Dari temen di milist sebelah:
Catatan-catatan Dahlan Iskan sangat menarik untuk dibaca.
Meskipun sudah menjadi orang nomor satu di PLN, beliau masih tetap sempat
menulis.
Kali
ini dia berbagi cerita tentang pengalamannya menelusuri penyebab mati
listrik 10 jam di Surabaya, dari sudut pandang seorang "wartawan".
Wassalam
RR
Senin, 01 Februari 2010 , 07:48:00
Mati listrik 10 Jam di Surabaya?
Catatan: Dahlan Iskan
RASANYA tidak masuk akal. Apalagi, itu terjadi di akhir bulan Januari
2010 di saat semestinya tidak mungkin terjadi listrik mati begitu
lamanya. Tapi, itulah kenyataannya. Tanggal 30 Januari 2010 kemarin,
ada satu kawasan kecil di Surabaya (tepatnya di sebuah RT di Tenggilis
Mejoyo, Surabaya) listrik mati sejak jam 15.00 dan baru hidup pada
pukul 24.00.Itu saya ketahui dari SMS yang masuk ke HP saya. Saat itu
masih jam 17.00, berarti mati lampunya sudah dua jam. Saat itu saya
lagi di ruang rapat kantor PLN pusat. Saya lagi membaca sebuah konsep
perubahan pelayanan pelanggan PLN yang tenunya juga membahas soal mati
lampu yang menjadi keluhan utama pelanggan. Menurut konsep tersebut
penyebab utama kejadian mati lampu yang bersifat lokal seperti di
Tenggilis tersebut umumnya akibat kerusakan trafo 200 kva (trafo untuk
melayani sekitar 200 sampai 500 rumah).
Ketika saya tiba di Surabaya Jumat tengah malam, saya bertekad
keesokan harinya, saya harus ke lokasi yang mati lampu itu. Saya harus
tahu secara detil apa yang terjadi di Tenggilis Mejoyo tersebut. Ini
penting karena semua kasus mati lampu di mana pun kira-kira penyebabnya
sama. Kalau saya bisa menghayati apa yang terjadi di tenggilis tersebut
tentu saya bisa memperoleh gambaran begitulah yang terjadi di seluruh
Indonesia. Sebenarnya, saya sendiri bertekad tidak akan mendalami dulu
masalah-masalah distribusi dan pelayanan pelanggan seperti ini. Saya
berencana baru akan mendalaminya mulai bulan April mendatang. Yakni
harus menyelesaikan dulu masalah-masalah yang terjadi di hulu dan yang
lebih mendasar. Misalnya soal kekurangan gas 1 juta mmbtu setiap hari.
Atau bagaimana mengatasi kekurangan daya (strum) di luar Jawa. Atau
bagaimana melakukan perbaikan sistem pengadaan barang/jasa yang harus
lebih hemat. Tahun ini PLN harus membeli barang/jasa sebesar Rp70
triliun lebih. Alangkah besarnya. Saya ingin agar pembelian tersebut
jangan sembarangan. Perlu langkah penghematan yang nyata dalam
membelanjakan uang sebanyak itu.
Kalau masalah-masalah mendasar tersebut sudah tertata, barulah saya
bertekad untuk mendalami persoalan yang menyangkut peningkatan
pelayanan pelanggan.
Tapi kejadian mati lampu di sebuah RT di kota
besar seperti Surabaya selama 10 jam yang tidak masuk akal itu membuat
saya harus mengetahui detil persoalannya. Mungkin saya belum akan
melakukan perbaikan, tapi setidaknya sudah mengetahui akar
masalahnya.Apalagi beberapa masalah mendasar memang sudah berhasil
ditata. Perjuangan untuk pengadaan gas yang bisa menghemat dana Rp 15
triliun pertahun itu sudah menunjukkan hasil. Pemerintah sudah
memutuskan bahwa mulai bulan September tahun depan PLN bisa mendapatkan
kekurangan seluruh gas yang diinginkan. Gambaran bagaimana mengatasi
krisis listrik luar Jawa juga sudah selesai dipetakan dan dibuatkan
road-mapnya. Bahkan sistem baru pengadaan barang/jasa juga sudah mulai
berjalan. Hasilnya luar biasa: pengadaan barang strategis pertama yang
kami lakukan minggu lalu (satu jenis barang saja) sudah bisa menghemat
Rp50 miliar lebih. Barang yang dulu harus kita beli dengan harga Rp120
miliar/buah, dengan sistem baru itu bisa kita beli dengan harga Rp65
miliar/buah. Hemat Rp55 miliar untuk satu barang.
Maka ketika ada berita mati lampu selama 10 jam di sebuah RT di
kota besar seperti Surabaya, saya menyelipkan agenda ini di sela-sela
kesibukan saya yang sangat padat selama satu bulan menjabat Dirut PLN
ini. Tidak masuk akal ada peristiwa mati lampu 10 jam! Tapi itulah
kenyataannya. Saya khawatir kejadian ini tidak hanya terjadi di
Tengglis Mejoyo. Saya khawatir kejadian serupa juga terjadi di Bekasi,
Bantul atau daerah lainnya. Apa yang sebenarnya terjadi? Sabtu pagi,
jam 06.30 WIB, saya minta salah seorang manajer PLN menemani saya ke
Tenggilis Mejoyo. Saya hanya mau ditemani manajer yang paling bawah
yang tahu persis keadaan lapangan. Tidak perlu ditemani para pimpinan
PLN tingkat atas. Toh saya tidak bermaksud melakukan inspeksi atau
sidak. Saya benar-benar hanya ingin belajar memahami apa yang terjadi,
mengapa terjadi dan apakah bisa dicarikan jalan keluar yang sifatnya
lebih mendasar dan lebih berlaku umum. Yakni jalan keluar yang bisa
ditrapkan untuk mengatasi persoalan yang sama di seluruh Indonesia.
Mula-mula saya minta diantar ke sebuah rumah pelanggan di Tenggilis
Mejoyo yang lampunya mati 10 jam itu. Saya ingin menelusuri persoalan
dari yang paling bawah sampai yang paling pokok. Di rumah pelanggan itu
saya minta ditunjukkan sistem kabelnya. Lalu ke mana alirannya. Terus
ke mana lagi dan ke mana lagi. Sampai akhirnya ke gardu induk.Kabel
listrik di sebuah rumah selalu berasal dari satu tiang yang ada di
depan rumah tersebut. Inilah yang disebut tiang TR (tegangan rendah).
Saya menyebutnya tiang pembagi. Satu tiang seperti ini melayani 6 atau
8 rumah. Di ujung atas tiang TR tersebut ada 8 buah konektor.
Masing-masing untuk satu rumah. Kalau misalnya ada kejadian hanya satu
rumah yang mati lampu, maka persoalannya ada di konektor ini. Biasanya
konektor ke rumah tersebut terbakar.
Penyebab terbakarnya konektor adalah karena "gigitan" konektornya
merenggang. Karena renggang itulah maka konektornya panas sekali, lalu
terbakar. Mengapa "gigitan" konektor itu merenggang? Ini umumnya
disebabkan saat pemasangannya dulu kurang teliti dan kurang sempurna.
Dalam satu kawasan setingkat kira-kira satu kecamatan, terjadi
kebekaran konektor rata-rata 10 kali sehari. Karena pemasangan konektor
itu dilakukan oleh kontraktor, maka persoalan pokoknya adalah:
bagaimana PLN harus mengontrol para kontraktor.Dari tiang-tiang TR
tersebut saya terus menelusuri dari mana kabelnya berasal. Maka
penelusuran sampailah ke trafo 200 kva. Yakni trafo berbentuk kotak
besi yang biasanya dipasang di pinggir jalan, di sela-sela dua tiang
yang berjarak sekitar 1,5 meter. Trafonya sendiri ada di bagian atas,
sedang kotak besinya itu instalasinya.
Satu trafo ini melayani sekitar 30 sampai 50 tiang TR. Dalam hal
kejadian mati lampu 10 jam di Tenggilis Mejoyo tersebut penyebabnya
adalah rusaknya trafo 200 kva ini. Yakni sebuah trafo di pinggir jalan
di dekat sebuah sekolahan.Mengapa trafo ini rusak? Lama saya berada di
trafo ini. Tapi tidak berhasil mendapat jawaban. Trafo yang rusak itu
sudah dilepas dan sudah dibawa ke gudang di Sukolilo. Saya hanya bisa
melihat trafo yang baru yang sudah terpasang. Apakah trafo yang
dipasang ini sama dengan trafo yang rusak? Dari segi spesifikasinya
sama. Tapi merknya berbeda. Oh, saya tahu bahwa ada merk-merk tertentu
yang kualitasnya lebih rendah dari merk-merk lainnya. Ini persoalan
mendasar yang harus dipecahkan kelak: bagaimana memilih trafo yang
baik.
Tapi mengapa mengganti trafo seperti ini memerlukan waktu mati
lampu sampai 10 jam? Bukankah cukup 3 jam? Ternyata ada persoalan lain:
PLN baru tahu kawasan itu mati lampu setelah jam 19.00! Padahal matinya
sudah sejak jam 15.00. Berarti ketika mati lampu sudah berlangsung
selama 4 jam belum ada yang tahu. Seperti orang stroke yang mati di
dalam kamar mandi saja.
PLN baru tahu kalau ada kematian mendadak itu setelah seorang warga
Tenggilis mengadu ke kantor PLN pada jam 19.00. Alangkah
mengecewakannya. Sudah mati selama 4 jam PLN belum tahu. Warga tentu
mengira PLN sudah tahu. Sedang PLN mengira sepanjang tidak ada warga
yang mengadu, berarti tidak ada yang mati. Oh, saya tahu ada masalah
berat di sini: masalah komunikasi dan sistem komunikasinya.Maka saya
bertanya ke petugas PLN yang mendampingi saya. Yakni Ir Mukhtar yang
lulusan fakultas elektro Unhas: mungkinkah di dalam kotak trafo
tersebut dipasangi komputer sehingga kalau trafonya rusak PLN otomatis
tahu? Sehingga tidak perlu menunggu ada warga yang mengadu?
Ir Mukhtar memang bukan orang yang harus bertanggungjawab di
kawasan itu. Wilayah tugasnya di Sidoarjo. Tapi hari itu dialah yang
bisa mendampingi saya. Jawab Mukhtar ternyata mengejutkan saya. Petugas
PLN tersebut punya solusi yang lebih sederhana. Sebuah solusi yang dia
sudah tahu tapi tidak berdaya untuk melakukannya. Dia mengusulkan agar
di luar kotak trafo 200 kva tersebut dipasangi meteran digital.
Tujuannya banyak: bisa memberi sinyal kepada bagian pengaduan PLN, bisa
melaporkan kondisi trafo setiap saat dan bisa pula mengontrol beban di
wilayah itu sehingga bisa langsung tahu kalau terjadi kasus kelebihan
beban. Oh, saya tahu: ada teknologi yang bisa mengatasi kematian yang
diketahui orang seperti itu.
Mengapa sebuah trafo hanya melayani 50-an tiang konektor? Tidak
bisakah beberapa trafo 200kva itu digabung ke sebuah trafo yang lebih
besar? Agar jumlah trafo tidak terlalu banyak sehingga mengontrolnya
lebih mudah? Ini menarik untuk diperdebatkan. Tapi saya memaklumi
mengapa trafo kecil banyak dipakai.Trafo kecil itu mula-mula diperlukan
karena dulunya perumahan di situ masih sedikit. Kian lama rumahnya kian
banyak. Trafo kecil itu tidak cukup lagi. Lalu dibangun trafo kecil
lainnya tidak jauh dari situ. Tapi jumlah rumah masih terus bertambah
lagi. Maka trafo pun ditambah lagi, ditambah lagi. Begitulah seterusnya
sehingga terlalu banyak trafo kecil di mana-mana. Terlalu banyaknya
trafo kecil 200kva itu membuat kontrol dan pemeliharaannya kian sulit.
Rupanya karena itu kontrol dan pemeliharaan trafo ini diserahkan ke
pihak swasta. Out sourching, istilahnya. Apakah trafo ini
pemeliharaannya cukup? Petugas PLN yang mendampingi saya mengatakan
sudah cukup. Swasta yang melakukan pekerjaan itu selalu melaporkan
datanya.
Hanya saya agak kaget ketika diberitahu bahwa kontrol yang
disebutkan cukup itu ternyata ini: enam bulan sekali. Itulah kontrak
yang dilakukan antara PLN dengan swasta yang melakukan tugas kontrol
itu. Oh, saya tahu: saya harus belajar banyak lagi apakah kontrol trafo
setahun dua kali itu cukup? Apakah laporan hasil kontrol itu juga
dikontrol dengan baik?
Saya lalu minta diantar ke gudang yang dipakai menyimpan trafo
rusak tersebut. Letaknya cukup jauh tapi penelusuran ini harus sampai
pada ujungnya. Di gudang inilah saya melihat bahwa trafo yang rusak
tersebut masih teronggok di luar gudang. Masih belum dianalisa apa
penyebab kerusakannya. Mungkin juga tidak pernah dianalisa. Trafo ini
dari jenis/merk yang kurang disukai oleh para operator PLN karena tidak
sebagus trafo yang lain. Tapi dia tidak berdaya untuk tidak memakainya
karena urusan memilih trafo bukan kewenangannya. Dari penelusuran
kabel-kabel mulai dari rumah pelanggan sampai gardu induk tersebut saya
benar-benar belajar sistem distribusi listrik yang sangat mendasar.
Terlalu banyak ide untuk mengubahnya. Tapi saya mengambil kesimpulan
tetap lebih baik kalau saya memprioritaskan pembenahan hulu-hulunya
dulu. Maafkan saya. Pembenahan di hilir tidak akan ada artinya (bahkan
membuat frustrasi saja) kalau hulunya belum dibenahi dulu. Begitulah
urutan berpikir dan bertindaknya.**
[Non-text portions of this message have been removed]