Koran
Tempo
Media Diminta Netral Dalam Kasus Pluralisme
Intelektual muda Nahdlatul Ulama, Ulil Abshar Abdalla, meminta media massa 
tetap pada posisi
netral dalam pemberitaan keberagaman (pluralisme).
Dia menilai, selama ini jurnalis masih memihak.”Sering kali ada penggunaan kata
yang menjerumuskan,” kata Ulil dalam dialog Prospek Demokrasi dan Kebebasan
2010, di Jakarta Media Center kemarin.
Ulil mencontohkan, dalam sejumlah kasus Ahmadiyah, justru media menggunakan
kata “aliran sesat” seperti yang digunakan Majelis Ulama Indonesia. Padahal
penggunaan kata itu telah menimbulkan persepsi keliru di kalangan masyarakat,
dan terkesan menghakimi.”Kata-kata yang menjerumuskan harus
dihentikan,”katanya.
Wartawan senior Goenawan Mohamad mengakui, bahasa yang digunakan dalam
sejumlah media bisa menjebak. Bahkan, menurut dia, bahasa sering digunakan
untuk melawan stigmatisasi dari penguasa. “Bahkan berimplikasi stigma
menimbulkan kontra,”ujarnya.
Pemimpin Redaksi Jakarta Post Endy M. Bayuni mengatakan media harus bisa
memilah antara suara kaum mayoritas dan kaum minoritas. Terkadang sejumlah
sikap yang disampaikan pihak tertentu mengatasnamakan kelompok mayoritas belum
mewakili kelompok itu.”Perlu memilih dan memilah suara-suara yang layak
ditampilkan,”katanya.
Dia mencontohkan, kekuatan teknologi informasi dan Internet mampu
mengaburkan kekuatan yang sebenarnya.”Melalui Internet, kekuatan minoritas pun
bisa jadi dominan,”ujar Endy. Menurut dia, Internet telah mampu menghilangkan
kekuatan negara dalam melakukan praktek sensor. Dalam kasus Prita, sebagai
contoh, melalui gerakan sosial di situs Facebook, masyarakat mampu memberi
dukungan.
Bahkan belakangan muncul kelompok Facebook yang menamakan dirinya Partai
Komunis Indonesia,
yang pada era Orde Baru dilarang. “Kasus ini membuktikan bahwa tiada lembaga
yang mampu membatasi kebebasan masyarakat,”ujarnya.
Namun, dia menyesalkan masih adanya upaya Kejaksaan Agung membatasi
peredaran buku yang dinilai menjerumuskan informasi.
EKO ARI WIBOWO
Sumber: http://epaper.korantempo.com/KT/KT/2010/01/22/index.shtml
 
The Jakarta Post
http://www.thejakartapost.com/news/2010/01/22/indonesia-%E2%80%98needs-role-models%E2%80%99.html
Indonesia ‘needs role models’
Irawaty Wardany ,  The Jakarta Post ,  Jakarta   |  Fri, 01/22/2010 8:56 AM  |  
Headlines 
Pluralism and freedom in Indonesia has faced challenges since the Indonesian 
Ulema Council (MUI) issued an edict
against secularism, pluralism and liberalism in 2005, and the deaths of two key
pluralism figures.
Clerics in East Java recently suggested the
issuance of a fatwa forbidding female Muslims from straightening their hair and
from holding pre-wedding photo sessions.
They said hair straightening was haram for women as it could lead to immoral
acts if the intention was to improve physical appearance, while pre-wedding
photos should be banned because in such circumstances men and women were
unmarried but already mingling with the opposite sex.
The clerics also forbade Muslim women from riding an ojek (motorcycle taxi)
or becoming an ojek driver due to concerns that a woman might touch or be close
to a member of the opposite sex, or expose haram parts of her body.
The same gathering consisting of 250 leaders of Islamic boarding schools in
Java and Madura, 
had previously endorsed a fatwa that forbade Muslims from using Facebook.
Under such conditions, Ulil Abshar Abdallah a Muslim intellectual, said this
country needed figures like the late Abdurrahman “Gus Dur” Wahid or Nurcholis
Madjid (Cak Nur), who could promote pluralism and oppose MUI’s delegitimization
of pluralism.
“We need role models like them that can be looked to by people when facing
pluralism issues,” he told a discussion conducted by the newly established
Journalist Association for Diversity (SeJuK) on Thursday.
He said that was what Indonesia had been lacking since the death of Gus Dur and 
Cak Nur.
Gus Dur died on Dec. 30, 2009, after years of health problems, while Cak Nur
passed on in 2005.
The edict has even generated criticism towards activists promoting
pluralism.
 “That makes us defensive,” Ulil said.
Siti Musdah Mulia, chairwoman of the Indonesian Conference on Religion and
Peace (ICRP), said the Indonesian government was still discriminating against
those who had non-mainstream beliefs.
The government recognizes five religions; Hinduism, Buddhism, Catholicism,
Protestantism, Islam and Confucianism.
“People who don’t subscribe to the recognized six faiths have to lie when
applying for identity cards simply because they do not want to get into trouble
or be reported by the subdistrict officials,” Musdah said.
She added that the conditions had worsened with the behavior of legal
enforcers who found it difficult to separate their roles as legal enforcers and
as religious devotees.
“They often designate themselves as faith judges,” she said.
The chief editor of The Jakarta Post, Endy M. Bayuni, on the other hand,
considered that freedom of expression in Indonesia had been widely opened up
despite efforts to limit it. 
As examples, he cited the book banning by the Justice and Human Rights
Ministry and the Attorney General’s Office, and the wiretapping regulation that
the Communications and Information Ministry was trying to take over.
“But thanks to the Internet, we can fight against that mentality.”
 
 
Kompas, Jumat, 22 Januari
2010
http://cetak.kompas.com/read/xml/2010/01/22/04590479/ide-ide.keberagaman..
 
PLURALISME
Ide-ide Keberagaman 
Jakarta,
Kompas - Pascameninggalnya Abdurrahman Wahid atau Gus Dur,
semangat keberagaman dalam menjalankan agama dan kepercayaan tidak boleh
berhenti. Masyarakat, juga kalangan media massa,
harus terus mendorong keberagaman dengan mengembangkan ide-ide toleransi untuk
kebebasan menjalankan agama dan kepercayaan.
Hal itu dikemukakan tokoh muda Nahdlatul Ulama, Ulil
Abshar Abdalla, Kamis (21/1), pada diskusi ”Prospek Demokrasi dan Kebebasan
2010” menandai peluncuran Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (Sejuk) di Jakarta
Media Center.
Diskusi ini juga menghadirkan pembicara Direktur
Indonesian Conference on Religion and Peace Siti Musdah Mulia dan
Pemimpin Redaksi The
Jakarta Post Endy M Bayuni.
Ulil Abshar Abdalla menyatakan, Gus Dur sebagai
bapak pluralisme di Indonesia tentu tidak ingin keberagaman yang dirintisnya 
itu kandas. Kepergian Gus Dur
justru harus menjadi tantangan bagi pejuang keberagaman tetap menghidupkan
semangat tersebut.
Pascafatwa haram Majelis Ulama Indonesia mengenai
pluralisme (termasuk liberalisme dan sekularisme agama) pada 2005, perjuangan
keberagaman itu terkesan meredup. Kalangan pengelola media massa juga cenderung 
melakukan sensor
internal setiap kali melansir pemberitaan soal keberagaman.
Terkait upaya untuk terus menghidupkan ide-ide
keberagaman, lanjut Ulil, apakah mungkin di masyarakat juga dibentuk semacam
otoritas yang melegitimasi perlunya keberagaman. Nurcholish Madjid, misalnya,
adalah tokoh yang memiliki otoritas yang perkataannya bisa semacam fatwa.
Siti Musdah Mulia mengemukakan, aspek penting
bagi komunitas keagamaan adalah berorganisasi atau berserikat sebagai
komunitas. Oleh karena itu, komunitas keagamaan mempunyai kebebasan dalam
beragama, termasuk di dalamnya hak kemandirian mengatur organisasi.
Kebebasan menjalankan agama seseorang hanya dapat
dibatasi oleh undang-undang dan itu pun demi kepentingan melindungi keselamatan
dan ketertiban publik. ”Negara berkewajiban menghormati dan menjamin kebebasan
beragama tanpa membedakan suku, bahasa, agama, keyakinan, politik, ataupun
asal- usulnya,” kata Siti Musdah Mulia.
Bagi Endy M Bayuni, dalam 11 tahun reformasi ini,
diakui, banyak memberikan kemajuan terhadap kebebasan seiring dengan
berkembangnya revolusi teknologi informasi. (WHO)
 
 
http://nasional.vivanews.com/news/read/123163-ulil__fatwa_mui_menekan_gerakan_pluralisme
 
Ulil: Fatwa MUI Menekan Gerakan Pluralisme
 
Fatwa yang dimaksud mengenai pluralisme, liberalisme dan
neoliberalisme tahun 2005 lalu.
 
Kamis, 21 Januari 2010, 12:10 WIB
 
Arfi Bambani Amri, Mohammad Adam
 
VIVAnews - Fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang
Pluralisme, Liberalisme dan Neoliberalisme yang dikeluarkan tahun 2005 dianggap
oleh Ulil Abshar-Abdalla sebagai penyebab mundurnya gerakan keberagaman. Fatwa
tersebut menganggap bahwa pluralisme membahayakan akidah atau keimanan
seseorang sehingga bisa melemahkan keyakinan agama yang dipeluknya.

"Ada semacam sinisme terhadap orang-orang yang mengkampanyekan ide-ide
pluralisme," kata Ulil dalam launching Serikat Jurnalis untuk Keberagaman
dan diskusi bertajuk Prospek Demokrasi dan Kebebasan 2010, di Jakarta Media
Center, Jakarta, Kamis 21 Januari 2010.

Oleh karena itu, kata Ulil, tantangan saat ini adalah bagaimana menjadikan
ide-ide tentang pluralisme dan dialog-dialog agama tidak lagi mendapat kecaman
dan mendapatkan legitimasi di masyarakat. 

Ulil mengaku merasa harus bersikap defensif menghadapi tekanan dan sinisme
karena menjadi aktivis yang kerap mengusung ide pluralisme. Padahal sebelum
reformasi ada kebanggaan dari kalangan aktifis yang mempromosikan ide
pluralisme ini.

"Pluralisme dan kerukunan antarumat beragama saat itu dianggap sebagai ide
yang maju, modern. Namun setelah muncul fatwa MuI itu, membuat kita para
aktivis yang mengkampanyekan ide pluralisme ini jadi punya ketakutan bicara.
Tekananannya hebat," kata Ulil yang mencalonkan diri menjadi Ketua Umum
Nahdlatul Ulama itu.

Bicara pluralisme akan langsung dicap sesat, kafir, dan lain sebagainya.
Pluralisme atau paham yang menghargai keberagaman seolah dianggap haram.
Menurut Ulil, situasi defensif ini tidak sehat dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara. Apalagi dalam ranah demokrasi, di mana kebebasan berpendapat dan 
kerukunan
di masyarakat sangatlah penting, tekanan semacam ini tentu berbahaya.

Oleh Karena itu, situasi yang penuh tekanan tersebut perlu diantisipasi.
"Yaitu dengan cara mengangkat kembali reputasi mengenai ide pluralisme ini
di masyarakat," kata Ulil.

Tokoh-tokoh modern pluralisme, misalnya seperti Abdurrahman Wahid dan Nurcholis
Madjid, menurut Ulil mesti mendapat legitimasi di masyarakat. Dengan demikian
ada semacam pengakuan bagi siapapun bahwa pluralisme juga merupakan warisan
budaya Indonesia karena tokoh bangsa pun mengajarkannya.
 
http://nasional.vivanews.com/news/read/123187-generasi_muda_harus_tampil_di_nu
Generasi Muda Harus Tampil di NU
"Itu adalah generasi saya yang dulu pernah diajar Gus
Dur."
 
Kamis, 21 Januari 2010, 13:07 WIB
 
Ita Lismawati F. Malau, Mohammad Adam
 
VIVAnews - Salah satu calon Ketua Umum Pengurus Besar
Nahdlatul Ulama (PBNU) Ulil Abshar Abdalla menilai semangat Abdurrahman Wahid
atau Gus Dur harus terus dihembuskan dalam tubuh NU. Oleh karena itu, Ulil
menilai NU harus dipimpin generasi muda yang pernah diajar Gus Dur. 

"Itu adalah generasi saya yang dulu pernah diajar Gus Dur," kata Ulil
kepada wartawan, Kamis 21 Januari 2010. Dia menambahkan jika NU tidak dipimpin
orang yang mewakili gagasan Gus Dur, reputasi PBNU sebagai organisasi Islam
moderat akan riskan.
Dia mengatakan Gus Dur yang telah wafat akhir tahun lalu menjadi Ketua Umum
PBNU pada usia 40an. Selama 15 tahun, Gus Dur meletakkan dasar-dasar
gagasannya. "Sehingga tantangan NU sekarang adalah dan menerjemahkan
gagasan Gus Dur dalam program yang konkret," tegasnya.

Meski demikian, Ulil menilai generasi Gus Dur pun tetap harus eksis di NU.
Namun, dia tetap menilai sudah saatnya NU dipimpin kaum muda. 

Ulil akan bertarung dengan senior NU, yakni Solahudin Wahid atau Gus Solah dan
Masdar 
 
http://nasional.vivanews.com/news/read/123212-reputasi_nu_di_bawah_hasyim_muzadi_merosot
Reputasi NU di Bawah Hasyim Muzadi Merosot
 
NU terlalu jauh terlibat dalam politik praktis.
 
Kamis, 21 Januari 2010, 14:17 WIB
 
Eka Puspasari, Mohammad Adam
 
VIVAnews - Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama
(PBNU) Ulil Abshar Abdalla menilai NU mengalami penurunan daya tawar setelah
masa kepemimpinan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Penyebabnya, menurut Ulil, NU
terlalu jauh terlibat dalam politik praktis.

"Ada kesalahan fatal di bawah kepemimpinan Hasyim Muzadi, yaitu dia
mendorong NU terlalu jauh dalam politik praktis," kata Ulil kepada
wartawan setelah peluncuran Serikat Jurnalis untuk Keberagaman dan diskusi
bertajuk Prospek Demokrasi dan Kebebasan 2010, di Jakarta Media Center,
Jakarta, Kamis 21 Januari 2010.

Menurut Ulil, reputasi NU terus merosot karena langkah untuk terjun ke dunia
politik praktis tidak berhasil. Pria asal Pati, Jawa Tengah, ini menyatakan NU
dapat kembali bersinar dengan cara menerapkan pandangan-pandangan Gus Dur ke
dalam program konkrit. 

"Hanya generasi yang dibentuk oleh wacana Gus Dur-lah yang bisa membawa
itu," ujar dia.

Dalam muktamar ke-32 NU di Makassar, 25-31 Januari 2010, Ulil akan
memperebutkan kursi kepemimpinan NU melawan sejumlah senior, yakni Solahudin
Wahid atau Gus Solah dan Masdar Farid Mas'udi. Namun Ulil yakin mampu
menghadapi calon dari generasi yang lebih tua karena menurut dia kemudaan
sangat menjual.

Dalam wawancara
dengan VIVAnews, tahun lalu, Ulil mengutarakan bahwa Kiai Wahid Hasyim
memimpin NU di umur 40 tahun. "Gus Dur ketika pertama kali jadi Ketua PBNU
masih muda sekali. Beliau lahir tahun 1941, lalu tahun 1984 terpilih, jadi 43
tahun terpilih. Masih muda sekali. Jadi memang pada saat itu, muda-muda sekali.
Saya kira ada presedennya," tutur Ulil.


      New Email names for you! 
Get the Email name you've always wanted on the new @ymail and @rocketmail. 
Hurry before someone else does!
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke