Majalah Tempo, 31 Agustus - 6 September 2009
Ulil Abshar Abdalla: 
Pengawasan Ceramah Perlu
"SAYA meletakkan Islam pertama-tama sebagai sebuah ’organisme’ yang hidup; 
sebuah agama yang berkembang sesuai dengan denyut nadi perkembangan manusia. 
Islam bukan sebuah monumen mati yang dipahat pada abad ke-7 Masehi, lalu 
dianggap sebagai ’patung’ indah yang tak boleh disentuh tangan sejarah.” 
Alinea itulah yang membuka tulisan Ulil Abshar Abdalla bertajuk ”Menyegarkan 
Kembali Pemahaman Islam” dan dimuat di Kompas, 18 November 2002. Tulisan Ulil, 
ketika itu dia Koordinator Jaringan Islam Liberal, memantik reaksi keras dari 
sebagian kelompok Islam. Forum Ulama Umat Islam, misalnya, mengetuk palu fatwa 
mati bagi menantu KH A. Mustofa Bisri, pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul 
Thalibien, Rembang, itu. 
Empat tahun ”menghilang” ke Amerika Serikat, Ulil pulang ke Indonesia dan 
melempar kejutan: dia mencalonkan diri sebagai Ketua Umum Pengurus Besar 
Nahdlatul Ulama dalam Muktamar Ke-32, Januari mendatang. Menurut Ulil, 
Nahdlatul Ulama sudah berubah dan saatnya dipimpin orang yang lebih muda. 
”Tentu dengan dukungan kiai-kiai senior,” katanya. 
Kepada para senior di Nahdlatul Ulama ini, Ulil juga siap menjelaskan berbagai 
pendapatnya yang dianggap kelewat liberal. Dia mengatakan pikiran dan kritiknya 
selama ini sebenarnya tak diarahkan ke Nahdlatul Ulama, tapi dialamatkan ke 
kelompok-kelompok radikal di Indonesia. 
Menjelang buka puasa Kamis pekan lalu, di Teater Utan Kayu, Jakarta, kandidat 
doktor dari Universitas Harvard, Amerika, ini membeberkan pandangannya soal 
Islam radikal, Nahdlatul Ulama, dan kehidupan keberagamaan di Amerika kepada 
Sapto Pradityo, Yos Rizal Suriaji, Yophiandi, dan Irfan Budiman. 
Apa modal Anda maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama? 
Bukannya sombong, saya rasa modal saya memadai. Saya punya pendidikan pesantren 
yang baik, mengaji fikih sesuai dengan hierarki pesantren, punya pemahaman 
kitab kuning cukup baik. Saya lulus dari LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam 
dan Arab) dan punya pendidikan Barat. Saya juga lahir dari keluarga NU dan 
berkiprah di NU cukup lama. 
Untuk maju sebagai ketua umum, bukankah perlu restu kiai, seperti kiai 
Langitan, Tebuireng, dan Asembagus? Bagaimana penerimaan pesantren-pesantren 
itu terhadap Anda? 
Saya memang baru pergi ke Asembagus, Situbondo. Itu pun baru ketemu beberapa 
kiai. Tapi, insya Allah, saya bisa mendapat restu pesantren-pesantren itu. 
Memang ada yang beranggapan saya punya pikiran terlalu bebas. Tapi saya yakin 
mereka bisa paham kalau saya jelaskan. 
Sebagian kalangan NU merespons negatif Jaringan Islam Liberal. Ini jelas tak 
menguntungkan pencalonan Anda. 
Pencitraan negatif itu datang dari luar NU dan merembes ke NU. Saya ingin 
mengubah citra itu. Pikiran dan kritik saya selama ini sebenarnya tak diarahkan 
ke NU, tapi dialamatkan ke kelompok-kelompok radikal di Indonesia. Bagi saya, 
liberal juga bukan berarti bebas tanpa batas. Saya akan berusaha mendekatkan 
ide-ide saya dengan bahasa NU. Di NU sendiri sebenarnya banyak sekali tradisi 
liberal. Dalam kasus bunga bank, misalnya, tak ada keputusan final bahwa bunga 
bank termasuk riba yang haram. Ada tiga pendapat di NU. 
Apa yang perlu direformasi di tubuh NU? 
Menurut saya, NU ke depan bukan hanya milik muslim tradisional. Tantangannya 
adalah bagaimana mendekatkan NU ke kelas menengah kota dan bagaimana berhadapan 
dengan kelompok radikal. Diaspora kaum muda NU juga sudah sedemikian luas, tak 
hanya di pedalaman, tapi juga di kota-kota besar. Jumlah mereka besar. Banyak 
juga yang bersekolah hingga ke berbagai negara, dari Mesir, Saudi, Pakistan, 
hingga Inggris dan Amerika. Ini yang harus diperhatikan NU di masa depan. Dan 
saya kira untuk merangkul mereka dibutuhkan pemimpin muda (tertawa).
Bagaimana Anda melihat kecenderungan NU yang kerap tergiur terjun ke politik? 
Itu memang masalah besar. Aura partai memang merusak langgam NU. NU memang 
sulit berpisah dengan politik karena, sebagai ormas besar, bobot politiknya 
juga besar sekali. Idealnya sih kiai memang tidak berpolitik. Seperti kata 
Arief Budiman, mereka harusnya menjadi cendekiawan di atas angin. Tapi okelah, 
tantangan ke depan, bagaimana NU menempatkan diri secara proporsional. 
Soal terorisme dan kelompok radikal yang sering menjadi kritik Anda. Aksi teror 
belakangan marak lagi di Indonesia. Bagaimana sebetulnya memahami ideologi 
terorisme mereka? 
Fenomena terorisme itu kompleks sekali. Tapi faktor utamanya ideologi. Dan 
ideologi tak bisa diindoktrinasikan kalau tak ada kondisi sosial politik yang 
kondusif. Ini bisa ditelusuri dari awal abad ke-20, sejak pendirian Ikhwanul 
Muslimin di Mesir oleh Hassan al-Banna pada 1928. Mulanya mereka tak radikal, 
tapi kemudian semakin radikal sejak 1950-an ketika ditekan dan aktivisnya 
banyak ditangkap pemerintah Presiden Mesir Gamal Abdul Nasser. Salah satu 
ideolog yang paling berpengaruh adalah Sayyid Qutb. Saat di dalam penjara, 
sekitar 1954, Qutb menulis pamflet Ma’alim fi’l Tariq atau Rambu-rambu di 
Jalan. Tulisan ini menjadi inspirasi bagi aktivis muslim di berbagai negara 
untuk melakukan perubahan radikal. 
Ideolog lainnya? 
Tokoh lain adalah Syed Abul A’ala Maududi, wartawan dan pemikir Islam dari 
Pakistan. Dia banyak sekali menulis buku dan pamflet dalam bahasa Urdu. Salah 
satunya Al-jihad fi’l Islam pada pertengahan 1930-an. Dalam pamflet itu, dia 
mengajukan penafsiran ulang atas doktrin jihad yang baru sama sekali. Semula 
jihad di kalangan ulama Islam dimaknai sebagai doktrin defensif. Di kalangan 
Nahdlatul Ulama, misalnya, jihad dipahami bahwa kalau negara atau tanah Islam 
diserang oleh umat nonmuslim, umat Islam berhak membela diri. Salah satu contoh 
jihad defensif ini, ketika pada akhir 1940-an Belanda melancarkan agresi 
pertama, pendiri NU, Kiai Hasyim Asy’ari, menyerukan resolusi jihad melawan 
Belanda di Jawa Timur. 
Seperti apa jihad versi Maududi? 
Maududi memaknai jihad sebagai perang ofensif yang sah. Artinya, umat Islam 
boleh berdakwah dengan cara perang. Qutb juga bilang, kalau orang-orang lain di 
luar Islam tak mau menerima kebenaran Allah, mereka boleh diperangi. Nah, 
tafsir itu yang menginspirasi anak-anak muda bergairah kembali mempelajari 
Islam, terutama setelah revolusi Iran pada 1979. Mereka mengharapkan 
kebangkitan Islam melalui revolusi baru yang dapat mengubah tatanan dunia 
melawan dominasi Amerika Serikat. 
Siapa lawan mereka sebenarnya: zionis, Amerika, negara Barat, atau kafir? 
Lawan utama mereka adalah kafir. Makanya mereka memakai konsep Darul Islam, 
negara di mana Islam dijalankan, dan Darul Harb, negara tempat Islam dimusuhi. 
Pembagian seperti itu menjadi pembenaran mereka mengumandangkan perang terhadap 
negara lain yang dianggap memusuhi Islam. Amerika dianggap sebagai ikon musuh 
Islam, melambangkan sekularisme, sementara Amerika sendiri melakukan 
petualangan berbahaya seperti mendukung Israel, menjatuhkan Taliban, dan 
menginvasi Irak. 
Berbeda dengan Ikhwanul, bukankah Al-Qaidah tak mengkampanyekan pendirian 
negara Islam? 
Fokus mereka saat ini memang mengusir pasukan kafir dan salibis dari 
tanah-tanah Islam: Irak, Afganistan, Indonesia. Tapi cita-cita akhir mereka 
jelas, yakni mendirikan negara Islam. Tokoh Al-Qaidah, Ayman al-Zawahiri, 
berasal dari Mesir, dipengaruhi tokoh Ikhwanul, terutama Qutb. Menurut Qutb, 
walaupun umat Islam saat ini membaca syahadat, menjalankan salat, dan membayar 
zakat, Islam mereka tak berarti apa-apa karena hanya menjalankan ritual formal 
Islam. Mereka hidup di era jahiliyah. Tugas umat Islam saat ini, kata Qutb, 
mengislamkan kembali orang Islam dan menumbangkan rezim sekuler. 
Ada yang mengatakan terorisme berakar pada persoalan ekonomi. Menurut Anda? 
Itu analisis yang dipaksakan. Sebab, kalau diteliti bahasa dan retorika mereka, 
tak ada indikasi sedikit pun mereka peduli pada masalah kemiskinan. Bagi 
mereka, masalah kemiskinan, kesenjangan sosial, dan urusan duniawi hanya urusan 
remeh-temeh. 
Walaupun kemudian dibantah, polisi berniat mengawasi ceramah di masjid. Apakah 
Anda setuju? 
Pengawasan memang perlu, tapi tak perlu diungkap ke publik. Kelompok ini kan 
tidak banyak, jadi yang diawasi tidak setiap masjid seperti zaman Orde Baru. 
Yang diawasi hanya kelompok yang ditengarai terkait dengan jaringan teroris. 
Masjid NU, Muhammadiyah, atau Betawi tak usah diawasi. Tapi kalau polisi mau 
mengawasi semua masjid, ya, harus ditentang. 
Polisi juga memeriksa Jemaah Tabligh. Apa benang merahnya dengan kelompok 
radikal? 
Jemaah Tabligh sama sekali tak ada hubungannya dengan gerakan radikal. 
Ciri-ciri kelompok radikal itu sangat khas, yakni doktrin jihad dengan 
kekerasan. Dalam Jemaah Tabligh, tak ada ajaran seperti itu.
Bagaimana dengan ide deradikalisasi teroris? Apakah mungkin? 
Ada dua bentuk. Pertama terhadap mereka yang sudah terpapar ideologi ini. 
Program seperti ini sudah pernah dilakukan negara seperti Mesir dan Yaman. 
Orang-orang yang pernah bergabung dengan organisasi radikal dengan metode 
kekerasan, tapi kemudian bertobat, dipakai pemerintah Mesir untuk menyadarkan 
rekan-rekannya. Cara ini ada hasilnya. Polisi Indonesia sepertinya juga sudah 
memakai metode ini. Yang kedua adalah melindungi orang-orang yang belum terkena 
ideologi tersebut. Ulama muslim perlu membuat tafsir tandingan supaya orang 
tidak terpukau dengan doktrin jihad kekerasan.
Anda sudah empat tahun di Amerika Serikat. Apakah fobia terhadap Islam di sana 
masih ada? 
Saya tak pernah mengalami pengalaman yang menyakitkan. Setelah peristiwa 11 
September, memang muncul fobia terhadap Islam, tapi usaha untuk memahami Islam 
juga besar sekali. Peristiwa 11 September seperti berkah di balik bencana. 
Setelah kejadian itu, orang-orang berminat mempelajari Islam. Kursi studi Islam 
di perguruan tinggi laku. Buku-buku tentang Islam laris sekali, walaupun buku 
anti-Islam juga laris. Misalnya Robert Spencer, yang menulis buku-buku 
anti-Islam, seperti The Invasion of Islam, jadi perbincangan dan sering jadi 
narasumber di kanal Fox. Tapi kanal televisi utama seperti CNN, PBS, dan NBC 
malah mempromosikan pemahaman terhadap Islam. 
Tak pernah mengalami gangguan? 
Sama sekali tidak. Istri saya mengenakan jilbab, bekerja sebagai juru masak. 
Teman-temannya beragama Yahudi, Katolik, dan Protestan, dari Venezuela, Israel, 
dan Jepang. Mereka malah bersimpati kepada istri saya. Mereka bilang, ”Anda 
pakai jilbab, tapi tidak merasa terhalang bersosialisasi dengan kami.” Anak 
saya juga kalau bulan puasa berpuasa. Gurunya berusaha sebaik mungkin 
menjelaskan soal puasa kepada murid yang lain dan mengajarkan toleransi 
terhadap ritual muslim. Saat saya mengundang tetangga apartemen, yang tak satu 
pun muslim, untuk buka puasa bersama, saya terkejut tetangga saya yang Kristen 
hari itu ikut puasa untuk menghormati saya.
Bagaimana pengalaman di Harvard? 
Suatu kali ada tuntutan dari beberapa muslimah yang tak nyaman berolahraga 
bersama laki-laki. Mereka minta diberi waktu khusus fitness. Universitas 
Harvard mengabulkannya. Memang ada yang memprotes keputusan itu, tapi 
universitas jalan terus.
ULIL ABSHAR ABDALLA: 
Lahir: Pati, Jawa Tengah, 11 Januari 1967 
Pendidikan: 
        * Pondok Pesantren Mansajul ’Ulum, Cebolek, Kajen, Pati 
        * Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang 
        * Sarjana, Fakultas Syari’ah, Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab, 
Jakarta (1993) 
        * Master, Perbandingan Agama, Boston University, AS (2007) 
        * Kandidat Doktor, Near Eastern Languages and Civilizations, Harvard 
University, AS 
Pekerjaan: 
        * Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul 
Ulama, Jakarta 
        * Direktur Program Indonesian Conference on Religion and Peace 
        * Koordinator Jaringan Islam Liberal 
        * Direktur Freedom Institute, Jakarta. 


      Get your new Email address!
Grab the Email name you've always wanted before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke