Kesederhanaan Batik Gus Dur

Kamis, 14 Januari 2010 | 07:20 WIB



TEMPO Interaktif, Kepergian KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pada ujung
Desember tahun lalu menyisakan banyak cerita. Tidak hanya sebatas pemikiran
dan sikap politik sang Guru Bangsa yang menjadi kenangan melekat di hati
banyak orang. Salah satu hal penting yang diwariskannya adalah kesederhanaan
dalam berbusana batik.


Tidak bisa dimungkiri, semasa hidupnya, Gus Dur selalu mengenakan batik,
yang dilakoni jauh sebelum menjadi presiden keempat.



Dalam berbagai kesempatan, batik yang dikenakan Gus Dur selalu
mengisyaratkan pesan, yakni kesederhanaan. Menurut salah seorang putrinya,
Inayah Wulandari, kesukaan bapaknya berbatik bukan latah, ikut tren, atau
karena pejabat publik.


Inayah saat ditemui kemarin di Jakarta mengatakan, sejak awal 1990-an,
ayahnya memang pencinta batik. Batik yang dikenakan Gus Dur selalu pilihan
ibunya, Sinta Nuriyah. "Karena bapak tidak bisa melihat, semua kemeja batik
yang dikenakan adalah pilihan ibu, bukan memakai jasa konsultan mode atau
apalah," kata Inayah.


Dia menambahkan, selama ini batik yang dikenakan ayahnya bukanlah batik
mahal atau yang beredar di kalangan menengah ke atas. Sikap ayahnya tentang
kesederhanaan melekat pada batik yang dikenakannya dalam berbagai
kesempatan. "Bapak selalu punya banyak simbol lewat joke, ungkapan, bahkan
gaya berpakaian. Kesemuanya mencerminkan sosok kepribadiannya. Mengenakan
batik sederhana, ya, itulah Gus Dur!"


Setahu Inayah, kecintaan Gus Dur terhadap batik adalah bagian dari kegemaran
ayahnya, yang menyukai produk dalam negeri. Dalam kenangan Inayah, pada
1995, saat dirinya diajak ke Amerika Serikat bersama orang tuanya menghadiri
sebuah konferensi internasional, di pesawat Gus Dur sempat berucap lirih
kepadanya.


"Tuh, kamu lihat, orang bule pun suka batik. Bahkan mau belajar mengenal
kebudayaan batik kita. Kamu harus bangga batik Indonesia tidak kalah dengan
kain brand asing," suara Inayah menuturkan ucapan ayahnya ketika di pesawat
bertemu dengan beberapa pejabat asing yang mengenakan batik. Dalam
perjalanan tersebut, ia menyaksikan Gus Dur serius berdiskusi tentang batik
dengan para tokoh asing yang memakai batik.


Kenangan lain yang masih membekas adalah, ketika dalam sebuah lawatan tugas
kepresidenan, Gus Dur mengajak rombongan singgah ke sentra atau pusat
perajin batik di Banyuwangi. "Saya teringat bapak pernah bilang, usaha
kecil-menengah, seperti perajin, bisa maju pesat kalau kita tidak tergantung
bahan impor," tutur Inayah.


Dia juga mengatakan bapaknya mencintai kain lokal, termasuk batik. Setiap
batik yang dipilih ibunya selalu disertai penjelasan warna, motif, dan
filosofi batik yang akan dipakai.


Hingga kini jumlah batik peninggalan tokoh pluralisme ini mencapai ratusan
setel. Inayah menekankan, sekali lagi semua koleksi batik Gus Dur sederhana,
berbahan katun. Sering disebutkan, batik Gus Dur, yang berciri motif
sederhana, seperti guci, dan warnanya didominasi perpaduan hitam-putih,
memberi kesan wibawa, apa adanya, dan bersahaja. "Bapak sangat jujur
terhadap banyak hal dan percaya diri. Batik yang dikenakan menerangkan
sosoknya."


Pengamat kain Sativa Sutan Aswar mengakui kebiasaan Gus Dur berbatik
merupakan inspirasi menarik yang diwariskan bagi dunia perkainan Indonesia.
Kendati batik yang dikenakan tampak biasa, "Justru label batik Gus Dur
adalah batik rakyat, bukan batik gedongan. Batiknya cerminan keberhasilan
diplomasi kain ala Gus Dur," kata wanita yang biasa disapa Atitje ini.


Adapun Dewi Motik Pramono mengatakan batik Gus Dur merupakan batik
pinggiran. "Itu kelebihan yang harus menjadi contoh pejabat lain. Meskipun
dia (Gus Dur) anak Menteng dan menjadi tokoh penting, rasa percaya dirinya
berbatik rakyat mengalahkan semuanya," kata Ketua Umum Kongres Wanita
Indonesia ini.


Dewi menjelaskan, batik yang dikenakan Gus Dur umumnya adalah batik pesisir
yang sarat akan filosofi cerita kerakyatan. Dia pernah memperhatikan Gus Dur
berbatik Cirebonan, yang melambangkan cerita masyarakat pesisir dengan
keliarannya, sikap bertahan hidup, serta kecintaan pada seni budaya tarling.
"Itulah gaya Gus Dur, berbatik dengan hati, memahami pernik kisah masyarakat
bawah," ucapnya.


Perancang busana Poppy Dharsono mengagumi gaya berbatik Gus Dur, yang
mengenakan batik Batang. Gaya ini memberikan nilai tinggi. Batik rakyat bisa
naik kelas dan diminati pejabat, seperti Gus Dur, yang diikuti publik. Motif
batik yang biasa dikenakannya adalah flora dan fauna dalam bentuk sederhana,
seperti dedaunan, bunga, kepala, sayap, dan ekor. "Gus Dur sangat
komunikatif, melalui batik membicarakan problema kehidupan," ujarnya.


Poppy pun menerangkan, Gus Dur pernah berbatik motif daun dan tunas bakau.
Hal ini menginspirasi para pembatik Jawa Timur dalam membuat motif yang
bermakna terhadap pelestarian lingkungan pesisir hutan bakau di Surabaya.
 HADRIANI P



TEMPO


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke