Jombang (beritajatim.com) - Kekalahan calon presiden dan wakil presiden, JK- Wiranto yang didukung organisasi Nahdlatul Ulama (NU) memunculkan konflik.
Ketua Pengurus Pusat GP Ansor, Saifullah Yusuf,� mendesak agar ada pergantian PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama). Pasalnya, kata Gus Ipul, perlu dimunculkan gerakan pemurnian kembali khittah NU. Lontaran keras itu disampaikan oleh Saifullah Yusuf, usai membuka acara dialog pondok pesantren se-Jawa Timur di ponpes Mambaul Ma'arif Denanyar, Jombang. Ketua GP Ansor yang juga Wakil Gubernur Jawa Timur ini mengaku sangat kecewa dengan kebijakan PBNU yang terlibat dalam pilihan presiden. Apalagi sampai mengupayakan penyatuan dukungan pada salah satu calon. Menurutnya, tindakan yang dilakukan PBNU ini sudah menyalahi khitah NU. Selain itu, tidak diperolehnya suara signifikan di Jawa Timur ini menunjukkan bahwa kaum nahdliyin tidak bisa disatukan dalam pilihan politik. Untuk itu, pihaknya meminta meminta agar dalam muktamar NU yang digelar Januari mendatang dimunculkan pengurus baru yang notabene mengerti tentang NU beserta khittahnya. "Sehingga bisa melakukan gerakan permurnian kembali ke jalur nahdliyin seperti awal-awal di dirikan oleh KH Hasyim Asyari," kata Gus Ipul dengan suara tinggi, Sabtu (11/7/2009). Gus Ipul mengakui, PBNU saat ini sudah tidak bisa diandalkan lagi. Mereka lebih banyak berorientasi pada politik praktis. Sikap sejumlah pengurus pusat Nahdlatul Ulama (NU) yang terlibat dalam politik praktis alias pemilihan presiden (Pilpres) membuat citra NU kurang baik. Bahkan gara-gara moment tersebut wajah NU menjadi babak belur. "Sehingga perlu ada gerakan pemurnian khittah NU," tegasnya lagi. [suf/ted]
