Pemikiran Gus Dur Harus Dilanjutkan

Sabtu, 2 Januari 2010 | 02:56 WIB



Jakarta, Kompas - Keberlangsungan ide dan pemikiran yang ditinggalkan KH
Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yaitu gigih memperjuangkan demokrasi dan
pluralisme, menjadi tanggung jawab para pengikutnya.



”Sekarang bergantung kepada yang mengaku sebagai pengikutnya,” kata anggota
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU), KH Mustofa Bisri atau Gus
Mus, seusai mengikuti pemakaman Gus Dur di Maqbarah (Pemakaman) Tebuireng,
Jombang, Jawa Timur, Kamis (31/12).



Gus Mus menilai pemikiran Gus Dur yang tajam dan cemerlang soal kebangsaan,
khususnya tentang Bhinneka Tunggal Ika, telah memberikan peranan besar bagi
perjalanan bangsa.

Praktik yang dilakukan Gus Dur mengenai sikap saling menghormati segala
bentuk perbedaan demi tercapainya tatanan masyarakat yang demokratis harus
diteladani. ”Konsep kebangsaan Gus Dur itu kini menghadapi banyak tantangan
dan hambatan,” ujarnya.



Pengasuh Pondok Pesantren Syalafiah As-Syafiiyah, Asembagus, Situbondo, KH
Fawaid As’ad Samsul Arifin, mengatakan, saat ini yang perlu dilakukan
sepeninggal Gus Dur adalah melawan bibit-bibit perpecahan bangsa. Munculnya
gerakan fundamentalisme dan radikalisme agama yang membahayakan persatuan
perlu terus diwaspadai. ”Generasi muda harus dibentengi dengan pemahaman
tentang pemikiran Gus Dur agar terhindar dari aliran keagamaan yang
merusak,” ujarnya.



Pimpinan pesantren di sejumlah daerah juga menilai sosok Gus Dur sebagai
inspirasi bagi ulama dan santri. Cucu pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari, itu
dinilai telah mengajarkan pentingnya penghormatan atas perbedaan agama,
suku, bangsa, dan nilai-nilai demokrasi.



Pengasuh Pondok Pesantren Salaf Asrama Perguruan Islam Tegalrejo, Magelang,
M Yusuf Chudlori, menilai Gus Dur adalah sumber motivasi dan inspirasi bagi
pesantren. Gus Dur yang pernah menjadi santri di pesantren Tegalrejo itu
telah menebarkan nilai-nilai demokrasi kepada ulama dan santri. Gus Dur
mampu membuka mata hati mereka tentang keterkaitan antara Islam, kebangsaan,
dan kemanusiaan.



Pengajar Pondok Pesantren Raudlatul Thalibin, Rembang, Bisri Adib Hatani,
menganggap Gus Dur sebagai sosok ideal negarawan produk pendidikan
pesantren. Pemikiran Gus Dur mengajarkan sekaligus mencontohkan bagaimana
ber-Islam dalam konteks keindonesiaan. ”Gus Dur memandang dan meyakini
perbedaan adalah rahmat, sunnatullah (telah digariskan Allah). Perbedaan
itulah yang membentuk warga Indonesia menjadi bangsa yang terhormat,
mandiri, dan merdeka lahir batin,” katanya.



Wakil Ketua Yayasan Buntet Pesantren, Cirebon, KH Wawan Arwani,
mengungkapkan, salah satu nilai yang ditularkan Gus Dur adalah keterbukaan
terhadap penganut agama atau kepercayaan lain. Cara hidup bersama di negara
multikultural itulah yang juga disebarkan kepada santri Buntet Pesantren.
Santri diajarkan untuk tidak menyelesaikan persoalan dengan kekerasan dan
menegaskan terorisme yang mengatasnamakan jihad adalah haram.



Juru bicara Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Abdul Chobir, menilai
pemikiran dan terobosan Gus Dur yang bisa menerima nilai-nilai baru dari
sebuah perubahan akan tetap hidup dan dilanjutkan oleh warga NU. Gus Dur
menekankan perbedaan bukan menjadi sumber perpecahan, tetapi justru menjadi
modal persatuan.



Bapak pluralism



Mengantarkan kepergian Gus Dur, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
menegaskan, mendiang sebagai bapak pluralisme dan multikulturalisme di
Indonesia. Gus Dur merupakan pejuang reformasi yang melembagakan
penghormatan pada kemajemukan ide dan identitas.



Presiden menyampaikan hal itu pada sambutannya dalam upacara kenegaraan apel
persada pemakaman Gus Dur, Kamis. ”Gus Dur menyadarkan sekaligus
melembagakan penghormatan kita pada kemajemukan ide dan identitas yang
bersumber dari perbedaan agama, kepercayaan, etnik, dan kedaerahan. Disadari
atau tidak oleh kita, sesungguhnya beliau adalah bapak pluralisme dan
multikulturalisme di Indonesia,” ujar Presiden.



Almarhum Gus Dur, lanjutnya, adalah salah satu pemimpin dan pemikir Islam
yang sangat dihormati, baik di Indonesia maupun di dunia. Gus Dur meyakini
Islam sebagai sumber universal bagi kemanusiaan, keselamatan, perdamaian,
keadilan, dan toleransi.



Gus Dur menetapkan berbagai kebijakan untuk mengakhiri diskriminasi dan
untuk menegaskan bahwa negara memuliakan berbagai bentuk kemajemukan.
”Selamat jalan bapak pluralisme kita, semoga berada tenang di sisi Allah
SWT,” ujar Presiden.



Doa bersama



Doa terus berkumandang di Masjid Agung Al-Barkah, Kota Bekasi, selama
kegiatan istigasah dan tablig akbar yang diselenggarakan Pengurus Cabang NU
Kota Bekasi, Kamis malam.



Selain mendoakan Gus Dur, istigasah dan tablig akbar itu digelar serangkaian
dengan momentum Tahun Baru Hijriah 1 Muharam 1431.



Di Kota Semarang, Kelenteng Besar Tay Kak Sie menggelar doa bersama untuk
Gus Dur, dipimpin tokoh setempat, Thio Tiong Gie. Ketua Komunitas Pecinan
Semarang untuk Wisata itu menilai keislaman Gus Dur yang sangat kuat bukan
hal menakutkan bagi minoritas, tetapi meneduhkan mereka. Jasa besar Gus Dur
bagi masyarakat Tionghoa adalah mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 6
Tahun 2000 tentang Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat China.



Warga berdatangan memenuhi lokasi di sekitar Pondok Pesantren Tebuireng.
Muhammad Syuaib, misalnya, merasa perlu berziarah ke makam Gus Dur dengan
keluarganya. ”Ini untuk tarbiah (pendidikan) bagi anak-anak untuk mengetahui
dan meneladani kiai-kiai sebelumnya, termasuk Gus Dur yang jasanya besar,”
katanya.



(INK/HEN/NIT/ADH/APO/TIF/COK/ILO/UTI/WHO/MZW/NTA/NAL/DAY)


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[email protected] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke