Darul Kutub Akui Bajak Kitab Karya Ulama Indonesia
By Republika Newsroom
Minggu, 27 September 2009 pukul 17:12:00 
Font Size A A A  
 EMAIL 
 PRINT 
 Facebook 
   
JAKARTA--Kasus
pembajakan kitab Sirajut Thalibin oleh penerbit Darul Kutub Al-Ilmiah
di Lebanon, diakui oleh direktur penerbit itu sebagai keteledoran.
Pihaknya menyadari telah melakukan kesalahan karena mengganti nama
penulis kitab, Syekh Ihsan Jampes asal Kediri, di halaman sampul dan di
halaman mukadimah. Serta telah membuang kata pengantar dari pendiri NU
KH Hasyim Asy’ari.

Darul Kutub Al-Ilmiyah secara resmi telah
menyatakan permohonan maaf kepada Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi di
Jakarta pekan lalu. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menilai bahwa
Darul Kutub Al-Ilmiah menunjukkan kebesaran hati, karena bersedia
mengakui kekeliruannya dan meminta maaf.

”Kita menyambut baik
permintaan maaf ini. Ternyata Darul Kutub Ilmiyah mau berbesar hati
mengakui kesalahannya,” kata Rais Syuriyah PBNU KH Hafidz Utsman yang
menjadi koordinator pengusutan kasus pembajakan ini atas nama ahli
waris Syekh Ihsan.

Namun, menurutnya, proses penyelesaian kasus
ini tetap berjalan. ”Kita telah menerima surat permintaan maaf yang
ditandatangani oleh Direktur penerbit, Mohamed Ali Baydoun ini, dan
nanti akan kita bicarakan lebih lanjut,” jelasnya, seperti dikutip NU
Online.

Dalam surat itu Darul Kutub Al-Ilmiyah juga menyertakan
copy sampul dan halaman pertama kitab Sirajut Thalibin edisi ketiga
yang telah mencantumkan nama penulis aslinya. Pada edisi kedua,
penerbit mengganti nama pengarang kitab menjadi Syekh Ahmad Zaini
Dahlan, Al-Quraisyi dari Makkah.

“Kami meminta maaf atas
pencantuman nama yang tidak sebenarnya dari kitab Sirajut Thalibin yang
merupakan syarah dari kitab Minhajul Abidin,” kata Ali Baydoun dalam
suratnya yang ditulis dengan bahasa Arab.

Ia juga menyatakan,
penggantian nama itu hanya dilakukannya pada terbitan edisi kedua.
Sementara pada edisi pertama telah menyantumkan nama penulis yang
sebenarnya.

Sejak kasus pembajakan ini mencuat, desakan
permohonan maaf dilakukan oleh Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama
(PCINU) Lebanon. Hingga kemudian keluar surat resmi bernomor 7629
tertanggal 11 September 2009 tentang permintaan maaf kepada PBNU.

Akan
tetapi, seperti dijelaskan oleh Muhammad Zainal Aziz, ketua PCINU
Lebanon, Darul Kutub Al-Ilmiyah tidak mungkin menarik semua buku yang
telah beredar luas ke beberapa negara Muslim di dunia. Yang akan
ditarik hanya buku-buku yang masih berada dalam jangkauan penerbit.

Zainal
Aziz melihat langsung proses pencetakan edisi ketiga kitab Sirajut
Thalibin di kota kecil dekat Beirut. Ia menjelaskan, cetakan ketiga itu
belum memuat pengantar dari KH Hasyim Asyari. Pihak penerbit, katanya,
berkilah bahwa pengantar semacam itu tidak penting khususnya di dunia
Arab. rid/taq


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke