Setiap berpapasan dengan wanita berniqab, rasanya seperti "diintip" dari 
balik jendela. he he ..
=====

http://www.hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=8909:mengapa-aku-tanggalkan-bikini-untuk-niqab&catid=74:cermin&Itemid=85
Mengapa Aku Tanggalkan Bikini untuk Niqab?
Thursday, 30 July 2009 17:59

Sara Bokker, dahulu seorang aktris perempuan dan seorang  model.Ia 
melepaskan bikini dan menggunakan cadar. Dengan cadar ia mengaku lebih bebas

Hidayatullah.com--Sebagai perempuan Amerika yang lahir di  ‘Jantung’-nya 
Amerika, aku tumbuh dewasa seperti gadis-gadis lainnya dan terbiasa dengan 
kehidupan glamour kota besar. Kemudian aku pindah ke Florida, di Pantai 
Selatan Miami, di sebuah tempat populer bagi pencari kehidupan glamour. 
Tentu saja, saat itu aku juga melakukan apa yang dilakukan oleh umumnya 
gadis-gadis Barat. Aku hanya memperhatikan penampilan fisik dan daya 
tarikku, mengukur nilai reputasiku dari banyaknya perhatian orang lain 
padaku. Aku berolahraga teratur hingga menjadi pelatih pribadi di sebuah 
perumahan mewah pinggir laut dan menjadi pengunjung setia pantai yang ‘suka 
pamer tubuh’ serta sukses mencapai taraf kehidupan yang ‘penuh gaya dan 
berkelas’.


Tahun-tahun berlalu, kupahami bahwa ukuran nilai kepuasan diri dan 
kebahagiaanku bergeser pada semakin tingginya aku menggunakan daya tarik 
kewanitaanku. Saat itu, aku sungguh menjadi budak mode. Aku sungguh menjadi 
sandera dari penampilanku sendiri.


Oleh karena celah kosong antara kepuasan diri dan gaya hidup makin melebar, 
maka aku mencari perlindungan diri dari tindakan pelarian ke alkohol dan 
pesta-pesta, dengan cara mengikuti meditasi, menjadi aktivis, dan belajar 
kepercayaan-kepercayaan alternatif, dengan tujuan agar celah kosong itu 
terkoreksi dan terlihat lebih landai. Namun, akhirnya aku sadar bahwa semua 
itu hanya seperti obat pemati-rasa saja, yang sakitnya bisa terasa kembali, 
daripada sebuah pengobatan yang benar-benar efektif.


Kemudian terjadi peristiwa 11 September 2001. Sebagai saksi atas terjadinya 
serangan berkelanjutan pada Islam, pada nilai-nilai dan budaya Islam, dan 
adanya deklarasi yang berkonotasi negatif mengenai “Aktivis Salib Baru”, aku 
tergugah untuk mulai memperhatikan Islam. Hingga saat itu aku 
mengasosiasikan semua yang berbau Islam dengan perempuan-perempuan yang 
berbaju seperti ‘kemah’, tukang pukul isteri, harem, dan dunia teroris.


Sebagai aktivis pembebasan perempuan dan sebagai orang yang mengupayakan 
dunia yang lebih baik untuk semua, jalanku bersilangan dengan jalan aktivis 
lainnya yang telah memimpin tindakan reformasi dan keadilan untuk semua 
tanpa pandang bulu. Aku bergabung dalam kampanye pembimbing baruku yang saat 
itu masih berlangsung, salah satunya adalah reformasi pemilihan umum dan 
hak-hak sipil. Sekarang ini, kegiatan aktivisku sudah sangat berbeda. 
Daripada mendukung  keadilan untuk sebagian orang secara ‘selektif’, aku 
belajar bahwa yang ideal seperti keadilan, kebebasan dan penghargaan 
benar-benar berarti dan intinya bersifat universal, lalu antara 
masing-masing kebaikannya dan dasar kebaikan ketiganya harus sejalan dan 
tidak konflik. Untuk pertama kalinya, aku mengetahui sesungguhnya arti 
“semua orang diciptakan sederajat”. Tetapi yang sangat penting, aku belajar 
bahwa hanya perlu keyakinan untuk melihat dunia yang satu dan untuk melihat 
penyatuan dalam penciptaan.


Suatu hari aku melewati sebuah buku yang dikonotasikan negatif di Barat – 
Al-Quran Yang Suci. Tadinya aku tertarik pada gaya dan pendekatan Al-Quran 
dan kemudian minatku terbangkitkan lebih dalam pada pandangannya tentang 
keberadaan makhluk, kehidupan, penciptaan dan hubungan antara Pencipta dan 
penciptaan itu sendiri. Aku rasa Qur’an dapat menjadi sumber pembuka wawasan 
dan pengetahuan untuk hati dan jiwa tanpa perlu penerjemah atau pastor.


Akhirnya aku sampai pada momen penting yang mengubah kehidupanku 
selanjutnya: Pemahaman aktivis yang baru kurasakan untuk kepuasan diri 
baru-baru ini, ternyata tidak berarti apapun dibandingkan dengan memeluk 
sebuah keyakinan yang disebut Islam, yang memungkinkan aku hidup damai 
sebagai Muslim yang bisa bermanfaat.


Aku membeli sebuah gaun panjang yang cantik dan penutup kepala, mirip gaya 
busana Muslimah dan dengannya aku berjalan di jalan dan lingkungan tetangga 
yang sama, yang beberapa hari sebelumnya aku masih mengenakan celana pendek, 
bikini atau gaya busana Barat yang berkelas. Walaupun masyarakat, wajah dan 
toko semuanya tetap sama, ada satu hal yang sangat berbeda, karena untuk 
pertama kalinya -aku bukan lagi-, rasa damai itu juga bukan yang sama 
sepanjang hidupku sebagai perempuan. Aku merasa seolah-olah semua rantai 
telah putus dan akhirnya aku bebas sebenar-benarnya. Sangat menyenangkan 
melihat wajah heran dari orang-orang lain dibandingkan dengan melihat wajah 
pemangsa yang siap menerkam korbannya, yang sering kutemui dulu. Tiba-tiba 
saja beban itu terangkat dari bahuku. Aku tidak lagi menghabiskan waktuku 
untuk berbelanja, membeli kosmetik, ke salon dan melatih fisik untuk 
penampilanku. Akhirnya aku bebas.


Dari semua tempat itu, aku menemukan Islamku tepat di pusat dari tempat yang 
sering disebut sebagian orang sebagai ‘tempat tersering terjadinya skandal 
di bumi’, bagaimanapun  membuat semua itu menjadikannya penuh cinta dan 
spesial.


Walaupun bahagia dengan Hijab, aku menjadi ingin tahu mengenai Niqab 
(cadar), karena melihat peningkatan angka Muslimah yang mengenakannya. Aku 
bertanya kepada suamiku yang juga Muslim, yang menikah denganku setelah aku 
menjadi Muslimah, apakah aku diperbolehkan mengenakan Niqab atau cukup 
dengan hijab-ku yang sekarang telah kukenakan. Dengan santainya suamiku 
menanggapi bahwa ia percaya bahwa Hijab adalah sebuah kewajiban namun tidak 
demikian dengan Niqab. Saat itu, Hijabku terdiri dari penutup kepala yang 
menutupi semua rambutku kecuali wajah dan gaun hitam panjang yang longgar, 
biasa disebut dengan Abaya yang menutupi tubuh dari leher hingga kaki.


Satu setengah tahun berlalu, aku mengatakan kepada suamiku bahwa aku ingin 
mengenakan Niqab. Alasanku kali ini, bahwa aku merasa akan lebih 
menyenangkan Allah, Yang Maha Pencipta, dan akan meningkatkan rasa damai 
dalam diri bila berpakaian lebih tertutup.  Ia mendukung keputusanku dan 
mengantarku membeli ‘Isdaal’, sebuah gaun hitam longgar yang menutup dari 
kepala hingga kaki dan ‘Niqab’ yang menutup seluruh kepalaku termasuk wajah 
kecuali mata.


Tak lama, media mulai memberitakan tentang para politikus, pemuka Vatikan, 
pendukung kebebasan, aktivis HAM palsu yang berkali-kali mengkritik pedas 
tentang Hijab, apalagi Niqab, yang bagi orang lain tampak sebagai bentuk 
yang sangat kejam terhadap kaum perempuan, juga dianggap gangguan dalam 
bersosialisasi dan baru-baru ini seorang pegawai Mesir mengatakan bahwa hal 
itu ‘sebagai tanda-tanda kemunduran’


Lalu aku menilai sebuah kemunafikan parah saat beberapa pemerintahan Barat 
dan juga kelompok pembela HAM palsu yang tergesa-gesa mencoba membela 
hak-hak perempuan ketika pemerintahan beberapa Negara lainnya memaksakan 
penggunaan kode berbusana tertentu untuk perempuan. Sekalipun begitu 
‘Pejuang Kebebasan’ melihat sisi lainnya ketika kaum perempuan kehilangan 
hak-haknya, tidak dapat bekerja, belajar, hanya karena memilih untuk 
menggunakan haknya untuk mengenakan Niqab atau Hijab. Sekarang ini, terjadi 
peningkatan pembatasan kaum perempuan yang mengenakan Hijab atau Niqab dari 
kesempatan bekerja dan pendidikan, bukan hanya di bawah rejim yang totaliter 
seperti di Tunisia, Maroko dan Mesir, melainkan juga di Negara-negara 
demokrasi seperti Perancis, Belanda dan Inggris.


Saat ini, aku masih tetap menjadi aktivis perempuan, tepatnya aktivis 
perempuan Muslim, yang memanggil para Muslimah untuk mengambil tanggung 
jawab mereka memberi dukungan semampunya kepada suami agar menjadi Muslim 
yang baik. Untuk membesarkan anak-anak mereka agar menjadi Muslim yang jujur 
dan bertanggungjawab, sehingga mungkin nanti bisa menjadi cahaya untuk 
kemanusiaan. Untuk memerintahkan kebaikan –kebaikan apapun- dan untuk 
mengharamkan kejahatan –kejahatan apapun-. Untuk berbicara tentang kebenaran 
dan kebajikan serta melawan semua keburukan-keburukan. Untuk memperjuangkan 
hak-hak kita mengenakan Niqab atau Hijab untuk menyenangkan Yang Maha 
Pencipta, apapun yang kita pilih. Dan juga penting, untuk membagi pengalaman 
mengenakan Niqab atau Hijab kepada teman perempuan yang mungkin belum pernah 
berkesempatan untuk mengerti apa arti sesungguhnya mengenakan Niqab atau 
Hijab bagi kita dan alasan-alasan kita sehingga, dengan penuh cinta, kita 
memeluknya.


Sebagian besar perempuan yang kuketahui mengenaikan Niqab adalah Muallaf 
Barat, sebagian dari mereka bahkan belum menikah. Yang lain mengenakan Niqab 
tanpa dukungan penuh dari keluarga maupun lingkungan dekatnya. Apa yang 
umumnya kita miliki adalah, bahwa semua itu adalah pilihan pribadi setiap 
orang atau masing-masing dari kita, yang tidak satupun dari kita 
menginginkan untuk menyerah.


Mau atau tidak mau, kaum perempuan dibombardir dengan gaya “berbusana minim 
hingga tanpa busana” secara virtual dalam setiap bentuk komunikasi dimanapun 
di dunia ini. Sebagai seorang bekas Non-Muslim, aku tetap menuntut hak-hak 
perempuan untuk sama-sama mengetahui mengenai Hijab, kebaikan-kebaikannya, 
dan kedamaian serta kebahagiaan yang dibawanya ke dalam kehidupan perempuan, 
seperti yang telah terjadi padaku.


Kemarin, bikini merupakan lambang kebebasanku, yang sesungguhnya 
membebaskanku dari kepercayaan-kepercayaanku dan sebagai manusia biasa.


Aku tidak dapat lebih gembira lagi karena telah menanggalkan bikiniku di 
Pantai Selatan dan gaya hidup Barat yang gemerlapan itu, untuk hidup damai 
dengan Penciptaku dan menikmati hidup di antara teman-teman sesama manusia 
sebagai pribadi yang layak menerimanya. Hal itu adalah alasanku untuk 
memilih mengenakan Niqab dan bersedia mati membela hakku yang tak mungkin 
bisa dicabut untuk mengenakannya.


Hari ini, Niqab adalah simbol baru pembebasan perempuan untuk menemukan 
siapa dirinya, apa tujuannya dan bagaimana bentuk hubungan yang dipilihnya 
agar bisa bersama Penciptanya.


Kepada perempuan yang menyerah terhadap anggapan buruk mengenai ketertutupan 
Hijab yang islami, aku bisa berkata: Engkau tidak mengetahui apa yang 
terlewatkan olehmu.


Kepadamu, penguasa peradaban yang korup dan tidak beruntung, juga para 
aktivis palsu, aku bisa berkata: Bawalah terus…


[Ditulis oleh Sara Bokker, dahulu seorang aktris/model/pelatih fitness dan 
seorang aktivis. Saat ini Sara Bokker adalah Direktur Komunikasi di “The 
March for Justice”, salah seorang pendiri ‘Global Sisters Network” dan 
Produser “Shock and Awe Gallery. Tulisan ini diambil dari situs 
www.marchforjustice.com. Cerita ini juga pernah dimuat di 
www.saudigazette.com.sa. Sara bisa dihubungi di [email protected] 
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript 
enabled to view it ] 


__________ Information from ESET NOD32 Antivirus, version of virus signature 
database 4447 (20090922) __________

The message was checked by ESET NOD32 Antivirus.

http://www.eset.com





------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[email protected] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke