Magnet Silaturahmi Gus Dur

07/01/2010

Mahfud MD


Saya sudah lupa hari dan tanggalnya, tetapi waktu itu adalah awal tahun
2001, saat saya menjabat sebagai menteri pertahanan di bawah kepresidenan
Gus Dur.


Kepala Staf Angkatan Udara saat itu, Hanafi Asnan, menelepon saya. “Pak
Mahfud, saya mendapat berkah, seperti kejatuhan bulan dan bintang,” kata
Hanafi. “Ada apa, Pak,” tanya saya. “Presiden tiba-tiba minta mampir ke
rumah Ibu saya di Madura,” jawab Hanafi. Orang mampir ke rumah orang
tentulah hal biasa. Namun peristiwa itu menjadi surprise bagi Hanafi karena
yang akan mampir ke rumah ibunya adalah Presiden. Padahal Gus Dur tak pernah
kenal dengan ibunda Hanafi kecuali bahwa Hanafi adalah bawahannya yang
berasal dari Madura.


Apalagi rencana mampir itu diberitahukan kepada Hanafi hanya dua hari
sebelum keberangkatan Gus Dur ke Madura. Saat itu Presiden Gus Dur
dijadwalkan kunjungan kerja ke Madura bersama Menteri Kehutanan Marzuki
Usman untuk acara menanam seribu pohon dalam program penghutanan. Ketika
rencana keberangkatan dilaporkan dan dimatangkan, tiba-tiba Presiden meminta
diselipkan acara mampir ke rumah Hanafi Asnan di Socah, Bangkalan.


Meski diberi tahu bahwa KSAU Hanafi Asnan tak ikut dalam rombongan, Gus Dur
mengatakan bahwa dirinya akan bersilaturahmi kepada ibu Pak Hanafi. Itulah
sisi lain kehidupan Gus Dur yang jarang diperhatikan orang, yakni suka
bersilaturahmi kepada siapa pun. Banyak yang meyakini bahwa kegemaran
bersilaturahmi tanpa jarak “antara orang besar dan orang biasa” itulah yang
mengakibatkan Gus Dur menjadi milik dan dicintai oleh begitu banyak orang.



***


Sebagai politikus dan pejuang Gus Dur selalu dapat membedakan antara urusan
politik dan hubungan pribadi. Dia bisa keras, tegas, dan cenderung berkepala
batu dalam sikap-sikap politiknya, tetapi selalu menjaga hubungan pribadi
melalui silaturahmi yang selalu hangat dan bersahabat. Bukan hanya kawan
politiknya yang diakrabi, tetapi lawan-lawan politiknya pun dihormati dengan
silaturahmi. Kita tentu masih ingat nama Abu Hasan, pesaing Gus Dur dalam
perebutan kursi Ketua Umum PBNU pada Muktamar NU (1994) di Cipasung.


Sebagai calon ketua umum yang menurut berita diskenariokan oleh kekuatan
luar untuk menjinakkan NU, Abu Hasan ngotot untuk menjadi Ketua Umum PBNU.
Setelah kalah dalam pemilihan yang demokratis di muktamar Abu Hasan tidak
mau terima. Dia pun membentuk PBNU tandingan dengan nama KPPNU. Namun berkat
dukungan arus bawah terhadap Gus Dur, meski memakan waktu agak lama,
akhirnya KPPNU itu bubar tanpa komunike karena tak bisa bekerja tanpa
dukungan umat. Yang mengharukan, setelah KPPNU runtuh dan PBNU di bawah Gus
Dur berjaya, justru Gus Dur-lah yang datang bersilaturahmi ke rumah Abu
Hasan tanpa mengungkit kelakuan dan cercaan-cercaan pedas yang pernah
dilontarkan Abu Hasan terhadap dirinya.


Dirangkulnya Abu Hasan sebagai sahabatnya. Saya juga masih ingat ketika
terjadi konflik PKB Jawa Timur yang melibatkan Kiai Fawaid. Saat itu Kiai
Fawaid terpilih sebagai Ketua Dewan Syura PKB Jawa Timur, tetapi tidak ada
kecocokan dengan Gus Dur dan Ketua PKB Jawa Timur Choirul Anam dalam susunan
kepengurusan. Kiai Fawaid merasa hak-haknya sebagai Ketua Dewan Syura hasil
musyawarah wilayah (muswil) dilanggar, apalagi Gus Dur sempat marah dan
menyatakan tak akan berhubungan lagi dengan Kiai Fawaid.


Pewaris tokoh NU karismatik Kiai As’ad Syamsul Arifin itu pun keluar dari
PKB dan bergabung dengan PPP. Pada saat Kiai Fawaid bersikap keras dan resmi
menyatakan bergabung ke PPP, Gus Dur tetap menyambung silaturahminya dengan
Kiai Fawaid. Pada suatu tengah malam secara mendadak Gus Dur berkunjung ke
rumah Kiai Fawaid di Sukorejo meskipun harus menempuh perjalanan darat yang
sangat jauh. Gus Dur menghormati pilihan Kiai Fawaid keluar dari PKB dan
silaturahmi terus dipelihara.

Untuk soal silaturahmi saja saya punya seribu kenangan dengan Gus Dur. Gus
Dur sering ke rumah saya baik di Yogyakarta maupun di Madura. Namun Muktamar
II PKB tahun 2005 pernah menimbulkan masalah psikologis. Saat itu saya
menolak ajakan Gus Dur yang meminta saya untuk menjadi pengurus DPP PKB
hasil Muktamar Semarang itu. Meskipun mungkin terlalu subjektif, saya
menilai Muktamar Semarang tidak fair sehingga saya tak bersedia menjadi
pengurus DPP PKB dan memilih menjadi anggota biasa saja.


Ada pendukung hasil Muktamar Semarang yang menciptakan opini dan insinuasi
bahwa saya membangkang dan dimarahi atau dimusuhi Gus Dur. Namun tak banyak
yang tahu bahwa dalam situasi “perang dingin” seperti itu Gus Dur justru
mengunjungi rumah saya di Yogyakarta. Suatu sore saya ditelepon oleh
sekretaris pribadi Gus Dur, Munib Huda, yang mengabarkan bahwa Gus Dur ingin
minum teh di rumah saya karena kebetulan ada di Yogyakarta. Kami pun
bercengkerama sambil menikmati rempeyek kacang dengan tetap pada posisi
masing-masing dalam menyikapi hasil Muktamar Semarang. “Silaturahmi jangan
sampai putus,” kata Gus Dur.


Gus Dur dan Ibu Sinta tetap sering bermain ke rumah saya seperti halnya saya
dan istri tetap selalu berkunjung ke rumah keluarga Gus Dur. Ketika keluar
dari PKB karena menjadi hakim konstitusi pun saya dilepas oleh Gus Dur
melalui silaturahmi yang manis dan sangat mengesankan. Ada lagi. Pada suatu
hari saya menghubungi Gus Dur dan memulai menyapa dengan pertanyaan rutin,
“Gus Dur ada di mana?” Ternyata Gus Dur sedang menengok orang tua Choirul
Huda, sopir pribadinya, yang sedang sakit di sebuah desa di kawasan Jombang.


Gus Dur tak pernah lelah bersilaturahmi kepada siapa pun, mulai dari kota
besar sampai ke desa terpencil, mulai dari sahabat karib sampai ke
lawan-lawan politik, mulai dari orang-orang besar sampai orang-orang kecil.


Jadi selain karena modal politik- sosiologisnya sebagai tokoh yang berdarah
biru NU, kecerdasan dan kepandaiannya yang luar biasa, kehidupannya yang
bersahaja, serta keterbukaan dan kesantunannya terhadap semua golongan,
perihal kegemaran untuk selalu bersilaturahmi menjadi penguat bagi munculnya
keseganan dan kecintaan masyarakat terhadap Gus Dur. Belum lama Gus Dur
wafat, tapi kita sudah sangat merindukannya.


Ketua Mahkamah Konstitusi RI


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[email protected] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke