Seharusnya semua ini menjadi bahan refleksi bahwa para pemimpin harus
selalu melandaskan gerak strategisnya berdasar kebutuhan masyarakat yang
dipimpinnya, dalam hal ini kaum Nahdliyin. Melakukan tindakan tanpa
dilandaskan pada analisis kondisi ummatnya ini dapat merubah 'niat baik'
justru menjadi sesuatu yang mencelakai ummat. Sudah bukan zamannya
pemimpin menyetir apa maunya umat, dah gak up todate.
Dalam konteks isu perempuan, juga sudah bukan zamannya memilih hanya
dilandaskan karena sama-sama perempuannya. Harus ada analisis mendalam
mengapa memilih siapa.
Logika berpolitik terbalik. Ketika berkuasa seharusnya adalah waktu untuk
distribusi akses kepada umat dan pemimpin yang masuk kekuasaan sudah
tidak membutuhkan akumulasi modal hanya untuk kepentingannya sendiri.
Tetapi di 'kita', ketika para pemimpin berpolitik, mencoba berkuasa
ternyata targetnya baru untuk akumulasi modal bagi dirinya saja. So,
rakyat/ummat hanya jadi alat untuk memenuhi nafsu individu tersebut
dengan dalih demi umat.
Saya setuju bahwa sudah waktunya para ulama kembali pada 'pengabdian
kepada umat'. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mengabdi pada
umatnya, bukan mengabdi pada hawa nafsu yang sebenarnya juga bagian dari
'mensekutukan Tuhan'.
Tetapi apapun pengalaman pahit yang kita rasakan semoga ini menjadi
kesadaran bersama untuk berefleksi dan menemukan struktur gerak baru demi
umat dan bangsa yang lebih baik. Ini bagian dari pengalaman penting untuk
membangun kesadaran baru. BAGI KITA SEMUA...

salam solidaritas,
ST. Infirohah Al Faridah

  ----- Original Message -----
  From: "bakiakh aa"
  To: [email protected]
  Subject: Re: [kmnu2000] Re: ko NU kalah mulu?
  Date: Fri, 10 Jul 2009 01:44:30 -0700 (PDT)



  saya rasa HM maupun GD hampir sama,
  tadinya saya berharap pd HM.

  tapi ternyata sama saja beliau beliau terlalu gegabah
  memutuskan sesuatu atas nama NU tanpa meliat suara mayoritas
  pada akar rumput di bawah naungannya sendiri.

  saya rasa kalo mereka mendengar suara ke bawah
  tak akan ada istilah kalah karena perbedaan suara di atas
  dgn suara di bawah ..??

  dulu mungkin cocok karena dulu pake sistem perwakilan
  misal suara NU di wakilkan pd pimpinannya atau beberapa wakil
  propinsi.
  jadi jika ada perbedaan suara di atas dgn di bawah tidak akan
  terlihat.

  nah sekarang president di pilih langsung, setiap individu
  punya suara tersendiri. seorang pemimpin harusnya legowo
  meliat suara mayoritas di akar rumput,
  sebelum memutuskan sesuatu.

  jika pemimpin ini bersikeras dgn prinsipnya
  tak mau mendengar suara akar rumput..  
  maka akan terliat apa yang terjadi sekarang .. 
  pemimpin bersikeras jalan ke utara 
  umat cuek jalan ke barat dan timur ...
  nggak nyambung pan.

  --- On Fri, 7/10/09, h13b <[email protected]> wrote:

  From: h13b <[email protected]>
  Subject: Re: [kmnu2000] Re: ko NU kalah mulu?
  To: [email protected]
  Date: Friday, July 10, 2009, 2:29 PM

  Tidak semua yang sentimentil terhadap HM itu pendukung GD. Banyak
  yang dengan jernih menilai HM dengan segala plus-minusnya. Tapi
  memang, rasanya kebangeten banget, NU dibawa-bawa untuk proyek
  dukung-mendukung. Kesannya kok NU jadi "NU" alias Nunut Urip.

  Muhammad Mawhiburrahman
  http://www.mmawhib. blogspot. com
  --- berbicara dari hati, dengan hati, demi ketenangan hati ---

  ____________ _________ _________ __
  From: Abdo el-Moeid <moeidza...@telkom. net>
  To: kmnu2...@yahoogroup s.com
  Sent: Friday, July 10, 2009 1:15:39 PM
  Subject: Re: [kmnu2000] Re: ko NU kalah mulu?

  Termasuk gara-gara PBNU dipimpin Hasyim Muzadi dan NU tidak mau
  dukung-mendukung presiden,
  akhirnya Gusdur dilengserkan Amin Rais tanpa ada pembelaan dari
  Hasyim Muzadi?

  Biasanya yang sentimentil dengan Hasyim Muzadi itu pendukung
  fanatiknya Gusdur.

  Opo betul NU waktu dipimpin Gusdur (era 80 sampai 2000an) itu
  menang/diatas angin?.
  Dan pemerintah kala itu opo jare wong NU(Gusdur)?
  Saya kok malah nggak merasa itu.

  Sekarang warga NU tidak percaya sama para Kyai karena dipikir-pikir,
  paling-paling
  para Kyai itu kayak Gusdur juga, alias sekuler dan liberal dengan
  tidak lupa gaya
  penafsirannya yang cenderung hermenutika (mengikuti irama harmonika)

  Ibnu Zahid Abdo el-Moeid

  ----- Original Message -----
  From: -MGR-
  To: kmnu2...@yahoogroup s.com
  Sent: Friday, July 10, 2009 12:06 PM
  Subject: [kmnu2000] Re: ko NU kalah mulu?

  selama dipimpin hasyim muzadi ya akan kalah mulu, pilpres 2004 kalah,
  jawa timur kalah, dukung jk-win kalah lagi.. di jawa timur 60 persen
  milih sby-boediono, padahal kiai2 dari yg khos sampe tidak khos
  diangkut ke gerbong jk-win. saya kira sudah waktunya kiai2 kembali ke
  pesantren, dan hasyim muzadi turun dari pbnu; malu2in, dagangannya
  capres-cawapres yg liberal, atau neolib tidak laku juga...

  guntur

  --- In kmnu2...@yahoogroup s.com, h13b <hammad_ahdal@ ...> wrote:
  >
  > Salam,
  >
  > NU sebagai jama'ah tidak sedang kalah. Yang kalah itu adalah
  jam'iyyah-nya, terutama yang menikmati NU sebagai kendaraan.
  >
  > Muhammad Mawhiburrahman
  > http://www.mmawhib. blogspot. com
  > --- berbicara dari hati, dengan hati, demi ketenangan hati ---
  >
  >
  >
  >
  > ____________ _________ _________ __
  > From: Muhammad Rizqi Ramadlan <mr_romdhon@ ...>
  > To: kmnu2...@yahoogroup s.com
  > Sent: Wednesday, July 8, 2009 5:13:19 PM
  > Subject: [kmnu2000] ko NU kalah mulu?
  >
  >
  >
  >
  >
  > kenapa ya setiap calon yang didukung NU selalu saja kalah
  > mega hasyim, dai (jawa barat) sekarang jk win????
  > NU harus instropeksi bahwa NU bukan organisasi politik.....
  .program tidak jalan
  > kalo pun mau dijadikan orpol rubahlah khittah 1926 di muktamar
  nanti
  > tapi apakah itu akan barokah??
  >
  >
  >
  >
  >
  >
  >
  > [Non-text portions of this message have been removed]
  >

  [Non-text portions of this message have been removed]

  [Non-text portions of this message have been removed]

  [Non-text portions of this message have been removed]

  

-- 
Be Yourself @ mail.com!
Choose From 200+ Email Addresses
Get a Free Account at www.mail.com



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke