dari milist sebelah:
Sabtu, 08/05/2010 05:30 WIB
Laporan dari Malaysia
Ramdhan Muhaimin - detikNews
Kuala Lumpur -
Malaysia tidak saja menjadi tujuan menarik bagi banyak
wisatawan asing untuk berkunjung, tapi juga kaum akademis. Hampir 300
dosen dan peneliti asal Indonesia mengabdikan keilmuannya di negeri
Petronas ini karena berbagai sebab.
Bahkan tidak sedikit di antara dosen dan peneliti tersebut adalah yang
terbaik dimiliki Indonesia.
"Dalam data kami yang tercatat memang baru hanya 80 orang saja. Tapi
melihat yang hadir sekarang dan informasi dari berbagai pihak, jumlah
dosen dan peneliti Indonesia di Malaysia hampir 300. Karena peneliti
ini tersebar," kata Ketua Indonesian Lecturer and Researcher Association in
Malaysia (ILRAM) DR Riza Muhida ketika berbincang-bincang dengan
detikcom di sela-sela Silaturahim KBRI Kuala Lumpur dengan ILRAM, Jumat
(7/5/2010).
Menurut Riza, sedikitnya ada dua alasan yang menjadi motif banyaknya
dosen dan peneliti Indonesia yang lebih mengabdikan keilmuannya di
Malaysia. Pertama, lingkungan akademik dan penelitian yang lebih
kondusif dibandingkan di Tanah Air. Lingkungan kondusif yang dimaksud,
kata Riza, kebebasan untuk mengembangkan kemampuan akademik dan
penelitian karena ditunjang oleh fasilitas, akses jurnal yang luas, dan
dukungan dana yang cukup besar.
Kedua, kenyamanan bagi diri sendiri dan keluarga. "Misalnya, kalau di Jakarta
kondisi kemacetan yang sudah cukup parah, kepadatan, seringkali
mempengaruhi jadwal kerja dan privasi kita untuk bisa berkumpul dengan
keluarga tepat waktu. Di sini saya bisa pergi dan pulang
kerja tepat waktu, jadi hak keluarga untuk berkumpul bisa terpenuhi. Dan gaji
yang diperoleh dari pekerjaan sangat cukup, jadi tidak perlu lagi
cari sampingan," cetusnya.
Alasan lain, sambung Riza, banyaknya sarjana dan peneliti Indonesia yang sulit
memperoleh pekerjaan sepulang mereka dari luar negeri. Sementara
tenaga mereka ternyata lebih dibutuhkan di negara lain.
"Seperti saya, setelah tamat S2 dan S3 dari Jepang, saya pernah mencoba
masukkan banyak lamaran ke berbagai institusi di Indonesia tapi
sayangnya tidak ada satu pun respon. Saya lalu coba apply di Malaysia,
ternyata langsung direspon cepat," ujar Dosen Fakultas Teknik di
Universitas Islam Internasional Malaysia (UIIM) ini.
Dia mengatakan, jumlah dosen asal Indonesia yang mengajar di Malaysia
cenderung meningkat, khususnya dalam 4 tahun terakhir. Dia mencontohkan, sejak
ILRAM berdiri pada Desember 2007, jumlah dosen Indonesia yang
mengajar di UIIM mencapai 30 orang. Kini telah bertambah menjadi 40
orang. "Dan trennya setiap tahun ada kecenderungan bertambah 4 sampai 5
orang," ujarnya.
Ketua Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4) di Malaysia ini juga
mengungkapkan, pada Kamis 6 Mei kemarin, seorang dosen Indonesia yang
mengajar di Univeristas Putra Malaysia (UPM), Dr Seca Gandaseca terpilih
menjadi dosen terbaik. Penghargaan langsung diberikan oleh
Sultan Selangor.
IIUM juga memilih dosen Indonesia DR Irwandi Jaswir sebagai peneliti
terbaik tahun 2009. Irwandi mengalahkan kompetitor lain dari Malaysia
dan mancanegara di kampusnya. Tidak hanya itu, Irwandi juga memperoleh
award sebagai saintis muda se-Asia Pasifik mewakili IIUM dan Malaysia.
Sementara itu Dubes RI untuk Malaysia Da'i Bachtiar mengatakan,
banyaknya dosen dan peneliti asal Indonesia di Malaysia menjadi satu
kebanggaan, bahwa tenaga intelektual Indonesia banyak diperlukan dan
tidak kalah dengan negara lain. Namun Da'i mengingatkan agar siapapun
yang bekerja di negara lain selalu menjaga semangat nasionalisme dan
cinta Tanah Air.
Da'i juga berpesan, agar setiap warga negara Indonesia di Malaysia,
termasuk para dosen dan peneliti juga bisa berperan sebagai duta yang
mampu meluruskan setiap persepsi yang salah tentang Indonesia.
"Untuk berbakti kepada bangsa dan negara tidak mesti harus di Tanah Air, tapi
dimana pun. Dari luar negeri pun bisa berbakti kepada negara.
Anda-anda adalah duta. Bangunlah, Kalau ada persepsi yang tidak pas
tentang Indonesia, luruskan," kata Da'i.
(rmd/nwk)
[Non-text portions of this message have been removed]