http://jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=85801
[ Minggu, 16 Agustus 2009 ]
Jaringan Noordin Rekrut 437 Orang sebagai Anggota Teroris

Trio Kuningan Otaki Bom Marriott dan Ritz-Carlton

JAKARTA - Gembong teroris nomor wahid, Noordin M. Top, amat lihai membuat 
sel jaringan baru untuk teror bom. Buktinya, sejak 2000, sebanyak 437 orang 
telah direkrut pria asal Malaysia itu sebagai anggota teroris dengan peran 
yang berbeda.

Itulah data jaringan sel Noordin yang diperoleh Mabes Polri selama sembilan 
tahun terakhir. ''Jumlah tersebut diketahui dari jaringan yang telah 
menjalani proses hukum maupun yang masih kami cari (DPO),'' jelas Kadiv 
Humas Mabes Polri Irjen Pol Nanan Sukarna di sela sidang penetapan calon 
taruna di Akpol kemarin.

Kelompok pengebom Mega Kuningan 17 Juli lalu menjadi bukti sel jaringan 
anyar dengan jaringan bom Bali atau kelompok teror bom sebelumnya. Berbekal 
pandai ''mencuci otak'' dalam merekrut jaringan sel, Noordin mampu mengubah 
jati diri orang hingga menjadi pengikutnya.

Sebagaimana diketahui, dalam bom Bali I (2002), Noordin bersama rekannya, Dr 
Azhari, membuat jaringan yang digawangi Amrozi, Imam Samudra, Ali Gufron 
alias Muklas, serta Ali Imron. Aksi berikutnya adalah bom Natal, bom Bali 
II, bom Kedubes Australia, dan bom di Hotel JW Marriott edisi pertama.

Nama Noordin menjadi otak di balik aksi tersebut, meski dilakukan oleh 
kelompok jaringan yang berbeda. Setiap aksi bom yang diotaki Noordin, selalu 
muncul jaringan lain sebagai pelakunya. ''Setiap kelompok terdiri atas 
beberapa peran. Yakni, perencana, perakit bom, kurir atau pengantar, dan 
pelaku bom bunuh diri atau yang biasa disebut pengantin,'' jelas Nanan.

Bom di Mega Kuningan pada 17 Juli lalu merupakan sel jaringan Noordin yang 
digawangi tiga serangkai dari Cilimus, Kuningan, Jawa Barat. Mereka adalah 
Ibrohim (florist Hotel JW Marriott yang tewas di Temanggung), Amir Abdillah 
(sudah ditangkap), dan Saefudin Jaelani (buron).

Tiga orang itu dibantu beberapa anggota lain seperti Danni Dwi Permana, Nana 
Ikhwan Maulana, Eko Peyang, Air Setyawan, serta Aris dan Indra yang 
ditangkap di Temanggung. Dari penangkapan dan penelusuran tersebut, bisa 
dipastikan Noordin saat ini sedang membentuk sel jaringan baru untuk aksi 
selanjutnya di tanah air.

''Kalau dulu dalam pengeboman Bali I dikenal Trio (Tenggulun) Lamongan, 
sekarang ini Trio Kuningan,'' ujar pengamat terorisme Dyno Cressbon di 
Jakarta kemarin.

Saefudin Jaelani dan Ahmad Feri alias Amir Abdillah merupakan saudara ipar 
Ibrohim. Mereka bertiga adalah aktor kunci dalam operasi 17 Juli yang 
merenggut sembilan nyawa dan puluhan luka-luka itu.

Saefudin, kakak Sucihani (istri Ibrohim), menjadi perekrut Danni dan Nana di 
Telaga Kahuripan, Bogor. Pria yang juga mempunyai KTP Bogor atas nama 
Syaifudin Zuhri itu dikenal sebagai ustad yang fasih berbahasa Arab, 
penyu­ka wewangian, dan ahli persuasi.

Sementara itu, Ahmad Feri adalah penjaga safe house (rumah per­lindungan) 
Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat. Dia pernah menikahi adik kan­­dung Sucihani. 
Densus 88 Mabes Polri sukses mengungkap plot penyerangan tersebut berkat 
Ahmad Feri. Saat hendak menjemput Yayan (calon martir yang dibebaskan, Red) 
di Semper, Jakarta Utara, Feri dibekuk. Dari mulut dia, Ibrohim terlacak di 
Temanggung.

Berdasar informasi yang dihimpun koran ini, Ibrohim menikah dengan Sucihani 
pada 1996. Buah perkawinannya itu melahirkan empat anak. Yang pertama adalah 
Shobryna Aliya yang lahir pada 14 Agustus 1997 atau setahun setelah menikah. 
Anak keduanya diberi nama Nisrina Adhriya yang lahir pada 18 Oktober 1999. 
Kemudian, anak ketiga yang lahir pada 28 Juli 2002 diberi nama Ismail 
Dhiyahul Haq. Anak terakhir yang baru ber­usia empat bulan dinamai Ishak.

Ibrohim juga sangat akrab dengan mantan adik iparnya, yakni Ahmad Feri alias 
Amir Abdillah, sang pemesan kamar 1808 JW Marriott. Feri alias Amir menikah 
dengan adik Sucihani, Ery Djuari­yah. Perkawinan tersebut hanya bertahan 
tujuh bulan. Selanjutnya, keduanya bercerai. Ery kemudian menikah lagi 
dengan pria asal Sukabumi, Ridwan Nurdin. Sekarang Ery sedang hamil sembilan 
bulan.

Selain bersahabat akrab dengan Feri alias Amir, Ibrohim dekat de­ngan 
Saefudin. Berdasar informa­si yang dikumpulkan Radar Cirebon (Jawa Pos 
Group), Saefudin ada­lah kakak kandung Sucihani atau anak kelima pasangan H 
Jae­leni dan Hj Asenih. Di kampungnya, Saefudin akrab dipanggil Pudin.

Saat Ibrohim menikah dengan Sucihani, Pudin membaca Al­qur­an tanpa membuka 
mushaf. Sucihani memiliki tujuh saudara kandung. Selain Saefudin, saudara 
kandung tertua bernama Darmo yang menikah dengan Teti dan sekarang tinggal 
di Bandung.

Kemudian, Anugerah yang menikah dengan Eka dan tinggal di Jogjakarta. 
Selanjutnya, Ain yang menikahi Enur dan sekarang kabarnya tinggal di 
Jakarta. Kakak kandung Sucihani lainnya adalah Sabil Kurniawan yang menikah 
dengan Rahayu dan tinggal di Kuningan. Dua adik kandung Sucihani adalah 
Sobhi yang menikah dengan Eli dan tinggal di Bogor serta Ery Djuariah yang 
dinikahi Ridwan Nurdin.

Seorang warga Sampora, Khai­run, mengaku melihat Pudin pulang ke Kuningan 
beberapa hari setelah pengeboman. ''Kalau tidak salah, Senin (20/7) sekitar 
pukul 05.00, saya berpapasan dengan Sae­fudin di pertigaan Caracas. Wak­tu 
itu, saya hendak ke pasar naik motor dengan istri, sedangkan Saefudin 
berjalan kaki menuju rumah orang tuanya di Sampora. Tapi, saya dan istri 
tidak sempat menyapa Saefudin. Namun, saya hanya bilang, Mah itu kan si Udin 
(Saefudin),'' ungkapnya.

Keahlian Noordin memanfaatkan jaringan kekerabatan memang sudah diduga 
polisi jauh-jauh hari. Tiga hari sebelum Ahmad Feri ditangkap, seorang 
perwira menengah Mabes Polri yakin jaring­an itu memanfaatkan hubungan 
ke­luarga (Jawa Pos, 1 Agustus 2009). Saat ini, Saefudin diduga sudah lolos 
ke luar Jawa menuju Sumatera.

''Ada yang melaporkan perge­rakan orang yang diduga Saefudin menggunakan Bus 
Bhineka jurusan Kuningan-Merak lewat Slipi, Jakarta,'' ungkap sumber Jawa 
Pos di kepolisian.

Tim Densus 88 Polda Jawa Te­ngah dan Jawa Timur kini sedang mendata keluarga 
orang-orang yang diduga pernah terkait dengan konflik Poso dan Ambon. 
''Jumlahnya ratusan. Disisir dari Solo ke timur, dari Temanggung ke utara,'' 
jelasnya.

Mereka adalah keluarga yang di­tinggal anaknya berjihad ke Poso (2005-2007) 
atau tempat veteran konflik Ambon (2000). ''Kami sudah punya datanya. Cuma, 
memang data lama, 2007,'' ujar sumber itu.

Sementara itu, kemarin (15/8), seorang warga bernama H Iwan Herdiansyah, 27, 
penduduk RT 07/01, Desa/Kecamatan Cibingbin, ditangkap aparat.

Menurut keterangan saksi, pe­nyer­­gapan berlangsung sangat cepat. Warga 
menceritakan, pagi itu sekitar pukul 06.00, Iwan sedang membuka tokonya yang 
menjual aneka macam buku. Baru saja membuka toko, dua mobil Suzuki APV hitam 
dan hijau mendadak berhenti di depan toko tersebut.

Tak lama kemudian, sekitar empat orang turun dari kendaraan dan langsung 
menuju suami Ita Hernawati itu. Para petugas tersebut menodongkan senjata 
dan membawa Iwan masuk ke Suzuki APV hitam. Seorang petugas kemudian menutup 
kembali toko yang baru dibuka Iwan tersebut.

''Kejadiannya begitu cepat. Awalnya, ada dua mobil yang berhenti di depan 
toko tersebut. Lalu, penumpangnya turun dan menghampiri Pak Haji. Yang kami 
lihat, keempat orang yang keluar dari mobil langsung menodongkan senjata ke 
arah Pak Haji. Yang satu lagi menutup rolling door toko,'' jelas salah 
seorang warga yang me­ngaku melihat kejadian tersebut.

''Pak Haji langsung dibawa masuk ke dalam mobil hitam yang berkaca gelap. Di 
dalam mobil juga ada beberapa orang. Mungkin mereka petugas,'' lanjut dia.

Kepala Desa Cibingbin Drs Dudung Abdul Haris mengaku kaget atas penangkapan 
Iwan itu. Apalagi, beberapa hari sebelumnya, mobil yang dipakai menyergap 
warganya tersebut kerap bolak-balik di wilayahnya. ''Menurut warga saya, 
dalam beberapa hari terakhir mobil itu sering bolak-balik. Tapi, warga kami 
tidak berani menegur,'' katanya.

Djahri Tak Kenal Ibrohim

Setelah di­­periksa selama sepekan di Mabes Polri, Muh. Djahri, pemilik 
rumah yang diberondong Densus 88 saat penangkapan Ibrohim (8/8), akhirnya 
kembali ke Temanggung ke­marin. Pria 59 tahun itu tiba di kampungnya, Dusun 
Beji, Kedu, didampingi aparat kepolisian pukul 8.30.

Djahri langsung menuju rumah adiknya, Darpinah, di Dusun Siwur, Karangtejo, 
Kedu. ''Saya dari Jakarta jam setengah delapan malam, terus sampai di 
Jogjakarta setengah sembilan, dan alhamdulillah tadi pagi sudah sampai rumah 
dalam keadaan sehat,'' ujar­nya kemarin.

Selama pemeriksaan di Mabes Polri, Djahri me­ngaku telah di­perlakukan 
de­ngan baik oleh po­lisi. ''Sejak penahanan sepekan lalu, saya diberi 
pakaian dan cukup makanan. Saya juga dihormati serta diperlakukan se­cara 
manusiawi. Malahan, di sana mereka panggil saya Mbah Djahri,'' ungkapnya 
lantas tertawa.

Sayang, saat ditanya wartawan lebih lanjut terkait materi pemerik­saan, dia 
begitu irit bicara. ''Ya diperiksa sampai capek juga sih, kurang dari 
sepuluh jam. Mereka tahu bahwa saya orang tua. Jadi, yang saya sampaikan apa 
ada­nya. Jadi, semua berjalan lancar,'' lanjut ayah dua anak tersebut.

Polisi, kata dia, terus memeriksa soal keterkaitan identitas tamu yang 
akhirnya diketahui sebagai Ibrohim, otak pengeboman di Hotel JW Marriott dan 
Ritz-Carlton, itu. Namun, Djahri tetap mengaku tidak mengenal pria yang 
tewas di rumahnya saat penggerebekan tersebut.

''Yang datang malam itu cuma satu orang diantar Aris dan saya ti­d­­ak 
kenal. Kalau tahu itu teroris, ya tidak mungkin saya terima,'' tegas guru 
SMP Muhamma­diyah Kedu itu.

Sejak tamunya (Ibrohim) tiba Jumat (7/8) dini hari itu, Djahri juga mengaku 
tidak banyak berbi­cara. ''Saya sempat ngobrol, maka­­nya saya diperiksa 
karena sempat berdialog itu,'' ujarnya. Dia enggan membeberkan lebih lanjut 
materi pembicaraan tersebut.

Lantas, bagaimana dengan ke­dua keponakannya, Aris dan Indra, yang juga 
ditahan polisi? Djahri mengungkapkan bahwa keduanya dalam keadaan sehat. 
''Keduanya baik-baik saja. Saya sudah ketemu,'' katanya. 
(rdl/ags/smu/jpnn/vie/iro) 



------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[email protected] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke