dari milis tetangga, semoga bermanfaat..
Berikut saya kirimkan tulisan yang muncul karena berita tentang KTT
G-20 di Pittsburgh. Ini juga sebuah kenangan ketika beristirahat di
sebuah bukit di tepi kota Pittsburgh dalam perjalanan pulang dari
Washington DC (KBRI) ke Illinois. Dari kejauhan tampaklah jembatan
yang melintasi pertemuan dua sungai yang kemudian mengalir menjadi
Ohio River. Bukankah ini cerita tentang geografi, dan pastinya
geografi ekonomi. Semoga memberi motivasi pada adik adik kami.
G-20 DAN MOMENTUM REVITALISASI PEREKONOMIAN REGIONAL
Oleh:
Nuzul Achjar
Perhatian dunia selama 23-24 September 2009 tertuju pada kota
Pittsburgh, kawasan di barat daya negara bagian Pensylvania, Amerika
Serikat, tempat diadakannya Konperensi Tingkat Tinggi (KTT) negara
kelompok G-20. Indonesia termasuk salah satu negara anggota G-20 yang
hadir dalam KTT tersebut yang langsung dipimpin oleh Presiden SBY.
Pertemuan di Pittsburgh ditujukan untuk membicarakan masalah energi,
lingkungan, pemanasan global, dan upaya untuk mengatasi dampak
sistemik krisis yang ditimbulkan kredit perumahan (subprime mortgage)
di AS yang dampaknya sangat terasa secara global.
Latar belakang keputusan tuan rumah presiden AS Barrack Obama yang
menetapkan Pittsburgh sebagai tempat pertemuan berskala besar semacam
G-20 menarik untuk disimak. Mengapa bukan kota besar yang sudah sangat
dikenal di AS seperti Washington DC, New York, Los Angeles atau
Chicago sebagai ajang pertemuan ini?
Rupanya alasan Obama cukup sederhana namun jitu, antara lain bahwa
pertemuan di Pittsburgh diharapkan dapat membangkitkan kembali
(revitaliasi) perekonomian kota ini. Kota ini mendapat publikasi
secara luas dari kegiatan skala besar. Pihak kota sendiri diperkirakan
mengeluarkan anggaran sekitar US$25 juta. Kegiatan ini akan memberikan
dampak pengganda (multiplier) yang besar bagi kegiatan ekonomi kota
Pittsburgh dan sekitarnya.
Selama tiga dasa warsa terakhir, Pittsburgh mengalami kemunduran
ekonomi karena peranan industri baja, yang pernah menjadi primadona
kota ini sudah semakin pudar (sunset industry). Walau demikian,
perusahaan baja di kota ini masih menempati ranking ke 10 produksi
baja terbesar dunia. Bukan suatu kebetulan jika masalah baja
diperkirakan akan menjadi salah satu agenda pembicaraan bilateral
antara AS dan Cina pada pertemuan G-20.
Dapat dibayangkan, hotel di Pittsburgh akan penuh terisi oleh
tamu-tamu, tidak hanya oleh para rombongan peserta resmi, tetapi juga
juru warta, petugas keamanan dan lainnya dari delapan penjuru angin,
termasuk masyarakat dari negara bagian lainnya yang mempunyai
kepentingan langsung atau tidak terhadap pertemuan ini.
Perusahaan rental kendaraan akan dibanjiri oleh penyewa. Para tetamu
akan menyantap makanan di restoran, membeli souvenir, mengunjungi
atraksi budaya dan kesenian, museum dan lainnya. Pajak yang diterima
dari kegiatan ekonomi, sosial dan budaya sebagian akan menjadi
pendapatan kota Pittsburgh dan negara bagian Pensylvania.
Jika suasana kesibukan Pittburgh selama pertemuan G-20 ini kita bawa
menjadi sebuah imajinasi untuk Kepulauan Riau, khususnya Batam, Bintan
dan Karimun (BBK) , maka hal tersebut hendaknya dilihat dari semangat
yang terkandung di baliknya. Jika Pittsburgh adalah kisah tentang
revitalisasi kegiatan ekonomi, maka untuk BBK, semangat Pittsburgh
adalah upaya untuk memberi gairah (vitalisasi) untuk menggali potensi
ekonomi regional BBK, tidak hanya melalui kegiatan industri manufaktur
tetapi juga jasa, termasuk jasa logistik dan pariwisata bahari.
Di negara maju, proses transformasi ekonomi telah lama bergerak dari
industri manufaktur menuju ekonomi jasa (service economy). Demikian
juga halnya dengan Pittsburgh. Kota ini tidak hanya dikenal dengan
sebutan sebagai kota baja (steel city) tetapi juga sudah bergerak
menuju kota jasa. Di kota inilah terletak kegiatan jasa berskala
global seperti K&L Gates, Reed Smith, and Burt Hill, dan jasa keuangan
terkemuka seperti PNC dan Federated Investors. Tidak boleh dilupakan
bahwa Pittsburgh adalah lokasi di mana pendidikan tinggi terkemuka
berada seperi Universitas Carnegie Mellon (CMU), Universitas
Pittsburgh, dan University of Pittsburgh Medical Center (UPMC).
Lima strategi yang dilakukan oleh kota Pittsburgh sehingga cukup
berhasil melakukan revitalisasi ekonomi mereka yaitu: pertama, inovasi
dan kewirausahaan; kedua, iklim investasi yang kompetitif; ketiga,
kualitas pendidikan; keempat, peningkatan kualitas hidup; dan kelima,
promosi dan pemasaran.
Untuk memberi vitalisasi perekonomian regional Kepulauan Riau,
pembangunan infrastruktur tampaknya perlu langkah cepat melalui
kegiatan (event) berskala nasional. Namun tentunya tidak mengorbankan
anggaran untuk peningkatan kualitas pendidikan yang harus mendapat
prioritas paling tinggi.
Melalui Pekan Olah Raga Nasional (PON), kota Palembang memperoleh
manfaat dari meningkatnya kapasitas infrastruktur, demikian juga
halnya dengan kota Pekanbaru yang saat ini sedang mempersiapkan PON.
Tidak sedikit pula efek pengganda yang ditimbulkannya bagi
perekonomian daerah.
Bagi Kepulauan Riau, proses transformasi menuju sektor jasa mungkin
tak harus secepat di negara maju mengingat sektor industri baru saja
berkembang dan masih memerlukan pendalaman (deepening). Karena
Pittsburgh mempunyai universitas terkemuka dunia seperti Carnegie
Mellon, ataupun pusat riset medis yang terkenal, maka di sinilah kita
mempunyai motivasi lain bahwa Kepulauan Riau kelak dapat mempunyai
pusat riset di bidang maritim yang tidak boleh dipandang sebelah mata.
Dalam sebuah diskusi dengan penulis, seorang pengamat mengatakan
bahwa salah satu peluang BBK adalah tempat labuh jangkar kapal-kapal
kontainer yang antri menuju pelabuhan Singapura. Walaupun pelabuhan
Singapura memiliki teknologi canggih dan cepat dalam bongkar muat
kontainer, namun karena Singapura sangat ketat dalam kebijakan laut
bersih (clean ocean), beberapa tahun belakangan ini banyak kapal-kapal
tersebut berlabuh di pesisir Barelang. Hal ini merupakan peluang untuk
menangkap biaya labuh jangkar sebelum sandar di dermaga Singapura.
Pembicaraan pada KTT G-20 di Pittsburgh tentang lingkungan hidup
mejadi relevan pula bagi Kepualuan Riau, bukan lagi sebuah imajinasi,
tapi nyata adanya. Provinsi ini harus benar-benar memperhatikan
persoalan lingkungan hidup, belajar dari kesalahan daerah lain sebelum
menjadi sesal yang tak berguna.
Khususnya Kota Tanjung Pinang bahkan Kabupaten Bintan, izin
pertambangan bauksit perlu dipertimbangkan kembali karena sudah
terlihat tanda-tanda bahwa kerusakan lingkungan, lebih besar
mudaratnya dari pada manfaat. Tanjung Pinang perlu mencari alternatif
pengembangan ekonomi yang tidak tergantung pada pengelolaan tambang
bauksit. Dampak yang akan ditimbulkannya justru akan merugikan kota
ini dalam jangka menengah dan panjang.
Tanjung Pinang harus tetap konsisten untuk pengembangan industri
berbasis maritim, termasuk pariwisata bahari, dan sektor jasa lainnya.
Dengan luas areal yang relatif tidak besar, daya dukung Bintan,
khususnya Tanjung Pinang sangat rentan terhadap kerusakan lingkungan.
Kasus sungai Pulai sebagai daerah tangkapan air yang semakin terkulai
seharusnya memberikan kita pelajaran penting untuk tidak menggeser
peruntukan lahan, apatah lagi mengekspoitasi sumber daya alam secara
tidak proporsional.
Kenangan pada senja yang temaram, dari sebuah bukit di tepi kota
Pittsburgh, memandang jembatan yang melintasi pertemuan sungai
Allegheny dan Monongahela, sungguh membangkitkan imajinasi dan
inspirasi tentang Kepulauan Riau. Kelak di senja yang temaram, dari
bukit pulau Dompak dan bukit Senggarang, kita akan memandang pula
keindahan jembatan penghubung kota Tanjung Pinang dengan pulau Dompak,
serta jembatan Batam-Bintan. Namun imajinasi dan inspirasi itu akan
pudar jika bukit-bukit Tanjung Pinang terkelupas karena eksploitasi
sumber daya alam untuk kepentingan jangka pendek.***
[Non-text portions of this message have been removed]