Mudah-mudahan penyebaran puisi ini sebagai bagian dari kampanye hak-hak kaum 
difabel. 

 Slamet Thohari.

Salam hangat, 
Honolulu

SEKUNTUM ODE UNTUK BERTANYA



Oleh Slamet Thohari



Tanyakan pada angin berlabuh yang menepuk pundakmu setiap saat

Apakah makna sempurna itu?



Tapi, mereka kerap kali memanggil kami: “orang cacat!”



Tanyakan pada hujan yang sesekali datang

Tanyakan pada laut biru tempat mereka berkecipik

Tanyakan pada angin sejuk

yang kerapkali membuat mereka mengantuk



Tanyakan pada Penguasa Saturnus atau Venus

Yang selalu mereka harap rinainya

Saat sedang tenggelam dalam teduh atau sedang dilanda keluh

Apakah dunia ini diciptakan sama bentuknya..



Tapi, mereka setiap hari menatap kami, dengan mata yang aneh

Seolah-olah barang yang nyeleneh.

Dan sekali lagi, mereka memanggil kami: “orang cacat!”





Kota bersama telah mereka rebut

Tangga-tangga mereka tutup

Hurup-hurup kami tak pernah mereka sediakan,

Jalan-jalan kami, mereka bajak

Sekolah-sekolah mereka batasi, untuk diri mereka sendiri.

Demi mengejar mimpi, menguasai bumi

Tentang kami, tak pernah peduli

Lalu kemudian memanggil: “Hey..Orang Cacat!”



Mereka memanggil kami “Orang Buta”

Namun dengan dunia yang semakin panas

Kemiskinan yang menderas

Perbedaan yang memang sebuah titah

Mereka menutup mata atau entah..



Tanyakan pada rumput biasa atau Azalea

siapa yang buta?



Mereka memanggil kami “Orang Tuli”

Pada saat anak-anak menangis, karena hidup yang sulit dikais

Saat ibu-ibu di pelosok desa atau di mana saja bersua keluh

Karena hidup yang rapuh oleh tata dunia yang angkuh



Tanyakan pada rembang sore.. atau lazuardi pagi

Siapakah yang tuli?



Mereka memanggil kami “Si Pincang”

Namun mereka diam duduk di kursi

Saat hutan habis..bumi yang mengempis

oleh orang-orang yang tak mau berkantong tipis



Bertanyalah pada tanah basah… atau apa saja di depan rumah

Siapa yang pincang?



Mereka bilang kami “Si Bisu”

Tapi mereka diam

Melihat juragan menggodam rumah orang lemah,

kuburan atau sekolah

melihat masa depan yang hancur karena juragan mengirim lumpur



Bertanyalah pada huruf di buku-buku pintar

Kursi-kursi di ruang seminar

Atau pojok kafe yang segar

Siapa yang bisu?



Tanyakan pada Penguasa Saturnus atau Venus

Yang selalu mereka harap rinainya

Saat sedang tenggelam dalam teduh atau dilanda keluh

Apakah dunia ini diciptakan sama bentuknya..



Tapi mereka setiap hari menatap kami, dengan mata yang aneh

Seolah-olah barang yang nyeleneh.

Dan terus memanggil kami: “orang cacat!”



Perpustakaan Kayam. 2 Desember 2007, 12.34

Saat Sendiri, 2 Tahun tidak Menulis Puisi

Dibacakan Henrdo di Acara Ruwat Budaya. Karta Pustaka

 Regard,Slamet Thohari 
Disability Studies, University of Hawaii at Manoaemail: 
[email protected]/[email protected]: 
www.amexius.multiply.comPhone: 808-944-6299



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke