http://www.jawapos.com/halaman/index.php?act=detail&nid=129327
[ Selasa, 20 April 2010 ]
Susunan engurus Besar NU Masa Pengabdian 2010-2015 Sudah Final

JAKARTA - Susunan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) masa pengabdian 
2010-2015 sudah final. Nama Hasyim Muzadi hilang dari pos wakil rais am. 
Padahal, dalam draf awal yang beredar, Hasyim bersama Gus Mus menempati 
posisi itu. Dalam pengumuman kemarin, tinggal nama Gus Mus yang tercantum.

Nama Hasyim, mantan Ketum PB NU tersebut, bergeser menjadi salah seorang 
rais syuriah. Pergeseran lain terjadi pada nama Slamet Effendy Yusuf. Pada 
awal draf, dia menempati posisi wakil ketua umum (Waketum) bersama As'ad 
Said Ali yang kini menjadi wakil kepala BIN (Badan Intelijen Negara). Slamet 
bergeser menjadi salah seorang ketua, As'ad tetap menjadi orang nomor dua di 
tanfidziyah. Selain itu, Saifullah Yusuf yang pada draf awal menjadi a'wan 
syuriah menjadi salah satu ketua tanfidziyah.

Susunan pengurus itu diumumkan Ketua Umum Tanfidziyah Said Aqil Siradj 
didampingi Rais Am Syuriah KH Sahal Mahfudh di Kantor PB NU, Jalan Kramat 
Raya, Jakarta Pusat, kemarin (19/4).

Said Aqil Siradj tak menampik adanya draf awal susunan kepengurusan yang 
disusun di Pondok Pesantren Maslakul Huda, Pati, Jawa Tengah, Senin (12/4) 
tersebut. Tapi, dia menyesalkan susunan pengurus yang belum matang itu 
telanjur terpublikasi begitu luas. ''Saya juga heran mengapa itu bocor. 
Padahal, itu masih draf kasar,'' katanya.

Menurut dia, susunan kepengurusan yang diumumkan kemarin telah disesuaikan 
dengan AD/ART. Intinya, wakil rais am dan wakil ketua umum masing-masing 
cukup dijabat satu orang. Karena itu, terjadi penyesuaian agar tidak 
bertentangan dengan AD/ART.

Soal diprioritaskannya As'ad Said Ali -bukannya Slamet Effendy Yusuf- 
sebagai wakil ketua umum tanfidziyah, Said mengaku punya sejumlah 
pertimbangan. Salah satunya mengenai kadar ke-NU-an As'ad. ''Beliau sejak 
lahir sudah NU, dari keluarga NU, lalu ke Pesantren Krapyak, Jogjakarta,'' 
ungkapnya.

Selain itu, kata dia, As'ad memiliki pengalaman yang sangat luas. Said 
menuturkan, As'ad sering bertugas di Timur Tengah, sehingga punya hubungan 
dan komunikasi yang cukup baik dengan dunia internasional. Jabatan As'ad 
sebagai wakil kepala BIN juga segera berakhir. Malahan, dia akan memasuki 
masa pensiun pada Mei mendatang.

''Kapabilitas beliau tetap kami butuhkan untuk PB NU masa mendatang agar 
mampu menjalankan amanat muktamar. Jadi, hak prerogatif rais am terpilih dan 
ketua umum menunjuk As'ad Said Ali. Kami yakin (As'ad, Red) lebih diterima 
semua kiai,'' tegasnya.

Said juga meyakini, kehadiran As'ad yang berlatar belakang BIN tidak akan 
berimplikasi negatif terhadap NU yang selama ini dikenal aktif 
memperjuangkan HAM dan kedaulatan civil society. ''Pak As'ad itu orang 
sipil. Toh, orang yang hidup di lingkungan BIN belum tentu akan berlawanan 
atau melanggar HAM,'' ungkapnya.

Mengenai penunjukan KH Mustofa Bisri sebagai wakil rais am, Said juga 
menegaskan tidak ada persoalan antara KH Sahal Mahfudh dan Hasyim Muzadi. 
''Akhlakul karimah di tengah ulama masih dijunjung tinggi. Jadi, tidak ada 
yang namanya tidak harmonis atau tidak nyambung. Nggak ada itu,'' ujar Said.

Dia menyampaikan, NU adalah jamiyah diniyah atau organisasi sosial 
keagamaan, bukan partai politik. ''Jadi, semua yang diberi amanat ditunjuk 
rais am dan ketua umum akan membantu perjalanan PB NU ke depan untuk lima 
tahun,'' katanya.

Sebelumnya, Syarbani Haira, anggota tim formatur, mengungkapkan latar 
belakang munculnya dua posisi wakil rais am dan wakil ketua umum 
tanfidziyah. Menurut dia, rapat formatur yang dipimpin Kiai Sahal didampingi 
Ketua Umum Tanfidziyah Said Aqil Siradj pada 12 April lalu masih sangat 
diwarnai tarik-menarik antarblok kekuatan yang muncul saat muktamar. Yaitu, 
kelompok yang menginginkan Kiai Sahal tetap menjadi rais am dan kubu yang 
mendukung Hasyim Muzadi.

''Pertarungan'' itu ternyata terus terbawa dalam penentuan posisi wakil rais 
am. Blok Hasyim Muzadi menginginkan mantan ketua umum tanfidziyah itu 
menduduki posisi tersebut. Sementara itu, Kiai Sahal menginginkan KH Mustofa 
Bisri menjadi wakilnya.

''Setelah itu, muncul usul jalan tengah dengan menambah posisi wakil rais am 
menjadi dua. Begitu pula dengan wakil ketua umum,'' jelas ketua PW NU 
Kalimantan Selatan tersebut. Terobosan politik itulah yang akhirnya memicu 
kritik karena dianggap telah melanggar pasal 22 ayat 1 dan 2 AD/ART NU. 
(pri/c5)



------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[email protected] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke