Tayeb Thizini; Marxisian Islam yang Visioner

 

 

“Saya melihat
Tizhini, merupakan, salah satu pemikir Marxis yang lebih visioner jika
disandingkan dengan pemikir Marxis lainnya, semisal Mahmud Ismail, Kholil abdul
karim atau, bahkan, Husein Muruwwah. Karena selain menyajikan pendekatan plural
dalam memandang Islam sehingga tercipta pola pandang yang baru juga, Tayeb juga
memberikan solusi praktis bagaimana Ummat Islam sekarang melangkah ke depan
untuk mewujudkan “kebangkitan dunia Muslim” secara lebih cepat dan tepat”,
begitu awal komentar rekan Ahmad Hadidul Fahmi dalam diskusi regular Lakpesdam.
Diskusi ini melanjutkan mega proyek sebelumnya:  “Kritik Atas Kritik Pemikir 
Kontemporer di
Dunia Arab Islam”, sebagai awal pembuka diskusi setelah Imtihan term I
selesai, berlangsung di Sekretariat PCINU Mesir, kemarin: Senin, 15 Februari
2010. Presentator ini kali, rekan Nur Fadlan dan Rekan Ronny El Zahro diamahi
sebagai pemandu diskusi, moderator.

 

 

Paradigma Baru Pemikiran Arab-Islam

 

Di awal presentasinya,
rekan Fadlan memaparkan, bahwa menjadikan pemikiran Tayeb lebih sistematis 
dalam suatu makalah
bukan lah hal yang mudah. Selain, rumitnya pola bahasa
dan pemilihan diksi yang dipakai, juga bejibunnya karya beliau. Dalam 
presentasinya, setidaknya ada beberapa hal penting yang dikemukakan
rekan Fadlan: sisi baru formula pemikiran Tayeb dan titik lokus bidikan beliau,
yaitu, kebangkitan Arab-Islam dan memurnikan kembali renaissance kepada
semangat aslinya. Selain itu, metode pendekatan yang dipakai relatif lebih riil
dan secara praktis langsung berhubungan dengan kondisi sosial-masyarakat kala
itu, dialektika-historis-materialis dan dialektika-idealis milik Hegel; baik
dari segi politik, ekonomi dan budaya. Semerta di akhir presentasi rekan Fadlan
mecoba mengkomparasikan Tayeb Thizini dengan pemikir-pemikir Arab-Islam
lainnya, M. Abid al Jabiri sebagai misal.

 

“ Thizini lahir
di Homs, Suriah pada tahun 1934 M. Ia mendeklarasikan diri sebagai pendukung 
Marxisme. Setelah SD, dia pergi ke Turki, Britania dan, terakhir, Jerman
untuk belajar. Dia meraih gelar P.hd, doktoral, dua kali, pada tahun 1967 dan
1973 dalam bidang filsafat di Jerman. Salah satu disertasinya berjudul: Tamhîd
li falsafah Arabiyyah al Wasîd. Dalam memformulasikan pemikirannya yang
terdiri dari dua belas bagian itu, setidaknya terdiri dari dua fase di dalam
tipologi pemikiran Tayeb. Fase pertama, Ia berhasil menulis Al Fiqr al-
Arabi fî Bawakirah wa Afâqoh al-Ûlâ (1982), Man Yahûhu ilâ Allah(1985)
dan Muqadimah Awaliyyah Fî al-Islam al-Muhammadi al-Bakir(1994). Di fase
kedua, ia memilih lokus pada isu-isu Renaissance. Dalam lokus ini, sebenarnya 
hemat kami, ingin menularkan semangat Renaissance kepada individu-individu
Arab Islam, semerta mengembalikan semangat Renaissance
dalam aslinya, pencerahan”, ujar Fadlan. Selain itu,
terdapat master piece beliau yang wajib dibaca dan ditelaah lebih
lanjut: masyru’ ru’yah Jadidah lil Fiqr al Arabi fî al Asri al Wasid dan
Masyru’ ru’yah Jadidah: Min Al Turats ila Tsaurah; Haula Nadhariyah Muqtarihah
fi Al Turats al Arabi.

 

Sedangkan,
lanjutnya, dalam metode pendekatan dalam bukunya al-Tharîq al-Wudluh
al-Manhajî (Beirut;1989) dijelaskan bahwa ada pluralitas pendekatan dalam
mengalisa objek kajiannya. Meski demikian, terlihat, prioritas yang dipakai
yaitu dealektika-historis-materialistis dan dealektika-idealis, sembari 
sesekali ‘lompat’ pendekatan, semisal, strukturalis atau pun positivistik.
Oleh karena adanya pluralitas pendekatan inilah, ada konklusi menarik dalam
menganalisa sejarah Islam, dan patut untuk diperhatikan, Dr. Tayeb mengemukakan
bahwa sejarah Islam itu orisinil. Selain itu, beliau mengakui akan wahyu dan 
kenabian
Muhammad Saw tanpa ada syak wasangka. Hemat penulis, ini bisa dipahami
dengan baik dan proporsional. Adanya pola pendekatan tak tunggal, maka karakter
de Mistifikasi pada metode dealektika-historis-materialistis, bisa ditelikung
dengan mistifikasi punya Hegel. Juga dalam konklusi yang lebih jauh, seperti
yang tertulis di atas, sejarah Arab-Islam itu tak terpengaruh oleh yang lain,
Yunani, Persia dll. Alias orisinil-murni.

 

Di penghujung
presentasi, rekan Fadlan menyampaikan analisa sosial Tayeb Thizini yang
dikomparasikan dengan pendekatan Abid Al Jabiri. “ Thizini mempunyai analisa
Sosial yang sangat tajam, dealektis dan jeli akan
keadaan. Ia benar-
benar bisa memilah, memilih secara proporsional antara
yang Ideal (Islam) dan “material”. Sehingga secara tak sadar menjauhkan akan
hal-hal yang metafisik-metafisik. Dan penting
untuk diperhatikan pola analisa seperti ini mudah dipahami oleh “khalayak
ramai”. Hal ini berbeda dengan pola pendekatan sosial milik al Jabiri. Menurut
rekan fadlan, Jabiri, dengan pendekatannya terlampau ‘melangit’ efek negatifnya
hanya dipahami oleh Individu-individu yang terbatas, sedikit orang saja.
Demikian ini, dipermudah pula akan semaraknya pemikir-pemikir yang menggunakan
pendekatan-pendekatan yang serupa, dealektika-historis-materialistis. Seperti,
Khalil Abdul karim, Salamah musa, Husein Muruwwah.

 

Tiga puluh
menit saudara Fadlan mempresentasikan makalah sebanyak dua puluh lembar itu,
dengan apik. Usai tepat pukul 17.30 waktu Kairo. Sebelum beranjak ke
rekan-rekan lainnya, untuk memberi komentar, mengkritisi dan, atau saling tukar
pemahaman serta mendiskusikan jika terdapat friksi-friksi, baik dalam bacaan
atau pun sumber bacaan, rekan-rekan sepakat istirahat untuk melakukan ‘ritual’
shalat maghrib berjama’ah.

 

 

Negasi-Negasi Positif

 

Rekan Khozin,
berdasar presentasi Fadlan dan membaca makalah yang dihadirkan, sedikit sangsi
dengan Tayeb. “Jangan-jangan metode dialektis-historis
meterialistis itu hanya kedok belaka. Karena tak ada deferensiasi jelas apa
yang dimaksudkan ‘materi’ menurut Tayeb ini. Padahal, materi, merupakan hal
yang fardlu untuk memberikan justifikasi bahwa dia menggunakan marxisme
secara konsisten atau cover belaka”, selorohnya kala mendapat kesempatan
pertama untuk memberi komentar dan mengkritisi makalah dan Tayeb Thizini. Lebih
jauh, meskipun di makalah ini disuguhkan pertentangan kelas, jeda pembeda
antara proletariat dan bourgeois, begitu pun kolonialisasi secara
semena-mena, tapi, jika kita komparasikan dengan Madilognya Tan Malaka, hal-hal
yang itu bukan yang ‘primer’, bukan prioritas. Justru identifikasi pemaknaan
terhadap materi-lah, ‘jenis kelamin’ Tayeb ini bisa jelas. Juga pembeda, dalam
segi metode pendekatan, antara Marxian dan Hegelian. Atau, Marxian dengan
pendekatan lainnya. Ini yang perlu diperjelas, diperbincangkan secara mendalam
lagi, menurut Khozin dipo.

 

Sementara itu,
kalau rekan Fadlan mengkomparasikan dengan al Jabiri kala membaca Tayeb
Thizini, Fahmi Farid purnama mencoba membandingkan dengan Thaha Abdurahaman,
dengan bukunya Tajdîd al Manhaj fî Taqwîm al Turats. “Jika dibandingkan,
milik Tayeb itu, rentan ada kecacatan epistemologis, terutama kala digunakan
membaca sejarah Arab Islam. Karena dalam pendekatan Thizini dalam keadaan
tertentu dituntut untuk “tidak menghadirkan fakta-fakta sejarah secara
telanjang”, dan hal ini menyebabkan problema akut kemudian. Ini nyaris berbeda
sama sekali jika metode Thaha Abdurahman yang diletakkan untuk menganalisa”,
begitu papar Farid Purnama.

 

Rekan Nora,
mencoba mencari genealogi pemikiran pemikir Syuria itu, Tayeb Thizini. Dengan 
mengambil kata kunci kala prensentasi
rekan Fadlan, bisa dijadikan titik simpul, yaitu, “sejarah tak muncul dalam
ruang yang hampa”. Lebih dalam lagi, hemat Nora, setidaknya, secara tak
langsung, mempunyai kedekatan pemikiran dengan Hegel, Kant dan Descartes di
Idealisnya. Sedang dalam tataran praktis-materialistis, kang Tayeb ini, taat
pada Karl Marx dan Feurbach, khususnya dalam de Mistifikasi dalam segala
bidang.  Senada dengan Nora, Subhan
Azhary memberikan penjelasan yang menakjubkan. Menurutnya, Tayeb Thizini, kalau
diletakkan dalam spektrum Teologi-falsafi masuk kategori waqiiyyah.
Lebih percaya pada hal-hal yang nyata, telihat dan realistis; untuk mengukuhkan
pendapatnya, subhan, menyitir salah satu Ayat al Qur`an.

 

Kemudian, masih
menurut Subhan, model pemikiran seperti Tayeb Thizini ini sungguh bermanfaat 
bagi
khalayak Islam secara umum, dengan alasan, mereka saat ini dihinggapi dengan 
segala sesuatu yang serba mistis dan repetitif. Sifat
dasar pendekatan Thizini yang revolusioner itu akan memberikan mental positif
untuk kebangkitan umat Islam. Lebih jauh, rekan Subhan sepakat dengan Thizini 
kala mengkritisi
Orientalis dan kaum Barat: Islam runtuh, jatuh dan terbelakang ini bukan karena
kurang rasional, dekat dengan takhayul atau pun jauh dari modernitas
tapi lebih diakibatkan kolonialisme-penjajahan yang terlampau lama sehingga,
sudah “mendarah daging”. Dampak negatif yang jelas terlihat tentu pada segi
akademis dan ekonomi yang jauh tertinggal. Padahal keduanya merupakan apa yang 
lazim disebut kebangkitan, kemakmuran dan pencerahan. 

 

Begitu pun para
Orientalis mempelajari budaya Timur itu, Islam, hemat Tayeb bukan untuk 
objektivikasi
terhadap Islam atau tanggung jawab ilmiah, namun hanya untuk mengukuhkan
dominasi kaum bourgeois atas kolonialisasi dan penjajahannya kepada kaum
proletariat, Arab Islam. “Dalam keadan yang seperti ini, Tuhan kaum 
miskin-tertindas
itu bukan Allah Swt, Yesus, atau pun yang mistis-mistis itu, tapi Tuhan mereka
adalah roti, beras, susu dan kebutuhan pokok lainnya. Di sinilah ketepatan 
analisa Thizini kala membaca fenomena realitas sosial
kala itu”, tegas Subhan sembari mengakhiri kesempatan bicara yang ada padanya.
Hal senada terlontar dari rekanita Mey Rahmawati.

 

Hal berbeda
hadir di Nova, dan rekan Ahmad Muhammad. Di sini mereka berdua nyaris sama 
komentarnya. Menurut mereka, Hal menarik
dari Tayeb Thizini adalah,
dia mencoba mengawinkan
antara Filsafat dan Agama, serta dikaitkan dengan fenomena-fenomena yang
mengitarinya. Sekilas sama persis dengan Ibn Rusyd dengan Fashl
al-Maqâlnya, kata mereka. Padahal kalau dicermati
lebih mendalam akan berbeda 180 derajat. Benar Ibn
Rusyd mengkawinkan antara agama dan Filsafat, tapi berbeda dalam konklusinya. 
Thizini menarik titik simpul konklusi hasil akhir pengkawinan agama dan
filsafat, serta dikaitkan dengan fenomena-fenomena yang mengitarinya adalah 
“Mitos”. Dan
ia tidak berhenti di situ, mitos tidak dilihat ‘telanjang’ begitu saja. 
Sebagaimana Muhammad
Arkoun, Mitos diletakkan secara proporsional, yakni pada manfaat sosial yang
dihasilkan. Disitulah peran penting mitos, khususnya di dunia Timur.

 

Sebelum
komentar terakhir dari rekan Fahmi, rekan El Zahro meminta kesempatan berbicara
sebentar.
Merunut tahun akademis Tayeb Thizini, wajar jika dia bisa
secara leluasa menggunakan pisau analisis yang bermacam, tak tunggal. Karena
kala itu, titik tolak pergeseran, khususnya di Jerman, madzhab Frankfurt, dari
Marxisian murni ke post-marxisme. Hal ini bisa mudah dijumpai pisau analisa
pemikir yang melangit kala itu, semisal Jurgên Habermas teori komunikasi dan
filsafat bahasa, Hannah Arendt di dalam teori politik dan analisa bahayanya 
indoktrinasi
semerta fundamentalisme nilai-nilai, begitu pun, Adorno dan Laclau. Ciri corak
pemikiran Madzhab Frankfurt kala itu, secara Umum, mencoba mendialektikakan 
Antara Karl mark dan Hegel. Kemudian dalam analisa ilmiah, mencoba
mengikis dominasi Politik praktis dan Ekonomi, hal yang biasa menjadi dominasi
“Marxisian yang tawadlu”. Ciri selanjutnya,
meleburkan secara luruh Mistifikasi dan de Mistifikasi kepada objek pendekatan
dengan proporsional. Tak memaksakan pisau analisis. Bahkan tak jarang
‘melompat’, menggunakan metode pendekatan yang lebih sesuai walau tak jadi
prioritas.

 

Lebih mendalam,
rekan Hadidul Fahmi mencoba menjernihkan dialektika Turats, sejarah
Islam dan Fenomena-fenomena sosial. ”Thizini melihat, sejarah dan turâts 
mempunyai
muatan yang berbeda. Hal ini hadir dengan sederhana. Sejarah berhubungan dengan
masa lalu, dan akan habis sampai pada batas waktu tertentu: masa sekarang.
Sedang turâts menjadi jembatan penghubung antara masa lalu dan sekarang.
Nah, dialog antara sejarah dan masa kini bisa terlaksana lewat turâts.
Menurut Thizini lagi, bahwa massa mempunyai dua dimensi: istimrâriyah
dan allâ istimrâriyyah. Kontinuitas dan diskontinuitas merupakan
perpaduan dari sejarah dan turâts, yang titik tolaknya adalah kejadian
dalam satu masyarakat pada masa lampau. Dari sini muncul idenya tentang 
Dialektika-Histo-turatsi
(jadaliyyah târîkhiyyah turâtsiyyah), yang dijadikan pisau analisis.
Sejarah dan turâts harus dikaji secara komprehensif. Keduanya selayak
mata rantai yang tidak bisa terpisah satu dengan yang lain. Artinya, turâts 
harus
diletakan dan dikaji dalam frame proses dialektika sejarah. Dan ketika
'dialektika' dibubuhi dengan 'materialisme', maka yang dikehendaki adalah
dialektika versi Marx yang menempatkan sepenuhnya dialektika pada materi dan
menjadikan materi sebagai titik sentral pandangannya tentang sejarah manusia.
Selain itu, Thizini sebenarnya mengakui pluralitas metode dalam proyeknya.
Terbukti, ia terkadang terlihat idealis dalam menganalisa sejarah Arab Islam.
Ia mengatakan, Arab-Islam tidak tepengaruh sama sekali dengan kebudayaan dari
luar: kebudayaan Yunani”, jelas Hadidul Fahmi.

 

Pada akhir
presentasinya, rekan Nur Fadlan memberikan catatan-catatan ringan atas makalah
dan presentasinya. “Struktur prosedural proyek Tayeb Thizini memiliki dua lokus
penting: pertama kebangkitan bangsa-bangsa Arab-Islam dan memurnikan kembali 
misi-visi Renaissance.  Ini adalah dialektika pembebasan dan perubahan
paradigma berfikir, bertindak guna mencapai konsesus yang “benar-benar baru”
dan meyakinkan bermanfaat secara cepat-praktis kepada ummat, ditengah
bangsa-bangsa Arab Islam sedang didera tantangan dan konfrontasi yang tak
berkesudahan. Tentu hal ini  akan berhadapan
dengan hambatan yang akan menghadang kemudian, diantaranya, Fundamentalisme, 
kaum “pemuja literal-teks” dan Islam
Politik. Tapi, perlu penulis akui, makalah sederhana ini tak lebih sebagai awal
batu tapal dalam kajian kritik Tayeb thizini dan masih jauh dari kesempurnaan.

 

 

***

 

Setelah hampir lima
jam, diskusi pun usai. Dilanjut pembahasan tema baru dan hari-waktu diskusi
selanjutnya. Hal ini dipimpin langsung oleh koordinator Lakpesdam, Ahmad 
Hadidul Fahmi.

 

Sementara ini
ada dua tawaran tema.
Yang pertama melacak
akar fundamentalisme agama besar, kedua,
mendedah pemikiran pemikir Arab-Islam
paska Jabiri, Arkoun, Khalil Abdul Karim, Nashr Hamid Abu Zaid, dll. Setelah 
terdapat penjelasan di masing-masing tema, dan melalui
pertimbangan matang dari semua rekan Lakpesdam, secara aklamasi diputuskan tema
selanjutnya, yaitu, mendedah pemikiran pemikir Arab-Islam yang baru-baru ini
mulai terdengar gaungnya di Timur Tengah. Nama-nama tersebut semisal Abu Ya’rab
al-Marzuqi, Thaha Abdurrahman, Musthafa Bouhindi, ‘Ali Harb, Yahya Muhammad,
dll. Sedang diskusi selanjutnya adalah “Kritik Proyel al-Tsâbit
wa al-Mutahawwil Adonis”, pada tanggal 28 Februari 2010. Pemakalah rekan Khozin,
 serta rekan Fahmi farid Purnama sebagai pemandu diskusi. [Ronnie]




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke