http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=e57174548ea87569040afe197a881803&jenis=c81e728d9d4c2f636f067f89cc14862c&PHPSESSID=1d0e4dbf4aeb267d0462b5ff7675b285
Hasyim Tolak Mundur
Senin, 13 Juli 2009 | 13:15 WIB

JAKARTA–Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi 
menanggapi dingin gerakan Ketua Umum Gerakan Pemuda Anshor Syaifulllah Yusuf 
mencegat dirinya dalam Muktamar Januari 2010. Hasyim juga mengatakan, 
desakan mundur kepadanya sangat tidak berdasar dan mengada-ada.

’’Biasalah. Kalau sudah mau dekat Muktamar kan selalu seperti itu. Selalu 
saja ada orang-orang yang seolah-olah paling mampu memimpin PBNU. Saya tidak 
terkejut dengan suara-suara seperti itu,’’ kata Hasyim Muzadi ketika 
dihubungi Surabaya Post via telepon di Jakarta, Senin (13/7) siang tadi.

Hasyim menjelaskan, dalam organisasi PBNU tidak dikenal istilah mengundurkan 
diri. Sebaliknya, pergantian struktural pengurus PBNU diputuskan melalui 
Muktamar yang akan berlangsung Januari 2010. ’’Jadi, lebih baik tunggu hasil 
Muktamar saja,’’ katanya.

Ditanya tentang tudingan dirinya telah membawa PBNU ke dalam politik praktis 
dengan mendukung pasangan JK-Wiranto dalam Pilpres yang baru saja berakhir, 
Hasyim enggan berkomentar. ’’Sudahlah. Saya tidak mau banyak berkomentar. 
Saya kira jawaban yang saya kemukakan sebelumnya sudah cukup,’’ kilahnya.

Secara terpisah, Sekjen PBNU Endang Turmudzi menegaskan, desakan mundur 
terhadap Hasyim berlebihan. Alasannya, dukungan Hasyim kepada pasangan 
JK-Win dalam Pilpres merupakan dukungan pribadi dan tak mewakili PBNU.

’’Pernyataan Pak Hasyim atas dukungannya kepada Pak Jusuf Kalla merupakan 
pernyataan pribadi. Ini yang harus dipahami semua pihak. Jadi, desakan 
mundur kepada Pak Hasyim sangat berlebihan,’’ ujarnya.

Menurut dia, meskipun jabatan Hasyim Muzadi sebagai ketua umum PBNU sebagai 
pribadi, yang bersangkutan memiliki hak yang sama dengan warga NU lainnya 
dalam menjatuhkan pilihan politiknya. Dalam aturan organisasi di PBNU, hal 
itu sama sekali tidak dilarang.

’’Aturan di PBNU menyebutkan seluruh warga NU memiliki hak dan kebebasan 
untuk menggunakan hak politiknya sesuai keinginan. Jadi, tidak ada yang 
salah dengan apa yang telah dilakukan Pak Hasyim yang mendukung pasangan 
JK-Win dalam Pilpres,’’ kata Endang.



Galang Pencegatan

Sementara itu, Ketua Umum GP Ansor Saifullah Yusuf (Gus Ipul) terus 
menggalang dukungan agar Hasyim Muzadi tidak terpilih lagi dalam Muktamar 
NU. Gus Ipul mengaku sudah mengontak sejumlah badan otonom (Banom), pengurus 
NU, kiai, dan aktivis NU.

Dia mengatakan telah muncul keresahan terkait sikap politik yang ditunjukkan 
mantan Ketua PWNU Jatim tersebut. ’’ Umumnya resah dengan langkah yang 
diambil ketum PBNU,’’ ujar Gus Ipul, Minggu (12/7).

Mantan Menteri PDT tersebut kembali membandingkan prestasi dari Hasyim 
dengan masa kepemimpinan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur di PBNU dulu. Dia 
memuji prestasi Gus Dur yang diakui internasional karena mampu 
mensosialisasikan pandangan dan pemikiran NU.

Bahkan, banyak pula penulis yang berminat terhadap institusi NU. Lembaga ini 
juga kerap dimintai petunjuk mengenai masalah kebangsaan seperti reformasi 
atau masalah publik seperti KB dan hukum. ’’Selama periode Pak Hasyim, saya 
tidak mencatat prestasi menonjol,’’ tudingnya.

Dia kembali menyuarakan gerakan pemurnian khittah NU agar tidak lagi 
terjebak dalam politik praktis.  Dia mengusulkan sejumlah nama seperti KH 
Mustafa Bisri, KH Said Agil Siradj, Masdar M. Masudi, KH Tholha Hasan, Ali 
Maschan Moesa sebagai figur yang bersih dan diterima umat untuk menggantikan 
Hasyim. ’’Kita harap kepemimpinan Pak Hasyim di NU diakhiri,’’ ujarnya.

Namun, Ketua Umum PP Muslimat Khofifah Indar Parawansa yang dikenal dekat 
dengan Hasyim Muzadi mengkritik balik Gus Ipul yang dianggapnya tidak mampu 
mengurus organisasi GP Ansor. Dia pun meminta agar seluruh elemen NU tidak 
menggubris apa yang dikisahkan Wagub Jatim tersebut. ’’Sudah tidak usah 
digubris, biar dia mengurus NU dengan bener, Ansor benahi dulu,’’ katanya.

Dia kembali mengungkit sikap politik Gus Ipul yang dianggap tidak konsisten 
dengan berpindah-pindah partai mulai PDIP, PKB, PPP, dan Demokrat. Di 
organisasi Ansor, kata Khofifah, arahan Gus Ipul bahkan tidak pernah 
diikuti. ’’Ngaca dulu deh sama Ansor, bagaimana banyak yang tidak taat. 
Sekarang siapa yang mau dengerin dia,’’ ketusnya.

Meski demikian, di tempat terpisah, juru Juru bicara Rois Aam PBNU KH Sahal 
Mahfudz, Abdul Ghaffar Rozin, mengaku sudah banyak pihak yang mengeluh 
tentang kepemimpinan Hasyim Muzadi kepada Rois Aam.  Sejumlah tokoh NU 
kultural serta ketua cabang meminta agar KH Sahal Mahfudz tidak lagi 
mendukung Hasyim Muzadi.

’’Ada banyak pembicaraan melalui saya, supaya disampaikan ke Bapak, agar Pak 
Hasyim tidak maju lagi karena terbukti membawa-bawa NU ke politik,’’ ujar 
putra Kiai Sahal Mahfudz tersebut.

Salah satu putra KH Sahal Mahfudz itu mengatakan melihat sikap, cara pandang 
dan statemen yang pernah disampaikan, cukup jelas bahwa kegelisahan sama 
juga dialami. Untuk menunjukkan kegelisahan itu, KH Sahal bahkan menerima 
SBY di Ponpes Maslakul Huda, Kajen, Pati awal Juni lalu. ’’Itu sebenarnya 
kontrol terhadap Pak Hasyim yang struktural membawa NU untuk 
dukung-mendukung. Saya kira dari situ bisa dipahami sikap bapak,’’ tuturnya.

Dia mengatakan, hingga kini masih belum ada perubahan sikap dari KH Sahal 
Mahfudz dan bahkan pernah menolak untuk dipasangkan lagi dengan Hasyim 
Muzadi. Namun, dia menjelaskan kalaupun peserta muktamar masih 
menginginkannya maju maka pihaknya tidak bisa mencegah. ’’Yang jelas bapak 
tidak akan menolak (Hasyim) secara eksplisit,’’ tampiknya.



KH Mustofa Bisri tak kalah keras menyoroti tindak-tanduk organisasi NU saat 
ini. Dia mengatakan, kiai dan elite NU itu banyak yang senang terlibat dalam 
politik tapi tidak mengerti berpolitik. ’’Hanya sok ngerti,’’ katanya saat 
dihubungi Surabaya Post, tadi malam.

Yang jadi masalah, NU sendiri dengan sukarela mau terlibat dan terseret 
dalam persoalan politik. Sehingga tidak bisa serta-merta menyalahkan Hasyim 
Muzadi dalam hal ini.

Dia juga tidak bisa menghalangi atau melarang seseorang, termasuk kiai, 
untuk menjalankan hobinya berpolitik.  Tetapi mengutip Imam Syafi'i, dia 
mengingatkan kalau seseorang ingin dunia dan akhirat harus memakai ilmu. 
’’Mungkin 
hanya makelaran yang tidak perlu ilmu,’’ tuturnya.

Dikatakan Gus Mus, jika para kiai masih mau meneruskan kegemaran mereka 
dalam berpolitik, dia menyarankan untuk ’ngaji’ politik. ’’Jadi terserah 
kiai-kiai dan elite NU itu sendiri, apa masih ingin NU dan diri mereka 
dihargai orang dan bermanfaat untuk umat atau tidak,’’ katanya.

Mengenai masalah muktamar, Gus Mus mengatakan hal tersebut akan diserahkan 
pada muktamar dan muktamirin untuk memilih siapa yang layak jadi Ketua PBNU. 
Dia sendiri menolak untuk dicalonkan dengan alasan kaderisasi. ’’Tapi 
masalah muktamar masih lama, kalau dibahas sekarang masih wacana thok,’’ 
pungkasnya. wid, sit


------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[email protected] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke