http://jawapos.co.id/

A. Mustofa Bisri: Rakyat Sudah Dewasa

Sebelum pilpres, mengikuti perkembangan pilpres di Iran, banyak di antara 
kita yang ketir-ketir. Apalagi, dinamika kampanye para kandidat dan tim-tim 
sukses mereka begitu luar biasa. "Kampanye putih", "kampanye abu-abu", 
hingga "kampanye hitam" keluar semua dari sana-sini.

Namun, alhamdulillah, pilpres kita kemarin berlangsung aman dan lancar. 
Rakyat yang berdatangan ke TPS-TPS terlihat begitu santai dan guyub. Setelah 
mencontreng, mereka melanjutkan kegiatan masing-masing seperti biasa.

Setelah itu, mereka secara sendiri-sendiri atau beramai-ramai nonton hasil 
pencontrengan mereka di quick count. Bahkan, banyak yang nonton bareng 
sesama pencontreng yang berbeda pilihan. Mereka tertawa-tawa, kadang-kadang 
saling ledek laiknya sesaudara. Lihatlah, betapa dewasanya mereka.

Kalau harus ada yang diacungi jempol dalam pesta demokrasi ini, tidak 
diragukan lagi yang pertama-tama berhak kita acungi jempol adalah mereka: 
rakyat Indonesia.

Rakyat Indonesia, rupanya, benar-benar belajar dan menyerap pelajaran dengan 
baik. Dengan berkali-kali pemilu dan pilkada, mereka semakin terbiasa dengan 
pengamalan demokrasi. Sudah dua kali pilpres, mereka menunjukkan 
kedewasaannya. Bahkan, jika dibandingkan dengan para pemimpin dan tokoh 
politik di atas yang sok demokratis, tampaknya, mereka lebih dewasa.

Mungkin mereka -rakyat Indonesia itu- belajar juga dari kompetisi sepak bola 
dunia yang begitu enak ditonton. Para pemain begitu serius dan 
sungguh-sungguh dalam bertanding; masing-masing berusaha dengan segenap daya 
untuk mengalahkan lawan. Para penonton juga tidak kalah dahsyat di dalam 
menyemangati jago masing-masing. Namun, begitu peluit panjang ditiup, para 
pemain bersalaman dan berangkulan dengan lawan; bahkan saling bertukar kaus. 
Mungkin yang tidak kunjung menyerap pelajaran seperti ini-ironisnya- justru 
insan-insan persepakbolaan kita sendiri.

***

Seperti juga saat selesai pertandingan antara dua kesebelasan dunia, 
orang-orang -sering kali bersama-sama antara para pendukung kesebelasan yang 
berbeda- dengan santai melakukan evaluasi. Mengapa ini menang, mengapa itu 
sampai kebobolan.

Dalam pilpres kali ini, yang menarik mereka bicarakan adalah dua calon 
incumbent:SBY dan JK. Dari sejak mencalonkan diri hingga menjelang 
pencontrengan, JK tak henti-hentinya diberitakan berkibar di mana-mana. 
Tokoh-tokoh pengusaha, intelektual, dan kiai -bahkan ada yang secara 
kelembagaan- beramai-ramai mendukung dan ikut mengampanyekannya. Tapi, 
mengapa perolehannya -menurut quick count- cuma sekian? Tentu tidak lucu 
jika kita menyalahkan quick count.

 Beberapa pengamat pun melemparkan pendapat. Ada yang berpendapat, waktu JK 
terlalu mepet untuk memperkenalkan diri sebagai capres. Ada yang mengatakan 
bahwa gaya JK yang ditampilkan terlalu cepat; mestinya untuk tahun 2019. Ada 
pula yang menyalahkan partainya: Golkar.

Tak tertinggal, tentu banyak juga yang mempertanyakan, kenapa begitu banyak 
kiai -bahkan ada yang membawa lembaganya, pesantren atau NU- yang 
terang-terangan dan dengan tegas mendukung JK, namun hasilnya seperti tidak 
ada?

Dalam hal ini, umat rupanya juga benar-benar belajar dan menyerap pelajaran 
terutama dari para pemimpin mereka itu sendiri. Selama ini mereka diajari 
untuk mencintai ilmu agama dan amal; konsentrasi ke urusan akhirat; tidak 
menggandrungi dunia, pangkat, dan kekuasaan; tidak membawa-bawa NU atau 
pesantren ke ranah politik praktis.

Di lain pihak, mereka juga mengamati sepak terjang para kiai panutan mereka 
itu. Nah, mereka pun kemudian mendapatkan "ilmu" dan berpikir positif: 
sepanjang berkaitan dengan ilmu agama, amal, dan urusan akhirat; mereka akan 
ikut dan sam'an watha'atan kepada para kiai panutan mereka itu. Tapi, kalau 
soal dunia, pangkat, kekuasaan, dan politik praktis, mereka akan "ijtihad" 
sendiri.

Bahkan, tidak sedikit yang sengaja seperti "melawan" ketidaksesuaian ajaran 
panutan mereka dengan perilakunya, lalu memilih asal bukan pilihan 
panutannya itu. Maka terbukti; baik dalam pilkada, pileg, maupun pilpres; 
kebanyakan calon yang didukung para kiai -apalagi yang membawa institusi- 
selalu kalah.

Di ranah ini, dalam hal pengumpulan suara, para kiai seperti tidak mempunyai 
pengaruh apa-apa. JK orang pertama yang terkejut dengan hasil yang begitu 
jomplang antara perkiraan sebelum pemilu dan hasil sesudahnya. Sebelumnya, 
sudah ada yang terkejut seperti itu, termasuk para cagub dan cabup.

***

Demikianlah; rakyat dan umat sudah benar-benar belajar dan mengamalkan "ilmu 
titen", tapi rupanya tidak demikian halnya dengan kebanyakan para tokoh 
pemimpin mereka. Para kiai yang ikut sibuk ngurusi politik praktis ternyata 
tidak kunjung pandai dalam hal satu ini. (Tampaknya, sulit benar mereka 
memahami "khidaa" dalam "alharb"). Meski sudah sering berhubungan dengan 
umara dan politikus, tetap saja mereka tidak kunjung mengenal tipologi 
umara. Demikian pula sebaliknya, banyak umara dan politikus yang tidak 
kunjung mengenal  tipologi kiai dan peta pengaruhnya.

Ya, rakyat Indonesialah yang cepat belajar. Karena itu, mereka tampak kian 
dewasa dan arif di hadapan demokrasi. Semoga para pemimpinnya segera belajar 
dari kedewasaan dan kearifan rakyat mereka. Mudah-mudahan yang menang tetap 
rendah hati dan berpikir: kemenangan adalah amanah dan bukan anugerah; 
selalu mengingat janji-janjinya saat kampanye. Sedangkan yang kalah tetap 
berjiwa besar laiknya pemimpin bangsa sejati dan berpikir: kekalahan adalah 
anugerah dan bukan musibah; mengabdi kepada Indonesia tidak harus menjadi 
presiden atau wakil presiden.

Akhirnya, Indonesia dan rakyat Indonesia akan memetik manfaatnya. Semoga. 
(*)

*) KH A. Mustofa Bisri, rais Syuriah PB NU, pengasuh Ponpes Raudlatut 
Thalibin, Rembang.


__________ Information from ESET Smart Security, version of virus signature 
database 4193 (20090626) __________

The message was checked by ESET Smart Security.

http://www.eset.com





------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[email protected] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke