*KULIAH PUBLIK*

* *

*Akademisi Sastra vs Esais Sastra:*

*Mencari Jalan Tengah*

Dalam rangka *launching* buku *Darah-Daging Sastra Indonesia*



Bersama:

*Damhuri Muhammad*

(Esais, Cerpenis, Penulis *Darah-Daging Sastra Indonesia*)



Sabtu, 13 Maret 2010

19:00-21:00WIB di selasar JEC

================================================================
*
*

*Term of Reference*

*Akademisi Sastra vs Esais Sastra*

Mencari Jalan Tengah

Iklim kekaryaan, dalam sejarah sastra di belahan dunia mana pun, akan
semarak dan bergairah bilamana didukung oleh perkembangan kritik sastra yang
maju dan pesat. Namun, kenyataannya sedikit berbeda dengan iklim kekaryaan
dalam belantika sastra Indonesia mutakhir. Sebagian besar peneliti sastra
yang berlatar belakang akademik dan menguasai aspek metodologis dalam
melakukan berbagai kajian terhadap teks sastra, justru tidak tekun
menyiarkan ulasan-ulasan mereka di media-media publik─katakanlah di jurnal
sastra, majalah, dan surat kabar edisi Minggu. Hasil-hasil kajian mereka,
hanya dapat diakses segelintir mahasiswa di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya.

Sementara itu, para penyuka sastra sangat membutuhkan pemahaman yang
komprehensif terhadap teks-teks sastra yang mereka gandrungi. Sebagai
contoh, kenapa novel sejenis *Ayat-Ayat Cinta* atau *Laskar
Pelangi*sedemikian menggemparkan publik pembaca sastra di Indonesia?
Nilai dan
gagasan apa yang sesungguhnya telah memancing perhatian dan apresiasi
sedemikian rupa? Apakah novel-novel laku dengan serta-merta “sama dan
sebangun” novel bermutu? Dalam salah satu bagian novel *Laskar Pelangi*,
ditemukan sejumlah logika sesat, seperti penggambaran tentang anggota Laskar
Pelangi yang begitu gampang membaca dan memahami *Prinsipia Mathematika*,
karya Sir Isaac Newton. Padahal, ditimbang dari segi waktu pengisahan novel
itu (tahun 70-an), jangankan di Belitong (latar geografi dan demografi
Laskar Pelangi), di ITB pun pada masa itu belum tentu ada mahasiswa yang
sanggup memamahinya. Bahkan, kecil kemungkinan, magnum opus fisikawan besar
itu ada di Indonesia. Logika melenceng semacam ini semestinya dapat
diluruskan dengan ulasan-ulasan dari orang-orang yang setiap hari
bergelimang dengan kajian-kajian teks sastra. Namun, tidak banyak─untuk
tidak menyebut “tidak ada”─akademisi sastra yang terpanggil untuk menulis
ulasan tentang masalah itu.

Kekosongan semacam inilah yang kemudian diisi oleh para esais sastra yang
karya-karya ulasannya berhamburan di setiap koran Minggu. Sebagian besar
dari mereka sama sekali tidak berlatar belakang keilmuan sastra, minim
penguasaan metodologi, namun memiliki keterampilan literer yang memadai
dalam menggarap sebuah esai kajian sastra, hingga beroleh sambutan yang
hangat di kalangan penyuka sastra. Tak jarang, polemik dan perdebatan sengit
mengemuka, lantaran sebuah esai sastra yang berhasil memancing “kekisruhan”.
Akibat paling nyata dari “perselisihan” para esais sastra di rubrik Seni
sebuah koran minggu adalah berbondong-bondongnya para penyuka sastra datang
ke toko buku guna membeli novel yang sedang jadi perdebatan itu. Bukankah
ini akibat tak tersengaja yang lumayan menguntungkan, utamanya bagi penerbit
yang *concern* pada sastra?

Namun, persoalannya adalah, Akademisi Sastra dan Esais Sastra, sejak
beberapa tahun belakangan ini boleh dikatakan tidak pernah “rukun”. Begitu
tersiar sebuah ulasan tentang novel kontroversial *Adam-Hawa* karya Muhidin
M. Dahlan misalnya, segera muncul sentimentalisme dari kalangan akademisi
sastra, bahwa para pengulas itu abai pada aspek metodologis, tumpul pisau
analisis, hingga polemik tidak berkedalaman. Tapi, kenapa mereka tidak
turun-tangan dengan kajian yang lebih tajam dan menukik, sehingga dapat
memberikan pengaruh dalam proses kreatif selanjutnya?

Pertanyaannya, apakah kita akan membiarkan kesusasteraan Indonesia tumbuh
dan berkembang tanpa perkembangan kritik sastra yang konstruktif? Apakah
kita juga akan membiarkan para esais itu membincang teks sastra tanpa basis
akademik yang memadai? Bilamana para akademisi sastra tidak mungkin
menyiarkan ulasan dan kajian mereka di media-media publik─mungkin karena
ruang yang terbatas, atau karena tidak memiliki keterampilan literer guna
mendedahkan esai-esai yang renyah, dan gampang dicerna pembaca─dan
kekosongan itu diisi oleh esai-esai karya para “pengamat sastra jalanan”
yang tidak dapat dipertanggung jawabkan secara akademik, lalu apa jalan
tengahnya? Kuliah publik bertajuk “Akademisi Sastra vs Esais Sastra” akan
berikhtiar memikirkannya…..


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke