian kultural. 
  
Bogor 

Fungsi NU dalam gerakan sosial keagamaan dan pendidikan masyarakat kurang 
maksimal. 
Kurang produktif dalam membangun wacana-wacana keislaman dan ke-NU-an 
PC NU kurang menopang dalam kegiatan-kegiatan anak muda NU 
Penguasa cenderung ke Islam Transnasional. 
Lemahnya gerakan NU di kantong-kantong pendidikan seperti dikampus IPB dan 
lain-lain 
Sense of bellonging terhdap NU sangat lemah. 
Masyarakat tidak dapat membedakan antara NU yang ASWAJA dengan gerakan 
Islam-Islam yang lain. 
Secara geografis, Bogor sebagai basis gerakan Islam Transnasional 
NU Tidak menguasai dan tidak memilki media. 
  
Sukabumi 

Kurang adanya penjelasan dari elit NU (Ulama) bahwa gerakan Islam Transnasional 
mengkrucut pada politik seperti PKS 
PC NU dan Banom NU terutama yang berbasis kalangan muda NU kurang melakukan 
aktivitas ditengah masyarakat. 
Lemahnya pemahaman ASWAJA dikalangan muda NU 
  
Ciamis 

NU tidak mengakar 
PC NU cenderung politis. Higga meninggalkan gerakan sosial keagamaan dan 
penanaman ahlussunnah wal jama’ah. 
NU sangat ekslusif dan tidak membaur ditengah masyarakat. 
Tidak terloordinirnya kalangan muda NU 
  
Banjar 

NU cenderung defensif dalam pola gerakan di Banjar 
Tercecernya kader-kader muda NU 
Kurang adanya rasa kepemilikan dikalangan muda terhadap NU 
Komunikasi elit NU dan gresroot NU sangat lemah. 
Gerakan Islam Transnasional selalu merongrong melalui wacana islam ekslusif 
  
Tasikmalaya 

Tidak sejalan dalam pola dan strategi gerakan antara fungsionaris NU dan Massa 
NU 
Kurang pemahaman tentang wawasan politik kebangsaan NU bagi kader-kader muda 
NU. 
Basis-basis keagamaan dan pendidikan, seperti masjid, madrasah dll. Banyak di 
kuasai kalangan Islam Islam Transnasional. 
Masyarakat NU yang miskin hingga muda disusupi kalangan Islam transnasional 
melalui gerakan pemberdayaan ekonomi. 
 

  
  
  
Langkah-Langkah Taktis dan Strategis Kaum Muda Nahdatul Ulama (KMNU) Jawa Barat 
  
1.      Menanamkan dan membangun pemahaman ASWAJA yang kini sebagai problem 
mendasar. 
2.      Melakukan komunikasi cultural dengan seluruh anggota KMNU se-Jawa 
Barat. 
3.      Melakukan NU-isasi di daerah jawa barat. 
4.      Mensosialisasikan NU ketingkat masyarakat bawah (grass root). 
5.      Melakukan kaderisasi dengan cara memasukan kurikulum ASWAJA dan 
ke-NU-an minimal ditingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah. 
6.      Melanjutkan pembasisan NU masyarakat di Jawa Barat. 
7.      Mengadakan pertemuan lanjutan yang diadakan secara bergilir di setiap 
kabupaten di Jawa Barat. 
8.      Merumuskan pola Sikap warga NU ketika menghadapi golongan islam 
Transnasional.  
9.      Mengidentifikasi perbedaan antara NU dan islam transnasional. 
10.  Membangun sinergitas NU melaui media.  
11.  Meneguhkan wacana demokrasi, gender, advokasi dan politik kebangsaan NU 
12.  Membangkitkan fungsi ulama sebagai sumber penjelasan tentang perbedaan NU 
dan gerakan Islam Transnasional.    
13.  Melakukan kajian lapangan untuk menemukan temuan-temuan baru terkait 
problem ke-NU-an di daerah. 
14.  Meminta tiap pesantren se Jabar menyiapkan minmal 5 alumninya untuk di 
dikirimkan sebagai tenaga pengajar di lemabag-lembaga pendidikan dan disebar ke 
masjid-masjid. 
15.  membangun small comunity (komunitas-komunita s diskusi kecil) di tiap 
daerah-daerah  se- Jawa Barat untuk penguatan wacana di tengah kader-kader muda 
NU..   
  
  
  
  
 

REKOMENDASI KAUM MUDA NAHDLATUL ULAMA 
(KMNU) 
JAWA BARAT 
  

PW NU dan PC NU di daerah-daerah Jawa Barat seyogyanya menlakukan penguatan 
ke-NU-an di seluruh wilayah Jawa Barat 
PW NU dan PC NU di daerah-daerah Jawa Barat seyogyanya memperjuangkan ASWAJA 
menjadi bagian kurikum di setiap pendidikan di tingkat Ibtidaiyyah, Tsanawiyyah 
dan Aliyah. 
PW NU dan PC NU di daerah-daerah Jawa Barat seyogyanya mendampingi masyarakat 
kecil yang tidak mendapatkan keadilan dari pemerintah. 
PW NU dan PC NU di daerah-daerah seyogyanya mengarahkan orientasi gerakannya 
melalui gerakan kesenian dan kebudayaan 
Banom-Banom NU dan lembaga-lembaga seperti ANSOR dll. Harus memfungsikan 
organisasinya bukan untuk jembatan karir politik. 
PW NU dan PC NU serta lembaga-lembaga seperti ANSOR dll. sudah harus memulai 
meningkatkan dakwah ke-Nu-an dan paham Aswaja ditengah-tengah masyarakat. 
Tidak menjadikan lembaga-lembaga NU sebagai alat untuk kepentingan pribadi dan 
kepentingan sesaat.  
  
 

PERNYATAAN SIKAP 
KAUM MUDA NAHDLATUL ULAMA  (KMNU) JAWA BARAT 
TERKAIT PERSOALAN TOL CIKOPO 
  
  
Setelah melalui musyawarah bersama Kaum Muda Nahdlatul Ulama se-Jawa Barat pada 
21-23 Juni 2009 di Pon-Pes Babakan Ciwaringin Cirebon, KMNU Jawa Barat 
merumuskan beberapa hal, salah satunya adalah merumuskan pernyataan sikap 
terkait persoalan Tol Cikopo. Kaum Muda Nahdlatul Ulama Jawa Barat menyepakati 
satu kepahaman bahwa : 
1.       Pemaksaan Tol Cikopo yang akan melintasi areal pesantren Babakan 
Ciwaringin Cirebon adalah bentuk keberpihakan pemerintah terhadap kaum pemodal 
(kapitalis) dan mengebiri hak rakyat. Pemaksaan tol cikopo adalah bagian dari 
praktik kapitalisme di Indonesia. 
2.       Terdapatnya surat keputusan (SK) kembar Gubernur Jawa Barat 
mengindikasikan adanya kerancuan secara hukum dan memungkinkan terjadinya 
praktik Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. 
3.       Inkonsistensi pemerintah dalam melakukan sosialisasi proyek tol cikopo 
menunjukkan mental birokrasi di Indonesia yang korup serta karatan. Hal ini di 
buktikan dengan telah dilakukannya sosialisasi oleh pihak Departemen PU di 
Purwakarta tanggal 8 Juni 2006 di gedung Bukit Indah Finansial yang melibatkan 
kepala Desa, Camat, Bupati serta Gubernur Jawa Barat, ternyata pada praktik di 
lapangan justru tidak sebagaimana yang disosialisasikan. 
4.       Keterlibatan Departemen Agama dalam menentukan kebijakan pemerintah 
terkait persoalan tol Cikopo menunjukkan semakin tidak profesionalnya kinerja 
pemerintah.   
Oleh karena itu, atas dasar alasan-alasan di atas, kami Kaum Muda Nahdlatu 
Ulama Jawa Barat menuntut pemerintah:  

Menuntut pemerintah memindahkan trase Tol Cikopo agar tidak melintasi areal 
pesantren dengan prinsip penegakan hak EKOSOB masyarakat. 
Menuntut pemerintah untuk  mempertanggung jawabkan atas kerusakan tatanan 
social masyarakat yang dulu hidup rukun dan harmonis akibat ulah oknum pejabat 
yang menggunakan cara-cara destruktif. Hal ini penting dilakukan atas prinsip 
membersihkan birokrasi dari mentalitas korup dan karatan. 
Menuntut pemerintah bersikap transparan dalam menjalankan setiap proyek 
nasional. Dengan prinsip keadilan dan prinsip pemberantasan Korupsi, Kolusi dan 
Nepotisme 
Menuntut menteri agama mencabut surat keputusannya yang berkaitan dengan 
persoalan tol cikapa dan menuntut menteri agama untuk meminta maaf terhadap 
kyai-kyai pesantren Babakan pada khususnya dan masyarakat Babakan pada 
umumnya..     
Seandainya proyek nasional ini diawali dengan cara-cara yang tidak baik, yakni 
tidak transparan, cenderung kotor dan mengabaikan suara rakyat serta 
mengabaikan tatanan hukum, maka bagaimana mungkin kedepan akan menghasilkan 
sesuatu yang baik pula bagi Negara dan untuk semua masyarakat. 
Jika seruan ini tidak diabaikan pemerintah, maka kami Kaum Muda Nhdlatul Ulama 
(KMNU) Jawa Barat akan terus menggelar aksi unjuk rasa di berbagai titik, 
setelah kemarin, tanggal 2 Juli 2009 dilakukan aksi di Departemen PU dan 
Departemen Agama Jakarta. 
  
  
  
  
  




Abdul Muiz Syaerozie 
Ketua Sementara KMNU Jawa Barat 

Muhammad Afifi Syarief 
Sekretaris Sementara KMNU Jawa Barat 
    

SERUAN KAUM MUDA NU JAWA BARAT TERKAIT PEMBANGUNAN PLTU DI KANCI CIREBON. 
  
Latar Belakang 
  
Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di desa Kanci kabupaten 
Cirebon merupakan salah satu proyek nasional yang pada dasarnya di fungsikan 
untuk mengatasi peroblem kelistrikan di Indonesia. 
  
Tetapi sayangnya, proyek tersebut di laksanakan secara gegabah.  
Pertama, Kajian atau analisis dampak lingkungan (AMDAL) tidak begitu di 
perioritaskan. Akibatnya pembangunan tersebut justru sangat membahayakan bagi 
masyarakat disekitarnya. Kecerobohan pemerintah dalam melakukan analisis dampak 
lingkungan menuai aksi protes dari masyarakat sekitar. 
  
Kedua, tempat yang digunakan sebagai lahan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 
merupakan lahan yang dijadikan oleh masyarakat sebagai lahan potensial bagi 
kehidupan ekonomi masyarakat. Penduduk kanci dan sekitarnya sangat 
menggantungkan sisi ekonominya pada sektor kelautan dan pertambakan. Akibatnya, 
keberadaan PLTU mengancam basis sumber ekonomi masyarakat kecil. 
  
Ketiga, Secara medis, keberadaan PLTU yang tidak begitu jauh dari pemukiman 
penduduk sangat mengancam sisi-sisi kesehatan masyarakat. Dan keempat, 
komunikasi pemerintah dalam hal menjalankan proyek PLTU dikanci lebih memberi 
peluang/rukhsah kepada kaum pemodal dari pada masyarakat Kanci. 
  
Oleh karena itu, Kami Kaum Muda Nahdlatul Ulama Jawa Barat menyerukan kepada 
pemerintah untuk mengulang kembali kajian atau analisis dampak lingkumgan 
(AMDAL). Dengan cara terbuka, transparan dan melibatkan elemen masyarakat serta 
memperhatikan masukan-masukan dari masyarakat secara umum. 
Pemerintah harus menghentikan proyek PLTU jika ditemukan indikasi keberadaan 
PLTU akan membahayakan sisi kesehatan dan ekonomi masyarakat disekitarnya. 
Demikian seruan Kaum Muda Nahdlatu Ulama Jawa Barat. Jika seruan ini diabaikan 
pemerintah maka kami akan melakukan protes besar-besaran 
  
  
. 




Abdul Muiz Syaerozie 
Ketua Kaum Muda Nahdlatul Ulama (KMNU) Jawa Barat 
  

Aghuts Muhaimin 
Koordinator Kaum Muda Nahdlatul Ulama Cirebon 
  
  
  
 

--- On Sun, 7/5/09, abdul muiz <abdul_muizbabakan@ yahoo.com> wrote:


From: abdul muiz <abdul_muizbabakan@ yahoo.com>
Subject: [elbebken] Hasil Musyawarah Bersama KMNU se-jawa Barat [1 Attachment]
To: elbeb...@yahoogroup s.com, ppiin...@yahoogroup s.com, santricerbon@ 
yahoogroups. com, kmnu2...@yahoogroup s.com, wongcer...@yahoogro ups.com
Date: Sunday, July 5, 2009, 6:08 AM








salam.
mohon maaf atas keterlambatan pengiriman informasi hasil musyawarah bersama 
Kaum Muda NU (KMNU) se Jawa Barat di Ponpes Babakan Ciwaringin Cirebon pada 
21-23 Juni 2009.
ini laporannya kami lampirkan.
ada tida hal.
1. rekomendasi
2. Pernyataan Sikap dan
3. hasil refleksi (temuan tiap daerah)

Terimakasih.
ttd
Abdul Muiz Syaerozie






      
 

      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke