Untuk bung Saidiman :
Wah sekarang banyak orang yang mengaku-ngaku kader muda NU ya, padahal aku 
sendiri yang dari kecil jadi warga nahdliyin dan pengurus NU ditingkat cabang 
tidak pernah tahu kalau panjenengan kader resmi NU untuk kalangan muda. Aku 
cukup lama memperhatikan tokoh-tokoh muda NU yang aktif mulai dari munculnya 
GMNU yang salah satu pelopornya adalah saudara Ulil Abshor. Takutnya, kalau 
Ulil jadi pengurus PBNU tim suksesnya semua ngaku kader NU yang sudah lama 
bertapa di gua hantu yang jauh di sana. Sebenarnya aku kaget ketika panjenengan 
selalu menulis sosok gus Ulil menjelang muktamar kemarin, eee ... ternyata mau 
membuat pengakuan sebagai kader muda NU. Aku janji deh, kalau aku mendirikan 
organisasi baru, jenengan akan aku angkat menjadi kader mudanya, biar banyak 
prestasi yang bisa di buat embel-embel dalam menulis di  koran. Tapi jangan 
cepat emosi ya, kalau menanggapi tulisan yang kayaknya agak sisnis dengan 
jenengan, karena aku berkali-kali melihat
 tulisan jenenganseperti itu terutama dalam facebook.. Mungkin dari situ, 
jenengan akan menjadi orang Buesar yang bertanggungjawab, yang tidak muncul 
tiba-tiba kalau posisi menguntungkan atau biasa disebut dzul wajhain menurut 
Imam ghozali di Ihya'nya.

M Liwa Uddin, PP Mansajul Ulum Pati Jateng (numpang emailnya  sdr Alai Najib)

--- On Thu, 4/8/10, Abd. Moqsith Ghazali <[email protected]> wrote:

From: Abd. Moqsith Ghazali <[email protected]>
Subject: Re: [kmnu2000] Stigma Keagamaan dan Sejumlah Jawabannya
To: [email protected]
Date: Thursday, April 8, 2010, 1:46 AM







 



  


    
      
      
      saya juga baru tahu, ternyata saidiman ini kader muda NU yang "resmi". 
Waktu di makassar, dia aktif di IPNU.



sith



 



____________ _________ _________ __

From: alai nadjib <alaina...@yahoo. com>

To: kmnu2...@yahoogroup s.com

Sent: Wed, April 7, 2010 2:02:55 PM

Subject: Re: [kmnu2000] Stigma Keagamaan dan Sejumlah Jawabannya



  



Wih...wih... ..

ada kader muda NU baru declare



--- On Wed, 4/7/10, saidiman saidiman <idhi_mandar@ yahoo.com> wrote:



From: saidiman saidiman <idhi_mandar@ yahoo.com>

Subject: [kmnu2000] Stigma Keagamaan dan Sejumlah Jawabannya

To: aliansi-kebebasan@ yahoogroups. com, form...@yahoogroups .com, 
id...@yahoogroups. com, kahmi_pro_network@ yahoogroups. com, islamliberal@ 
yahoogroups. com, kmnu2...@yahoogroup s.com

Date: Wednesday, April 7, 2010, 5:02 AM



 



Dimuat di Koran Tempo, 7 April 2010



Stigma Keagamaan dan Sejumlah Jawabannya



Oleh Saidiman Ahmad*



Satu-satunya politisi yang tidak



pernah gentar dengan stigma sekuler, liberal dan pluralis hanyalah KH



Abdurrahman Wahid. Namun meski Gus Dur telah dinobatkan banyak kalangan,



termasuk Presiden RI Susilo Bambang-Yudhoyono, sebagai Bapak Pluralisme, pada



Muktamar NU ke-32, isu ini masih dijadikan amunisi dalam kampanye negatif untuk



tokoh-tokoh NU tertentu. Pada hari pertama Muktamar, bahkan muncul isu untuk



menjegal calon-calon ketua umum yang disinyalir terlibat atau menganut



gagasan-gagasan liberal.



Tidak sedikit orang yang langsung



mengambil jarak ketika disodori gagasan pluralisme, liberalisme dan



sekularisme. Tahun 2005, Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahkan mengeluarkan



fatwa haram terhadap tiga gagasan ini. Akibat fatwa itu masih terasa hingga



kini. Di ranah politik, para politisi mendadak menghindari stigma sekuler,



liberal dan pluralis. 



Ada sejumlah alasan yang dikemukakan untuk



menolak gagasan-gagasan itu. Tulisan ini mencoba memberi jawaban terhadap



sejumlah alasan penolakan tersebut. 



Pertama, gagasan-gagasan itu dinilai berasal dari “luar,” yakni



Barat. Ada asumsi bahwa gagasan luar tidak bisa diterima karena bangsa ini 
memiliki



karakter dan budaya yang unik sehingga persoalannya tidak bisa diselesaikan



dengan memakai metode dan cara-cara luar. Apa yang disebut sebagai “luar”



sangat problematis. Lihatlah, misalnya, kelompok-kelompok yang sangat getol



menolak gagasan tersebut. Orang-orang yang menolak gagasan “luar” itu biasanya



datang dari kelompok yang mengatasnamakan dirinya Hizbut Tahrir, Majelis



Mujahidin, Wahhabi dan seterusnya. Kelompok-kelompok ini pun memperoleh



gagasannya dari luar, tidak genuin berasal dari Indonesia. 



Letak persoalannya bukan bahwa



gagasan-gagasan mengenai sekularisme, liberalisme dan pluralisme benar-benar



berasal dari luar, karena mereka yang menolak juga berangkat dari gagasan yang



berasal dari luar. Betapapun Islam adalah agama mayoritas di negeri ini, Islam



adalah agama yang tidak lahir di Indonesia, melainkan agama yang



lahir di Jazirah Arab 14 tahun silam. 6 agama yang memperoleh pelayanan negara



semuanya adalah agama yang berasal dari luar alias agama impor. 



Dengan begitu, menolak



sekularisme, liberalisme dan pluralisme semata-mata karena gagasan-gagasan itu 
berasal



dari luar dan tidak sesuai dengan budaya setempat sangat tidak valid dan



cenderung mengada-ada. Mereka yang menolak gagasan ini pun menggunakan



gagasan-gagasan yang berasal dari luar.



Ke”luar”an sekularisme,



liberalisme dan pluralisme juga patut dibincang lebih jauh. Ketiga gagasan ini



adalah respon terhadap realitas yang dihadapi oleh manusia. Sekularisme



merespon absolutisme kekuasaan politik karena klaim otoritas ilahi. Persoalan



semacam ini tidak hanya terjadi di Barat melainkan juga telah lama berlaku di



Timur hingga sekarang. Ide mengenai pemisahan agama dan negara adalah upaya



untuk membatasi kekuasaan negara agar tidak absolut dan semena-mena. Dalam



sejarah Islam, gagasan mengenai pemisahan agama dan negara muncul secara



genuin. Sebab pada dasarnya, setiap kekuasaan totaliter tidak mengenakkan dan



akan mengundang reaksi penolakan. Barangkali penolakan terhadap absolutisme



kekuasaan politik tidak mesti dirumuskan secara filosofis, tetapi 
gerakan-gerakan



semacam itu selalu muncul di setiap masa dengan intensitas yang berbeda-beda.



Ini adalah sesuatu yang natural.



Gerakan liberalisme juga muncul



di negara-negara Muslim. Di Turki, misalnya, kelompok tarekat menggunakan



ide-ide liberalisme untuk melawan kekuasaan militer. Mereka berupaya



mendasarkan gagasan liberalismenya pada teologi Islam. Bagi mereka, Islam



adalah agama liberal, sebab hanya dengan itulah mereka memiliki kekuatan



melawan rezim diktator.



Sudah sejak lama gagasan mengenai



pluralisme dianggap sebagai solusi terbaik bagi pemecahan konflik di pelbagai



wilayah berpenduduk Muslim. Ketika mereka dihadapkan pada pilihan antara damai



dan konflik, maka tidak ada pilihan lain selain hidup tenang dalam perdamaian.



Pluralisme bukan sesuatu yang baru. Ia melekat di dalam kehidupan setiap orang.



Sebab kita semua butuh hidup rukun dan damai.



Kedua, alasan bahwa sekularisme, liberalisme dan pluralisme akan



menggerogoti budaya lokal juga tidak bisa diterima. Pertanyaan utamanya adalah



apa yang dimaksud dengan budaya lokal? Bukankah semua hal yang sekarang mapan



di Indonesia pada mulanya berasal dari luar? Bagaimana menentukan bahwa sebuah 
budaya luar



bisa diterima dan yang lain harus ditolak?



Selanjutnya tentang potensi



budaya lokal tergerogoti karena sekularisme, liberalisme dan pluralisme juga



patut dipertanyakan. Sejauh ini, baik secara teori maupun fakta,



gagasan-gagasan itu justru sangat berguna bagi pengembangan budaya. Dengan



tidak dicampur-baurnya otoritas politik dan agama, justru kehidupan beragama



dan budaya bisa secara maksimal berkembang. Liberalisme, misalnya, berasal dari



pengakuan bahwa sebenarnya dunia ini dibangun di atas ketidak-tahuan. Tidak ada



yang lebih tahu apa yang terbaik untuk masa depan. Justru karena tidak ada yang



lebih tahu di atas yang lain itulah maka diperlukan ruang kebebasan, agar



setiap manusia bisa berekspresi. Kesadaran bahwa manusia tidak sempurnalah yang



menyebabkan ruang kebebasan dibutuhkan. Liberalisme membuka ruang kebebasan di



mana setiap budaya, agama dan ekspresi bisa muncul. 



Jikapun ada budaya lokal yang terancam oleh karena



ruang kebebasan yang terbuka, maka hal itu bukan persoalan yang perlu



dirisaukan. Bukankah dunia ini terus berkembang? Segala sesuatu datang dan



pergi silih berganti. Yang mampu menyesuaikan dirilah yang akan tetap bertahan.



Kita hidup untuk terus menerus melakukan koreksi terhadap kehidupan yang



sekarang kita alami. Kita harus membuka ruang bagi perubahan di masa depan.



Itulah hukum dunia.



*Aktivis Jaringan Islam Liberal dan Kader Muda Nahdlatul Ulama



Get your new Email address!



Grab the Email name you&#39;ve always wanted before someone else does!



http://mail. promotions. yahoo.com/ newdomains/ aa/



[Non-text portions of this message have been removed]



[Non-text portions of this message have been removed]



[Non-text portions of this message have been removed]





    
     

    
    


 



  






      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke