PETISI WARGA NU ALUMNI UGM

Assalamualaikum Wr Wb
Bismilliahirrohmanirrohim

Dewasa ini Nahdlatul Ulama semakin dihantam masalah yang luar biasa. 
Keberadaannya tidak lagi menjadi kekuatan yang mampu memberikan perubahan bagi 
ummat. Bahkan sebalikya, NU kini tengah jauh bergerak meninggalkan umatnya yang 
secara umum merupakan masyarakat kelas bawah: petani, nelayan, pedagang kecil, 
TKI dan seterusnya. Ini terbukti NU tidak mampu memberikan kontribusi riil atas 
segala hal yang dialami oleh umatnya, Kasus Lapindo, Tenaga Kerja Indonesia 
(TKI), berbagai penggusuran di Surabaya, dan banyak kasus lainnya. Keberadaan 
NU sebagai organisasi tidak bisa dirasakan manfaatnya oleh mayoritas kaum 
nahdliyin sendiri. NU justru hanya menjadi kuda tunggangan bagi segelintir 
elite untuk menggapai nafsu duniawi mereka di bidang politik, ekonomi, dan 
sosial. Banyak sekali elit NU baik di pusat maupun daerah menggunakan NU demi 
pentingan politik individu dan kekuasaan yang bersifat sementara. Kini, sebagai 
organisasi, NU sudah jauh dari semangat
 transformasi sosial membela kaum lemah yang merupakan bagian terbesar dalam NU 
itu sendiri.

Multamar NU yang ke 32 di Makassar Januari 2010 merupakan moment penting bagi 
NU untuk menentukan perubahan dalam tubuh NU. Untuk itu, setelah melakukan 
konsolidasi baik secara lansung maupun via online, maka kami warga NU alumni 
Universitas Gadjah Mada yang terdiri dari berbagai profesi pekerjaan, aktif di 
berbagai organisasi sosial, serta berada di dalam negeri maupun luar negeri, 
dengan ini menyatakan serta menyerukan kepada pihak-pihak yang terkait untuk:

1.      Memilih ketua PBNU baik tanfidiyah maupun syuriyah, yang tidak akan 
melibatkan NU dalam kepentingan politik sesaat di Indonesia.
2.      Memilih Ketua tanfidiyah maupun syuriyah yang punya komitmen untuk 
memperjuangkan perubahan bagi orang-orang mustad’afiin seperti, petani, 
nelayan, buruh dan seterusnya merupakan mayoritas kaum NU itu sendiri.
3.      Memilih Pemimpin NU bukan orang yang berpaham kapitalisme liberal, 
sebab bagi kami liberalisasi ekonomi merupakan ancaman serius bagi warga 
nahdliyin yang secara mayoritas adalah orang miskin.
4.      Memilih Pemimpin NU yang mampu mengawal ideologi ahlussunnah wal jamaah 
dari ancaman berbagai ideologi trans-national dan mengarah pada kekerasan dalam 
beragama
5.      Memilih pemimpin NU yang mampu menekan pemerintah ataupun pihak terkait 
untuk menyelesaikan masalah luapan lumpur Lapindo Sidoarjo di mana kaum 
nahdliyin merupakan mayoritas korban.
6.      Memilih pemimpin NU yang berpikir kritis transformatif dan membuka 
ruang seluas-luasnya pada ide-ide baru dari kalangan muda dan mampu menjaga NU 
sebagai organisasi islam yang moderat dan toleran.
7.      Memilih pemimpin NU yang akan tetap mengusung paham al-muhaafadzatun 
alaa al-qodiimi asholiih, wa-lahdu bi al-jadidi al-aslah 
8.      Memilih pemimpin NU yang independen dan tidak tergantung pada kelompok 
pemodal manapun sehingga mampu mengembalikan NU menjadi organisasi yang mandiri 
dan kuat.
9.       Memilih pemimpin NU yang mampu menjadikan NU sebagai gerakan sosial 
yang dapat dirasakan manfaatnya bagi kaum nahdliyin maupun masyarakat secara 
lebih luas

Demikian aspirasi dan harapan kami sebagai warga NU, apa yang dituangkan di 
sini merupakan bagian dari kecintaan kami pada Nahdlatul Ulama. Semoga segala 
niat dan usaha yang kami lakukan ini dapat terwujud dan NU benar-benar menjadi 
organisasi sosial keagamaan mampu memberi manfaat sebesar-besarnya bagi agama, 
negara, bangsa dan dunia. 

Wallahul muwafiq illaa aqwaami at-thoriiq
Wassalamualaikum Wr Wb. 


Kami Warga NU alumni UGM
1.      Achmad Munjid (Akademisi, Philadelphia USA) 
2.      Achmad Mustofa (Pengusaha, Jakarta)
3.      Aditya Pranomo (PNS, Jogjakarta)
4.      Ahmad Gelora (Pengusaha, Kediri)
5.      Ahmad Nur Khoiron (Jakarta, Peneliti)
6.      Alfisyah (Akademisi, Banjarmasin)
7.      Anas Makruf (PNS, Jakarta)
8.      Anwar Khumaini (Jurnalis, Jakarta)
9.      Ari Ujianto (Pekerja Sosial, Jakarta)
10.     Bosman Batubara (Aktivis, Porong Sidoarjo)
11.     Donna Ramhawati (Peneliti, Makasar)
12.     Emma Rahmawati (Pekerja NGO, Jogjakarta)
13.     Fahrizal Yusuf Afandi (Akademisi, Belgia)
14.     Farid Assifa (Jurnalis, Tasik Malaya)
15.     Hadziqotul Aulawiyah (Buruh, Jogjakarta)
16.     Heru Prasetia (Peneliti, Jogjakarta)
17.     Indi Ainullah (Akademisi, Yogyakarta)
18.     Isti Wiyono (Aktivis, Jakarta)
19.     Kholid Syaerozy (Akademisi, Jakarta)
20.     Laila Alfirdaus (Akademisi, Semarang)
21.     Listiyono Santoso, (Akademisi, Surabaya)
22.     Loubna Dzakiah (Ibu rumah tangga, Argentina)
23.     Lukma nul Hakim (Akademisi, Jogjakarta)
24.     Lutfi Makhasin Fauzie ( Akademisi, Australia)
25.     Miftachul Munif (orang kecil, Gresik)
26.     Mohamad Wayudin (Peneliti, Jogjakarta)
27.     Mohammad Tohadi (Advokat, Jakarta)
28.     Mohammad Uzair Fauzan (Aktivis, Jepara)
29.     Muhammad Danyal (Pengusaha, Pati)
30.     Muhammad Syaiful Rohman (Pegiat Kebudayaan, Jogjakarta)
31.     Rachmat Gustomy (Penguasaha, Jakarta)
32.     Ratna Mustika Sari (Aktivis Perempuan, Jogjakarta)
33.     Rika Iffati (Penerjemah, Jogjakarta) 
34.     Riza Hanafi, (Akademisi, Australia)
35.     Ryan Sugiarto (Penulis, Jakarta)
36.     Saiful Hakam (Akademisi, Jogjakarta)
37.     Shofa Laila (Ibu Rumah Tangga, Jakarta)
38.     Shohib Masyukur (Jurnalis, Jakarta)
39.     Sholahuddin (Orang biasa, Tanggerang)
40.     Sigit Giri Wibowo, (Pekerja NGO, Tangerang)
41.     Siti Malaeha Dewi (Akademisi, Kudus)
42.     Siti Muarifah (Guru, Gresik)
43.     Slamet Abdul Qohar (Pengacara, Jakarta)
44.     Slamet Thohari (Akademisi, Hawaii USA)
45.     Sobirin (Peneliti, Pati)
46.     Sumedi MP (Blogger, Jakarta)
47.     Suratno (Akademisi, Jakarta)
48.     Syahrul Mawardi (Aktivis, Bandung)
49.     Syamsul Maarif Mujiharto (Akademisi, Jogjakarta)
50.     Wahyudi Djafar (Peneliti Masalah Konstitusi, Jakarta)

Kalau Anda Merasa Alumni UGM dan setuju dengan petisi ini silahkan bubuhkan 
nama Anda!


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke