MUI Anggap Komunitas Noto Ati Menyimpang
Kamis, 24 September 2009 11:23

Jombang, NU Online
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jombang menilai aktivitas komunitas Noto Ati 
tersebut tidak sesuai dengan ajaran Islam yang sesungguhnya. MUI sempat 
mengeluarkan SK No 01/MUI/Jom/A/SK/II/2009 tentang Pengajian Noto Ati, MUI 
menyatakan dan memfatwakan bahwa pemahaman dan pengamalan ajaran Islam yang 
dilakukan oleh pengajian Noto Ati adalah menyalahi dan menyimpang dari 
pemahaman dan pengamalan jumhur (mayoritas) umat Islam.

''Keputusan itu kita ambil setelah melalui beberapa pengkajian,'' terang KH 
Junaedi Hidayat, sekretaris MUI Jombang. Baik melalui audiensi dengan jamaah 
Noto Ati sendiri. Maupun dengan hasil kerja dua tim investigasi yang 
dibentuk MUI.

Temuan MUI menyebutkan, bahwa para pengikut pengajian Noto Ati dalam 
mengamalkan ajaran Islam telah menimbulkan keresahan dalam kehidupan 
keluarga dan masyarakat. Bentuk-bentuk ajaran, pemahaman serta pengalaman 
yang menimbulkan keresahan itu antara lain adanya informasi dari pimpinan 
pengajian Noto Ati kepada para pengikutnya bahwa tanggal 15 Januari 2009 
akan terjadi kiamat.

Pengikut pengajian Noto Ati menjadi jauh dari orang tua dan saudara termasuk 
pada hari raya tidak lagi datang silaturahmi kepada orang tua dan sanak 
keluarga yang bukan anggota pengajian Noto Ati.

Dalam melakukan atau tidak melakukan berbagai amalan dan perbuatan termasuk 
pada hal-hal yang sudah jelas hukumnya secara syari dan aqli pengikut 
pengajian Noto Ati lebih menyandarkan pada bisikan hati dari pada 
pertimbangan syari dan aqli.

Tidak mau takziah dan mendoakan kepada oarang tua, keluarga serta orang lain 
yang meninggal yang bukan anggota pengajian. Kewajiban zakat fitrah bagi 
anggota tidak hanya sebesar 2,5 Kg tapi disempurnakan sebesar 5 Kg. Diantara 
pengikut pengajian Noto Ati ada yang melarang keluarganya sekolah.

Pada surat tertanggal 10 Februari tersebut, MUI juga memberikan rekomendasi 
sebagai tindak lanjut keputusannya. Yakni mengimbau kepada pimpinan dan 
anggota Pengajian Noto Ati agar kembali kepada pemahaman dan pengamalan 
ajaran Islam sesuai dengan pemahaman dan pengamalan jumhur (mayoritas) umat 
Islam.

Meminta kepada masyarakat untuk tidak mengikuti kegiatan pengajian Noto Ati 
yang mengajarkan pemahaman dan pengamalan agama tersebut. Mengimbau kepada 
pihak-pihak yang berwenang untuk membubarkan keberadaan Pengajian Noto Ati 
dan menghentikan segala bentuk kegiatannya.

MUI Jombang bersama pihak-pihak terkait bersedia memberikan bimbingan dan 
pembinaan kepada Pengajian Noto Ati untuk kembali pada pemahaman dan 
pengamalan jumhur (mayoritas) umat Islam.

Apapun, Selalu Bertanya pada Allah

Keberadaan komunitas Noto Ati sudah cukup lama di Jombang, terutama di desa 
Pesantren Tembelang. Sejumlah pengikutnya bahkan mengaku telah beberapa 
tahun aktif dalam pengajian Noto Ati tersebut. Bahkan, komunitas ini, pada 
awal 2009 lalu pernah dianggap menyimpang oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) 
karena beberapa ajarannya dinilai tak sesuai syari dan aqli. Bagaimana 
sebenarnya Noto Ati dan bagaimana saat ini pascakeputusan MUI?

''Kita sudah delapan tahun mengadakan wirid bersama-sama,'' kata Setyo Adi, 
salah satu pengikut jamaah tersebut. Selama delapan tahun itu, pihaknya 
mengaku melakoni wirid secara berjamaah setiap malam. ''Mulai pukul 21.30 
sampai pukul 02.30 dini hari,'' terangnya. Baginya, tidak ada kata lelah 
dalam melakoni wirid.

Karena motivasinya menjalni wirid tersebut sangat tinggi. ''Wirid ya wirid 
saja. Kita tidak minta apa-apa. Tidak minta panjang umur, tidak minta 
rezeki. Kita hanya minta bersama Allah. Minta pengampunan dosa,'' terang 
purnawirawan polisi yang kini berusia 61 tahun.

Karena itu bacaan wiridnya juga tidak berbeda dengan jamaah wirid lainnya. 
''Kita memperbanyak bacaan tasbih dan istighfar selama wirid,'' ungkapnya.

Hal itu dilakukan untuk menyongsong kehidupan setelah dunia yakni akhirat. 
Karena memang semua orientasi wirid dan semua kegiatan yang diamalkannya 
adalah akhirat. ''Pandangan hidup kami adalah kampung akhirat,'' tegasnya.

Untuk itu mereka tidak takut mati. Selalu teringat dosa dan beribadah hanya 
karena Allah bukan yang lain.

Tidak mau memakan barang syubhat. Selalu zuhud dan qanaah. Hati-hati dalam 
berperilaku dan berbuat. Siap dipenjara, difitnah, prihatin dan siap miskin. 
Selalu introspeksi. Senang salaman dan senang membicarakan Allah. Sedikit 
tidur di waktu malam untuk memohon ampunan.

''Kita menyadari bahwa semuanya milik Allah. Saya tidak punya apa-apa. 
Harta, barang-barang ini semuanya milik Allah,'' ucap Setyo sembari menunjuk 
seisi rumah. Kediaman bapak lima anak dan delapan cucu ini cukup luas dan 
megah.

Di sebelah ruang tamu terdapat ruangan yang bisa dijadikan kelas. Di 
dindingnya menempel dua papan tulis berisikan ciri-ciri anggota komunitas 
Noto Ati serta sejumlah wirid.

Pada bagian lain rumahnya juga terdapat semacam musola keluarga berukuran 5 
meter x 10 meter. Lengkap dengan kipas angin dinding dan papan kecil 
bertuliskan wirid lima dan wirid sembilan.

''Itu yang saya wiridkan setiap usai salat,'' ucapnya sembari menunjuk papan 
bertuliskan wirid lima dan wirid sembilan. ''Jamaah juga biasanya wiridan 
bersama di sini. Kalau kumpul muat sampai 200 orang lebih,'' tambahnya 
mengomentari musala tersebut.

Tapi sayang sekarang ini komunitas tersebut sudah tidak mengadakan wirid 
bersama lagi. ''Belajarnya sudah hatam. Jadi sekarang wirid di rumah 
masing-masing. Sesekali saja kita kontak untuk saling mengingatkan,'' 
urainya.

Bagaimana kalau ingin menjadi anggota? ''Sudah tidak bisa, karena sudah 
katam,'' jawabnya.

Jadi sekarang bagaimana menyebarkannya? ''Dulu kita disuruh menyebarkan, 
tapi ada batasannya. Sekarang kita sudah tidak boleh menyebarkan.''

Dia menyatakan dalam komunitasnya tidak ada pimpinan. Yang ada hanyalah 
Allah, yang menjadi tujuan wirid itu sendiri. ''Kita ingin menjadi orang 
mukmin yang terbuka hatinya,'' urainya. Untuk itu mereka harus sabar, 
ikhlas, tawakal, loman, istikamah dan tunduk patuh pada Allah.

Sehingga memiliki mata hati yang terbuka. Bisa mengetahui kegaiban. Bisa 
merasakan terkabulnya doa. Dapat merasakan peringatan atau azab secara 
langsung. Bisa merasakan hati sedang terbuka atau tertutup.

''Kalau hati kita sedang dibuka, ada getaran. Ada rasa hangat dan sejuk di 
dada. Itu berarti kita bisa nyambung langsung dengan Allah. Bisa komunikasi 
dan bertanya langsung pada Allah,'' ungkapnya seperti dilansir Jawapos.com.

Pada saat seperti itu, dia mengaku merasa sangat bahagia. ''Tapi bila salah 
sedikit saja, hati akan ditutup, sehingga kita merasa sangat susah. Makanya 
kita langsung introspeksi mencari kesalahan yang telah kita buat. Kita 
langsung memperbanyak istighfar. Juga minta maaf jika memang telah berbuat 
salah pada orang lain. Sehingga hati bisa dibuka kembali,'' urainya.

Hal itu pula yang membuat mereka menjadikan ibadah utamanya salat wajib 
sebagai kebutuhan dan ibadah salat sunah sebagai kewajiban. ''Tujuan wirid 
kita juga untuk memperbaiki kualitas salat,'' terangnya.

Anggota komunitas Noto Ati selalu menjaga agar hatinya terus terbuka 
sehingga senantiasa dapat konsultasi apapun kepada Allah. ''Ketika hati 
terbuka, kita bisa langsung istikharah. Tanya pada Allah.'' Terkait semua 
hal yang akan dilakukan dan dikerjakan. ''Jika Allah membolehkan, kita 
lakukan. Tapi bila tidak, ya tidak kita lakukan,'' ujarnya. (dar) 


__________ Information from ESET NOD32 Antivirus, version of virus signature 
database 4455 (20090924) __________

The message was checked by ESET NOD32 Antivirus.

http://www.eset.com





------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[email protected] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke