Wah...saya membayangkan bahwa film ini masih setengah-setengah dibuat.
Maksudnya...tidak semua isi film berskenariokan kebohongan.

Coab bayangkan... kalau 100% bohong dan kebohongan... kayaknya lucu ya.
Begini membayangkannya...
Ketika semuanya sepakat untuk berbohong...maka semuanya akan selalu tahu bahwa 
semua orang pasti berbohong. Akhirnya semua orang akan terkecoh oleh semua 
kewaspadaan.

Misal: 
Si A bilang ke B: Saya mau pergi (padahal dia mau menyelinap mencuri).
Karena si B tahu situasi sehari-hari 100% bohong, maka B pasti tahu bahwa A 
tidak akan pergi. Maka,
B jawab: Ya, selamat pergi ya! (padahal dia jaga-jaga semua barangnya, karena 
tahu bahwa si A berbohong)

Jadi kalau negeri itu disebut negeri 100% tidak ada kejujuran...pasti aman, 
karena semua orang sadar satu dengan yang lain tidak saling jujur.

Masalahnya...sekarang yang tidak jujur itu hanya para pemimpin atau pihak yang 
diberi amanat... padahal rakyat sudah kadung percaya.
Ini masalahnya.
Jadi obatnya untuk mengatasi masalah ini...rakyat ikut-ikutan tidak perlu 
jujur... Tipu saja para pemimpin tuh... Caranya bagaimana? Wah itu yang belum 
terfikir kan.

Tapi obat tadi, obat haram. Tidak ada obat dari sesuatu yang haram, begitu kata 
Kanjeng Nabi.

Jadi obat yang mujarab adalah biarkan para pemimpin menggonggong.. Rakyat tetap 
berlalu. Kalau pemimpin minta tanda tangan, jangan diberi. Kalau minta difoto, 
jangan mau. Kalau mau minta fotocopy apa-apa, jangan diberi. Buat para pemimpin 
kesulitan membuat surat pertanggung jawaban.

Obat inipun menghancurkan sistem budaya yang kondusif untuk kemajuan.

Obat yang paling mujarab adalah..hadapi keburukan tetap dengan kebaikan. Hadapi 
kedustaan dengan kejujuran. Hadapi kemarahan dengan kemesraan. Ini adalah resep 
para nabi dan rasul.

Artinya, yang sudah baik ya..istiqomah dengan kebaikan. Tak perlu ikut-ikutan 
teracuni orang lain.




________________________________
From: Tomy W. Taslim <[email protected]>
To: Tomy Taslim <[email protected]>
Sent: Tue, October 6, 2009 7:31:33 PM
Subject: [kmnu2000] Negeri Maling Menjadi Film Pembuka Festival Film Mahasiswa 
2009

  
Negeri Maling menjadi film pembuka Festival Film Mahasiswa Indonesia
yang diselenggarakan pada 6 Oktober 2009 di Gedung Sjumandjaja, kampus
Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (FFTV IKJ). Film
yang disutradarai oleh Emil Heradi dari Program Studi Film FFTV IKJ ini
mengangkat sebuah tema yang merepresentasikan sebuah masyarakat dimana
didalamnya tidak ada lagi kejujuran antara satu sama lain. Ada pun yang
tumbuh subur di dalam masyarakat tersebut adalah kebohongan dan
penipuan, sehingga membuat tidak ada satu patah kata pun yang muncul
dari mulut seseorang yang dapat dipercaya. Film ini secara menarik
menyatakan bahwa manusia adalah serigala bagi sesamanya.

Baca info lengkapnya di: www.filmpelajar. com

Jangan
lupa untuk menghadiri pemutaran film-film terbaik hari ke-2, tanggal 7
Oktober 2009, pukul 10.00-15.00 WIB di kampus FFTV IKJ.

Ditunggu! :-)


[Non-text portions of this message have been removed]





      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke