Berita

Kamis, 26 November 2009 05:15

Dialog Bersama Kardinal Jean-Louis Tauran dan Abdurrahman
Wahid


Bukan
Sekedar Tak Ada Perang, Tapi Juga Jaminan Keadilan


Jakarta-thewahidinstitute.org.
Ketika menjelaskan peran Indonesia sebagai poros muslim moderat dunia, KH.
Abdurrahman Wahid alias Gus Dur banyak membicarakan kiprah Nahdlatul Ulama, 
ormas
keagamaan terbesar Tanah Air, dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Mantan
Ketua Umum PBNU ini juga bercerita bagaimana tokoh NU dan nasional pada
masa-masa awal kemerdekaan membincang isu Islam dan kebangsaan secara serius
dan mendalam. Diskusi itu berlangsung antara Haji Oemar Sahid Tjokroaminoto dan
dua sepupunya KH Hasyim Asy'ari dan KH A Wahab Chasbullah, dua tokoh NU.
Diskusi ini biasanya berlangsung bakda Zuhur dan usai sebelum Magrib. Selain
ketiganya, Soekarno, kelak menjadi Presiden Indonesia pertama dan juga menantu
Oemar Sahid, juga ikut terlibat di dalamnya.


Dalam Muktamar NU di Banjarmasin tahun
1935, NU berpandangan bahwa umat Islam tak berkewajiban mendirikan negara
Islam. Sikap ini kemudian memperkuat  perumusan Pancasila dan Proklamsi
kemerdekaan Indonesia ."Nasionalisme adalah dasar pendirian bangsa
Indonesia," tegas Gus Dur.


Terkait isu fundamentalisme Gus Dur
juga menegaskan pandangannya yang demokratis. Kaum fundamentalis, kata Gus Dur,
sesungguhnya tak boleh dianggap sebagai musuh yang mesti diperangi. Sebab,
memeranginya sama artinya keluar dari ajaran agama yang menjunjung tinggi
kemanusiaan. "Kita justru harus mengajaknya berdiskusi," kata Gus
Dur. Gus Dur bahkan mengutip sebuah hadis "Barang siapa yang mengkafirkan
sauradara muslimnya, maka sesungguhnya telah kafirlah dia".


Demikian pandangan Gus Dur yang
mengemuka dalam Dialog Bersama Kardinal Jean-Louis Tauran dan Abdurrahman Wahid
bertajuk "Indonesia: Center of Moderate Muslims in The World", di
ruang pertemuan The Wahid Institute Jakarta Jalan Taman Amir Hamzah Jakarta,
Kamis (24/11/2009) .


Kardinal Jean-Louis Tauran adalah
President of the Pontifical Council for Interreligious Dialogue, Gereja
Vatikan, Roma Italia. Pria kelahiran 5 April 1943 di Bordeaux, Prancis, ini
sengaja mengunjungi The Wahid Institute sebagai salah satu tujuan dalam
lawatannya selama di Tanah Air untuk berdiskusi terkait isu dialog antar agama
dengan sejumlah aktivis pegiat toleransi dan pimpinan media massa.


Dalam sambutannya, Kardinal Tauran
 mengungkapkan filosofi tentang perdamaian yang juga dasar pijakan
Vatikan. Perdamaian, katanya, bukan sekedar karena tak adanya situasi perang,
namun lebih jauh bermakna perlindungan atau jaminan dan keadilan. Di dalamnya
ada tiga fondasi yang tak bisa dilepaskan satu sama lain: toleransi (tolerance);
saling menghormati (mutual respectness),Kerjasama antar pemeluk agama 
(cooperation).


Menjawab pertanyaan Ulil Abshar
Abdalla, salah seorang peserta dialog yang juga dikenal sebagai intelektual
muda NU dan akan mencalonkan menjadi Ketua Umum PBNU mendatang, Tauran
menjelaskan. Salah satu problem yang menyebabkan terjadinya perlakuan buruk
terhadap umat Islam adalah soal kekurangmengertian masyarakat Eropa terhadap
Islam. Selain itu realitas sebagian besar muslim yang berprofesi sebagai
pekerja juga menjadi hambatan lain. Karena itu dirinya mendorong agar
masyarakat muslim juga bisa berkiprah lebih luas di bidang pendidikan, misalnya
dengan melahirkan para profesor.

Acara yang berlangsung selama dua jam
ini dipandu Rosihana Silalahi, presenter SCTV, dan dihadiri
 berbagai perwakilan dari Departemen Luar Negeri Indonesia, tokoh agama,
intelektual muda, politisi, dan LSM/Ormas dengan latar keagamaan dan beberapa
wartawan media cetak dan elektronik.


Dalam sambutannya selakuk Direktur The
Wahid Institute, Yenny Zannuba Wahid berterima kasih atas kunjungan Cardinal
Tauran ke lembaganya. Yenny menjelaskan, betapapun dialog antaragama satu forum
yang selalu harus dibina, baik dilingkup internal Islam maupun antarumat
beragama, khususnya di Indonesia sebagai negara dengan mayoritas muslim
terbesar dunia yang moderat.

Di akhir diskusi Cardinal Tauran juga
mengucapkan "Selamat Hari Raya Idul Adha" yang jatuh besok Jumat, 27
November 2009 (BSF & AMDJ).   

http://wahidinstitute.org/Berita/Detail/?id=67/hl=id/Bukan_Sekedar_Tak_Ada_Perang_Tapi_Juga_Jaminan_Keadilan

http://alamsyahdjafar.wordpress.com


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke