--- In [email protected], "POST OX" <post...@...> wrote:

Kubu Capres -Cawapres tertentu dan KPU nampaknya mulai panik atas gugatan
Mega-Prabowo ke MK.

 

Mereka mulai melakukan intimidasi-intimidasi baik melalui
pernyataan-pernyataan terbuka maupun tertutup.

Upaya mereka adalah mempengaruhi opini masyarakat seolah-olah gugatan
Mega-Prabowo hanya mengada-ada dan lebih disebabkan karena tidak terima
kalah serta gila kekuasaan.

Perjuangan kita bagi bangsa dan negara belum selesai dan baru memasuki tahap
yang lebih rumit dari pada pada saat kampanye.

Saya ingin menyatakan ini bukan kepentingan kita sebagai individu dan juga
buka kepentingan Mega dan Prabowo pribadi namun kepentingan bangsa dan
negara. Demi kesejahteraan rakayat yang menjamin stabilitas keamanan,
ekonomi, sosial dan politik.

 

Ingat:

Pada hutang Luar Negeri pemerintah, salah satu yang disyaratkan adalah
economic policy RI yang sesuai dengan keinginan pemberi pinjaman. 

Artinya: Mereka mentitik beratkan bahwa pinjaman tersebut tidak akan membuat
Indonesia menjadi negara yang kuat dan berdaulat sebab bila Indonesia
menjadi kuat, dan berdaulat mereka khawatir tidak bisa lagi mengeruk
kekayaan sumber daya alam Indonesia untuk kepentingan mereka dengan leluasa
seperti yang terjadi semenjak 1968.

Penguasa selama ini dibungkam dengan berbagai cara al. Komisi di Bank asing
di Luar Negeri (tak akan telacak olh KPK), tekanan politik, berbagai macam
boikot (suplai Alutsista, larang terbang ke eropa).

Masyarakat di teror dengan penghilangan pemikir kritis, sampai pembunuhan
orang genius Indonesia yg ingin berbakti bagi negara, teror bom, dst.

Pendidikan Nasional dibuat mahal, Masyarakat dibuat konsumtif (utk segala
sesuatu yg instan lengkap dengan pengawetnya) dan dicegah untuk menjadi
kreatif dan produktif dengan mencekoki dengan hiburan2 sebanyaknya yang
tidak mendidik bangsa.  Mempersulit masyarakat mendapatkan buku2 yang dapat
membangkitkan kreatifitas dan produktifitas melalui pajak impor buku2 ilmu
pengtahaun dan teknologi. Bahkan Sofware computer juga semahal di negara
maju tanpa ada upaya pemerintah untuk mendukung pengembangkan software
&hardware yang lebih baik (padahal SDMnya mampu!). 

Pemikir2 di arahkan agar melupakan dasar dan kerangka bangsa dan negara
(Pancasila, UUD45, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI) serta menajuhi ide-ide
nasionalis sehingga Indonesia menjadi berkiblat ke liberalisme total tanpa
batas yang akan menghancurkan dirinya sendiri.

 

Perjuangan kita bukan melawan penguasa atau pemerintah atau capres-cawarpes
lain, melainkan terhadap kekuatan2 yang ingin menghancurkan bangsa Indonesia
demi pengerukan kekayaan sumber daya alamnya.

Perlawanan kita juga bukan menghancurkan kekuatan2 itu melainkan melakukan
perbaikan sistim pengelolaan sumber daya ( Manusia dan alam)  agar dapat
dimanfaatkan bagi kesejahteraan bangsa dan negara.

 

Dari segi anthropologi bangsa Indonesia bukan bangsa yang agresif expansif,
jadi tidak ada bangsa manapun di Dunia perlu khawatir bahwa Indonesia
menjadi agresor. (Asing yang agresif expansif berpikir bahwa semua bangsa
termasuk Indonesia seperti mereka). Indonesia ditakdirkan Tuhan menjadi
pendamai Dunia melalui azas kekeluargaan yang tidak didapat pada bangsa
manapun didunia. Namun jelas sesuatu yang baik selalu dimusuhi oileh yang
jahat yang serakah dlsb. sesuai dengan yang diajarkan oleh semua agama.

Memang ada orang2 Indonesia yang oportunistik dan hanya mencari keuntungan
yang memuaskan nafsunya dengan menghalalkan segala cara. Mereka ini pada
umumnya munafik atau hipokrit ( serigala berbulu domba, nampaknya baik,
tidak berdaya, alim, lembut, memelas dst, akan tetapi penuh dengan segala
macam nafsu egoistik). Mereka inilah yang dipakai oleh kekuatan-kekuatan
itu.

Ketika mereka terjepit akan nampak aslinya, dimulai dengan intimidasi lalu
lama kelamaan akan nampak kelicikan2 dan kekejian2 sampai meledaklah mereka
dengan ide2 ekstrim defeatist yang diikuti oleh kematian mereka sendiri.

 

Jadi saya mengajak kita semua untuk tetap bersemangat demi bangsa dan negara
sampai rakyat Indonesia sejahtera.

 

Salam,

Omega Soemarso

--- End forwarded message ---


Kirim email ke