http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/08/22/77632/Menyikapi.Ramadan
22 Agustus 2009
Menyikapi Ramadan
A Mustofa Bisri
’’Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana
telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.’’ (QS
Al-Baqarah : 183)
Salah satu yang mungkin bisa dianggap sebagai tanda bahwa masyarakat kita
adalah masyarakat religius ialah sikap kita menyikapi Ramadan. Kita begitu
bersemangat menyambutnya saat Ramadan datang. “Marhaban Ya Ramadan!” kata
spanduk-spanduk yang kita pasang di jalanan, “Selamat Datang Wahai Ramadan!”
Pesantren-pesantren, masjid-masjid, dan mushala-mushala sudah sejak dini
mempersiapkan segala sesuatu bagi acara khusus Ramadan; mulai dari
mempersiapkan sound system bagi syiar Islam, membuat kurikulum pengajian
kilat, hingga penunjukan ustad-ustad.
Organisasi-organisasi ke-Islam-an, instansi-instansi, pers, dan
lembaga-lembaga yang lain juga mulai sibuk mengatur jadwal kegiatan Ramadan.
Bahkan sejumlah televisi yang biasanya hanya tertarik menayangkan
persoalan-persoalan duniawi, menjelang Ramadan berlomba-lomba mengatur
siasat bagaimana menayangkan program-program yang berbau akhirat.
Anak-anak muda kampung juga sudah membentuk grup musik dadakan untuk
keperluan membangunkan sahur. Tidak itu saja; pesan-pesan SMS berisi tahniah
Ramadan melalui telepon-telepon genggam pun bersliweran mirip zaman
pemilihan umum kemarin.
Sebentar lagi langit Indonesia akan menyaksikan gemuruh dan gegap-gempitanya
syiar Ramadan terpancar dari pengeras-pengeras suara surau dan masjid serta
layar-layar kaca rumah-rumah. Bersaing dengan ramainya pengajian-pengajian
bergilir yang diselenggarakan instansi-instansi pemerintah maupun swasta.
Kekuatan Mental
Semua itu kasat mata dan bisa dirasakan oleh indra kita. Pertanyaannya
justru: bagaimana dengan yang tidak kasat mata? Apakah qalbu dan jiwa kita
juga juga sesemangat itu menyambut datangnya bulan suci ini; sehingga siap
untuk dididik dan dilatih oleh Ramadan untuk menjadi muslim dan mukmin yang
lebih kuat?
Menurut Rasulullah SAW, orang mukmin yang kuat ”khairun wa ahabbu ilaa ’Llaahi
min al-mu’mini ’dh-dha’iif...” (H.R. Imam Muslim dari shahabat Abu Hurairah
r.a). “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai oleh Allah daripada
mukmin yang lemah.”
Tentu saja kuat di sini bukan dari segi fisik saja, namun terutama dari segi
mental. Bukankah banyak sekali orang yang secara fisik kuat, namun secara
mental sangat lemah? Bahkan ada orang yang menyembunyikan kelemahan
mentalnya dengan menunjukkan kekuatan fisik.
“Laisa’sy-syadiidu bishora’ati.” (H.R. imam AL-Bukhari dan imam Muslim dari
shahabat Abu Hurairah r.a). Orang kuat tidak dilihat dari kemampuannya
membanting orang. Orang yang benar-benar kuat ialah orang yang mampu
menguasai diri saat marah.
Di bulan suci Ramadan inilah, kita secara intens dididik dan dilatih
mengendalikan, mengekang, dan menguasai diri. Dimulai dari ’pelajaran’
paling awal: mengekang nafsu makan-minum dan kelamin, lalu ’naik klas’:
mengekang nafsu-nafsu yang lain yang lebih sulit; seperti marah, benci,
hasut, dsb. dst. . Kemudian pada akhirnya diharapkan ’lulus’: menjadi
mukmin yang benar-benar kuat yang dicintai Tuhan. Menjadi raja di kerajaan
diri.
Orang yang lemah tidak akan mampu menjadi raja di kerajaan dirinya sendiri;
apalagi menjadi khalifah di muka bumi. Allah menghendaki kita menjadi
khalifahNya di muka bumi ini, karena itu “wallahu a’lam. Ia memberikan
kepada kita berbagai fasilitas dan kemudahan untuk dapat mengemban amanat
itu. Satu di antaranya ialah kesempatan berlatih dan menggembleng diri
sebulan suntuk di bulan suci ini.
Apabila kita tidak menggunakan kesempatan ini untuk meningkatkan kualitas
dan kekuatan diri kita, maka Ramadan akan berlalu seperti bulan-bulan yang
lain. Perikehidupan dan pergaulan kita akan tetap seperti yang sudah-sudah.
Perikehidupan dan pergaulan yang lemah yang dipenuhi oleh sikap dan perilaku
khas manusia-manusia lemah yang tidak pantas disebut khalifah Allah.
Manusia-manusia yang dengan mudah ditaklukkan dan diperbudak oleh apa saja
yang seharusnya dikuasainya; seperti harta, kedudukan, dan
kepentingan-kepentingan lainnya. Manusia yang tidak menghargai dirinya
sendiri. Semoga Allah mengampuni kita, merahmati kita, dan menolong kita
untuk dapat menyikapi dengan benar RamadanNya ini. Amin. (76)
— Penulis adalah Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh,
Rembang
------------------------------------
______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke:
[email protected]
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[email protected]
mailto:[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/