Kapitalisme Media dan Masa Depan Internet

Oleh: Rachmah Ida



*GELIAT* Tiongkok dalam kancah internasional mulai semakin serius dan

terarah. Paling tidak, lewat forum World Media Summit, 9-12 Oktober

lalu, sang Naga mengirim pesan kuat mengenai intensinya untuk memperluas

dan memperdalam penetrasi kehadiran medianya dalam persaingan global.



Pada kesempatan yang dihadiri /top executive/ dari 170 media dunia itu,

Presiden Hu Jintao memaparkan visi ke depan media Tiongkok yang akan

''jujur, terbuka, komprehensif, dan objektif''.



Hal itu tidak bisa dilepaskan dari kenyataan parahnya cara penanganan

/public relations/ masalah dalam negeri Tiongkok beberapa tahun

terakhir. Dengan dukungan kekuatan keuangan yang tangguh, Tiongkok siap

membelanjakan USD 7,17 miliar untuk ekspansi multi medianya.



Tetapi, dalam forum itu, justru pemilik /News Corp/ Rupert Murdoch yang

menjadi pusat perhatian ketika menyatakan perang terhadap penyedia jasa

/website/ yang dia anggap mencuri /content/ dari berbagai media di bawah

kelompok /News Corp/.



/Search/ /engine/ penyedia informasi gratis semacam Google dan Yahoo,

yang disebutnya sebagai ''/vampires/'' dan ''/tapeworms'', /dia nilai

telah melakukan plagiarisme dan diharuskan untuk membayar kepada

perusahaan-perusahaan media /News Corp/ yang menyediakan/memasok /news/

/content/.



Murdoch menekankan bahwa penyedia informasi gratis yang dilabeli sebagai

/content kleptomaniacs/ itu sebentar lagi tak boleh dengan seenaknya

mengambil informasi yang ada di /News Corp/. Pertanyaan yang mengedepan

adalah apakah konsekuensi yang muncul dengan gagasan Murdoch itu? Dan,

bagaimanakah masa depan internet dengan /free flow of information/?



Sebagai kapitalis murni, Murdoch memegang teguh jargon /no/ /free/

/lunch/ sehingga setiap pengambilan /content/ informasi dari media yang

dia miliki harus dibayar oleh penggunanya. Bahkan, saat ini Murdoch

telah membentuk /global team/ di New York, London, dan Sydney untuk

mendesain sistem /paid content/ atau konten yang berbayar.



Ambisi itu sebenarnya diilhami oleh keberhasilan /The Wall Street

Journal /(/WSJ/) -diakuisisi Murdoch beberapa tahun lalu- yang saat ini

mengalami /booming/ pelanggan /online/. Dari situ Murdoch yakin bahwa

khalayak akan memahami dan tidak keberatan jika harus membayar setiap

informasi yang diakses dari media-media milik /News Corp/.



Bagi Murdoch, model bisnis /WSJ/ adalah contoh yang bisa dijadikan

/benchmark/ untuk menerapkan kebijakan /charging access/, yang

rencananya dimulai setahun lagi.



Namun, yang Murdoch lupa (atau terlalu antusias), /WSJ/ adalah media

finansial yang memang sangat dibutuhkan para pembacanya. Setiap

informasi dalam /WSJ/ sangat komprehensif dan berarti bagi investor

untuk mengikuti perkembangan terkini pasar finansial. Kebergantungan

kepada /WSJ/ sebelum mengambil keputusan finansial. Itulah yang membuat

para pengakses tidak pernah keberatan untuk membayar.



Tetapi, apakah mungkin khalayak media mau membayar informasi yang hanya

berisi gosip di kalangan selebriti Hollywood, seperti dalam koran /the

Sun/?



Global Team yang dikepalai Richard Freudenstein dalam paparan hasil

riset awal, yang mereka lakukan terhadap khalayak media di US, UK, dan

Australia, menegaskan bahwa /News Corp/ sangat yakin bahwa pengguna

media akan bersedia membayar jika medianya mampu membuat produk/konten

yang bagus dan /delivery system/ yang tepat.



Namun, CEO Fairfax/ /Digital Jack Matthews merasa tidak yakin bahwa

konsumen media akan mau membayar berita-berita umum. Dia juga tidak

yakin bahwa bisnis media akan mampu bertahan seandainya hanya

mengandalkan sirkulasi berita umum (/general news/) sebagai sumber

penghasilan utama dari khalayak pengakses.



Pendapatnya itu didukung oleh hasil riset yang dipublikasikan /Harris

Poll/ di Inggris bahwa hanya 5 persen responden menyatakan bersedia

membayar konten media jika /website/ lembaga pemberitaan favorit mereka

akan mengenakan biaya dari setiap akses berita yang dilakukan oleh

konsumennya.



/Poll/ Radio ABC Australia pada Rabu (15/10) juga menunjukkan hasil yang

tidak banyak berbeda bahwa 90 persen responden lebih memilih tidak

melakukan akses /online/ kalau harus membayar.



***



Terpaan badai krisis keuangan dunia memang membuat banyak perusahaan

terguncang. Bahkan, tidak sedikit di antara mereka yang mengalami

kebangkrutan. /News Corp/ juga mengalami kerugian dan penurunan

keuntungan hingga 47 persen atau USD 755 juta.



Pendapatan dari iklan media cetak dan televisi di bawah kendali /News

Corp/ juga berkurang cukup signifikan. Pendapatan iklan media /News

Corp/ di Inggris menurun hingga 21 persen tahun ini. Pendapatan

televisinya secara global merosot tajam dari USD 419 juta menjadi USD 4

juta. Alhasil dari menurunnya pendapatan kapitalis media itu , tahun

lalu 3.000 pekerja /News Corp/ harus dirumahkan.



Kondisi semacam itu sering menjadi katalis bagi para kapitalis untuk

mencari jalan pintas tercepat dalam memperbaiki keuangan perusahaannya.

Dalam konteks tersebut, beberapa pengamat juga menengarai adanya

keterkaitan antara kondisi perusahaan dan upaya mencari penghasilan yang

efektif.



Tetapi, terlepas dari kegeraman Murdoch terhadap mesin penyedia

informasi gratis, susah dibayangkan adanya negara yang bersedia membuat

UU atau peraturan yang mendukungnya. Pilihan yang paling mungkin adalah

menyerahkan kepada mekanisme kapitalis pasar bahwa kebutuhan khalayak

media yang akan menjadi penentu eksistensi sistem tersebut.



Hanya, yang perlu digarisbawahi adalah media internet berbeda dengan

media cetak. Arus informasi global dan /borderless /media /online/ tidak

lagi mungkin di bendung. Bahkan, banyak pengguna internet diuntungkan

dengan mesin pencari informasi gratis.



Jika pernyataan Murdoch mengenai era internet segera berakhir, ''/the

current days of the internet will soon be over''/ benar, arus informasi

akan dikuasai kapitalisme media dan tidak ada lagi informasi gratis bagi

khalayak media umum. Bersediakah masyarakat kita membeli informasi

ketika kebutuhan perut setiap hari masih lebih penting dipikirkan?



Kita hanya bisa sabar menunggu reaksi para pemilik dan CEO media massa

di dunia, akankah mereka segeram direktur ABC Australia yang secara

terbuka menyerang keinginan Murdoch tersebut, atau justru melompat ''ke

gerbong Murdoch'', mengingat potensi pendapatan dan keuntungan yang

cukup signifikan. (*)



* /*) Rachmah Ida/ * /, dosen Komunikasi UNAIR, saat ini Visiting

Research Fellow, the University of Western Australia/



http://jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=95915

 


http://media-klaten.blogspot.com/my 
facebook:http://id-id.facebook.com/people/Wahyudi-Yudi/1484406851


      Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail.com. 
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke