Kenapa kita harus mencak-mencak ketika Hasyim Muzadi melirik politk,
sementara ketika Gus Dur mendirikan PKB, kita hanya sami'na wa atho'na.
Apakah PKB itu bukan partai politik?
Jangan-jangan PKB itu  plesetan dari Partai Kyai Bingung

Kalau kita kembali ke Khitoh 1926, kenapa harus mendirikan PKB dengan 
selimputan?
dalam arti tidak melalui muktamar terlebih dahulu dengan menganulir 'Kembali 
ke Khithoh 26'.

Kenapa harus kembali ke Khittoh 1926?
Apakah tantangan pra kemerdekaan itu sama dengan sekarang?
Apa untungnya kita kembali ke Khittoh 1926?
Saat kita kembali ke Khittoh 1926, dalam kurun 1984-2009 kita hanya 
dihadapkan pada perbedaan interpretasi khittoh itu sendiri.
Kita akan terus-menerus bercerai berai kalau tidak ada wadah saluran politik 
yang jelas.
Dengan kembali ke Khithoh 1926 hanya melahirakan oportunis-oportunis baru.

Sekali lagi kenapa harus kembali ke Khittoh 1926?
Dari berbagai aspek, situasi dan kondisi tahun 2009 ke depan jauh berbeda 
dengan 1926, kenapa harus kembali ke Khittoh 1926?

Ibnu Zahid Abdo el-Moeid

----- Original Message ----- 
From: aceng muhyi
To: [email protected] ; [email protected]
Sent: Sunday, July 12, 2009 8:36 PM
Subject: Bls: [kmnu2000] Ansor Wacanakan Pergantian PBNU


Saya sangat setuju sekali dengan apa yang disampaikan oleh gus ipul tentang 
kembali ke khittah namun yang perlu jadi catatan kita bersama bahwa tes 
kelayakan seorang calon ketua pbnu belum sepenuhnya memiliki legalitas yang 
dapat diakui dan difahami oleh semua warga nahdliyyin sehingga potensi yang 
berserakan dari kalangan nu ini belum bs disatukan dgn maksimal sehingga 
yang terjadi bukan fowerfull melainkan kelemahan yang terus menerus 
menghantui nu.

Pada Ming, 12 Jul 2009 08:02 WIB sonipj menulis:

>Jombang (beritajatim.com) - Kekalahan calon presiden dan wakil presiden, 
>JK- Wiranto yang didukung organisasi Nahdlatul Ulama (NU) memunculkan 
>konflik.
>
>Ketua Pengurus Pusat GP Ansor, Saifullah Yusuf,� mendesak agar ada 
>pergantian PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama). Pasalnya, kata Gus Ipul, 
>perlu dimunculkan gerakan pemurnian kembali khittah NU.
>
>Lontaran keras itu disampaikan oleh Saifullah Yusuf, usai membuka acara 
>dialog pondok pesantren se-Jawa Timur di ponpes Mambaul Ma'arif Denanyar, 
>Jombang. Ketua GP Ansor yang juga Wakil Gubernur Jawa Timur ini mengaku 
>sangat kecewa dengan kebijakan PBNU yang terlibat dalam pilihan presiden. 
>Apalagi sampai mengupayakan penyatuan dukungan pada salah satu calon.
>
>Menurutnya, tindakan yang dilakukan PBNU ini sudah menyalahi khitah NU. 
>Selain itu, tidak diperolehnya suara signifikan di Jawa Timur ini 
>menunjukkan bahwa kaum nahdliyin tidak bisa disatukan dalam pilihan 
>politik.
>
>Untuk itu, pihaknya meminta meminta agar dalam muktamar NU yang digelar 
>Januari mendatang dimunculkan pengurus baru yang notabene mengerti tentang 
>NU beserta khittahnya. "Sehingga bisa melakukan gerakan permurnian kembali 
>ke jalur nahdliyin seperti awal-awal di dirikan oleh KH Hasyim Asyari," 
>kata Gus Ipul dengan suara tinggi, Sabtu (11/7/2009).
>
>Gus Ipul mengakui, PBNU saat ini sudah tidak bisa diandalkan lagi. Mereka 
>lebih banyak berorientasi pada politik praktis. Sikap sejumlah pengurus 
>pusat Nahdlatul Ulama (NU) yang terlibat dalam politik praktis alias 
>pemilihan presiden (Pilpres) membuat citra NU kurang baik.
>
>Bahkan gara-gara moment tersebut wajah NU menjadi babak belur. "Sehingga 
>perlu ada gerakan pemurnian khittah NU," tegasnya lagi. [suf/ted]
>


 


Kirim email ke