Maaf..kang Hgofur, dikira dimilis ini ada fasilitas Attacment-nya.
Hasil Musyawarah Bersama Kaum Muda Nahdlatul Ulama Se-Jawa Barat
Di Pon-Pes Babakan Ciwaringin Cirebon
21-22 Juni 2009
Temuan Dasar
Cirebon
Problem Internal
1.Orientasi politik PC NU kurang Jelas.
2.Orang-orang NU mudah terpecah.
3.Banom-banom NU tidak berfungsi dalam penguatan ke-NU-an di daerah.
4.PC NU dan Banom-Banom NU terkesan elitis. Bergerak hanya dilevel elit, tidak
berada ditengah masyarakat.
5.Lemahnya pemahaman keASWAJA-an
Problem eksternal
1.Kantong-kantong atau pusat-pusat kegiatan keagamaan yang dekat dengan
masyarakat seperti Islamic Centre, Masjid dll dikuasai non NU
2.Strategi gerakan Islam Transnasional membaur dengan masyarakat hingga
mengikis satu persatu kader-kader NU.
3.Penguasa daerah cenderung memporak porandakan NU dengan menundukkan satu
persatu tokoh NU.
Majalengka
1.Politisi NU tidak memberikan kontribusi apapun terhadap NU
2.NU sebagai ajaran yang berfaham Ahlussunnah Wal Jama'ah kurang di kenal
ditengah pelosok pedesaan
3.Belum ditemukan benang merah antara kantong-kantong NU seperti pesantren,
madrasah dll dengan pola gerakan NU. Sehingga, sense of belonging (rasa
kepemilikan) terhadap NU kurang maksimal.
4.Membaurnya gerakan Islam transnasional ditengah masyarakat melalu gerakan
etik moral
Kuningan
1.Gerakan NU kurang Massif
2.Jiwa ke-NU-an nya sangat lemah, baik dilingkungan pesantren maupun masyarakat
umum
3.Tidak terkoordinasi nya kader-kader muda NU
4.Kurang menjiwai dalam memahami ASWAJA
5.solideritas keder-kader Islam transnasional cukup kuat
Inderamayu
1.NU Tidak mempunyai kharisma dimata penguasa
2.Banom-banom NU kurang maksimal dalam upaya kaderisasi NU
3.Massa NU yang tercecer
4.Fungsi advokasi NU dan banom-banom NU tidak berjalan
5.Kurang konsolodasi antara PC NU dan kantong-kantong NU
6.Lemahnya pemahaman ASWAJA ditengah masyarakat
7.gerakan Islam Transnasional mulai bangkit
Karawang
1.PC NU hanya berfungsi sebagai jembatan politik
2.Tidak ada rasa kepemilikan (sense of bellonging) terhadap NU.
3.Lemahnya program-program ke-NU-an
4.Jarang melakukan aktivitas ditengah masyarakat
5.Tidak terkoordinasi nya kader-kader muda NU
6.Cukup kuat gerakan Islam transnasional
Bandung
1.Tidak ada konsentrasi khusus dalam pengenalan ke-NU-an di lembaga-lembaga
pendidikan selain pesantren
2.Kaderisasi NU cukup lemah
3.PC NU dan Banom NU Tidak produktif dalam mengembangkan wacana ke-NU-an dan
keislaman.
4.Lemahnya pemahaman ASWAJA.
5.lembaga-lembaga pendidikan banyak dikuasai paham ideologi Islam Transnasional
Sumedang
1.NU berhenti sebatas formalitas organisasional, bukan sekaligus sebagai ajaran
yang berfaham ahlussunnah wal Jama'ah.
2.Pola strategi penanaman dan kecintaan terhadap ke-NU-an masih sangat lemah
3.Fungsi sosial keagamaan NU tidak berjalan maksimal
4.Penanaman wacana Islam transnasional bergerak cukup kuat baik melalui media
masa, maupun pengajian-pengajian kultural.
Bogor
1.Fungsi NU dalam gerakan sosial keagamaan dan pendidikan masyarakat kurang
maksimal.
2.Kurang produktif dalam membangun wacana-wacana keislaman dan ke-NU-an
3.PC NU kurang menopang dalam kegiatan-kegiatan anak muda NU
4.Penguasa cenderung ke Islam Transnasional.
5.Lemahnya gerakan NU di kantong-kantong pendidikan seperti dikampus IPB dan
lain-lain
6.Sense of bellonging terhdap NU sangat lemah.
7.Masyarakat tidak dapat membedakan antara NU yang ASWAJA dengan gerakan
Islam-Islam yang lain.
8.Secara geografis, Bogor sebagai basis gerakan Islam Transnasional
9.NU Tidak menguasai dan tidak memilki media.
Sukabumi
1.Kurang adanya penjelasan dari elit NU (Ulama) bahwa gerakan Islam
Transnasional mengkrucut pada politik seperti PKS
2.PC NU dan Banom NU terutama yang berbasis kalangan muda NU kurang melakukan
aktivitas ditengah masyarakat.
3.Lemahnya pemahaman ASWAJA dikalangan muda NU
Ciamis
1.NU tidak mengakar
2.PC NU cenderung politis. Higga meninggalkan gerakan sosial keagamaan dan
penanaman ahlussunnah wal jama'ah.
3.NU sangat ekslusif dan tidak membaur ditengah masyarakat.
4.Tidak terloordinirnya kalangan muda NU
Banjar
1.NU cenderung defensif dalam pola gerakan di Banjar
2.Tercecernya kader-kader muda NU
3.Kurang adanya rasa kepemilikan dikalangan muda terhadap NU
4.Komunikasi elit NU dan gresroot NU sangat lemah.
5.Gerakan Islam Transnasional selalu merongrong melalui wacana islam ekslusif
Tasikmalaya
1.Tidak sejalan dalam pola dan strategi gerakan antara fungsionaris NU dan
Massa NU
2.Kurang pemahaman tentang wawasan politik kebangsaan NU bagi kader-kader muda
NU.
3.Basis-basis keagamaan dan pendidikan, seperti masjid, madrasah dll. Banyak di
kuasai kalangan Islam Islam Transnasional.
4.Masyarakat NU yang miskin hingga muda disusupi kalangan Islam transnasional
melalui gerakan pemberdayaan ekonomi.
Langkah-Langkah Taktis dan Strategis
Kaum Muda Nahdatul Ulama (KMNU) Jawa Barat
1.Menanamkan dan membangun pemahaman ASWAJA yang kini sebagai problem mendasar.
2.Melakukan komunikasi cultural dengan seluruh anggota KMNU se-Jawa Barat.
3.Melakukan NU-isasi di daerah jawa barat.
4.Mensosialisasikan NU ketingkat masyarakat bawah (grass root).
5.Melakukan kaderisasi dengan cara memasukan kurikulum ASWAJA dan ke-NU-an
minimal ditingkat Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah.
6.Melanjutkan pembasisan NU masyarakat di Jawa Barat.
7.Mengadakan pertemuan lanjutan yang diadakan secara bergilir di setiap
kabupaten di Jawa Barat.
8.Merumuskan pola Sikap warga NU ketika menghadapi golongan islam
Transnasional.
9.Mengidentifikasi perbedaan antara NU dan islam transnasional.
10.Membangun sinergitas NU melaui media.
11.Meneguhkan wacana demokrasi, gender, advokasi dan politik kebangsaan NU
12.Membangkitkan fungsi ulama sebagai sumber penjelasan tentang perbedaan NU
dan gerakan Islam Transnasional.
13.Melakukan kajian lapangan untuk menemukan temuan-temuan baru terkait problem
ke-NU-an di daerah.
14.Meminta tiap pesantren se Jabar menyiapkan minmal 5 alumninya untuk di
dikirimkan sebagai tenaga pengajar di lemabag-lembaga pendidikan dan disebar ke
masjid-masjid.
15.membangun small comunity (komunitas-komunitas diskusi kecil) di tiap
daerah-daerah se- Jawa Barat untuk penguatan wacana di tengah kader-kader muda
NU..
REKOMENDASI KAUM MUDA NAHDLATUL ULAMA
(KMNU)
JAWA BARAT
1.PW NU dan PC NU di daerah-daerah Jawa Barat seyogyanya menlakukan penguatan
ke-NU-an di seluruh wilayah Jawa Barat
2.PW NU dan PC NU di daerah-daerah Jawa Barat seyogyanya memperjuangkan ASWAJA
menjadi bagian kurikum di setiap pendidikan di tingkat Ibtidaiyyah, Tsanawiyyah
dan Aliyah.
3.PW NU dan PC NU di daerah-daerah Jawa Barat seyogyanya mendampingi masyarakat
kecil yang tidak mendapatkan keadilan dari pemerintah.
4.PW NU dan PC NU di daerah-daerah seyogyanya mengarahkan orientasi gerakannya
melalui gerakan kesenian dan kebudayaan
5.Banom-Banom NU dan lembaga-lembaga seperti ANSOR dll. Harus memfungsikan
organisasinya bukan untuk jembatan karir politik.
6.PW NU dan PC NU serta lembaga-lembaga seperti ANSOR dll. sudah harus memulai
meningkatkan dakwah ke-Nu-an dan paham Aswaja ditengah-tengah masyarakat.
7.Tidak menjadikan lembaga-lembaga NU sebagai alat untuk kepentingan pribadi
dan kepentingan sesaat.
PERNYATAAN SIKAP
KAUM MUDA NAHDLATUL ULAMA (KMNU) JAWA BARAT
TERKAIT PERSOALAN TOL CIKOPO
Setelah melalui musyawarah bersama Kaum Muda Nahdlatul Ulama se-Jawa Barat pada
21-23 Juni 2009 di Pon-Pes Babakan Ciwaringin Cirebon, KMNU Jawa Barat
merumuskan beberapa hal, salah satunya adalah merumuskan pernyataan sikap
terkait persoalan Tol Cikopo. Kaum Muda Nahdlatul Ulama Jawa Barat menyepakati
satu kepahaman bahwa :
1. Pemaksaan Tol Cikopo yang akan melintasi areal pesantren Babakan Ciwaringin
Cirebon adalah bentuk keberpihakan pemerintah terhadap kaum pemodal (kapitalis)
dan mengebiri hak rakyat. Pemaksaan tol cikopo adalah bagian dari praktik
kapitalisme di Indonesia.
2. Terdapatnya surat keputusan (SK) kembar Gubernur Jawa Barat mengindikasikan
adanya kerancuan secara hukum dan memungkinkan terjadinya praktik Korupsi,
Kolusi dan Nepotisme.
3. Inkonsistensi pemerintah dalam melakukan sosialisasi proyek tol cikopo
menunjukkan mental birokrasi di Indonesia yang korup serta karatan. Hal ini di
buktikan dengan telah dilakukannya sosialisasi oleh pihak Departemen PU di
Purwakarta tanggal 8 Juni 2006 di gedung Bukit Indah Finansial yang melibatkan
kepala Desa, Camat, Bupati serta Gubernur Jawa Barat, ternyata pada praktik di
lapangan justru tidak sebagaimana yang disosialisasikan.
4. Keterlibatan Departemen Agama dalam menentukan kebijakan pemerintah terkait
persoalan tol Cikopo menunjukkan semakin tidak profesionalnya kinerja
pemerintah.
Oleh karena itu, atas dasar alasan-alasan di atas, kami Kaum Muda Nahdlatu
Ulama Jawa Barat menuntut pemerintah:
1. Menuntut pemerintah memindahkan trase Tol Cikopo agar tidak melintasi areal
pesantren dengan prinsip penegakan hak EKOSOB masyarakat.
2. Menuntut pemerintah untuk mempertanggung jawabkan atas kerusakan tatanan
social masyarakat yang dulu hidup rukun dan harmonis akibat ulah oknum pejabat
yang menggunakan cara-cara destruktif. Hal ini penting dilakukan atas prinsip
membersihkan birokrasi dari mentalitas korup dan karatan.
3. Menuntut pemerintah bersikap transparan dalam menjalankan setiap proyek
nasional. Dengan prinsip keadilan dan prinsip pemberantasan Korupsi, Kolusi dan
Nepotisme
4. Menuntut menteri agama mencabut surat keputusannya yang berkaitan dengan
persoalan tol cikapa dan menuntut menteri agama untuk meminta maaf terhadap
kyai-kyai pesantren Babakan pada khususnya dan masyarakat Babakan pada
umumnya..
Seandainya proyek nasional ini diawali dengan cara-cara yang tidak baik, yakni
tidak transparan, cenderung kotor dan mengabaikan suara rakyat serta
mengabaikan tatanan hukum, maka bagaimana mungkin kedepan akan menghasilkan
sesuatu yang baik pula bagi Negara dan untuk semua masyarakat.
Jika seruan ini tidak diabaikan pemerintah, maka kami Kaum Muda Nhdlatul Ulama
(KMNU) Jawa Barat akan terus menggelar aksi unjuk rasa di berbagai titik,
setelah kemarin, tanggal 2 Juli 2009 dilakukan aksi di Departemen PU dan
Departemen Agama Jakarta.
Abdul Muiz Syaerozie
Ketua Sementara KMNU Jawa Barat Muhammad
Afifi Syarief
Sekretaris Sementara KMNU Jawa Barat
SERUAN KAUM MUDA NU JAWA BARAT
TERKAIT PEMBANGUNAN PLTU DI KANCI CIREBON.
Latar Belakang
Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di desa Kanci kabupaten
Cirebon merupakan salah satu proyek nasional yang pada dasarnya di fungsikan
untuk mengatasi peroblem kelistrikan di Indonesia.
Tetapi sayangnya, proyek tersebut di laksanakan secara gegabah.
Pertama, Kajian atau analisis dampak lingkungan (AMDAL) tidak begitu di
perioritaskan. Akibatnya pembangunan tersebut justru sangat membahayakan bagi
masyarakat disekitarnya. Kecerobohan pemerintah dalam melakukan analisis dampak
lingkungan menuai aksi protes dari masyarakat sekitar.
Kedua, tempat yang digunakan sebagai lahan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU)
merupakan lahan yang dijadikan oleh masyarakat sebagai lahan potensial bagi
kehidupan ekonomi masyarakat. Penduduk kanci dan sekitarnya sangat
menggantungkan sisi ekonominya pada sektor kelautan dan pertambakan. Akibatnya,
keberadaan PLTU mengancam basis sumber ekonomi masyarakat kecil.
Ketiga, Secara medis, keberadaan PLTU yang tidak begitu jauh dari pemukiman
penduduk sangat mengancam sisi-sisi kesehatan masyarakat. Dan keempat,
komunikasi pemerintah dalam hal menjalankan proyek PLTU dikanci lebih memberi
peluang/rukhsah kepada kaum pemodal dari pada masyarakat Kanci.
Oleh karena itu, Kami Kaum Muda Nahdlatul Ulama Jawa Barat menyerukan kepada
pemerintah untuk mengulang kembali kajian atau analisis dampak lingkumgan
(AMDAL). Dengan cara terbuka, transparan dan melibatkan elemen masyarakat serta
memperhatikan masukan-masukan dari masyarakat secara umum.
Pemerintah harus menghentikan proyek PLTU jika ditemukan indikasi keberadaan
PLTU akan membahayakan sisi kesehatan dan ekonomi masyarakat disekitarnya.
Demikian seruan Kaum Muda Nahdlatu Ulama Jawa Barat. Jika seruan ini diabaikan
pemerintah maka kami akan melakukan protes besar-besaran
.
Abdul Muiz Syaerozie
Ketua Kaum Muda Nahdlatul Ulama (KMNU) Jawa Barat
Aghuts Muhaimin
Koordinator Kaum Muda Nahdlatul Ulama Cirebon