(Tulisan berikut ini juga disajikan dalam website
http://umarsaid.free.fr )
Peringatan 55 tahun Konferensi Bandung
Tidak lama lagi Konferensi Bandung (atau Konferensi Asia-Afrika), yang
diselenggarakan tanggal 18-24 April 1955 akan diperingati ulang tahunnya
yang ke 55. Untuk memperingati peristiwa besar yang sangat bersejarah bagi
berbagai rakyat di Asia dan Afrika ini , berbagai kegiatan sudah dan akan
diselenggarakan di berbagai negeri.
Umpamanya, di Prancis saja sudah diadakan berbagai kegiatan oleh banyak
fihak. Yang pertama pada tanggal 5 November 2009 diselenggarakan pameran
foto tentang konferensi ini di gedung KBRI Paris oleh berbagai organisasi di
bawah koordinasi Darwis Khudori, pengajar dan peneliti di Universitas Le
Havre (Prancis).
Pameran foto ini dibuka dengan malam pertemuan, dimana diundang untuk
berbicara wakil sejumlah organisasi di Paris. Ikut juga diundang dalam
pertemuan ini A. Umar Said sebagai seorang saksi dari konferensi yang
bersejarah ini, ketika waktu itu ia bekerja sebagai wartawan Harian Rakyat
(organ PKI) untuk membuat reportase-reportase sekitar peristiwa ini.
Sebagai pembicara utama tentang Konferensi Bandung, ia telah menguraikan
pentingnya sumbangan Bung Karno untuk berhasilnya konferensi besar ini.
Kuasa usaha KBRI di Paris juga ikut mengucapkan pidato untuk pembukaan
pameran foto ini. Untuk memeriahkan pertemuan pada malam itu telah
disajikan tari-tarian Indonesia yang dibarengi dengan gamelan.
Kegiatan lainnya adalah yang diadakan oleh kota besar Paris di bawah
pimpinan walikota Bertrand Delanoe, yang juga seorang pimpinan terkemuka
dari Partai Sosialis. Pada tanggal 22 Februari 2010 di ruangan besar Balai
Kota Paris telah diselenggarakan pertemuan dengan thema « Semangat
Konferensi Bandung. Akhir jaman koloniale ? Pembangunan ekonomi dan sosial
ataukah neokolonialisme ? »
Di antara pembicara-pembicara yang terdiri dari tokoh-tokoh terkemuka dan
ahli di berbagai bidang politik, ekonomi, sejarah, dan perjuangan untuk
pembebasan nasional berbagai negeri ini terdapat Hocin Aït Ahmad, pimpinan
Front Pembebasan Aljazair yang ikut menghadiri Konferensi Bandung lebih dari
setengah abad yang lalu. Darwis Khudori memberikan uraian tentang « Kemajuan
ekonomi Asia sesudah era Bandung »
Pertemuan besar di Balai Kota Paris dengan fokus pembicaraan soal-soal yang
berkaitan dengan Konferensi Bandung ini kemudian disusul oleh pertemuan
lainnya di Universitas Le Havre, kota pelabuhan yang besar di Prancis.
Pertemuan di Universitas Le Havre ini, yang dilangsungkan pada tanggal 12
Maret 2010 dari pagi sampai sore, selain dihadiri oleh para mahasiswa
jurusan bahasa Indonesia dan hubungan internasional, juga dihadiri oleh
sejumlah gurubesar dan dosen.
Dalam pertemuan di Universitas ini juga telah diundang A.Umar Said yang
telah menggunakan kesempatan ini untuk berbicara banyak tentang peran besar
dan penting yang telah dimainkan oleh Bung Karno. Bung Karno adalah
penggerak utama Konferensi Bandung di samping Nehru dan Nasser. Tanpa
kegigihan semangat anti-imperialisme dan anti-kolonialisme yang sudah
disandangnya sejak ia muda belia, tidak akan ada Konferensi Bandung.
A. Umar Said membeberkan juga pengkhianatan Suharto terhadap Bung Karno,
yang berarti bahwa Suharto juga mengkhianati perjuangan rakyat Indonesia
melawan imperialisme dan neo-kolonialisme serta perjuangan rakyat
Asia-Afrika lainnya.
Diadakannya tiga macam kegiatan untuk publik dalam waktu yang begitu singkat
oleh berbagai kalangan menunjukkan bahwa sejarah Konferensi Bandung mendapat
perhatian dari banyak orang di Prancis. Ini dapat dimengerti karena Prancis
pernah dalam jangka lama menjajah banyak sekali negeri di Afrika. Karena
itu, dengan adanya Konferensi Bandung pernah terjadi juga banyak goncangan
di opini publik, yang sejak itu menimbulkan banyak pernyataan, tulisan atau
komentar, dan penerbitan buku-buku dalam bahasa Prancis.
Bahan-bahan tentang Konferensi Bandung dalam bahasa Prancis ini sekarang
dapat didapatkan lewat Internet dengan membuka Google. Kalau mengklik Google
dan mengetik kata kunci « Conference de Bandung » maka akan tersedia segala
macam bahan tentang konferensi ini sebanyak 1.570.000 halaman. Kalau diketik
kata kunci « Sukarno conférence Bandung » tersedia bahan-bahan sebanyak
800.000 halaman.
Menurut informasi, peringatan 55 tahun Konferensi Bandung ini akan
dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan yang diadakan bersama UNESCO. Puncak
dari serangkaian kegiatan-kegiatan ini akan diselenggarakan di Indonesia
dalam bulan Oktober yang akan datang.
(Catatan tambahan : cuplikan dari isi pidato A. Umar Said di Universitas Le
Havre tentang Konferensi Bandung disajikan tersendiri, karena agak panjang).
* * *
Bung Karno tokoh utama Konferensi Bandung
Pengantar : Berikut di bawah ini adalah cuplikan dari pokok-pokok atau isi
uraian yang disajikan (dalam bahasa Prancis) oleh A. Umar Said, yang
diundang oleh Universitas Le Havre (Fakultas Urusan Internasional) pada
tanggal 12 Maret 2010, di depan para mahasiswa dan pengajar Universitas
tersebut. Teks ini juga ditampilkan dalam website http://umarsaid.free.fr
"Saya merasa bahagia mendapat kesempatan untuk berbicara di depan anda
semua mengenai Konferensi Bandung hari ini di Universitas Le Havre. Ada
beberapa alasan mengapa saya mengatakan bahwa saya bahagia dan juga bangga.
Antara lain, bahwa saya adalah salah satu dari banyak wartawan Indonesia
dan wartawan asing yang dapat tugas untuk membuat reportase tentang
konferensi besar ini yang bersejarah bagi perjuangan rakyat dari berbagai
negara untuk menentang imperialisme dan kolonialisme. Ketika Konferensi
Bandung diadakan di tahun 1955, saya bekerja sebagai wartawan Harian Rakyat,
organ resmi Partai Komunis Indonesia (PKI)
Seperti Anda semua tahu, sampai tahun 1965, Partai Komunis Indonesia adalah
yang terbesar di antara partai-partai komunis di seluruh dunia, di luar
negara sosialis atau komunis, dengan sekitar 3 juta anggota dan 20 juta
simpatisan. Partai Komunis Indonesia adalah pendukung yang sangat besar
politik atau ajaran-ajaran revolusioner dari Presiden Soekarno.
Jadi dapatlah kiranya dikatakan bahwa saya adalah seorang di antara banyak
saksi dari peristiwa besar kebangkitan bangsa-bangsa yang terjajah, yang
terutama terdiri dari orang kulit berwarna. Tetapi saya berbicara hari ini
bukan hanya sebagai saksi Konferensi Bandung saja, melainkan juga sebagai
orang Indonesia yang bangga menjadi pengagum salah satu tokoh terkemuka dari
Konferensi Bandung itu, yaitu Presiden Sukarno.
Saya mendukung berbagai pemikiran atau ajaran-ajaran Presiden Sukarno,
karena hingga September 1965, saya adalah pemimpin redaksi sebuah harian di
Jakarta yang bernama Ekonomi Nasional. Pada saat yang sama saya juga
menjabat sebagai anggota pimpinan PWI Pusat, dan anggota sekretariat
(bendahara) Persatuan Wartawan Asia-Afrika dan juga bendahara Konferensi
Internasional Anti Pangkalan Militer Asing (KIAPMA) yang diadakan di
Jakarta pada tahun 1965 di bawah pimpinan Presiden Sukarno.
Dengan latar belakang yang demikian itulah maka saya berbicara tentang
Konferensi Bandung hari ini. Dalam uraian saya hari ini, saya fokuskan pada
peran Presiden Soekarno karena hampir setengah abad lamanya namanya sudah
tidak sering disebut -sebut lagi di Indonesia, dan juga di luar negeri,
berlainan dengan tahun-tahun sebelum 1965 ketika namanya sangat
disanjung-sanjung oleh banyak orang.
Padahal, ketika orang berbicara tentang Konferensi Bandung seharusnya tidak
dapat lupa atau sengaja menghindari dari menyebutkan jasa dan peran
Presiden Sukarno. Berbicara tentang Konferensi Bandung, tetapi tidak
menyinggung peran historis Presiden Sukarno adalah omong kosong besar, yang
pada dasarnya, berarti mengkhianati konferensi itu sendiri. Sebab, tanpa
peran Bung Karno, tidak akan ada Konferensi Bandung. Presiden Sukarno dan
Konferensi Bandung adalah satu.
Konferensi Bandung adalah refleksi dari kepribadian besar Presiden Soekarno.
Konferensi Bandung adalah bagian dari inti perjuangan yang ia mulai sejak
muda dalam usia 20 tahunan, yang mencerminkan pandangan revolusionernya
melawan kolonialisme, imperialisme, atau kapitalisme internasional.
Konferensi Bandung adalah juga kontribusi utama rakyat Indonesia untuk
bangsa-bangsa Asia dan Afrika untuk memenangkan kemerdekaan nasional,
khususnya di Afrika.
Nama Bandung dan nama baik Presiden Sukarno dikenal oleh berbagai gerakan
kiri di dunia, dan terutama di kalangan gerakan-gerakan anti kolonialisme
dan neo-kolonialisme di kawasan Asia-Afrika-Amerika Latin. Konferensi
Bandung adalah peristiwa internasional penting di dunia setelah kekalahan
fasisme, Nazi Jerman dan Jepang dalam Perang Dunia Kedua. Kita dapat
mengatakan bahwa Konferensi Bandung adalah tsunami politik internasional
yang membuat kekuatan-kekuatan imperialisme dan kolonialisme goncang, yang,
setelah Perang Dunia Kedua selesai masih mendominasi dunia dan mengendalikan
bangsa kulit berwarna.
Sangat penting untuk dicatat bahwa ketika Konferensi Bandung diselenggarakan
dalam tahun 1955 jumlah negara-negara di Afrika yang telah meraih
kemerdekaan nasional hanyalah 5. Banyak negara-negara lainnya masih dijajah
oleh Inggris, Belgia, Perancis, Spanyol, Portugal, juga Italia dan Jerman
sebelumnya. Hari ini di benua Afrika terdapat negara merdeka yang jumlahnya
54 dan 3 teritori. Alangkah besarnya perubahan di Afrika sejak
diselenggarakannya Konferensi Bandung dalam tahun 1955! Dari sekitar 5
negara merdeka dalam tahun 1955, pada dewasa ini terdapat lebih dari 50
negara merdeka di satu benua saja !
Jadi, sangat jelas bahwa Konferensi Bandung telah membantu mempercepat
proses emansipasi mayoritas negara-negara beserta rakyat-rakyatnya di Afrika
antara 1955 dan 1965. Seperti kita semua ingat, di antara banyak negara
Afrika yang memperoleh kemerdekaan setelah Konferensi Bandung adalah :
1955-Tunisia dan Maroko
1957 - Ghana
1958 - Guinea
1960 - Pantai Gading, Madagaskar, Kongo Belgia, Senegal, Mali
1961 - Sierra Leone
1962 - Aljazair
1963 - Kenya
1964 - Zambia
1966 - Botswana
1974 - Guinea-Bissau
1975 - Angola, Mozambik
Konferensi Bandung pada dasarnya adalah untuk mendorong perjuangan
pembebasan nasional dan menggalang solidaritas rakyat berbagai negeri
melawan imperialisme. Oleh karena itu, kekuatan imperialisme, terutama
imperialisme AS, menentang atau memusuhi Presiden Sukarno. Sebaliknya, bagi
banyak negara di Afrika, yang dapat meraih kemerdekaan nasional setelah
tahun 1955, jelas bagaimana Konferensi Bandung itu penting bagi sejarah dari
berbagai negara .
Seperti diakui oleh banyak sejarawan dan pakar politik di dunia, Konferensi
Bandung adalah peristiwa besar dalam sejarah dunia modern. Konferensi
Bandung telah memberikan kontribusi besar kepada perjuangan bangsa-bangsa,
khususnya bangsa-bangsa di Afrika untuk membebaskan diri dari penjajahan.
Konferensi Bandung juga sering dikutip sebagai pengangkatan martabat atau
kedudukan dari bangsa berwarna melawan dominasi dan eksploitasi oleh
orang-orang kulit putih.
Di masa lalu, di bawah pimpinan Presiden Sukarno, Konferensi Bandung telah
menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Bukan hanya kebanggaan bangsa
Indonesia, tetapi juga kebanggaan banyak negara di Asia dan Afrika. Tapi
seperti yang kita semua saksikan selama puluhan tahun pemerintahan militer
Jenderal Suharto, kecemerlangan Konferensi Bandung telah lama pudar, atau
bahkan hampir menghilang. Oleh karena itu, sebagian besar rakyat Indonesia,
termasuk generasi barunya, tidak mengetahui atau kurang mengerti tentang
pentingnya Konferensi Bandung bagi bangsa Indonesia dan juga bagi sejarah
dunia.
Dalam banyak buku pelajaran sejarah di berbagai negara di seluruh dunia,
terutama di Perancis, dimasukkan bahan-bahan tentang bagian pada Konferensi
Bandung. Tetapi, selama puluhan tahun rezim militer Suharto, dalam buku-buku
sejarah di sekolah-sekolah walaupun disebutkan Konferensi Bandung,
seringkali sangat singkat-singkat saja. Pada umumnya tidak ada penjelasan
yang memadai yang telah diberikan tentang peran penting yang dipegang oleh
Presiden Soekarno dalam peristiwa bersejarah yang besar ini. Dilihat dari
pengalaman sejarah, jelas bahwa Presiden Sukarno adalah musuh bebuyutan bagi
kekuatan reaksioner di Indonesia dan di dunia.
Berbagai kebijakan telah dilakukan terus-menerus dan menyeluruh oleh rezim
Suharto dalam usaha "de-Soekarno-isasi "untuk sepenuhnya menghilangkan
pengaruh politik atau prestise Presiden Soekarno, termasuk semua hal yang
berkaitan dengan jasanya kepada Konferensi Bandung. Ini bisa dimengerti
karena rezim militer Suharto sama sekali bertentangan dengan semangat
Konferensi Bandung, yang pada dasarnya anti-imperialis dan
anti-kolonialisme. Dan justru semangat anti-imperialisme dan
anti-kolonialisme itulah identitas utama dan asli Presiden Sukarno.
Kita bisa melihat dengan jelas sekarang bahwa karena faktor-faktor itulah
maka Presiden Sukarno dianggap sebagai musuh utama oleh para pimpinan
Angkatan Darat di Indonesia (pendukung Suharto) , yang bersekutu dengan
kekuatan-kekuatan imperialisme (terutama Amerika) sebelum dan sesudah
peristiwa 1965. Kekuatan-kekuatan imperialisme dan kolonialisme Barat
memandang Soekarno sangat berbahaya untuk kepentingan mereka, dengan
diselenggarakannya Konferensi Bandung pada tahun 1955.
Kita ingat bahwa setelah selesainya Perang Dunia Kedua, muncul Perang Dingin
antara blok Barat dan Blok Timur, yang kemudian menimbulkan berbagai
peristiwa penting di dunia, termasuk pecahnya Perang Korea. Kelahiran
Republik Indonesia dan Republik Demokratik Vietnam di tahun 1945, diikuti
oleh China pada tahun 1949, telah menyebabkan perubahan-perubahan penting
dalam peta geopolitik Asia.
Imperialisme AS, yang memiliki rasa takut akan bahaya "komunis" menyebar di
seluruh Asia telah memperkuat basisnya di Korea Selatan, Jepang (Okinawa),
Taiwan, Filipina, Thailand dan Indocina. SEATO yang merupakan tumpuan
penting bagi Amerika Serikat dalam pengendalian Asia Selatan (khususnya
Indonesia) didirikan. Dalam konstelasi politik yang demikian inilah
Konferensi Bandung telah dilaksanakan. Konferensi Bandung telah menjadi
menjadi duri atau hambatan besar bagi kepentingan AS dan sekutu-sekutunya.
Dan Sukarno adalah tokoh yang dianggap sangat berbahaya bagi kepentingan AS.
Sekarang, ketika kita memperingati ulangtahun yang ke 55 Konferensi Bandung
, perlu dan penting sekali untuk mengingat kembali dan memberi penghormatan
kepada nama dan peran Presiden Sukarno. Jasanya atau kontribusinya yang
besar harus mendapat tempat terhormat dalam ingatan bersama kita.
Secara pribadi, saya sangat menghargai kegiatan seperti yang kita adakan di
Universitas Le Havre hari ini untuk memperingati Konferensi Bandung dalam
tahun 1955 yang merupakan tonggak sejarah besar dalam skala dunia. Baru-baru
ini pertemuan dan pameran foto tentang Konferensi Bandung telah
diselenggarakan juga di Kedutaan Besar Indonesia di Paris dengan dukungan
aktif dari Kedutaan, dan konferensi besar lainnya juga telah diselenggarakan
di gedung Balai Kota Paris dengan partisipasi banyak ahli dan tokoh
terkemuka.
Setelah 55 tahun sejak diadakannya Konferensi Bandung mungkin ada yang
bertanya apakah masih ada kebutuhan untuk memperingatinya? Karena, situasi
internasional telah banyak berubah. Konfrontasi yang sengit Perang Dingin
sudah lama berakhir dan digantikan oleh ketegangan dan persoalan politik dan
ekonomi, yang terjadi dalam skala global, kontinental atau regional.
Imperialisme AS telah kehilangan dominasi yang hegemonik atas peta dunia
dengan kelahiran Uni Eropa, dan munculnya kekuatan ekonomi Asia (termasuk
Cina, India, Jepang, dan bahkan walaupun kurang spektakuler, Vietnam dan
beberapa negara-negara di Asia lainnya). Kekuatan politik dan pembangunan
ekonomi di Amerika Latin yang didorong oleh negara-negara yang dipimpin oleh
Venezuela dan Brasil juga menyumbang banyak untuk perubahan dalam situasi
internasional.
Perubahan internasional ini mengakibatkan efek atau pengaruh di benua Asia
dan Afrika, yang sudah jauh berubah juga dari situasi pada tahun 1955.
Negara-negara imperialis atau kolonialis terpaksa merobah atau menyesuaikan
atau memenuhi tuntutan dan tekanan yang semakin meningkat dari negara-negara
Selatan melalui kebijakan pemerintah atau lewat perjuangan LSM atau
gerakan-gerakan populer (contoh: pertemuan besar Porto Allegre di Brasil dan
Mumbai di India dan pertemuan di Ottawa, Kanada dll dll. )
Terinspirasi oleh keputusan-keputusan Konferensi Bandung dan resolusi yang
diadopsi dan dikembangkan oleh gerakan-gerakan alter-globalisasi maka
negara-negara Selatan saat ini sedang berperang melawan neo-liberalisme yang
dijajakan oleh WTO, IMF, Bank Dunia. Orang dapat melihat bahwa tampaknya,
Semangat Bandung menjadi lebih lemah di negara-negara Asia dan Afrika
setelah digulingkannya Presiden Sukarno oleh pengkhianatan besar Jenderal
Soeharto pada tahun 1966, yang didukung oleh imperialisme AS. Presiden
Sukarno, bapak bangsa Indonesia yang sebenarnya, telah dipenjarakan dalam
tahanan rumah sampai wafatnya pada tahun 1970, akibat perlakuan yang tidak
manusiawi dalam jangka panjang.
Digulingkannya Presiden Sukarno oleh Suharto berikut jenderal-jenderalnya
adalah sebuah kehilangan besar bagi perjuangan rakyat Asia-Afrika melawan
imperialisme dan neo-kolonialisme, dan juga bagi Dunia Ketiga dan
Tricontinental secara khususnya atau bagi Gerakan Non-Blok pada umumnya.
Dari sudut ini nyatalah bahwa pengkhianatan besar Suharto terhadap Presiden
Sukarno adalah serangan terhadap kemanusiaan dan peradaban.
Adalah sungguh keterlaluan bahwa selama 32 tahun kediktatoran Suharto nama
dan peran Presiden Soekarno dalam Konferensi Bandung dilarang untuk
didiskusikan secara publik.. Padahal, Presiden Sukarno adalah juru bicara
rakyat Indonesia dan rakyat Asia-Afrika.
Oleh karena itu, peringatan semacam yang diselenggarakan di Universitas Le
Havre ini merupakan kontribusi penting sekali, sebagai bagian dari
serangkaian peringatan Konferensi Bandung yang akan diadakan dalam waktu
dekat di berbagai negara dengan kegiatan puncaknya, sebagai program utama,
di Indonesia, negara kelahiran konferensi yang bersejarah ini..
Memperingati Konferensi Bandung berarti juga menghormati kepribadian
tokoh-tokoh besar dunia seperti Soekarno, Jawaharlal Nehru, Zhou En-lai,
Gamal Abdul Nasser dan lain-lain. Memperingati Konferensi Bandung adalah
cara yang sangat penting untuk menjiwai Semangat Bandung dan menyesuaikannya
dengan kebutuhan dan perkembangan politik, ekonomi dan kondisi sosial di
masing-masing negara Asia dan Afrika.
Situasi internasional dan situasi di Asia dan Afrika juga telah berubah, dan
akan berubah terus. Meskipun ada perubahan-perubahan besar, namun esensi
dari Semangat Bandung tetap valid atau tetap sah, untuk membela aspirasi
rakyat di Asia dan Afrika pada khususnya dan di negara-negara Selatan pada
umumnya.
Dalam konteks ini, peringatan tentang Konferensi Bandung juga merupakan
kesempatan untuk mengingat kembali semua kejahatan besar rezim Soeharto
terhadap Presiden Sukarno dan seluruh kekuatan kiri yang mendukungnya."
(Cuplikan pokok-pokok uraian selesai)
* * *
[Non-text portions of this message have been removed]