DAN LEBIH BANYAK LAGI: orang-orang bermental rendah selalu berusaha menyeret 
NU ke gelanggang politik! 

Ketua UMUM PBNU yang pertama kali (waktu acara di Pekalongan Jawa Tengah) 
teriak-terika mengajak Nahdliyin memilih JK itu siapa  yah namanya? 

Apakah para elite NU itu banyak yang mengalami ''gegar otak" yah? sehingga 
mudah lupa dengan sepak terjangnya sendiri?!

Dan mereka mengajari Nahdliyin untuk menuduh bersalah pada orang lain?! Lempar 
batu sembunyi tangan!

Mana tanggung jawab kontrak jamiyyah yang waktu muktamar dulu ditandatangani, 
katanya anti polituisasi NU itu?


Nahdliyin Ndeso


--- On Sat, 7/11/09, Abdul GhOfuR <[email protected]> wrote:

From: Abdul GhOfuR <[email protected]>
Subject: [kmnu2000] Hasyim: Banyak yang Tak Ingin NU Punya Kekuatan Politik
To: [email protected]
Date: Saturday, July 11, 2009, 8:39 PM

http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=18396

Hasyim: Banyak yang Tak Ingin NU Punya Kekuatan Politik
Sabtu, 11 Juli 2009 12:03

Depok, NU Online
Karakter Nahdlatul Ulama (NU) yang moderat, tidak menginginkan formalisasi 
agama dan bisa menerima keberagaman di satu sisi sangat disenangi oleh 
berbagai pihak, terutama oleh kalangan negara-negara Barat. Namun di sisi 
lain, karakter NU itu justru memunculkan ketakutan berbagai pihak jika 
menjadi kekuatan politik.

Menurut Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi, 
selain beberapa karakter NU itu, ada tiga hal lagi yang menyebabkan banyak 
pihak takut dengan kekuatan NU, yakni faktor jumlah warga NU yang besar, 
faktor ketaatan warga terhadap para tokoh NU yang disegani, dan faktor 
kemampuan NU beradaptasi dengan berbagai perubahan.

Hal itu menjelma menjadi semacam NU-fobia atau ketakutan yang berlebihan 
terhadap NU jika menjadi kekuatan politik yang besar dan berpengaruh baik 
dalam skala nasional dan internasional.

”Banyak yang takut dengan karakter seperti itu NU bisa menjadi kekuatan 
politik yang besar, karena peluang untuk menjadi besar itu ada,” kata Hasyim 
kepada NU Online di sela persiapan peresmian Masjid Al Hikam II, di Komplek 
Pondok Pesantren Al Hikam II, Depok, Jum’at (10/7).

Menurutnya, peristiwa kembalinya NU ke Khittah 1926 dengan tidak lagi 
menjadi organisasi politik pada tahun 1984 sebenarnya adalah pertemuan dua 
kepentingan yang berbeda, yakni kepentingan NU dan kepentingan di luar NU.

Kepentingan NU adalah untuk melepaskan diri dari jeratan politik 
pemerintah. ”Waktu itu NU sudah risih berada di PPP,” katanya. ”Sementara 
kepentingan luar ingin NU ini supaya steril dari politik,” tambahnya.

Tidak cukup dengan NU. Menurut Hasyim, NU juga tidak boleh mempunyai partai 
politik yang sehat, meski ia berada di luar struktur NU. Semua partai 
politik berbasis NU akan diganggu oleh pihak-pihak tertentu.

”Nah ketepatan banyak orang NU menikmati itu. Di PKB banyak yang justru 
senang ketika Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) tidak lagi memimpin. Meskipun 
jadi partai kecil yang penting dirinya yang memimpin. Jadi beberapa orang 
justru menikmati kehancuran,” katanya.

”Ketika ada partai NU yang besar dipimpin Gus Dur maka partai ini direcoki 
berbagai lalat yang tidak sehat. Itu sebetulnya dalam rangka tidak boleh ada 
kekuatan politik yang sehat yang mampu menyatukan aspirasi warga NU,” 
pungkasnya. (nam) 



------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[email protected] 
Yahoo! Groups Links






      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke