http://www.nahimunkar.com/nu-dulu-penggembos-kini-bakal-digembosi/
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/320137/


QuoVadis NU Pasca-Muktamar?
Laode Ida
Sosiolog dengan Tesis dan Disertasi tentang NU,
Wakil Ketua DPD RI

Monday, 26 April 2010

Komposisi kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pasca- Muktamar 
Makassar memperoleh reaksi dari dalam tubuhnya sendiri.
Sejumlah figur yang dicantumkan namanya sebagai pengurus PBNU periode 
2010–2015 bukannya merasa senang,melainkan justru mengancam mundur karena 
merasa tidak sreg dengan kebijakan tim formatur yang memasukkan orang-orang 
tertentu di posisi strategis (di wadah tanfidziyah).Padahal mereka dianggap 
“bukan kader” atau masih demikian asing di mata “para aktivis lingkar dalam” 
jamiyah kaum sarungan itu.
Penetapan dan pelantikan kepengurusan baru pun mengalami penundaan sebagai 
respons sementara atas reaksi dari dalam itu. Bergabungnya beberapa “orang 
yang dianggap asing” itu,menurut sumber tepercaya dari dalam, merupakan 
inisiatif atau upaya dari tokoh penting tertentu pengendali organisasi. Ya, 
begitulah. Karena memang formatur, apalagi pengendali di barisan syuriah, 
diberi hak prerogatif yang seolah-olah mutlak untuk digunakan menentukan 
siapa-siapa saja yang dianggap pantas menjadi pelaksana kebijakan di wadah 
tanfidziyah.
Maka, tidak perlu heran kalau sebagian produknya kemudian kontroversial 
seperti sekarang. Masalah ini adalah bagian dari resultante atas kepercayaan 
yang berlebihan kepada segelintir figur penentu pilihan muktamar tanpa 
menentukan kriteria dasar dan jelas bagi mereka-mereka yang layak masuk ke 
dalam gerbong pengurus.
*** Mendasarkah resistensi sebagian nahdliyin terhadap beberapa figur untuk 
masuk dalam komposisi kepengurusan itu? Tentu sangat tergantung dari cara 
pandangnya. Kalau pertanyaan ini diajukan kepada tokoh penentu yang 
menggiringnya masuk ke dalam,pastilah menyatakan,“Oh,sangat lemah alasannya. 
Karena yang bersangkutan juga adalah warga NU.”Apalagi selama ini dia sudah 
membangun kedekatan dengan para tokoh atau sudah membantu NU, sudah pastilah 
dianggap layak untuk menjadi pengurusnya.
Maka mungkin sebagian pembaca yang budiman pun akan bertanya: di mana letak 
salahnya dengan masuknya orang-orang itu untuk mengurus komunitasnya? Meski 
demikian, penjelasan seperti itu sebenarnya sangat sederhana. Mengapa? 
Pertama, kalau hanya mendasarkan pada pertimbangan sebagai “orang NU”, maka 
sungguh-sungguh lemah argumennya. Karena sebagian besar warga muslim bangsa 
ini sebenarnya merupakan penganut kultur ahlussunaah waljamaah.
Maka kalau caranya hanya mencomot siapa saja bisa menjadi pengurus NU tanpa 
mempertimbangkan dimensi kaderisasi, itu sama saja dengan menafikan 
eksistensi mereka-mereka yang selama ini sudah begitu susah payah mengurus 
organisasi dan warga NU secara langsung. Jadi, kalau reaksi penolakan itu 
tidak juga dipedulikan tokoh penentu kepengurusan NU, hal tersebut akan jadi 
preseden buruk dalam perjalanan organisasi warga sarungan itu ke depan.
Itu sangat aneh karena dilakukan oleh tokoh sentralnya sendiri–suatu yang 
seharusnya dihindari untuk terjadi. Soalnya, kalau sudah figur sentral di NU 
yang memberi contoh buruk, bukan mustahil ke depan akan sulit untuk 
melahirkan tokoh anutan yang sungguh-sungguh jadi acuan. Padahal semua orang 
tahu bahwa modal sosial dasar dalam pola hubungan internal NU adalah 
kepercayaan terhadap sang patron.
Kedua, kalau sekonyong-konyong “orang asing”masuk menjadi pengurus dengan 
menempati posisi vital, bukan mustahil hal itu akan mengganggu keberadaan NU 
sebagai organisasi pergerakan, sebuah wadah perjuangan untuk kepentingan 
rakyat di bawah nilai-nilai Islam kebangsaan. Konsekuensinya, seperti yang 
ditekankan dalam konsep kembali ke khitah 1926, NU harus berposisi netral 
dari segala kepentingan politik atau ideologi tertentu.
Tepatnya, NU perlu mengambil jarak dengan semua figur dan atau kelompok 
kepentingan yang bisa menghambat misinya dengan melakukan gerakan sosial 
karena dengan posisi seperti itu bisa lebih objektif dalam menjalankan 
misinya, termasuk di dalamnya bersikap kritis terhadap kekuasaan. 
Masalahnya, dan ini saya kira yang begitu digelisahkan oleh sebagian “orang 
dalam NU”, yang terkesan hendak “dipaksakan” oleh figur penentu untuk 
menjadi pengurus PBNU itu sudah dikenal berlatar belakang kepentingan 
tertentu.
Muhammad As’ad Said Ali, misalnya, figur yang dianggap salah satu yang 
kontroversial, masih menjabat sebagai Wakil Kepala Badan Intelijen Negara 
(BIN).Padahal salah satu tugas pokok badan negara ini khusus memata-matai 
semua pihak yang bersikap kritis terhadap pemerintah atau kekuasaan. Boleh 
dikatakan BIN sebagai bagian dari instrumen kekuasaan yang secara canggih 
mempraktikkan cara-cara invisible hands dalam menjalankan tugasnya.
Maka, dalam perspektif gerakan sosial––yang tentu saja sebagian dipihaki 
oleh “orang dalam” yang bereaksi itu––akan sangat tidak kondusif bahkan bisa 
menjadikan gerakan NU akan mengalami hambatan dalam menjalankan misi 
gerakannya. Kalau ini terjadi, disadari atau tidak,akan menjadikan 
nilai-nilai khitah NU 1926 terdegradasi secara signifikan.
Bahkan, pada tingkat tertentu, NU akan menjadi bagian dari instrumen 
kelompok kepentingan dan atau pihak yang sedang berkuasa, yang pada saat 
bersamaan akan melumpuhkan potensi masif NU untuk selalu berupaya 
menjalankan amanah reformasi untuk perbaikan bangsa ini dengan pendekatan 
sikap kritisnya dalam posisi netral.
Lebih jauh dari itu, bila tetap mempertahankan kebijakan memasukkan “orang 
luar”dalam struktur formal NU dengan posisi strategis, secara sosiologis hal 
itu akan berdampak pada keterbelahan NU menjadi setidaknya tiga faksi. 
Pertama, kelompok yang akan melakukan pembelaan dan bersikap pragmatis 
terhadap eksistensi “orang luar” yang mencampuri dan memperdaya NU; 
kedua,kelompok yang akan terus melakukan perlawanan dengan berbagai caranya; 
dan ketiga, kelompok yang bersikap diam saja, menjalankan rutinitas tak 
ubahnya sebagai pekerja biasa di organisasi.
Celakanya,kalau hal itu terjadi, dalam proses-proses pengelolaan NU akan 
terus bergesekan dan pada akhirnya akan menyibukkan diri dengan mengurus 
konflik internal. Sebaliknya,NU akan mengabaikan tugas-tugas utamanya yang 
terkait dengan pemberdayaan NU dalam arti yang sesungguhnya.Semua ini juga 
merupakan bagian dari skenario terselubung agar ke depan NU terus mengalami 
penciutan simpati dan pencitraan negatif di mata public awam bangsa ini. 
Sungguh-sungguh sangat tidak diinginkan oleh amanah kembali ke khitah 1926.
*** Barangkali memang kondisi seperti itu merupakan bagian dari konsekuensi 
keberadaan NU yang sangat strategis dalam kaitan dengan olah politikdi 
bangsa ini. Pihak penguasa sangat berkepentingan untuk menjadikannya sebagai 
barisan pendukung setia. Atau setidaknya dihindari untuk bersikap kritis 
apalagi berseberangan dengan penguasa.
Pengalaman belakangan ini, misalnya, sikap figur pimpinan NU sebelum 
Muktamar Makassar cenderung berseberangan dengan posisi Presiden Susilo 
Bambang Yudhoyono lantaran sejak proses pemilihan presiden KH Hasyim Muzadi 
(Ketua Tanfidziyah PBNU saat itu) mengambil posisi mendukung pasangan Jusuf 
Kalla- Wiranto sehingga barangkali dianggap sebagai bagian dari duri 
kekuasaan yang harus dihancurkan.
Maka, caranya adalah dengan memasukkan orang-orang yang “ahli untuk 
pelumpuhan dari dalam” untuk menjadikan NU bukan saja tak berdaya,melainkan 
juga mengalami proses mati suri. Entahlah karena tulisan ini hanyalah 
analisis dengan suatu perspektif kritis. Namun, yang pasti, arah NU ke depan 
kian dipertanyakan: quo vadis?(*) 



------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[email protected] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke