Untuk Mbah Ahmad Arori Al Ishaqi dan semua para pendahulu NU dan Ahli Bait... 
alfatihah




________________________________
From: alfaqirilmi <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Tuesday, August 18, 2009 11:25:29 AM
Subject: [kmnu2000] Re: Berduka cita

  
KH. Ahmad Asrori Al-Ishaqi merupakan putera dari Kyai Utsman Al-Ishaqi.
Beliau mengasuh Pondok Pesantren Al-Fithrah Kedinding Surabaya.
Kelurahan Kedinding Lor terletak di Kecamatan Kenjeran Kota Surabaya. Di
atas tanah kurang lebih 3 hektar berdiri Pondok Pesantren Al-Fithrah
yang diasuh Kiai Ahmad Asrori, putra Kiai Utsman Al-Ishaqy. Nama
Al-Ishaqy dinisbatkan kepada Maulana Ishaq, ayah Sunan Giri, karena Kiai
Utsman masih keturunan Sunan Giri.

Jika dirunut, Kiai Ahmad Asrori memiliki darah keturunan hingga
Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam yang ke 38, yakni Ahmad Asrori
putra Kiai Utsman Al Ishaqi. Namanya dinisbatkan pada Maulana Ishaq ayah
Sunan Giri. Karena Kiai Utsman masih keturunan Sunan Giri. Kiai Utsman
berputra 13 orang. Berikut silsilahnya :
Ahmad Asrori Al Ishaqi – Muhammad Utsman – Surati – Abdullah
– Mbah Deso – Mbah Jarangan – Ki Ageng Mas – Ki
Panembahan Bagus – Ki Ageng Pangeran Sedeng Rana – Panembahan
Agung Sido Mergi – Pangeran Kawis Guo – Fadlullah Sido Sunan
Prapen – Ali Sumodiro – Muhammad Ainul Yaqin Sunan Giri –
Maulana Ishaq – Ibrahim Al Akbar – Ali Nurul Alam – Barokat
Zainul Alam – Jamaluddin Al Akbar Al Husain – Ahmad Syah Jalalul
Amri – Abdullah Khan – Abdul Malik – Alawi – Muhammad
Shohib Mirbath – Ali Kholi' Qasam – Alawi – Muhammad
– Alawi – Ubaidillah – Ahmad Al Muhajir – Isa An Naqib
Ar Rumi – Muhammad An Naqib – Ali Al Uraidli – Ja'far As
Shodiq – Muhammad Al Baqir – Ali Zainal Abidin – Hussain Bin
Ali – Ali Bin Abi Thalib / Fathimah Binti Rasulullah SAW.

Semasa hidup, Kiai Utsman adalah mursyid Tarekat Qadiriyah wa
Naqsyabandiyah. Dalam dunia Islam, tarekat Naqsyabandiyah dikenal
sebagai tarekat yang penting dan memiliki penyebaran paling luas;
cabang-cabangnya bisa ditemukan di banyak negeri antara Yugoslavia dan
Mesir di belahan barat serta Indonesia dan Cina di belahan timur.
Sepeninggal Kiai Utsman tahun 1984, atas penunjukan langsung Kiai
Utsman, Kiai Ahmad Asrori meneruskan kedudukan mursyid ayahnya.
Ketokohan Kiai Asrori berawal dari sini.

Konon, almarhum KH. Utsman adalah salah satu murid kesayangan KH. Romli
Tamim (ayah KH. Musta'in) Rejoso, Jombang, Jawa Timur. Beliau
dibaiat sebagai mursyid bersama Kiyai Makki Karangkates Kediri dan Kiai
Bahri asal Mojokerto. Kemudian sepeninggal Kiai Musta'in (sekitar
tahun 1977), beliau mengadakan kegiatan sendiri di kediamannya Sawah
Pulo Surabaya.

Maka, jadilah Sawah Pulo sebagai sentra aktifitas thariqah di kota
metropolis di samping Rejoso sendiri dan Cukir Jombang. Sepeninggal Kiai
Utsman, tongkat estafet kemursyidan kemudian diberikan kepada putranya,
Kiai Minan, sebelum akhirnya ke Kiai Asrori (konon pengalihan tugas ini
berdasarkan wasiat Kiai Utsman menjelang wafatnya). Di tangan Kiai
Asrori inilah jama'ah yang hadir semakin membludak. Uniknya, sebelum
memegang amanah itu, Kiai Asrori memilih membuka lahan baru, yakni di
kawasan Kedinding Lor yang masih berupa tambak pada waktu itu.

Dakwahnya dimulai dengan membangun masjid, secara perlahan dari uang
yang berhasil dikumpulkan, sedikit demi sedikit tanah milik warga di
sekitarnya ia beli, sehingga kini luasnya mencapai 2,5 hektar lebih.
Dikisahkan, ada seorang tamu asal Jakarta yang cukup ternama dan kaya
raya bersedia membantu pembangunan masjid dan pembebasan lahan
sekaligus, tapi Kiai Asrori mencegahnya. "Terima kasih, kasihan
orang lain yang mau ikutan menyumbang, pahala itu jangan diambil
sendiri, lebih baik dibagi-bagi" , ujarnya.

Kini, di atas lahan seluas 2,5 hektar itu Kiai Asrori mendirikan Pondok
Pesantren Al Fithrah dengan ratusan santri putra putri dari berbagai
pelosok tanah air. Untuk menampungnya, pihak pesantren mendirikan
beberapa bangunan lantai dua untuk asrama putra, ruang belajar mengajar,
penginapan tamu, rumah induk dan asrama putri (dalam proses pembangunan)
serta bangunan masjid yang cukup besar.

Itulah Kiai Asrori, keberhasilannya boleh jadi karena kepribadiannya
yang moderat namun ramah, di samping kapasitas keilmuan tentunya.
Murid-muridnya yang telah menyatakan baiat ke Kiai Asrori tidak lagi
terbatas kepada masyarakat awam yang telah berusia lanjut saja, akan
tetapi telah menembus ke kalangan remaja, eksekutif, birokrat hingga
para selebritis ternama. Jama'ahnya tidak lagi terbatas kepada para
pecinta thariqah sejak awal, melainkan telah melebar ke komunitas yang
pada mulanya justru asing dengan thariqah.

Walaupun tak banyak diliput media massa, namanya tak asing lagi bagi
masyarakat thariqah. Namun demikian, sekalipun namanya selalu
dielu-elukan banyak orang, dakwahnya sangat menyejukkan hati dan selalu
dinanti, Kiai Asrori tetap bersahaja dan ramah, termasuk saat menerima
tamu. Beliau adalah sosok yang tidak banyak menuntut pelayanan layaknya
orang besar, bahkan terkadang ia sendiri yang menyajikan suguhan untuk
tamu.

Tanda tanda menjadi panutan sudah nampak sejak masa mudanya. Masa
mudanya dihabiskan untuk menuntut ilmu ke berbagai pondok pesantren di
Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kala itu Kiai Asrori muda yang badannya
kurus karena banyak tirakat dan berambut panjang memiliki geng bernama
"orong-orong" , bermakna binatang yang keluarnya malam hari.
Jama'ahnya rata-rata anak jalanan alias berandalan yang kemudian
diajak mendekatkan diri kepada Allah lewat ibadah pada malam hari. Meski
masih muda, Kiai Asrori adalah tokoh yang kharismatik dan disegani
berbagai pihak, termasuk para pejabat dari kalangan sipil maupun
militer.

Tugas sebagai mursyid dalam usia yang masih muda ternyata bukan perkara
mudah. Banyak pengikut Kiai Utsman yang menolak mengakui Kiai Asrori
sebagai pengganti yang sah. Sebuah riwayat menceritakan bahwa para
penolak itu, pada tanggal 16 Maret 1988 berangkat meninggalkan Surabaya
menuju Kebumen untuk melakukan baiat kepada Kiai Sonhaji. Tidak
diketahui dengan pasti bagaimana sikap Kiai Asrori terhadap aksi
tersebut namun sejarah mencatat bahwa Kiai Arori tak surut. Ia
mendirikan pesantren Al-Fithrah di Kedinding Lor, sebuah pesantren
dengan sistem klasikal, yang kurikulum pendidikannya menggabungkan
pengetahuan umum dan pengajian kitab kuning. Ia juga menggagas
Al-Khidmah, sebuah jamaah yang sebagian anggotanya adalah pengamal
tarekat Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah. Jamaah ini menarik karena
sifatnya yang inklusif, ia tidak memihak salah satu organisasi sosial
manapun. Meski dihadiri tokoh-tokoh ormas politik dan pejabat negara,
majelis-majelis yang diselenggarakan Al-Khidmah berlangsung dalam
suasana murni keagamaan tanpa muatan-muatan politis yang membebani. Kiai
Asrori seolah menyediakan Al-Khidmah sebagai ruang yang terbuka bagi
siapa saja yang ingin menempuh perjalanan mendekat kepada Tuhan tanpa
membedakan baju dan kulit luarnya. Pelan tapi pasti organisasi ini
mendapatkan banyak pengikut. Saat ini diperkirakan jumlah mereka jutaan
orang, tersebar luas di banyak provinsi di Indonesia, hingga Singapura
dan Filipina. Dengan kesabaran dan perjuangannya yang luar biasa, Kiai
Asrori terbukti mampu meneruskan kemursyidan yang ia dapat dari ayahnya.
Bahkan lebih dari itu, ia berhasil mengembangkan Tarekat Qadiriyah wa
Naqsyabandiyah ke suatu posisi yang mungkin tak pernah ia bayangkan.

Kiai Asrori adalah pribadi yang istimewa. Pengetahuan agamanya dalam dan
kharisma memancar dari sosoknya yang sederhana. Tutur katanya lembut
namun seperti menerobos relung-relung di kedalaman hati pendengarnya.
Menurut keluarga dekatnya, sewaktu muda Kiai Asrori telah menunjukkan
keistimewaan- keistimewaan. Mondhoknya tak teratur. Ia belajar di Rejoso
satu tahun, di Pare satu tahun, dan di Bendo satu tahun. Di Rejoso ia
malah tidak aktif mengikuti kegiatan ngaji. Ketika hal itu dilaporkan
kepada pimpinan pondok, Kiai Mustain Romli, ia seperti memaklumi,
"biarkan saja, anak macan akhirnya jadi macan juga." Meskipun
belajarnya tidak tertib, yang sangat mengherankan, Kiai Asrori mampu
membaca dan mengajarkan kitab Ihya' Ulum al-Din karya Al-Ghazali
dengan baik. Di kalangan pesantren, kepandaian luar biasa yang diperoleh
seseorang tanpa melalui proses belajar yang wajar semacam itu sering
disebut ilmu ladunni (ilmu yang diperoleh langsung dari Allah SWT).
Adakah Kiai Asrori mendapatkan ilmu laduni sepenuhnya adalah rahasia
Tuhan, wallahu a'lam. Ayahnya sendiri juga kagum atas kepintaran
anaknya. Suatu ketika Kiai Utsman pernah berkata "seandainya saya
bukan ayahnya, saya mau kok ngaji kepadanya." Barangkali itulah yang
mendasari Kiai Utsman untuk menunjuk Kiai Asrori (bukan kepada
anak-anaknya yang lain yang lebih tua) sebagai penerus kemursyidan
Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah padahal saat itu Kiai Asrori masih
relatif muda, 30 tahun.

[source: dari berbagai sumber] 
[http://photos- h.ak.fbcdn. net/hphotos- ak-snc1/hs129. snc1/5534_ 1460226299\
21_101500504921_ 3389871_7085846_ a.jpg] 
<http://www.facebook .com/photo. php?pid=3389871& op=1&view= all&subj= 133288\
079896&aid=- 1&auser=0& oid=133288079896 &id=101500504921> KH. Ahmad
Asrori Ustman Al-Ishaqy

--- In kmnu2...@yahoogroup s.com, Kinantaka <kinant...@. ..> wrote:
>
> allaahummaghfir lahuu warhamhu wa'aafihi wa'fu 'anhu.
> al faatihah....
>
> wassalam,
> kinantaka
>
>
> On 8/18/09, Abdo el-Moeid moeidza...@. .. wrote:
> >
> >
> >
> > Assalamu Alaikum
> >
> > Innalillahi Wa Inna Ilai Roojiun
> >
> > Telah meninggal dunia pada hari ini 26 Sya'ban 1430 H./18 Agustus
2009
> > pukul 02:20 WIB
> > KH. ASRORI BIN UTSMAN AL-ISHAQI
> > Kedinding Surabaya
> >
> > Beliau adalah mursyid Thoriqoh Qodiriyah & Naqsabadiayah saat ini
> >
> > Semoga Allh senantiasa mengampuni semua dosanya dan semoga keluarga
yang
> > ditinggalkannya diberi ketabahan.
> >
> > Wasslam
> > Ibnu Zahid Abdo el-Moeid
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> >
> >
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>

[Non-text portions of this message have been removed]





      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke