Umar Said--------------Bismilahirrahmanirrahiim. Kami termasuk Gus Dur menghormati setiap keyakinan agama termasuk yg tidak beragama yaitu Komunis.
Di Amerika juga banyak penganut2 komunis dan banyak kitab2 komnis.Dan mereka dilindungi dan mempunyai hak yangsama dgn golongan2 majoritas lain2nya,termasuk umat Islam. Pertanyaan kpd sdr Umar Said, apakah idiologi Komunis sekarang ini masih sama dgn komunis waktu berdirinya idiologi komunis dimana tidak ada kemerdekaan bergama dan berkeyakinan seperti kita saksikan di China, Korea Utara dan Cuba. Kalau idologi ini masih berlaku di era Informasi ini, dimana batas2 negara dan budaya sudah kabur oleh dunia Maya-internet... sudah tentu element2 bangsa yang ingin Hak kemerdekaannya di ambil oleh pemerintahan komunis akan menetang habis2nya utk mengambil pemerintahan.....termasuk semua golongan agama diIndonesia. ===kill them before they kill us=== ===defeat them before they defeat us=== Tapi kalau sistem Komunis itu sudah di update sesuai dgn perkembangan pradapan manusia yg canggih, sudah tentu golongan2 agama akan mengikhlaskan keberadaan Partai komunis di Indonesia. Mari kita bersama sama berbuat kebajikan untuk masarakat... dan merdeka menjelankan ibdah masing2 kpd Tuhannya... Pemerintahan komunis wajib berlaku adil kpd semua rakyat dan haram berlaku diskriminasi...Apakah bisa demikian sekarng ini? Bagaimana respond anda Komunis di era IT. salam --- In [email protected], "Umar Said" <kon...@...> wrote: > > Tulisan ini juga disajikan dalam website http://umarsaid.free.fr/ > yang sampai sekarang sudah dikunjungi lebih dari 612 520 kali > > ==================== > > > Menyambut HUT PKI tanggal 23 Mei 1920 > > (bagian tiga ) > > > > Tentang ajaran komunisme > atau marxisme di Indonesia > > > > > Sesudah PKI dan marxisme dilarang di Indonesia sejak 1966 (44 tahun), > bagaimanakah perkembangannya sekarang, dan apakah komunisme atau marxisme > masih bisa hidup di Indonesia di kemudian hari ? Dan bagaimanakah > perkembangan komunisme atau marxisme di dunia sekarang ini ? > > > > Tulisan ini mengajak para pembaca, termasuk mereka yang anti-PKI atau yang > tidak menyukai komunisme atau marxisme, untuk mencoba berusaha menelaah > masalah-masalah ini dari berbagai segi, dengan mempelajari - sebanyak > mungkin dan sebisanya -- sejarah lahirnya komunisme di Indonesia dan di > dunia, berikut segala persoalan yang dihadapinya selama ini. > > > > PKI, sebagai organisasi partai politik, secara resminya memang sudah > dilarang oleh penguasa militer di bawah pimpinan Suharto, tetapi apakah > komunisme atau marxisme dapat dilarang, atau dicegah untuk dianut oleh > siapapun di Indonesia ? Kiranya, untuk pertanyaan semacam itu bisa saja > orang menjawab macam-macam, yang itu semua adalah hak setiap orang. Namun > demikian, tulisan ini dengan tegas menyatakan : TIDAK, TIDAK BISA !!! (mohon > diperhatikan, ditulis dengan huruf besar dan tanda seru tiga kali) . > Sebabya antara lain adalah hal-hal sebagai berikut : > > > > Bung Karno adalah satu-satunya di antara banyak pemimpin atau tokoh > Indonesia yang dengan jelas, gigih, dan juga konsekwen ( ! ) mengemukakan > pendiriannya atau keyakinannya bahwa isi atau jiwa yang terkandung dalam > komunisme, atau marxisme atau sosialisme sudah dipunyai oleh sebagian rakyat > Indonesia sejak dulu, bahkan sebelum lahirnya PKI dalam tahun 1920. > > > > Buku « Dibawah bendera revolusi » dan « Revolusi belum selesai » > > > > Bung Karno telah sering membeberkan pokok-pokok isi -- atau inti jiwa -- > yang terkandung dalam komunisme atau marxisme atau sosialisme dalam berbagai > pidatonya yang dikumpulkan dalam buku « Dibawah bendera revolusi » dan « > Revolusi belum selesai ». Untuk bisa mengerti mengapa Bung Karno mempunyai > pandangan yang demikian itu, seyogianyalah kita semua berusaha menyimak > buku-buku tersebut serta mendalami isinya > > > > Dalam pidato atau tulisan-tulisannya itu ia berulangkali dan sering sekali > menjelaskan bahwa karena sejarah bangsa yang selama 350 tahun dijajah > Belanda dan sebagai akibat dari berbagai macam penindasan, maka timbullah di > banyak kalangan rakyat Indonesia kemauan atau tekad untuk mengadakan > perlawanan, dengan berbagai cara, bentuk dan jalan. > > > > Api perlawanan terhadap penjajahan Belanda yang pernah berkobar sejak > permulaan abad ke 18 di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Ambon > dan tempat-tempat lainnya, telah menjadi makin besar dengan adanya > pembrontakan PKI dalam tahun 1926 di Jawa dan Sumatera Barat. Karena > pembrontakan PKI di tahun 1926 itulah jiwa perlawanan terhadap > kolonialisme/imperialisme yang dikandung oleh ajaran komunisme atau marxisme > makin dikenal oleh kalangan perjuangan untuk kemerdekaan. > > > > Sumbangan besar ajaran komunisme untuk perjuangan > > > > Para pengamat sejarah dapat melihat bahwa banyak sekali di antara para > perintis kemerdekaan atau tokoh-tokoh gerakan nasionalis (termasuk yang dari > golongan Islam) yang makin tergugah semangat perjuangan mereka untuk melawan > kolonialisme Belanda setelah mereka mengenal atau mendengar sedikit > banyaknya tentang jiwa perlawanan terhadap segala macam ketidakadilan yang > menjadi ciri-ciri utama komunisme atau marxisme. Fenomena yang demikian ini > tidak hanya terdapat di kalangan pemuda/mahasiswa yang tergabung dalam > Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda waktu itu, melainkan juga di banyak > partai-partai dan macam-macam organisasi di tanahair. > > > > Jadi, jelaslah bahwa jiwa komunisme atau isi marxisme merupakan salah satu > di antara pendorong semangat atau sumber berbagai inspirasi bagi banyak > pejuang perintis kemerdekaan, terutama sekali Bung Karno. Dalam kaitan ini, > baik sekali kita ingat-ingat bahwa PKI-pun lahir dari salah satu seksi > Sarekat Islam yang dipimpin HOS Tjokroaminoto. Dari sinilah kelihatan > sumbangan besar dari jiwa komunisme atau marxisme untuk perjuangan > kemerdekaan nasional kita. > > > > Dengan mengingat itu semua, maka kiranya dapat dimengertilah mengapa Bung > Karno tetap terus membela marxisme dan PKI dengan begitu gigihnya, ketika > Suharto beserta para jenderal pendukungnya membunuhi jutaan anggota dan > simpatisan PKI sesudah terjadinya G30S. Dan kita dapat mengerti pula mengapa > ia tetap setia mempertahankan gagasan besarnya NASAKOM, meskipun ditentang > oleh semua golongan reaksioner di Indonesia (baik sipil maupun militer)) > yang bersekutu dengan fihak nekolim (terutama AS dengan CIA-nya). > > > > Bagaimana dengan keadaan sekarang ? > > > > Sekarang ini, sesudah 44 tahun PKI dan marxisme dinyatakan terlarang dengan > Ketetapan MPRS 25/1966, ada perkembangan situasi yang menarik di Indonesia. > Walaupun resminya saja larangan penyebaran marxisme masih belum dicabut, > tetapi buku Das Capital bisa diterbitkan oleh Hasta Mitra, yang > peluncurannya diberkahi oleh pidato Gus Dur. Di samping itu sudah banyak > sekali buku yang berisi segala macam bahan tentang PKI atau marxisme, > walaupun dengan berbagai nuansa atau pandangan, yang sudah beredar sejak > lama. > > > > Walaupun Kejaksaan Agung masih juga melarang sejumlah buku (antara lain > buku Berjudul Dalih Pembunuhan Massal Gerakan 30 September dan Kudeta > Suharto, karangan John Roosa, dan Lekra Tak Membakar Buku Karangan Rhoma Dwi > Aria Yuliantri dan Muhidin M. Dahlan) namun perkembangan situasi (nasional > dan internasional) mengindikasikan arah yang makin tidak menguntungkan > golongan yang tetap ngotot bersikap reaksioner atau kontra-revolusioner, > yang terus memusuhi kalangan progresif di masyarakat Indonesia, dan yang > juga bersekutu dengan kaum reaksioner asing dan neo-liberalisme. > > > > Ini kelihatan dari makin menanjaknya atau meluasnya perlawanan berbagai > golongan di Indonesia terhadap segala kebobrokan moral, kebusukan mental, > dan segala kejahatan (terutama korupsi kalangan atas, umpamanya kasus BLBI, > Bank Century, pengemplangan pajak Aburizal Bakri sebesar Rp 2,1 triliun, > banyak kasus yang dibongkar Susno Duadji dll dll dll) > > > > Jiwa komunisme/marxisme akan terus berkembang > > > Dari banyaknya aksi-aksi yang dilancarkan oleh berbagai macam kalangan > pemuda/mahasiswa dan organisasi buruh, tani dan wanita, dan dari kerasnya > suara yang dilontarkan terhadap politik reaksioner oleh pemerintahan SBY > yang bersekongkol dengan kekuatan neo-liberalisme, dapat tercium adanya > semangat perlawanan yang terkandung dalam jiwa revolusioner marxisme. Inti > atau jiwa marxisme adalah perlawanan terhadap segala macam penindasan, dan > segala kejahatan yang dilakukan oleh golongan reaksioner. > > > > Dan karena adanya berbagai kebobrokan yang parah dewasa ini (dan yang > pastilah akan masih juga tetap parah di masa datang ! ) yang merugikan > kepentingan rakyat banyak, maka perlawanan berbagai golongan dalam > masyarakat akan makin banyak dan berkembang dengan macam-macam cara, jalan > dan bentuk. Dalam perlawanan ini macam-macam golongan dapat menggunakan > berbagai macam pedoman atau pegangan. Karena jiwa marxisme sudah terbukti > di dunia selama ini sebagai pegangan yang ideal bagi perjuangan banyak > kalangan melawan penindasan dan membela keadilan, maka di Indonesiapun jiwa > marxisme akan terus tumbuh dan berkembang. > > > > Dengan pandangan dari sudut ini dapatlah kiranya dikatakan dengan pasti > bahwa jiwa marxisme tidak bisa dimatikan di Indonesia walaupun ada ketetapan > MPRS no 25/1966. Apalagi sekarang ini !!! Sebab jiwa ini bisa selalu > adir -- dengan berbagai cara, bentuk dan jalan -- untuk menemani atau > mengantar setiap perjuangan melawan ketidakadilan dan membela kepentingan > yang sah bagi rakyat banyak. Jiwa marxisme (atau komunisme) ini bisa > merangkak atau berkeliaran kemana-mana, dan bersarang dalam fikiran atau > bersemayam dalam hati banyak orang atau kalangan dan golongan yang berjuang > dengan sungguh-sungguh > > > > Marxisme/komunisme melalui Google di Internet > > > Kita bisa sama-sama melihat, bahwa dengan adanya Internet, maka larangan > penyebaran dan menerima segala macam bahan atau informasi mengenai PKI, atau > ajaran-ajaran komunisme dan marxisme, menjadi tidak ada artinya bagi banyak > orang. Kasarnya, larangan itu, yang tadinya dalam masa puluhan tahun rejim > militer Orde Baru telah menjadi momok bagi banyak orang, sekarang telah > menjadi bahan tertawaan, atau sesuatu yang mengandung kebodohan > > > > Sebab, melalui Internet (terutama dengan menggunakan Google atau Ensiklopedi > Wikipédia) setiap orang dapat dengan leluasa, dan setiap waktu, mendapatkan > berbagai macam bacaan sebanyak-banyaknya tentang komunisme atau marxisme, > baik yang di Indonesia maupun di dunia. Larangan lewat Ketetapan MPRS ini > sekarang terbukti sudah tidak mampu mencegah orang untuk memperoleh atau > mengedarkan segala macam bacaan tentang marxisme. > > > > Juga larangan tentang kegiatan PKI sudah tidak lagi mempunyai arti seperti > yang sudah-sudah, kecuali hanya menunjukkan watak yang reaksioner dari > berbagai pemerintahan di Indonesia, dan memperlihatkan kepada seluruh dunia > wajah buruk yang tidak demokratis. Sebab, para panganut ajaran komunis atau > marxis, baik yang tergabung dalam PKI maupun yang di luar PKI, masih bisa > terus bergerak dan mempraktekkan ajaran-ajaran revolusioner yang terkandung > dalam komunisme dan marxisme, dengan macam-macam cara, bentuk dan jalan. > > > > Kiranya, mudahlah dapat diduga atau diperkirakan bahwa orang-orang atau > kalangan yang sungguh-sungguh berhaluan komunis atau marxis akan berjuang > terus, walaupun PKI dilarang, dengan berbagai jalan yang mungkin. Kita tidak > tahu siapa saja dan di mana saja atau dalam gerakan apa saja para penganut > komunisme atau marxisme di Indonesia sudah, sedang atau akan melakukan > perjuangan mereka, untuk kepentingan orang banyak, terutama kepentingan > rakyat miskin yang tertindas dan sengsara. > > > > Karena itu, walaupun PKI dilarang secara resmi, namun bisalah diduga bahwa > isi dan tujuan perjuangan PKI sekarang ini dilakukan atau diteruskan oleh > berbagai macam golongan dan kalangan yang mempunyai haluan dan tujuan > perjuangan yang sama, yaitu masyarakat adil dan makmur, yang menurut Bung > Karno disebut sebagai masyarakat sosialis. > > > > Ajaran marxisme/komunisme tidak bisa lagi di-taboo-kan > > > Jadi, jelaslah sekarang ini bahwa berbagai informasi mengenai PKI, atau > ajaran-ajaran komunisme atau marxisme, tidak bisa lagi di-taboo-kan, seperti > jamannya Suharto. Sebab, melalui Internet dan membuka Google, maka setiap > orang dapat memperoleh bacaan yang beraneka ragam tentang itu semua. Untuk > memberi gambaran tentang besarnya dan luasnya kemungkinan untuk > mendapatkannya, adalah sebagai berikut : > > > > Kalau dibuka Google bahasa Indonesia dan ditik kata kunci « Komunisme > sebagai ideologi » maka akan tersedia 115 000 halaman. Sedangkan kalau > dengan kata kunci «Komunisme di indonesia » maka akan tersedia 575 000 > halaman > > > > Contoh-contoh lainnya adalah : > > > > Komunisme masih hidup -- 1.230 000 halaman > > > > Komunisme di dunia -- 468 000 halaman > > > > Mempelajari komunisme -- 126 000 halaman > > > > Sejarah komunisme di indonesia -- 281 000 halaman > > > > Bahan bacaan tentang komunisme yang tersedia dalam Google tidak seluruhnya > bersifat serba positif, melainkan juga bercampur dengan yang bersikap > negatif, mencela atau kritis. > > > > Sedangkan kalau dibuka Google dalam bahasa Inggris maka akan tersedia > macam-macam bacaan yang jumlahnya luar biasa banyaknya, sehingga sulit untuk > diperkirakan berapakah waktu yang diperlukan untuk bisa membaca seluruhnya. > > > > Sebab, kalau ditik kata kunci : Communism today -- maka akan tersedia > 5,240, 000 halaman atau bahan bacaan ( !!!). Kalau dengan kata kunci : > Marxism today akan tersedia 485.000 halaman. > > > Alat perjuangan sekarang dan di masa depan. > > > > Mengingat itu semua, nyatalah dengan jelas bahwa larangan terhadap > beredarnya ajaran komunisme atau marxisme di Indonesia adalah nonsense > belaka sekarang ini. Banyak orang dapat memperolehnya melalui berbagai jalan > dan cara. Di antaranya adalah melalui Internet, setiap waktu, > sebanyak-banyaknya, dengan leluasa dan juga aman., > > > > Dan dengan perkembangan situasi di Indonesia, yang sedang dibanjiri oleh > berbagai persoalan parah yang terus-menerus menyengsarakan banyak orang, dan > karenanya memerlukan perjuangan revolusioner untuk mendatangkan perubahan > besar-besaran dan fundamental, maka jiwa ajaran komunisme atau marxisme akan > makin mendapat tempat di fikiran dan hati banyak orang. > > > > Jiwa revolusioner yang dikandung ajaran komunisme atau marxisme adalah alat > perjuangan bagi banyak kalangan di Indonesia, yang dengan sungguh-sungguh > bertekad untuk mengadakan perubahan besar-besaran dan fundamental, baik > sekarang maupun di masa depan.. > > > > Paris, 29 Mei 2010 > > > > A. Umar Said > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] >
