Sekedar berbagi,

Awalnya, saya dan beberapa teman merasa iri hati dengan pemberitaan tentang
prosesi pemakaman Gus Dur yang kurang meriah dibanding rekan seterunya
Soeharto. Hanya ada dua stasiun TV yang terus-menerus menyiarkan berita
meninggalnya Gus Dur hingga prosesi pemakamnnya, itu pun stasiun TV yang
memang spesialis berita, sementara yang lainnya hanya menyiarkan
sepotong-sepotong. Berbeda dengan prosesi pemakaman Soeharto yang disiarkan
langsung oleh semua stasiun TV. Maklum keluarga dan orang dekat Soeharto
yang punya saham di semua stasiun TV swasta merasa berkepentingan untuk
mengenang bapak pembangunan itu.

Namun sesaat iri hati itu hilang setelah saya menyaksikan infotainment.
Ternyata berita Gus Dur juga sudah menjadi infotaintmen. Bahkan bebapa
infotainmen satu jam penuh menayangkan Gus Dur, potong masa iklan. Gus Dur
memang dekat dengan beberapa artis seperti Dorce, Ahmad Dhani, dan Inul dan
para wartawan infotainmen tahu betul apa yang harus mereka lakukan. Mereka
juga bisa menanyakan tentang Gus Dur kepada semua artis dan menjadilah
infotaiment. Bahkan beberapa putri dan kerabat Gus Dur juga ternyata telah
menjadi selebriti yang layak diinfotaintmenkan. Bagi saya ini menarik karena
infotaintmen ini belum berkembang begitu bagus pada saat Pak Harto
meninggal. Infotaintmen yang ongkos produksinya semurah siaran berita dan
penghasilan iklannya bisa lebih tinggi dari sinetron yang ongkos produksinya
mahal ternyata bisa menaikkan rating berita Gus Dur.

Beberapa hari setelah pemakaman, berita tentang Gus Dur terus mengalir dari
berbagai sisi. Soal perlunya penyematan gelar pahlawan Gus Dur, jasa-jasa
Gus Dur, dan soal angka sembilan dan berbagai hal ajaib yang muncul di
seputaran makam Tebuireng, sampai isu ala koran merah seputar SMS yang
menyebutkan Gus Dur meninggal karena dibunuh. Kepentingan bisnis berita di
satu sisi dan kepentingan membesarkan berita Gus Dur untuk meminimalkan
berita yang lain berbaur menjadi satu. Perlu dicatat, meskipun beberapa
stasiun TV mempunyai banyak kru dan peralatan yang siap diterjurkan ke mana
saja, namun redaksi tetap hanya mempunyai satu berita inti. Berita tentang
Gus Dur, apalagi jika sampai melibatkan semacam "emosi" dipastikan dapat
melupakan berita yang lainnya.

Belum lagi berita tentang perebutan warisan Gus Dur yang satu ini, PKB.
Sesaat Gus Dur meninggal para wartawan langsung menanyakan soal warisan yang
satu ini kepada semua orang yang merasa menjadi ahli waris. Jangan hanya
salahkan Muhaimin atau Yenny, karena dalam banyak hal mereka sebenarnya
dipaksa bicara. Jika pun mereka diam, banyak orang yang berkepentingan untuk
berbicara atas nama mereka atau bahkan langsung mengatasnamakan PKB dan Gus
Dur.

Kesimpulannya, Gus Dur tetap lebih besar beritanya dibanding Soeharto.

Salam,
Anam
(merasa jadi santri Gus Dur)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke