JEJAK LANGKAH

Gus Dur dan Inklusivisme NU

Sabtu, 2 Januari 2010 | 03:13 WIB



Dengan hanya mengenakan kaus oblong dan sarung, KH Sahal Mahfudz bersila.
Beberapa ulama lain berbaring miring. Sebagian ada yang merokok. Suasana
santai itu bukan waktu istirahat, tetapi justru mereka sedang membahas
masalah penting bagi masa depan Nahdlatul Ulama.



Para kiai yang sebagian sudah sepuh itu tengah membahas penggunaan kitab
standar mazhab di pondok pesantren. Mereka ingin agar ponpes tidak hanya
mengajarkan kitab kuning ulama mazhab Imam Syafii.



Meski santai, para ulama itu dengan tegas menumpahkan argumentasi dan
pikirannya. Masih banyak ponpes mengalami kejumudan (mandek) yang diduga
karena hanya mengenal kitab bermazhab Imam Syafii dari empat mazhab yang
diakui NU. Bahkan, sebagian ulama masih memakai cara bermazhab mengikuti
pendapat (qauli) ulama Syafiiyah semata.



Sebagian ulama menolak mengenalkan kitab dari luar Imam Syafii di
pesantrennya. Sebagian ulama berpandangan, dalam beberapa hal ketiga imam
mazhab yang lain, Maliki, Hanbali, dan Hanafi, lebih rasional dibandingkan
dengan Imam Syafii.



Itulah gambaran bagaimana Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
merombak pola pikir elite NU hingga seperti sekarang. Saat itu perkumpulan
pesantren NU atau Rabithah Ma’ahidil Islami (RMI) dipimpin KH Abdul Wahid
Zaini (Probolinggo) sering menggelar pertemuan untuk membedah kitab.

Musyawarah nasional RMI di Pesantren Bungah, Gresik, 1990, menjadi tonggak
bagi NU untuk mulai meninggalkan mazhab qauli ke manhaji. Artinya, saat itu
muncul kesepakatan tidak tertulis menganut mazhab dengan hanya mengambil
pendapat para ulama terlebih dahulu (mazhab qauli), khususnya Imam Syafii,
saatnya dievaluasi. Para ulama NU, dimotori KH Sahal dan KH Ali Yafie,
mengenalkan mazhab manhaji.



Kesepakatan itu menjadi ketetapan NU pada Munas Alim Ulama NU di Lampung
tahun 1992. Memang, hal ini luput dari perhatian orang yang lebih terfokus
pada pertentangan antara Gus Dur dan KH Ali Yafie, yang lalu mundur dari
PBNU.



Justru saat itu adalah salah satu tonggak perubahan pemikiran NU yang
diperkenalkan Gus Dur. Dengan mengubah cara bermazhab, berarti NU membuka
diri bagi munculnya perbedaan pandangan karena tak lagi harus mengikuti
pendapat ulama mazhab.



Tak hanya itu, Gur Dur juga mengenalkan masalah aktual bagi elite NU dengan
cara pandang agama. Di sinilah keberhasilan Gus Dur memadukan religiusitas
agamawan dengan persoalan kebangsaan tanpa harus terlibat politik praktis.



Upaya mencapai hal ini tidak mulus, seperti terlihat dalam kasus penghentian
bedah kitab yang biasa dilakukan RMI. Sebelum melakukan gerakan itu, Gus Dur
nyaris setiap hari berdiskusi dengan ulama, baik bertemu langsung maupun
melalui telepon. ”Di awal tahun 1990-an itu, hampir setiap hari Gus Dur
menelepon kiai di daerah, baik untuk sekadar menyapa atau berdiskusi akan
suatu masalah,” ujar Arifin Junaidi, orang dekat Gus Dur yang sempat menjadi
Sekretaris Dewan Syura Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).



Ketika Gus Dur mulai secara terang-terangan melakukan pembelaan terhadap
kelompok minoritas, hanya sebagian kecil ulama yang tak sepakat dengan
langkahnya. Sebagian besar ulama memahami pola pikir Gus Dur sehingga mereka
tidak mengambil langkah oposisi.



Dari sisi ajaran, NU menganut paham yang tasamuh (toleran), tawasuth
(moderat), dan tawazun (hati-hati) dalam menyikapi setiap masalah. Sikap ini
terus ditanamkan Gus Dur sampai akhir hayatnya. Ulama menambahkan sikap
i’tidal (adil).



(Mohammad Bakir)


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[email protected] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke