Sdr Sofwan..
Kalau saya memahami ayat tersebut, kenapa ALLAH memperingatkan rasul seperti 
itu, karena dlm masa permusuhan dan peperangan dimana segolongan yahudi 
Fundamentalis-radikal selalu menyerang dan memburuk burukan islam,maka berhati 
hatilah dgn golongan yshudi radikal ini.

Sedangkan di lain ayat setelah terjadi perdamaian, maka ALLAH memperingatkan 
lagi Rasul yang berbunyi kontraversi sebagai berikut;

---1.kamu(muhammad) berkasih sayanglah kepada mantan2 musuhmu( disini adalah 
orang2 yahudi, musryk,munafik dll)QS 60:7.
---2. kamu hendaklah berlaku adil kpd mantan2 musuhmu,artinya tidak boleh 
berlaku diskriminasi dgn mantan2 musuhmu(yahudi,nasrani, musryik dll yg pernah 
menyerang mu)QS 60:8
---3. ALLAH memperingatkan atau memerintahkan Rasul untuk berlaku adil kpd umat 
yahudi,nasrani, muslim) QS42:15.
Artinya kita diharamkan memperlakukan orang2 nasrani,yahudi dll diskriminasi.

sdr Sofwan;
Kalau kita perhatikan ayat2 ALLAH yg turun waktu permusuhan dan peperangan dgn 
golongan2 kafir(yahudi,nasrani,musryik,munafik dll)
maka terdapat banyak larangan2(Haram) seperti;

---1.haram berteman dgn orang2 kafir
---2.haram dijadikan wali/ pemimpin.
---3.bunuhlah orang2 kafir
---4.bunuhlah orang2 murtad.
---5 hati hati dgn orang2 yahudi dia tidak akan senang klu tdk kembali
      kepada agamanya.
---6.haram makanan daging potongan orang2 kafir
---7.haram menikahi wanita2/laki2 kafir
---8.haram meniru niru budaya kafir
---9.dll

Orang2 atau pemuda2 yang melakukan jihad utk membunuh orang2 
kafir(yahudi,nasrani dan murtad dll) adalah ter-inspirasi dgn ayat2 yg turun 
waktu peperangan. Akibatnya tercemarlah agama islam menjadi agama Islam yg suka 
kekerasan dr pandangan orang2 awam.

Demikian sedikit dari saya.
Wassalam




--- In [email protected], sofwan nadi <de_a...@...> wrote:
>
> 
> Ah...
> Ini ada tulisan pengakuan dari rekan. Isinya mendukung
> pemahaman saya selama ini tentang ayat yang bermakna "Dan tidak akan
> ridlo kepadamu Kaum Yahudi dan Kaum Nasrani sampai kamu mengikuti millah 
> mereka".
> 
> Saya berpendapat, bahwa ayat ini bukan mengecap bahwa Yahudi dan Nasrani 
> adalah musuh Muslimin, karena alasan mereka tidak akan pernah rela bila 
> muslimin belum ikut mereka, sebagaimana dinash dalam Alquran. Begitu yang 
> dipikir sebagian orang dengan ayat ini.
> 
> Gampang
> kok, memahami ayat ini. Balikkan saja konteks nya kepada diri kita
> sendiri dalam bentuk pertanyaan. Begini jadinya: "Apakah kamu ridlo
> dengan Yahudi dan Nasrani, kalau mereka tidak mengikuti ke-Islam-an
> sepertimu?"
> 
> Nah, kalau kita rela mereka terbiarkan dalam
> "kesesatan" sebagaimana dalam kepercayaan Islam kita... wah kita
> egois... masak yang ingin selamat di Akherat diri sendiri aja. Cuma
> memang cara pendekatan kepada mereka, lain orang lain cara.
> 
> Kalau
> kita tidak rela... ya logiskan... begitu lah namanya kita punya
> kepercayaan yang teguh. Baru kita PD dengan kepercayaan sendiri. 
> Ayat
> ini juga menunjukkan bahwa Si Yahudi dan Nasrani itu sangat PD dengan
> teologi mereka, sampai-sampai semuanya mau diolah menurut selera
> mereka. Dan kaum Barat, khususnya, mereka juga punya agama yang disebut
> Sekuler, sub Agama dari Yahudi atau Nasrani, atau sinkretisme dari
> kekecewaan terhadap Yahudi ataupun Nasrani. Dan pemeluknya PD.
> Begitulah kalau orang punya kepercayaan yang teguh.
> 
> Bandingkan
> juga ayat tsb dengan Surat Al-Kafiruun.... Pasti plek senada: "Aku
> tidak menyembah apa yang kamu sembah" kan bisa dimaknai dengan "Aku
> tidak rela dengan sesembahan kamu itu".
> 
> 
> Untuk lebih tahu apa isi pengakuan sang rekan disebutkan diatas, adalah 
> tulisan di bawah ini:
> http://guntur.name/2010/01/13/islam-krisis/
> 
> 
> 
> 
> ________________________________
> From: MGR <indun...@...>
> To: [email protected]
> Sent: Thu, January 14, 2010 7:54:07 PM
> Subject: [kmnu2000] Islam Krisis (Kolom)
> 
>   
> Islam Krisis
> 
> KH Abdurrahman “Gus Dur” Wahid meninggalkan pengaruh yang dalam pada 
> saya, jauh sebelum saya menjadi penyiarnya di acara “Kongkow Bareng Gus 
> Dur” tiap Sabtu di Utan Kayu. Pada awal tahun 1997, ketika saya baru lulus 
> dari sebuah pesantren dan menjadi guru muda di pesantren itu, saya mengikuti 
> sebuah pelatihan untuk guru dan santri se Jawa Timur. Sohibul bait-nya: 
> Kajian 193 Universitas Islam Malang. Gus Dur hadir sebagai narasumber. Jujur 
> saja waktu itu saya tak suka Gus Dur dan Nurcholish “Cak Nur” Madjid. 
> Saya memperoleh informasi tentang dua tokoh ini dari media-media seperti 
> Sabili, Media Dakwah dan Hidayatullah. Kala itu saya mengidolakan sosok Amien 
> Rais yang dianggap sebagai representasi tokoh Islam, sedangkan Gus Dur dan 
> Cak Nur sering dituding oleh media-media itu “kurang kadar keislamannya”.
> 
> Saya tidak terlalu tertarik presentasi Gus Dur, sejak pertama kali melihat 
> Gus Dur saya tak sabar ingin mengeluarkan uneg-uneg saya (yang negatif). 
> Bakda Gus Dur presentasi, saya yang pertama kali mengacungkan tangan untuk 
> bertanya. Dimulailah percakapan dan dialog pertama kali saya dengan Gus Dur 
> yang mengubah haluan pemikiran saya.
> 
> “Gus, saya seorang santri, sebelum saya mengajukan pertanyaan, saya ingin 
> mengajak kita semua untuk meyakini Islam sebagai agama paling benar, kalau 
> kita sudah yakin, lantas bagaimana menjadikan Islam sebagai agama yang 
> “rahmatan lil alamin” (menjadi berkah bagi alam semesta)?” Pertanyaan 
> ini adalah sindiran saya yang halus kepada Gus Dur yang menurut su’ud dzon 
> saya pada diaâ€"seperti yang saya baca dari media-media ituâ€"Gus Dur tidak 
> terlalu kuat Islamnya karena sering membela non-muslim.
> 
> Respon Gus Dur di luar perkiraan saya. “Siapa nama santri tadi itu, santri 
> kok Islamnya krisis.” Mendengar ucapakan Gus Dur ini, belasan orang yang 
> hadir tertawa terbahak-bahak. Saya hanya bisa tersenyum kecut. Ucapan Gus Dur 
> seperti setrum megawatt yang menyengat saya. “Kalau kita sudah yakin pada 
> Islam, tak perlu teriak-teriak lagi, biasanya yang sering teriak itu masih 
> ragu atau takut. Saya sering dianggap tidak Islam hanya gara-gara sering 
> membela orang non-muslim, saya dianggap tidak ngerti ayat Quran yang berbunyi 
> tidak akan pernah rela orang Yahudi dan Kristen pada kamu (orang Islam), 
> sampai kamu mengikuti agama mereka” sambung Gus Dur yang mengutip penggalan 
> ayat 120 dari surat Al-Baqarah. Ungkapan Gus Dur tadi juga seperti 
> mengorek-orek asumsi-asumsi buruk yang menempel di otak saya.
> 
> Gus Dur melanjutkan: “Bagi saya makna “tidak rela” itu jangan 
> didramatisir, dipahami biasa-biasa saja, karena sebaliknya kita orang Islam 
> tidak pernah rela pada keyakinan mereka. Sama saja kan? “Tidak rela” 
> bukan berarti mau menyakiti atau membunuh. Contohnya Siti Nurbaya tidak rela 
> menikah dengan Datuk Maringgih. Yaaa Siti tidak rela saja, bukan lantas dia 
> ingin menyakiti atau membunuh Datuk Maringgih, buktinya Siti Nurbaya 
> melahirkan anak-anak Datuk Maringgih.” Orang-orang yang hadir kembali 
> tertawa lebar mendengar tamsil Gus Dur soal “tidak rela” itu. Ketika ia 
> menjawab soal saya tentang “Islam rahmatan lil alamin” Gus Dur mengutip 
> wejangan KH Ahmad Siddiq bahwa Islam harus merawat tiga ikatan persaudaraan 
> yaitu “ukhuwah Islamiyah” (persaudaraan keislaman), “ukhuwah 
> wathaniyah” (persaudaraan kebangsaan) dan “ukhuwah basyariyah” 
> (persaudaraan kemanusiaan) , jika Islam mampu merawat tiga ikatan 
> persaudaraan ini maka, Islam
> itu akan menjadi berkah bagi alam semesta.
> 
> Sindiran Gus Dur yang menganggap saya sebagai seorang muslim yang 
> krisisâ€"meskipun saya lulusan pesantren dan telah menimba ilmu keislaman 
> selama bertahun-tahunâ€"membuat saya kembali bertanya pada diri sendiri. 
> Benar juga komentar Gus Dur itu, kalau saya benar memiliki keimanan terhadap 
> Islam yang kuat, kenapa perlu teriak-teriak yang menunjukkan saya masih ragu? 
> Merasa paling benar memang kadang untuk menyembunikan keraguan.
> 
> Pertemuan dengan Gus Dur itu telah meruntuhkan fanatisme saya yang sebelumnya 
> mudah curiga dan menyalahkan pendapat orang lain. Saya yang selalu menganggap 
> diri sendiri sebagai muslim yang paling benar. Pertemuan itu juga mengubah 
> imej saya terhadap Gus Dur. Seperti menebus dosa, saya mulai rajin mencari 
> dan membaca buku-buku karangan Gus Dur untuk mengenal pemikiran Gus Dur 
> secara langsung bukan dari tulisan atau perkataan orang lain. Ketika saya 
> melanjutkan studi di Univeritas al-Azhar Mesir pada tahun 1998 saya masuk NU 
> Mesir untuk mengukuhkan kekaguman saya pada Gus Dur. Pun saya mulai tertarik 
> untuk membaca pemikiran Cak Nur langsung dari tulisan-tulisannya.
> 
> Dalam kesempatan yang lain, Gus Dur juga sering merujuk soal 
> “Islam-krisis” ini pada fenomena kekerasan dan kebencian yang dilakukan 
> oleh kelompok-kelompok Islam radikal terhadap kelompok yang lain. Krisis yang 
> dimaksud adalah rasa tak percaya diri atau diliputi penuh ketakutan. Kata Gus 
> Dur “mereka itu dalam bayang-bayang ketakutan, merasa terkepung dan 
> terancam oleh Barat, tapi di sisi lain pihak yang disebut lawan itu: Barat, 
> juga merasa takut dan terancam oleh mereka.” Inilah lingkaran ketakutan 
> yang menyebabkan krisis, kecurigaan dan kebencian terhadap pihak yang lain. 
> Padahal sumber ketakutan dan apa yang ditakutkan sering kali tak jelas.
> 
> Pesan Gus Dur yang selalu saya ingat dan akan terus menjadi pegangan adalah 
> “jangan takut”. Seorang muslim yang baik dan memiliki iman yang kuat 
> berarti telah terbebas dari ketakutan-ketakutan . Takut yang berasal dari 
> kecurigaan yang bisa melahirkan kebencian dan permusuhan. Muslim yang percaya 
> diri tidak akan pernah takut untuk terbuka kepada pihak luar. Membuka diri 
> adalah bukti keberanian, sementara menutup diri merupakah reaksi ketakutan.
> 
> Dua tahun lalu saya menyampaikan “pengakuan dosa” ini ke Gus Dur. Seperti 
> biasa: Gus Dur hanya tertawa-tawa. Saya pun ikut tertawa geli, mengenang 
> kekonyolan masa lalu.
> 
> Mohamad Guntur Romli
> 
> Penyiar “Kongkow Bareng Gus Dur” di KBR68H dari November 2005-2009
> 
> Koran Tempo 13 Januari 2010
> 
> http://guntur. name/2010/ 01/13/islam- krisis/
> 
> Buat sendiri desain eksklusif Messenger Pingbox Anda sekarang! Membuat tempat 
> chat pribadi di blog Anda sekarang sangatlah mudah. 
> http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> 
>  
> 
> 
>       
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke