Bahasa Inggris (dari wikipedia) dan terjemahan Indonesia seadanya di sertakan. 
Selamat mengambil jejak dan hikmah.

Ashraf Ghani Ahmadzai

Dr. Ashraf Ghani Ahmadzai is the Chairman of the Institute of State 
Effectiveness, an organization set up in January 2005 to promote the ability of 
states to serve their citizens. As Afghanistan's finance minister between July 
2002 and December 2004, he set the path for Afghanistan's attempted economic 
recovery after the collapse of the Taliban.
(Dr. Ashraf Ghani Ahmadzai adalah kepala Lembaga Ke-fektif-an Negara, 
organisasi yang dibangun pada Januari 2005 untuk mmpromosikan kemampuan negara 
melayani warganya. Sebagai menteri keuangan antara Juli 2002 dan Des 2004, dia 
telah mengambil bagian pada pemulihan ekonomi afganistan setelah kejatuhan 
Taliban)

Commonly he is shortly referred to as Ahsraf Ghani, since there is also another 
Afghan politician named Mohammad Sarwar Ahmadzai, who was also a candidate in 
the Afghan presidential election, 2009.
(biasa disebut dengan Ashraf Ghani, sebab ada politisi afghan yang lain dg nama 
Moh Sarwar Ahmadzai, yang juga seorang kandidat pada pemilihan presiden Afghan 
2009)

Dr. Ghani is also a member of the Commission on Legal Empowerment of the Poor, 
an independent initiative hosted by the UNDP. In the 2009 presidential 
elections, he was ranked third in the polls, behind the president Hamid Karzai 
and his main contender Dr. Abdullah Abdullah.
(Dr Ghani adalah anggota komisi pemberdayaan masyrkt miskin, sebuah prakarsa 
independen dipunyai UNDP. Pd pemilihan presiden 2009, dia menempati ranking ke3 
dalam polling, dibelakang presiden Hamid Karzai dan pesaingnya Dr Abdullah 
Abdullah)

Ashraf Ghani, an ethnic Pashtun, was born in 1949 in the Logar province of 
Afghanistan. He has studied political science and international affairs at the 
American University of Beirut. He later attended Columbia University. At 
Columbia, he earned his Master's and PhD in Anthropology. He has also attended 
the Harvard-INSEAD and Stanford business schools leadership training program 
for the World Bank. He served on the faculty of Kabul University (1973-77), 
Aarhus University in Denmark (1977), University of California, Berkeley (1983), 
and Johns Hopkins University (1983-1991). His academic research was on 
state-building and social transformations. In 1985 he undertook a year of 
fieldwork researching Pakistani Madrasas as a Fulbright Scholar. He has also 
studied comparative religion. He joined the World Bank in 1991, working on 
projects in East Asia and South Asia until the mid 1990s. In 1996, he pioneered 
the application of institutional and organizational
 analysis to macro processes of change and reform, working directly on the 
adjustment program of the Russian coal industry and carrying out reviews of the 
Bank’s country assistance strategies and structural adjustment programs 
globally. He spent five years each in China, India, and Russia managing 
large-scale development and institutional transformation projects. He had 
worked intensively with the media during the first Gulf War, commenting on 
major radio and television programs and being interviewed by newspapers.
(Ashraf Ghani, bersuku Pashtun, dilahirkan pd 1949 di provinsi Logar 
Afghanistan. Dia menimba ilmu politik dan hubungan internasional di Universitas 
Amerika Beirut. Berikutnya ia terdaftar di Universitas Columbia. Di sini dia 
meraih Master dan PhD untuk Antropologi. Ia juga daftar ke the Harvard-INSEAD 
dan Stanford Business School ambil progrm pelatihan kepemimpinan dari Bank 
Dunia. Dia bertugas sebagai dosen di Universitas Kabul (1973-77), Universitas 
Aarhus Denmark (77), Univeristas California Berkeley (1983), Universitas Johns 
Hopkins (1983-91). Penelitian akademiknya tentang pendirian negara dan 
transformasi sosial. Pada 1985 dia mengambil satu tahun penelitian lapangan 
tentang Madrasah Pakistani (mungkin semacam pesantren, kali?) sebagai peneliti 
Fullbright. Dia juga mempelajari perbandingan agama. Dia bergabung dengan Bank 
Dunia 1991. Bekerja untuk proyek-proyek di Asia Timur dan Selatan sampai 
pertengahan 1990. Pada 1996, dia memimpin penerapan
 analisis lembaga dan organisasi kepada proses makro dan reformasi, bekerja 
pada program pengaturan industri batubara Rusia dan membawakan tugas peninjauan 
thd strategi perbantuan perbankan dan pengaturan struktur global. Dia 
menghabiskan waktu lima tahun di Cina, India dan Rusia, mengelola pengembangan 
skala besar dan transformasi kelembagaan. Dia bekerja dengan intensif dengan 
media selama Perang Teluk, memberi komentar di banyak program radio dan 
televisi juga diwawancarai oleh banyak koran)

After 9/11, he took leave without pay from the World Bank and engaged in 
intensive interaction with the media, appearing regularly on PBS’s News Hour as 
well as BBC, CNN, other television programs, the BBC, Public Radio, other 
radios, and writing for major newspapers. In November 2002, he accepted an 
appointment as a Special Advisor to the United Nations and assisted Mr. Lakhdar 
Brahimi, the Special Representative of the Secretary General to Afghanistan, to 
prepare the Bonn Agreement, the process and document that provided the basis of 
transfer of power to the people of Afghanistan.
(Setelah 9/11, dia meninggalkan Bank Dunia tanpa mengambil pesangon, bergiat 
dalam interaksi intensif dengan media, tampil secara rutin di PBS's News Hour 
juga televisi publik BBC dan CNN, radio publik BBC dan menulis untuk bnyak 
koran-koran. Pada Novmber 2002, dia diterima pada posisi Penasehat Khusus di 
PBB dan membantu Mr Lakhdar Brahimi, perwakilan khusus SekJen PBB untuk 
Afghanistan, mempersiapkan kesepakatan Bonn, proses dan dokumen yang memberikan 
dasar perpindahan kekuasaan kepada rakyat Afghanistan)

Returning after 24 years to Afghanistan in December 2001, he resigned from his 
posts at the UN and World Bank to join the Afghan government as the chief 
advisor to President Hamid Karzai on February 1, 2002. He has worked on a pro 
bono basis and was among the first officials to disclose his assets. In this 
capacity, he worked on the preparation of the Loya Jirgas (grand assemblies) 
that elected President Hamid Karzai and approved the Constitution of 
Afghanistan. After the election of President Karzai directly by the people of 
Afghanistan in October 2004, Mr. Ghani declined to join the cabinet and asked 
to be appointed as Chancellor of Kabul University. As Chancellor of the 
University, he worked to institute a style of participatory governance among 
the faculty, students, and staff, advocating a vision of the university where 
men and women with skills and commitment to lead their country in the age of 
globalization can be trained.
(Setelah 24 tahun, kembali ke Afghanistan pada Desember 2001, dia mengundurkan 
diri dari posnya di PBB dan Bank Dunia bergabung dengan Pemerintahan Afghan 
sebagai kepala penasehat Presiden Hamid Karzai pd Februari 2002. Dia bekerja 
tanpa upah demi publik dan orang kantoran pertama yang mengungkapkan 
kekayaannya. Dalam kapasitas ini, dia bekerja mempersiapkan Loya Jirgas (majlis 
raya, MPR?) yang memilih Presiden Hamid Karzai dan menyetujui UU Afghanistan. 
Setelah tepilih Presiden Karzai, langsung oleh masyarakat Afghanistan pada 
Oktober 2004, Pak Ghani diturunkan untuk bergabung dengan kabinet dan diminta 
duduk sebagai Kanselor (Mustasyar) Universitas Kabul. Sebagai mustasyar 
univeristas, dia bekerja untuk melembagakan model pemerintahan partisipatoris 
(gotong-royong) diantara dosen, mahasiswa dan staf, meluncurkan visi 
universitas dimana pria dan wanita dengan keterampilan dan komitmen memimpin 
negeri pada era globalisasi dapat dilangsungkan)

Since leaving the university, Dr. Ghani has co-founded the Institute for State 
Effectiveness, of which he is Chairman. The Institute has put forward a 
framework which proposes that the state should perform ten functions in the 
contemporary world in order to serve its citizens. This framework was discussed 
by leaders and managers of post-conflict transitions at a meeting sponsored by 
the UN and World Bank at the Greentree Estates in September 2005. The program 
also proposes that the vehicle of state-building or sovereignty strategies, 
underpinned by double compacts between the international community, government 
and the population of a country could be used as a basis for organizing aid and 
other interventions, and that a sovereignty index to measure state 
effectiveness should be compiled on an annual basis.
(sejak meninggalkan universitas, Dr Ghani turut serta mendirikan Lembaga 
Ke-efektif-an Negara, dimana ia sbg Kepala. Lembaga ini meletakan kerangka 
kerja kedepan yang mengusulkan bahwa negara harus dapat mengunjuk-kerjakan 
sepuluh fungsi di dunia kontemporer dalam rangka melayani warganya. Kerangka 
ini didiskusikan oleh para pemimpin dan tokoh paska konflik pada pertemuan yang 
disponsori PBB dan Bank Dunia di Greentree Estates September 2005. Program juga 
mengusulkan kendaraan bangunan negara atau strategi kedaulatan, yang disokong 
oleh dua kekompakan antara komunitas internasional, pemerintah dan penduduk 
negeri dapat digunakan sebagai basis mengupayakan bantuan dan 
intervensi-intervensi yang lain, dan juga mengusulkan indek kedaulatan untuk 
mengukur keefektifan negara yang dihitung secara tahunan)

Mr. Ghani was tipped as a candidate to succeed Kofi Annan as Secretary General 
of the United Nations at the end of 2006.[2] His name was floated in a front 
page report in The Financial Times (September 18, 2006) which went on to quote 
him as saying, “I hope to win, through ideas.” Two distinguished experts on 
international relations told the paper that "the UN would be very lucky indeed 
to have him" and praised his "tremendous intellect, talent and capacity."
(Pak Ghani pernah diusung sebagai kandidat untuk menggantikan Kofi Annan 
sebagai SekJen PBB pada ujung 200d. Namanya mencuat di halaman depan di the 
Financial Times (september 16, 2006) yang dikutip melalui kata-katanya: "saya 
berharap menang melalui ide-ide". "Dua pakar bidang hubungan internasional 
bilang ke koran ini bahwa "PBB sungguh akan sangat beruntung memilikinya" dan 
memujinya "intelek, talenta dan kapasitas yang mengagumkan")

Doubts about his temperament seemed to be haunting him a few months later, in 
April 2007, when his name appeared as a possible candidate to head the World 
Bank.
(Keraguan pada perilakunya dirasakan sebagai yang menghantuinya beberapa bulan 
berikutnya, pada April 2007, ketika namanya muncul sebagai calon potensial 
sebagai kepala Bank Dunia)

Mr. Ghani has been sought as a public speaker and in 2005 given the keynote 
speeches for a number of meetings including the American Bar Association’s 
International Rule of Law Symposium, the Trans-Atlantic Policy Network, the 
annual meeting of the Norwegian Government’s development staff, CSIS’ meeting 
on UN reform, the UN-OECD-World Bank’s meeting on Fragile States, and 
TEDGlobal. He has contributed to the Financial Times, International Herald 
Tribune, Los Angeles Times, New York Times, the Wall Street Journal, and the 
Washington Post.
(Pak Ghani adalah orang yang dicari-cari sebagai pembicara publik dan pada 2005 
dia menyampaikan ceramah keynote untuk pertemuan yang melibatkan Simposium 
Aturan Hukum Internasional di Asosiasi Bar Amerika, Jaringan Kebijakan 
Trans-Atlantik, pertemuan tahunan para staf pembangunan Pemerintah Norwegia, 
pertemuan CSIS tentang reformasi PBB, pertemuan PBB OECD-Bank Dunia tentang 
Kondisi Getas, dan TEDGlobal. Dia menyumbangkan pemikiran di the Financial 
Times, International Herald Tribune, Los Angeles Times, New York Times, the 
Wall Street Journal dan the Washington Post)



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke