(Tulisan ini juga disajikan dalam website http://umarsaid.free.fr )
Catatan A. Umar Said
In memoriam
Ashar Soetjipto Moenandar, seorang
tokoh revolusioner senior Indonesia
Tulisan ini dimaksudkan sebagai catatan mengenai wafatnya seorang tokoh
revolusioner senior Indonesia, Ashar Sutjipto Moenandar (85 tahun) , yang
agaknya patut diketahui oleh golongan kiri di Indonesia pada khususnya dan
khalayak luas pada umumnya, mengingat pentingnya posisi yang ditempatinya
dalam sejarah gerakan kiri di Indonesia.
Pada tanggal 26 Januari 2010 di Rotterdam (Holland) telah dilangsungkan
upacara pemakaman tokoh gerakan revolusioner Indonesia tersebut, dengan
mendapat perhatian yang besar sekali dari banyak orang dari berbagai
kalangan. Di luar kebiasaan dari kebanyakan upacara pemakaman lainnya,
upacara pemakaman Bung Tjipto ini dihadiri oleh sekitar 250 orang, sedangkan
upacara perpisahan dengan almarhum yang diselenggarakan dua hari sebelumnya
dihadiri sekitar 100 orang. Jadi, jumlah orang yang menghadiri dua upacara
untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Bung Tjipto alm ada sekitar
350 orang. Suatu jumlah yang termasuk luar biasa bagi pemakaman kebanyakan
orang asing di Eropa.
Banyaknya orang yang memberikan penghormatan terakhir kepada Bung Tjipto alm
dan yang berdatangan dari Holland, Prancis, Jerman dan Swedia, menunjukkan
bahwa ia memang dihormati oleh banyak orang. Penghormatan ini berkat sejarah
perjuangannya sebagai tokoh pimpinan gerakan kiri di Indonesia sebelum
peristiwa 65, dan berbagai kegiatannya di luarnegeri sesudah terjadinya
penghancuran kekuatan kiri oleh Suharto beserta konco-konconya.
Untuk memberikan gambaran sedikit tentang kehidupan dan perjuangan Bung
Tjipto sebagai pejuang gerakan kiri berikut ini adalah sedikit (dan secara
singkat sekali) dari riwayat hidupnya:
Bung Tjipto dilahirkan di Semarang pada tanggal 2 Mei 1924, sebagai anak
keluarga priyayi Jawa. Ayahnya bekerja sebagai dokter pribumi yang bekerja
pada pemerintahan kolonial Belanda, sedangkan ibunya adalah seorang yang
berdarah bangsawan Jawa
Sebagai anak priyayi ia mendapat pendidikan di sekolah HBS (Hoogere Burger
School kemudian di Technische Hooge School di Bandung. Ketika zaman
pendudukan Jepang ia bekerja di sebuah laboratorium di Bogor. Sesudah
proklamasi dan terjadi gencatan senjata antara RI dan pihak Belanda, yang
melahirkan perjanjian Linggarjati, terbuka kesempatan baginya untuk studi di
negeri Belanda dengan beasiswa Malino. Bung Tjipto mengajukan permohonan dan
diterima untuk studi di Technische Hogeschool Delft.
Ketika sudah di Holland Bung Tjipto berkenalan dengan mahasiswa Indonesia
lainnya yang belajar di Universitas Leiden, seperti Zain Nasution (Redaksi
Harian Rakyat, tahanan militer sesudah peristiwa G30S, kemudian wafat), dan
yang belajar di Amsterdam (antara lain Suraedi Tahsin, Yoke Mulyono,
Soekotjo Slamet)
Perkenalan dan diskusi-diskusi dengan anggota-anggota Perhimpunan Indonesia
(seperti Soenito, Sunan Hamzah, Soedibyo,Slamet Faiman) memperluas cakrawala
pandangan politik Bung Tjipto. Karena, mereka adalah tokoh-tokoh yang
berjuang melawan fasisme Jerman dan mendukung kemerdekaan Indonesia.
Bung Tjipto juga mengikuti kegiatan-kegiatan Perhimpunan Nederland-Indonesie
yang dipimpin oleh Prof. Wertheim, dan mengenal CPN (Partai Komunis Belanda)
yang dengan kuat mendukung kemerdekaan Indonesia.
Dengan terjadinya clash kedua antara RI dan Belanda pada tanggal 19 Desember
1948, maka banyak mahasiswa dari Indonesia ini yang tidak mau lagi
meneruskan beasiswa dari pemerintah Belanda, termasuk Bung Tjipto.
Dalam kehidupan yang cukup sulit karena sudah menolak beasiswa dari
pemerintah Belanda, datanglah kesempatan baginya untuk belajar di Praha
(Cekoslowakia) yang diusahakan oleh Perhimpunan Indonesia dan Sugiono (wakil
Indonesia di International Union of Students IUS). Bung Tjipto menggunakan
kesempatan itu bersama Zain Nasution, Jack Sumabrata, Bintang Suradi (yang
kemudian menjadi pimpinan majalah PKI « Bintang Merah » di Jakarta).
Selama di Praha Bung Tjipto bergaul juga dengan Suripno, yang waktu itu
menjabat sebagai duta besar berkuasa penuh yang berhasil menggalang
hubungan diplomatik antara RI dan Uni Soviet (Suripno kemudian pulang ke
Indonesia bersama tokoh PKI Musso, dan akhirnya mereka dieksekusi bersama
Amir Syarifudin bersama kawan-kawannya yang lain dalam peristiwa Madiun)
Bung Tjipto menggunakan kesempatan hidup di Praha untuk belajar tentang
sosialisme dan Marxisme dan melakukan kegiatan-kegiatan internasional,
antara lain dengan menghadiri pertemuan-pertemuan IUS (International Union
of Students) dan ikut festival pemuda sedunia dll (bahan-bahan dirangkum
dari « Kilasan Kenangan Masa Lalu » dalam Kumpulan Tulisan oleh A.S.
Moenandar).
Setelah kembali ke Indonesia dalam tahun lima puluhan, Bung Tjipto bekerja
dalam dunia pendidikan untuk hidup, sambil ikut dalam berbagai macam
kegiatan revolusioner. Karena gaji guru rendah pada waktu itu ia pernah
merangkap jadi guru di tiga SMA di Jakarta.
Kemudian ia juga merangkap sebagai anggota redaksi badan penerbit Yayasan
Pembaruan, suatu badan besar yang menerbitkan buku-buku tentang PKI atau
buku kiri lainnya tentang sosialisme dan Marxisme.
Karena lapangan kehidupan dan bidang pekerjaan Bung Tjipto sebagai seorang
revolusioner adalah pendidikan dan ilmu, maka ia kemudian ditarik untuk ikut
memimpin Universitas Rakyat (UNRA) dan mengajar ilmu ekonomi politik. Pada
masa inilah Bung Tjipto bertemu dan bergaul akrab dengan para tokoh
revolusioner senior yang mengambil bagian langsung dalam pembrontakan
nasional melawan pemerintahan kolonial dalam tahun 1926-1927 yang dipimpin
oleh PKI.
Ketika dalam 1959 didirikan Akademi Ilmu Sosial ALIARCHAM (AISA) maka Bung
Tjipto menjadi salah satu dosennya. Dewan Kurator AISA terdiri dari
tokoh-tokoh Politbiro CC PKI, SOBSI, BTI. Rektor AISA adalah Bismar Oloan
Hutapea (meninggal ditembak dalam operasi militer di Blitar Selatan)
Pada tahun 1964 Bung Tjipto diangkat menjadi prorektor AISA. Dengan
kedudukannya yang penting ini jelaslah bahwa ia punya hubungan dan kegiatan
yang erat dengan pimpinan PKI lainnya, seperti D. N. Aidit, MH Lukman,
Njoto, Sudisman, Sakirman, Hutapea dan banyak kader-kader tinggi PKI
lainnya, yang sebagian terbesar dibunuhi tanpa pengadilan atau meninggal
dalam tahanan.
Waktu kejadian peristiwa 30 September Bung Tjipto tidak ada di Indonesia.
Pada bulan Juli 1965 Bung Tjipto berangkat ke DDR (Jerman Timur) atas
undangan Institut Ilmu Sosial di Berlin. Tetapi setelah AISA diobrak-abrik
dalam peristiwa 30 September dan AISA menjadi institut pendidikan pertama
yang dilarang oleh Orde Baru, tertutuplah kemungkinan baginya untuk pulang
ke tanah air. Mulailah masa pengembaraannya selama puluhan tahun, dan
akhirnya Bung Tjipto bermukim di Nederland.
Dengan berpaspor warganegara Belanda Bung Tjipto sudah berkali-kali ke
tanahair, untuk menemui istrinya, Siti Tojimah, kawan seperjuangannya, yang
pernah aktif di Gerwani dengan mendirikan Taman Kanak-Kanak. Istrinya
meninggal dunia dalam tahun 2006 karena sakit yang ditanggungnya sejak lama.
Sejak Bung Tjipto bermukim di Nederland maka ia tetap meneruskan berbagai
kegiatan revolusionernya bersama-sama dengan teman-teman seperjuangannya
untuk menentang politik rejim militer Suharto, dan menggalang solidaritas
dengan bermacam- macam gerakan kiri atau progresif di berbagai negeri.
Bersama-sama kawan-kawan seperjuangannya dari Indonesia yang lain ia
mendirikan Yayasan Studi Asia (« Stichting Azie Studie ») dimana ia menjadi
Ketua Pengurusnya. Dalam jangka lama ia menjadi anggota aktif dari Komite
Indonesia yang dipimpin oleh Prorf Wertheim dan Go Gien Tjwan, dua
sahabatnya sejak lama.
Ia menjadi anggota aktif dan sesepuh dari Perhimpunan Persaudaraan di
Nederland, suatu perkumpulan besar dari orang-orang kiri yang terhalang
pulang dan warganegara Indonesia dan Belanda lainnya. Ia termasuk rajin
menghadiri pertemuan-pertemuan dari Perkumpulan Persaudaraan ini, dan
berkali-kali menjadi pembicara atau ikut dalam kegiatan-kegiatan lainnya. Ia
termasuk orang yang dituakan dalam perhimpunan persaudaraan ini.
Juga dengan Lembaga Pembela Korban 65 Nederland ia mempunyai hubungan yang
erat untuk bekerjasama mengenai berbagai kegiatan, di samping dengan Amnesty
International Nederland. Dengan CPN (Partai Komunis Nederland) Bung Tjipto
mempunyai hubungan dengan kenalan-kenalan lamanya.
Dari itu semua (walaupun serba singkat-singkat saja) kelihatan bahwa Bung
Tjipto adalah seorang tokoh intelektual revolusioner, seorang senior dalam
gerakan kiri Indonesia, yang sejak muda seluruh hidupnya diabdikan kepada
perjuangan untuk kemerdekaan bangsa dan pembebasan rakyat dari segala
penindasan, untuk terwujudnya masyarakat adil dan makmur seperti yang
dicita-citakan oleh Bung Karno.
Ia sudah berusaha mempraktekkan pandangan hidupnya, sebelum peristiwa 65,
dengan menyatukan diri dengan gerakan kiri di Indonesia, sehingga ia
termasuk ke dalam jajaran kepemimpinan yang senior. Sedangkan ketika ia
terpaksa hidup di perantauan puluhan tahun ia tetap terus.melakukan
berbagai macam kegiatan yang berkaitan dengan perjuangan rakyat untuk
menegakkan demokrasi dan membela HAM.
Dalam melakukan berbagai kegiatan selama puluhan tahun di perantauan ini,
Bung Tjipto selalu kelihatan mengambil sikap « low profile » atau tidak mau
menonjol. Sering sekali ia bertindak atas usul atau anjuran berbagai kawan
serjuangannya atau sahabat-sahabat terdekatnya, dan menurut kebutuhan
situasi.
Karena kedudukannya yang termasuk « top » dalam gerakan kiri di Indonesia
sebelum peristiwa 65, dan juga karena ia selalu mengikuti dari dekat
perkembangan situasi di tanahair (melalui internet, pers Indonesia dan
kontak-kontak dengan berbagai kalangan di Indonesia) ia sering dimintai
nasehat atau pendapat, ceramah, temuwicara atau partisipasi dalam berbagai
pertemuan. Begitulah maka Bung Tjipto menjadi tokoh yang dituakan atau
sesepuh oleh banyak kalangan.
Selama puluhan tahun saya sendiri sering melakukan kegiatan bersama untuk
macam-macam soal, dan karenanya merasa dekat dengannya. Barangkali karena
itu pulalah maka saya diminta oleh keluarganya (anak-anaknya) untuk juga
mengucapkan kata-kata perpisahan dalam upacara pemakamannya pada tanggal 26
Januari 2010 di Rotterdam itu.
Bagi saya pribadi, seperti halnya bagi banyak orang lainnya yang mengenal
apa yang sudah dilakukan dalam hidupnya, merupakan kehilangan seorang yang
pantas menjadi panutan dan juga teladan.
Selamat jalan Bung Tjipto, kita semua selalu mengenangmu !
Paris, 31 Januari 2010
PS. Secara tersendiri disajikan teks yang saya bacakan dalam upacara
pemakaman Bung Tjipto di Rotterdam tanggal 26 Januari 2010 di samping teks
Bung Ibrahim Isa (pengurus Yayasan Wertheim) dan Sungkono yang mewakili
Perhimpunan Persaudaraan di Nederland.
= = = =
)
[Non-text portions of this message have been removed]